Anda di halaman 1dari 43

1

Long Case

Glaukoma Kronik Susp


Primary Open Angle Glaucoma OS

Oleh :
Siti Thania Luthfyah, S.Ked
Silvi Silavania, S.Ked
Syah Fitri, S.Ked
Defina Yunita, S.Ked

Bagian/Departemen Ilmu Kesehatan Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
2019 1
Outline
1. Pendahuluan
2. Laporan Kasus
3. Tinjauan Pustaka
4. Analisis Kasus
3

BAB I
PENDAHULUAN
4

• Aqueous humor adalah cairan jernih yang


dihasilkan oleh korpus siliaris yang mengisi kamera
okuli posterior dan kamera okuli anterior
• Aqueous humor berputar dan mempertahankan
tekanan intraokular yang penting bagi
pertahanan struktur dan penglihatan mata
• Penyakit yang berhubungan dengan gangguan
pembentukan dan mekanisme aliran aqueous humor
adalah glaukoma. Tekanan intra okuli yang tinggi
merupakan salah satu tanda dari penyakit glaukoma
• Pada laporan kasus ini didapati seorang pasien
dengan keluhan pandangan mata kiri kabur seperti
di dalam terowongan
5

Aqueous humor  cairan Sistem aliran 


jernih yang dihasilkan melibatkan trabecular
oleh korpus siliaris yang meschwork, kanalis
mengisi kamera okuli schlemm dan saluran
posterior dan anterior kolektor

Gangguan pembentukan
Pada laporan kasus ini,
dan mekanisme aliran
didapatkan keluhan
aqueos humor, gangguan
pandangan mata kiri
resistensi aliran keluar &
menyempit seperti
peningkatan tekanan vena
terowongan
episklera  glaukoma
6

BAB II
LAPORAN KASUS
Identifikasi Pasien
• Nama : Ny. EBE
• Umur : 54 tahun
• Jenis kelamin : Perempuan
• Agama : Islam
• Bangsa : Indonesia
• Pekerjaan : Bidan
• Alamat : Bengkulu
• Tanggal Pemeriksaan : 13 Januari 2019
8

Anamnesis

Keluhan utama :
Pandangan mata kiri semakin sempit sejak 3 bulan yang lalu

Riwayat perjalanan penyakit :


Sejak ± 3 bulan yang lalu pasien mengeluh pandangan mata kiri mulai
menyempit, pandangan terkadang kabur (+), mata merah (-), berair (-),
berasap (-), mengganjal (-), gatal (-),pandangan seperti melihat pelangi
(-), kotoran mata (-), nyeri tidak menetap (+), sakit kepala (-), mual dan
muntah (-). Pasien berobat ke RSKMM Palembang, kemudian pasien
diberi 2 macam obat tetes mata.
Sejak ± 1 hari yang lalu pasien mengeluh pandangan mata kiri semakin
menyempit. Keluhan pandangan terkadang kabur (+),nyeri hilang
timbul (+) masih ada, mual dan muntah (-), sakit kepala (-).
9

Anamnesis (con’t)
Riwayat penyakit dahulu Riwayat penyakit keluarga
• Riwayat keluhan yang sama • Riwayat penyakit yang sama
sebelumnya (+) sejak 6 bulan pada kakak kandung (+)
yang lalu
• Riwayat memakai kacamata(-)
• Riwayat trauma pada mata (-)
• Riwayat penggunaan obat (+) :
obat tetes mata Azopt dan
timolol 0,5%, tingkat
kepatuhan rendah
• Riwayat alergi (-)
• Riwayat kencing manis (-)
• Riwayat darah tinggi (-)
Pemeriksaan Fisik
Status generalikus

Keadaan Baik
umum
Kesadaran Compos mentis
Tekanan 120/70 mmHg
darah
Nadi 82 kali/menit regular,
isi dan tegangan cukup
Frekuensi 20 kali/menit
napas
Suhu 36,3o C
Pemeriksaan Fisik
Status oftalmologis
Pemeriksaan Fisik
Status oftalmologis
Pemeriksaan Fisik
Status oftalmologis
14

Pemeriksaan Penunjang
• Pemeriksaan Gonioscopy
• Pemeriksaan lapangan pandang (Perimetri
Humprey/ uji konfrontasi)
• Pemeriksaan laboratorium untuk persiapan
operasi
Diagnosis banding
• Glaukoma kronik susp Primary Open Angle Glaucoma
OS
• Glaukoma kronik susp Primary Closure Angle Glaucoma
OS
Diagnosis kerja

Glaukoma kronik susp Primary Open Angle


Glaucoma OS
Tatalaksana
KIE
• Menjelaskan kepada pasien bahwa keluhan yang terjadi
merupakan akibat dari peningkatan tekanan pada bola mata
• Menjelaskan kepada pasien tentang rencana pengobatan,
penggunaan obat jangka panjang dan tindakan operasi.
• Menganjurkan pasien untuk rajin berolahraga karena dapat
sedikit merendahkan tekanan bola mata
• Minum tidak boleh sekaligus banyak, karena dapat
menaikkan tekanan bola mata
• Pasien perlu melakukan kontrol rutin untuk pemeriksaan
tekanan bola mata dan mengevaluasi papil saraf optik dan
lapangan pandang
Tatalaksana
Non farmakologi

• Evaluasi TIO, visus dan lapangan pandang


Tatalaksana
Farmakologi

• Azopt ED 3 x 1 gtt OS
• Timolol 0.5% ED 2 x 1 gtt OS
• Glaopen ED 1x1 gtt OS
• Pro trabeculectomy OS
Prognosis
Okuli Sinistra
• Quo ad vitam : bonam
• Quo ad functionam : dubia bonam
• Quo ad sanationam : bonam
LAMPIRAN

Gambar 1. Oculi Dextra

Gambar 2. Oculi Sinistra


22

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
23

Anatomi Bola Mata


24

Fisiologi Aliran Aqueous Humor


25

Glaukoma
• Glaukoma adalah neuropati optik yang
dikarakteristikkan dengan optic disk cupping
dan kehilangan lapang pandang yang biasanya
diasosiasikan dengan peningkatan tekanan
intraokular.
26

Faktor Risiko Memperberat Risiko


• Tekanan darah rendah • Tekanan bola mata, makin tinggi
atau tinggi makin berat
• Fenomena autoimun • Makin tua usia, makin berat
• Hipertensi, resiko 6 kali lebih
• Degenerasi primer sel sering
ganglion • Kerja las, resiko 4 kali lebih sering
• Usia di atas 45 tahun • Keluarga penderita glaukoma,
• Keluarga mempunyai resiko 4 kali lebih sering
• Tembakau, resiko 4 kali lebih
riwayat glaukoma sering
• Miopia atau hipermetropia • Miopia, resiko 2 kali lebih sering
• Pasca bedah dengan • Diabetes melitus, resiko 2 kali
hifema atau infeksi lebih sering
27

Klasifikasi Glaukoma
28

Glaukoma
Glaukoma sudut terbuka
• Aqueous humor tidak terhalang menuju trabecular meshwork dari
kamera okuli anterior, tetapi terdapat tahanan yang tinggi yang
abnormal pada aliran aqueous humor, yang mengalir pada
trabekular meshwork memasuki kanalis schlemm dan kemudian
ke vena episklera dan ke sinus kavernosus.
• Terbagi menjadi glaukoma sudut terbuka primer dan
glaukoma sudut terbuka sekonder
Glaukoma sudut tertutup
• Jaringan iris perifer menutupi trabekular meshwork,
menyebabkan terhalangnya aqueous humor masuk ke trabecular
meshwork. Jenis glaukoma ini sering intermitten dengan gejala
akut reversible jika iris bergeser dari struktur sudut
29

Glaukoma Sudut Terbuka


Penegakan diagnosis dapat dilakukan dengan cara. 12
• Mengukur peningkatan TIO dengan menggunakan
tonometri Schiotz, Aplanasi goldman, dan NCT.
• Gonioskopi. Sudut pada kamera anterior terbuka
seperti pada orang yang tidak menderita glaukoma.
• Funduskopi. Pemeriksaan untuk melihat papil
nervus optikus, untuk melihat adanya cupping dan
atropi papil glaukomatosa
• Perimetri. Untuk melihat adanya defek lapangan
pandang
30

Tanda Klinis
• Pada pemeriksaan penyinaran oblik atau dengan slit-lamp
didapatkan bilik mata depan normal.
• Peningkatan TIO yang dapat diukur dengan tonometri
Schiotz, aplanasi Goldmann dan Non Contact Tonometry
(NCT). Peningkatan TIO pada glaukoma yang disebabkan
kortikosteroid biasanya terjadi secara perlahan-lahan.
• Perubahan pada diskus saraf optik, dibagi menjadi early
glaukomatous dan advanced glaucomatous changes.
• Atrofi optik glaukomatous
• Defek lapangan pandang
31

Early glaucomatous changes


ditandai dengan :
 Perubahan cup menjadi lebih oval
dibagian vertikal akibat adanya
kerusakan pada jaringan saraf
dibagian kutub inferior dan
superior.
 Asimetri dari cup (cekungan ) papil
saraf optik.
 Cup yang besar (normal 0,3-0,4)
 Perdarahan disekitar papil saraf
optik.
 Diskus tampak lebih pucat.
 Atrofi dari papil saraf optik.
32

Advanced glaukomatous
changes ditandai dengan :
 Ekskavasi dari cup sampai ke
diskus saraf optik dengan CDR :
0,7 – 0.9
 Penipisan jaringan neuroretinal.
 Adanya pergeseran ke nasal dari
pembuluh darah retina.
 Pulsasi dari arteriol retina
mungkin tampak saat TIO sangat
tinggi dan patognomonik untuk
glaukoma.
 Lamellar dot sign
33

Penatalaksanaan
34

Tatalaksana
Operasi / tindakan pembedahan
 Argon laser trabeculoplasty
• Prinsip : Laser menyebabkan kontraksi dari trabekula Meshwork, sehingga menjadi
lebih lebar, akibatnya terjadi peningkatan drainase dari humor akuos melewati
Trabekula Meshwork.
 Filtration surgery
• Prinsipnya adalah humor akuos dialirkan ke bilik mata depan melewati
subkonjungtiva mengitari Trabekula Meshwork
 Cyclodialysis
• Prinsipnya adalah humor akuos dialirkan ke ruang supra koroid. Insisi dilakukan
pada sklera ke korpus siliaris, 4 mm posterior dari limbus. Kemudian sclera
dipisahkan dengan korpus siliaris dengan menggunakan retractor dan diretraksi ke
depan ke bilik mata depan. Pada daerah insisi terjadi atropi dari korpus siliaris
sehingga juga berperan dalam menurunkan produksi humor akuos.
 Cycloablation (cyclodestructive procedures)
• Menginduksi terjadinya atropi pada korpus siliaris sehingga produksi humor akuos
menurun. Misalnya menggunkan laser YAG atau laser dengan energi tinggi.
35

Prognosis
• Apabila obat tetes anti-glaukoma dapat
mengontrol TIO pada mata yang belum
mengalami kerusakan glaukomatousa luas,
prognosis akan baik (walupun penurunan
lapangan pandang dapat terus berlanjut
walupun TIO telah normal). Apabila proses
penyakit terdeteksi secara dini, sebagian besar
pasien glaukoma dapat ditangani dengan baik
secara medis.
36

BAB IV
ANALISIS KASUS
37

Ny.EBE, 54 tahun, datang dengan keluhan utama pandangan mata


kiri semakin menyempit yang dirasakan sejak ± 3 bulan yang
lalu.

Terdapat keluhan pandangan mata terkadang kabur (+), mata


merah (-), nyeri mata kiri hilang timbul, dan adanya pandangan
seperti terowongan

Riwayat penyakit terdahulu ditemukan gejala yang hampir sama dirasakan


pasien sejak 6 bulan yang lalu, namun Riwayat penyakit sistemik seperti
diabetes mellitus dan hipertensi disangkal, riwayat penyakit yang sama ada
yaitu pada kakak kandung pasien. Riwayat berobat (+) dan menggunakan 2
macam obat tetes mata, tingkat kepatuhan rendah
38

Dari anamnesis tersebut dapat disimpulkan bahwa keluhan


pasien membawa kita ke diagnosis banding mata tenang
visus turun perlahan, karena penurunan visus sudah terjadi
secara bertahap dan tidak ada keluhan mata merah.

Terdapat beberapa kemungkinan diagnosis banding yang


memiliki gejala hampir mirip seperti yang dikeluhkan
pasien, yaitu glaukoma kronik, katarak, kelainan
refraksi dan retinopati

Dari status oftalmologikus didapatkan didapatkan VOS 6/9 ph(-) dengan


TIOS 30,4 mmHg, menunjukkan terjadinya penurunan visus pada pasien
yang bukan disebabkan kelainan refraksi dan tekanan intraokular mata kiri
yang meningkat. Selain itu, didapatkan bilik mata depan yang dangkal. Pada
pemeriksaan segmen posterior, didapatkan RFODS (+), papil mata kiri
bulat, batas tegas, degan c/d ratio 0,5.
39

Diagnosis kerja pada pasien adalah Glaukoma kronik


susp Primary Open Angle Glaucoma (POAG) OS

Keluhan pasien dari 3 bulan yang lalu berupa lapangan


pandang menyempit, mata terkadang kabur, nyeri pada mata
yang hilang timbul, tunnel vision, namun seringkali tanpa
gejala dan dirasa tidak mengganggu, merupakan gejala khas
dari glaukoma kronik.

Tekanan intraokular mata kiri penderita yang meningkat (30,4


mmHg) merupakan salah satu ciri dari POAG, di mana TIO di
atas 21 mmHg namun tidak terlalu tinggi (berbeda dengan
kasus glaukoma akut sudut tertutup yang TIO bisa mencapai 40
mmHg atau lebih).
40

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada kasus ini


adalah, pemeriksaan lapangan pandang dengan perimetry
humprey, gonioscopy, dan pemeriksaan laboratorium

Prinsip penatalaksanaan glaukoma adalah mengurangi


produksi humor akuos dan memperlancar pengeluaran humor
akuos sehingga dapat menurunkan tekanan intra okuler
sesegera mungkin guna mencegah
41

Pasien diberikan edukasi mengenai penyakitnya, rencana


pemeriksaan lanjut dan rencana pengobatannya..

Pada tatalaksana farmakologis, diberikangolongan beta-blocker yaitu


timolol dan golongan prostaglandin analog yaitu glaupen. Selain itu,
diberikan juga obat golongan Brinzolamide yaitu azopt. golongan beta-
blocker dan prostaglandin analog diberikan karena keduanya merupakan
regimen lini pertama dari POAG dan efek samping yang ditimbulkan pun
minimal

Terapi non farmakologis berupa terapi bedah yang akan dilakukan


adalah trabekulektomi Trabekulektomi diindikasikan untuk pasien-pasien
dengan kegagalan terapi medikamentosa, pasien dengan tingkat kepatuhan
yang rendah, serta pada pasien glaukoma dengan penurunan tajam
penglihatan yang parah atau cupping disc yang ekstensif.
42

Daftar Pustaka
1. American Academy of Opthalmology, Glaucoma, in Basic and Clinical Science
Course, Section 10, 2005-2006, p17-29.
2. American Academy of Opthalmology, Fundamentals and Principles of Opthalmology
in Basic and Clinical Science Course, Section 2, 2003-2005, p318-37.
3. Kansky JJ, Glaucoma, in Kansky JJ, Clinical Opthalmology 5th edition, Butterworth
International Edition, London, 2003, p193-5.
4. Shaffer, Becker, Aqueous Humor Formation in Diagnosis and Therapy of the
Glaucomas, 7th edition, Mosby Inc, 1999, p20-45.
5. Khurana AK, Glaucoma, in Opthalmology,3 rd Reprint,New Age International
Limited,Publisher,India, 1998, p225-31.
6. Kaufman L. Paul, Aqueous Humor Dynamics, Duane’s Clinical Opthalmology, vol 3,
Philadelphia, 2004: p1-15.
7. Infection Prevention in Long Term Care Shingles (Herpes Zoster). Massachusetts
Department of Public Health. 2016.
8. Shaikh, Christopher. Evaluation and Management of Herpes Zoster Ophthalmicus.
Stanford University Medical Center. 2017.
9. Rousseau Antoine et al. Herpes Zoster Ophthalmicus Diagnosis and Management.
2016.
43

TERIMA KASIH