Anda di halaman 1dari 48

OLEH:HJ.Mamlukah,AMK,SKM,M.

Kes
Kemitraan Dalam Pendidikan Interprofesional
dan Kolaborasi Interprofesional
 Menurut AIPHE (Accreditation of Interprofessional
Health Education), 2011, Menghubungkan standar
akreditasi pendidikan dengan standar akreditasi
fasilitas pelayanan kesehatan membantu menjamin
agar mahasiswa dan praktisi tahu dan trampil dalam
kolaborasi Interprofessional. Oleh karena itu,
kemitraan yang perlu digalang dalam rangka
pendidikan Interprofessional dan kolaborasi
Interprofessional adalah sebagai berikut:
1) Pemerintah
Kementerian Kesehatan serta Dinas Kesehatan
Propinsi dan Kabupaten/Kota dapat mendorong
fasilitas pelayanan kesehatan agarmenerapkan dan
mengevaluasi kolaborasi Interprofessional. Kerjasama
antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
dengan Kementerian Kesehatan akan memperkuat
keberlanjutan pendidikan Interprofessional Education
(IPE) dari institusi pendidikan sampai dengan tempat
praktek lulusan
2) Organisasi Profesi
1.Organisasi Profesi dapat berperan sebagai Fasilitator
Perubahan (Change Agents) dengan cara sebagai
berikut:
2.Mempromosikan konsep pembelajaran dan kolaborasi
Interprofessional Education (IPE) ke seluruh anggota
mereka.
3.Mengkaitkan pembelajaran dan kolaborasi
Interprofessional
Education dengan sumber daya dan kegiatan
Interprofessional Education
3) Institusi Pendidikan
Kerja sama antara dosen dengan konsultan/pembimbing
pendidikan spesialis (preceptor) dalam perencanaan dan
pelaksanaan pendidikan Interprofessional Education adalah
esensial dalam mewujudkan keberlanjutan pendidikan untuk
mahasiswa dan praktisi. Bentuk kerja sama lain adalah
pemberian beasiswa pendidikan dan penelitian tentang dampak
pendidikan Interprofessional dan kolaborasi Interprofessional
Education oleh karena itu, institusi pendidikan harus
mengintegrasikan pendidikan Interprofessional Education dalam
kurikulum mereka bukan sekedar kuliah tambahan yang
terpisah dari

bidang klinis atau sistem kesehatan yang sangat relevan bagi


mahasiswa dan pembelajar.
4) Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagai Lahan Praktek
Keberlanjutan pendidikan Interprofessional Education dari
institusi pendidikan sampai dengan tempat praktek lulusan
adalah landasan dari pembelajaran untuk kolaborasi
Interprofessional Education. Fasilitas pelayanan kesehatan
sebagai lahan praktek merupakan sarana dan mekanisme untuk
mencapai pemahaman bersama dalam mewujudkan
keberlanjutan pendidikan Interprofessional Education. Fasilitas
pelayanan kesehatan sebagai lahan praktek juga memberi
kontribusi kepada akreditasi pendidikan Interprofessional
Education melalui pengembangan profesi berkelanjutan
(Continuing Professional Development /CPD) bagi
konsultan/pembimbing pendidikan spesialis (preceptor) yang
membimbing mahasisw
Oleh karena itu, kemitraan antara institusi pendidikan
dengan fasilitas pelayanan kesehatan sebagai lahan praktek
pada akhirnya akan meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan melalui kolaborasi di tempat praktek.
Pendidikan Interprofessional Education kesehatan adalah
aplikasi nyata dari nilai operasional Lembaga Akreditasi
Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes) yaitu:
Continuous Quality Improvement (CQI), Quality Cascade,
Conceptualization-Production–Usability (CPU); dan
Trustworthy.
(Soedarmono Soeyitno: 2012)
5. Peran LAM-PT Kes dalam Menerapkan Pendidikan
Interprofessional Education
Menurut Irawan Yusuf (2012), LAM-PT Kes memiliki peran
strategis untuk menerapkan Pendidikan Interprofessional
Education dalam sistem Akreditasi Pendidikan Tinggi
Kesehatan dengan cara sebagai berikut:
Memfasilitasi penyusunan standar, kriteria dan metode
asessment pendidikan Interprofessional Education
menurut kaidah profesi masing-masing.
Memfasilitasi integrasi pendidikan Interprofessional
Education ke dalam instrumen akreditasi Pendidikan
Tinggi Kesehatan.
6. Elemen Interprofessional Education
Menurut Wiliam Fulbrigt (2013) elemen IPE yang dapat dilaksanakan
dalam pendidikan profesi kesehatan di Indonesia: a) Kolaborasi, b)
Komunikasi yang saling menghormati, c) Refleksi, d) Penerapan
pengetahuan dan ketrampilan, e) Pengalaman dalam tim
interprofessional.
a. Interprofesional Communication
1) Definisi komunikasi interprofesi
Komunikasi atau communication adalah bertukar pikiran, opini,
informasi melalui perkataan, tulisan ataupun tanda-tanda (Hornby et
al, 2007). Komunikasi interprofessi adalah bentuk interaksi untuk

bertukar pikiran, opini dan informasi yang melibatkan dua profesi atau
lebih dalam upaya untuk menjalin kolaborasi Interprofessi
Manfaat komunikasi interprofesi
Komunikasi Interprofessional Education yang sehat
menimbulkan terjadinya pemecahan masalah,
berbagai ide, dan pengambilan keputusan bersama
(Potter dan Perry, 2005). Bila komunikasi tidak efektif
terjadi di antara profesi kesehatan, keselamatan pasien
menjadi taruhannya. Beberapa alasan yang dapat
terjadi yaitu kurangnya informasi yang kritis, salah
mempersepsikan informasi, perintah yang tidak jelas
melalui telepon, dan melewatkan perubahan status
atau informasi (O’Daniel and Rosenstein, 2008).
Faktor Yang Mempengaruhi Komunikasi Interprofessional
Education
Potter dan Perry (2005) keefektifan komunikasi interprofessi
dipengaruhi oleh: a) Persepsi yaitu suatu pandangan pribadi atas hal-
hal yang telah terjadi. Persepsi terbentuk apa yang diharapkan dan
pengalaman. Perbedaan persepsi antar profesi yang berinteraksi akan
menimbulkan kendala dalam komunikasi; b) Lingkungan yang
nyaman membuat seseorang cenderung dapat berkomunikasi dengan
baik. Kebisingan dan kurangnya kebebasan seseorang dapat membuat
kebingungan, ketegangan atau ketidaknyamanan; c) Pengetahuan
yaitu suatu wawasan akan suatu

hal. Komunikasi interprofesi dapat menjadi sulit ketika lawan bicara


kita memiliki tingkat pengetahuan yang berbeda. Keadaan seperti ini
akan menimbulkan feedback negatif, yaitu pesan menjadi akan tidak
jelas jika kata-kata yang digunakan tidak dikenal oleh pendengar.
Upaya Meningkatkan Kemampuan Komunikasi
Interprofesi
Menurut Wagner (2011), Interprofessional Education (IPE) merupakan langkah
yang penting untuk dilakukan karena melalui Interprofessional Education
(IPE), mahasiswa dapat melatih kemampuan komunikasi interprofesi pada
situasi yang tidak membahayakan pasien tetapi tetap mencerminkan situasi
yang mendekati situasi nyata. Kebutuhan akan strategi pembelajaran untuk
meningkatkan komunikasi interprofesi berkembang. Oleh karena itu,
pendidik diharapkan mampu mengembangkan metode dan strategi
pembelajaran yang menggabungkan kemampuan komunikasi dan budaya
pasien serta keterampilan teknis sejak tahap akademik (Mitchell, 2010). Salah
satu model Interprofessional Education (IPE) yang dapat diterapkan adalah
simulasi Interprofessional Education (IPE). Melalui simulasi Interprofessional
Education (IPE) tersebut mahasiswa dapat mengembangkan pengetahuan dan
keterampilan dalam berkomunikasi dengan profesi yang lain. Selain itu
mahasiswa juga lebih percaya diri untuk berkomunikasi dengan profesi yang
lain ketika berkolaborasi dengan profesi yang lain karena mahasiswa sudah
memiliki bekal pengalaman sebelumnya.
Wagner (2011) menjelaskan dalam penelitiannya yang berjudul
“Developing Interprofessional Communication Skills” bahwa simulasi
Interprofessional Education (IPE) sangat efektif dan diterima dengan
baik sebagai inovasi dalam pembelajaran mahasiswa kesehatan.
Simulasi tersebut merupakan langkah awal menuju pengembangan
budaya yang menumbuhkan kerja sama tim Interprofessional
Education dalam perawatan kesehatan. Selain itu, simulasi tersebut
adalah cara untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan melalui
pengembangan kolaborasi interprofesi, karena memberikan
kesempatan setiap kelompok untuk belajar berinteraksi dengan profesi
yang lain. Selain melalui simulasi Interprofessional Education (IPE),
pembelajaran IPE juga dapat menggunakan metode tutorial yang
mengintegrasikan berbagai profesi kesehatan. Metode
Interprofessional Education (IPE) melalui diskusi tutorial tersebut
berpusat pada berbagai aspek peran profesi kesehatan dan komunikasi
antara dokter, tenaga keperawatan serta pasien dalam setting
managemen perawatan.
Mitchell (2010) menjelaskan dalam penelitiannya yang berjudul
“Innovation In Learning an Interprofessional Approach to Improving
Communication”bahwa tutorial sangat efektif untuk memberikan
kesadaran akan pentingnya kolaborasi tim interprofessi dalam
perawatan pasien. Selain itu, diskusi yang terjadi selama tutorial
dengan profesi yang lain dapat melatih mahasiswa untuk

mengembangkan kemampuan komunikasi interprofessi. Menurut


Berridge (2010), komunikasi interprofessi merupakan faktor yang
sangat berpengaruh dalam meningkatkan keselamatan pasien, karena
melalui komunikasi interprofessi yang berjalan efektif, akan
menghindarkan tim tenaga kesehatan dari kesalahpahaman yang
dapat menyebabkan medical error, sehingga perlu adanya kurikulum
pembelajaran Interprofessional Education (IPE) yang mampu melatih
kemampuan mahasiswa dalam sebuah kolaborasi interprofessi
Berikut ini adalah karakter dalam komunikasi interprofessi
bersama kesehatan yang kami temukan melalui
serangkaian penelitian ilmiah dengan profesi dokter,
perawat, apoteker dan gizi kesehatan dan telah
mendapatkan validasi oleh pakar komunikasi dari
Indonesia maupun Eropa (Claramita, et.al, 2012): 1)
Mampu menghormati (Respect) tugas, peran dan tanggung
jawab profesi kesehatan lain, yang dilandasi
kesadaran/sikap masing-masing pihak bahwa setiap profesi
kesehatan dibutuhkan untuk saling bekerjasama demi
keselamatan pasien (Patient safety) dan keselamatan
petugas kesehatan (Provider-safety).
2) Membina hubungan komunikasi dengan prinsip
kesetaraan antar profesi kesehatan.
3) Mampu untuk menjalin komunikasi dua arah yang efektif
antar petugas kesehatan yang berbeda profesi
4) Berinisiatif membahas kepentingan pasien bersama
profesi kesehatan lain.
5) Pembahasan mengenai masalah pasien dengan tujuan
keselamatan pasien bisa dilakukan antar individuataupun
antar kelompok profesi kesehatan yang berbeda.
6) Mampu menjaga etika saat menjalin hubungan kerja
dengan profesi kesehatan yang lain
7) Mampu membicarakan dengan profesi kesehatan yang lain
mengenai proses pengobatan (termasuk alternatif/ tradisional)
8) Informasi yang bersifat komplementer/ saling melengkapi:
kemampuan untuk berbagi informasi yang appropriate dengan
petugas kesehatan dari profesi yang berbeda (baik tertulis di
medical record, verbal maupun non-verbal).
9) Paradigma saling membantu dan melengkapi tugas antar profesi
kesehatan sesuai dengan tugas, peran dan fungsi profesi masing-
masing.
10) Negosiasi: kemampuan untuk mencapai persetujuan bersama
antar profesi kesehatan mengenai masalah kesehatan pasien. 11)
Kolaborasi: Kemampuan bekerja sama dengan petugas
kesehatan dari profesi yang lain dalam menyelesaikan masalah
kesehatan pasien.
Interprofessional Education Teamwork

a. Definisi Kerjasama Interprofessional Education


Kerjasama merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara
bersama untuk mencapai suatu tujuan. Kerjasama
interprofessi dapat diartikan sebagai suatu kolaborasi yang
terkoordinasi di antara berbagai profesi tenaga kesehatan
dalam melaksanakan pelayanan kesehatan kepada pasien
untuk mengoptimalkan efektifitas kinerja, efisiensi biaya
dan meningkatkan kepuasan pasien. Praktik kerjasama
interprofessi menekankan tanggung jawab bersama dalam
manajemen perawatan,

dengan proses pembuatan keputusan bilateral didasarkan


pada masingmasing pendidikan dan kemampuan praktisi
Kemitraan tenaga kesehatan dalam kerjasama interprofessi
dapat ditumbuhkan dari hasil hubungan interpersonal yang
baik. Kemitraan dapat diciptakan apabila kedua profesi yang
bermitra mampu memperlihatkan sikap saling mempercayai dan
menghargai, memahami dan menerima keberadaan disiplin
ilmu masing-masing, menunjukkan citra diri yang positif,
masing-masing anggota profesi yang berbeda dapat
menunjukkan kematangan profesional yang sama, yang timbul
karena pendidikan dan pengalaman, adanya keinginan dan
kesadaran untuk berkomunikasi dan negosisasi dalam
menjalankan tugas yang interdependen dalam pencapaian
tujuan bersama. Kedua profesi memiliki kompetensi klinik dan
kemampuan interpersonal, menilai dan menghargai
pengetahuan yang berbeda dan saling melengkapi.
b. Kerjasama Tim dalam Proses Kolaborasi
Proses kolaborasi memiliki ciri-ciri khas, di antaranya
adalah kerjasama, koordinasi, saling berbagi,
kompromi, rekanan, saling ketergantungan dan
kebersamaan. Menurut Kozier (1997) hal-hal yang
dapat dilakukan dalam penerapan kolaborasi adalah:
a) Kebersamaan dalam perencanaan, pengambilan
keputusan, pemecahan masalah, tujuan dan
pertanggungjawaban, b) Bekerjasama dalam
memberikan pelayanan, c) Melakukan koordinasi
dalam pelayanan, d) Keterbukaan dalam komunikasi.
Menurut Siegler dan Whitney (2000) proses kolaborasi
harus memenuhi 3 kriteria berikut ini: a) harus
melibatkan tenaga ahli dengan bidang keahlian yang
berbeda, yang dapat bekerjasama timbal balik secara
mulus, b) anggota kelompok harus bersikap tegas dan
mau bekerjasama, c) kelompok harus memberikan
pelayanan yang keunikannya dihasilkan dari
kombinasi pandangan dan keahlian yang diberikan
oleh setiap anggota tim tersebut
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kerjasama Tim
Interprofessional Education
Menurut Weaver (2008), fungsi kerjasama tim yang
efektif dipengaruhi oleh faktor anteseden, proses dan
hasil. Faktor-faktor tersebut merupakan sesuatu yang
dapat meningkatkan maupun menghambat proses
kerjasama dalam tim seperti ditunjukkan oleh pada
gambar 2.2 sebagai berikut
Keterangan gambar 2.2: 1) Anteseden (Antecedents):
pertimbangan sosial dan intrapersonal (social and
intrapersonal consideration). Dasar pertimbangan sosial
berawal dari kesadaran bahwa seseorang harus
membentuk suatu kelompok agar dapat bekerja secara
efektif dan efisien.

Intrapersonal merupakan sifat manusia sebagai makhluk


sosial yang saling memerlukan dapat menjadi dasar
terbentuknya sebuah tim. Pertimbangan intrapersonal juga
merupakan komponen penting dalam menciptakan
kolaborasi yang baik.
Anggota tim harus memiliki tipe kepribadian yang baik dan
sikap untuk bekerjasama yang baik. Selain itu, kolaborasi yang
efektif akan tercapai apabila masing-masing anggota tim
kesehatan merupakan pakar dalam profesinya masing-masing,
artinya anggota tim dari profesi yang satu harus seimbang
dengan profesi yang lain baik dari segi pengetahuan,
ketrampilan, maupun pengalaman yang dimiliki agar dapat
saling berdiskusi secara efektif. b) Lingkungan fisik (physical
environment) lingkungan kerja dan kedekatan di antara anggota
tim dapat memfasilitasi atau menghambat kolaborasi.
Lingkungan kerja yang baik harus dapat mendukung
kemampuan anggota tim untuk mendiskusikan beberapa ide
maupun menyelesaikan masalah yang mungkin terjadi, sehingga
dapat meningkatkan ikatan dan diskusi penting yang mengarah
pada pemahaman dari perspektif yang berbeda dan dapat
menyelesaikan masalah di dalam tim.
c) Faktor organisasional dan institusional (organizational and institutional
factor), Institusi dan kelembagaan sangat berperan dalam mengurangi
hambatan untuk kolaborasi lintas profesi.
Kebijakan yang diterapkan oleh suatu institusi ataupun kelembagaan
kesehatan harus dapat mendorong terciptanya kerjasama antar profes
kesehatan, kebijakan tersebut dapat berupa penerapan kurikulum
Interprofessional Education maupun penerapan standar pelayanan kesehatan
melalui kolaborasi Interprofessional Education dalam memberikan pelayanan
kesehatan di rumah sakit. 2) Proses meliputi, a) Faktor perilaku. Bekerjasama
antar profesi kesehatan merupakan kunci untuk mengatasi hambatan dalam
proses kolaborasi. Kesadaran untuk bekerjasama dan saling membutuhkan
harus ditanamkan pada setiap anggota tim agar tidak ada arogansi maupun
egoisme profesi. Perilaku bekerjasama juga bertujuan untuk meredakan
ketegangan di antara profesi yang berbeda, selain itu juga untuk meningkatkan
efektifitas dan efisiensi biaya perawatan pasien. b) Faktor interpersonal,
interpersonal merupakan cara untuk berhubungan dengan orang lain, dalam
hal ini adalah profesi kesehatan yang lain
Dalam hubungan interpersonal harus terdapat peran yang
jelas. Setiap profesi harus mengetahui peran profesi yang
lain, sehingga mereka dapat berbagi peran sesuai dengan
kompetensi masing-masing profesi. Untuk membentuk
hubungan interprofessi yang baik sangat diperlukan adanya
komunikasi interprofessi yang efektif. Melalui komunikasi
interprofessi, anggota tim dapat saling berbagi ide,
perspektif dan inovasi perawatan kesehatan sehingga
kolaborasi dapat berjalan dengan baik. c) Faktor
intelektual, Sebuah institusi pendidikan profesi kesehatan
memegang peranan yang sangat penting dalam
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kolaborasi
interprofessi
Kolaborasi
Interprofessi akan berjalan dengan baik apabila setiap
anggota tim mempunyai tingkat pengetahuan dan
keterampilan yang setara. 3) Outcome and opportunity,
meliputi pengembangan kerjasama dan kolaborasi tim
interdisiplin akan sangat membantu dalam menciptakan
ide-ide baru yang berhubungan dengan inovasi pelayanan
kesehatan. Kesadaran terhadap hambatan terbentuknya
kerjasama yang efektif harus ditekankan pada setiap
anggota tim sehingga dapat tercipta model integrasi dalam
sistem pelayanan kesehatan. Tuntutan terhadap
peningkatan kualitas pelayanan kesehatan memberikan
peluang bagi tenaga kesehatan untuk menerapkan
kolaborasi interprofessi dalam sistem pelayanan kesehatan.
d. Upaya Meningkatkan Kerjasama Interprofesssional Educational
Kerjasama yang efektif oleh tenaga kesehatan dari berbagai profesi
merupakan kunci penting dalam meningkatkan efektifitas pelayanan
kesehatan dan keselamatan pasien (Burtscher, 2012). Fakta yang terjadi
saat ini, bahwa sulit sekali untuk menyatukan berbagai profesi
kesehatan tersebut kedalam sebuah tim interprofessi. Hal tersebut
dikarenakan kurangnya kemampuan tenaga kesehatan untuk menjalin
kerjasama yang efektif seperti kurangnya ketrampilan komunikasi
interprofessi dan belum tumbuhnya budaya diskusi bersama profesi
lain dalam menentukan keputusan klinis pasien. Untuk itulah
diperlukan adanya kurikulum yang dapat melatih mahasiswa tenaga
kesehatan untuk berkolaborasi sejak masa akademik agar mereka
terbiasa berkolaborasi

dengan profesi lain bahkan sampai ketika mereka berada didunia kerja
(Reeves, 2011).
Sebuah rekomendasi dari World Health Organization (2010)
yang bertema “Framework for Action on Interprofessional
Education and Collaborative Practice” menjelaskan bahwa
Interprofessional Education (IPE) merupakan strategi
pembelajaran inovatif yang menekankan pada kerjasama dan
kolaborasi interprofessi dalam melakukan proses perawatan
untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan pasien. Lebih
jauh World Health Organization (2010) menjelaskan bahwa
kerjasama Interprofessional Education merupakan kemampuan
yang harus selalu dipelajari dan dilatih melalui Interprofessional
Education. Kemampuan kerjasama Interprofessional Education
yang baik dapat dilihat dari kemampuan mahasiswa untuk
menjadi team leader dan mampu mengatasi hambatan dalam
kerjasama interprofessi.
. Penerapan Kerjasama Interprofessional Education
Tim interprofessi dapat terdiri atas berbagai profesi kesehatan
seperti konsultan, dokter, perawat, dokter spesialis, dan
fisioterapis dan tim ini dapat diterapkan pada berbagai macam
tatanan perawatan dalam penerapan kerjasama Interprofessional
Education, anggota tim Interprofessional Education mungkin
saja mengalami konflik karena beragamnya latar belakang
profesi. Oleh karena itu dibutuhkan pemahaman tentang
perawatan yang berfokus pada komunikasi dan sikap

yang mengacu pada keselamatan pasien yang merupakan


prioritas utama. Selain itu dibutuhkan kejelasan peran masing-
masing profesi dalam menciptakan perawatan yang optimal,
yaitu meliputi peran mandiri tiap profesi dan peran tim
interprofessi secara keseluruhan
Penerapan kerjasama tim Interprofessional Education pada beberapa tatanan
perawatan pasien dijelaskan sebagai berikut: Salah satu metode yang dapat
digunakan dalam meningkatkan efektifitas kerjasama tim adalah Team Mental
Models (TMM). Team Mental Models didefinisikan sebagai metode anggota
timnya yang dapat saling berbagi pengetahuan maupun pemahaman terkait
kompetensi kinerja klinis tenaga kesehatan. Menurut De Church dan Mesmer-
Magnus (2010), Team Mental Models telah terbukti memberikan efek yang
signifikan terhadap proses kinerja tim.
Secara umum, konsep Team Mental Models mengacu pada pembagian
pemahaman maupun pengetahuan yang relevan antar anggota dalam
mewujudkan kerjasama tim yang efektif. Sebuah penelitian yang dilakukan
oleh Burtscher (2012) menyatakan bahwa melalui Team Mental Models, tenaga
kesehatan dapat berbagi pengetahuan, sikap, dan pemahaman terkait
peningkatan keselamatan pasien (patient safety). Anggota tim interdisiplin
dapat saling mengidentifikasi peran dan tanggungjawab masing-masing
profesi serta dapat menentukan solusi masalah kerjasama yang mungkin
terjadi berdasarkan diskusi tim. Olehkarena itu dibutuhkan kerjasama tim
interdisiplin tenaga kesehatan dalam mewujudkan perawatan yang optimal
(Kagan, 2010).
Sebuah tim interdisiplin perlu meningkatkan dan
mengimplementasikan pengetahuan maupun kompetensi asuhan perawatan
akut. Perawatan akut lebih menitikberatkan pada pemberian perawatan sesuai
dengan kebutuhan pasien.
8. Kompetensi Interprofessional Education
Berdasarkan American Assosiation of Colleges of Nursing, 2011 kompetensi
Interprofessional Education meliputi:
Etika dan nilai, terdiri dari: Peduli, saling hormat, mengakui sifat multidisiplin
dalam memberikan pelayanan kesehatan, adanya kesamaan, menyadari adanya
hubungan antar profesi dalam praktik bersama, pasien, memberikan putusan
dan kebijakan bersama, saling menghormati dan percaya, menghormati
keberagaman dalam keahlian masing-masing/budaya/nilai-nilai, peduli, tepat
waktu dalam pengambilan keputusan, menempatkan kepentingan pasien, dan
menjalin hubungan saling percaya, bertindak jujur, dan menjaga kompetensi
dalam profesi masing-masing sesuai dengan lingkup prakteknya.
Sebuah tim interdisiplin perlu meningkatkan dan
mengimplementasikan pengetahuan maupun kompetensi asuhan perawatan
akut. Perawatan akut lebih menitikberatkan pada pemberian perawatan sesuai
dengan kebutuhan pasien.
8. Kompetensi Interprofessional Education
Berdasarkan American Assosiation of Colleges of Nursing, 2011 kompetensi
Interprofessional Education meliputi:
Etika dan nilai, terdiri dari: Peduli, saling hormat, mengakui sifat multidisiplin
dalam memberikan pelayanan kesehatan, adanya kesamaan, menyadari adanya
hubungan antar profesi dalam praktik bersama, pasien, memberikan putusan
dan kebijakan bersama, saling menghormati dan percaya, menghormati
keberagaman dalam keahlian masing-masing/budaya/nilai-nilai, peduli, tepat
waktu dalam pengambilan keputusan, menempatkan kepentingan pasien, dan
menjalin hubungan saling percaya, bertindak jujur, dan menjaga kompetensi
dalam profesi masing-masing sesuai dengan lingkup prakteknya.
Peran dan Tanggung Jawab, terdiri dari: Mampu berperan
profesional dan tanggung jawab sesuai dengan profesi
masing-masing, memahami peran dan tanggung jawab
orang lain dalam keberagaman profesi, koordinasi,
memberikan perawatan yang aman, tepat waktu, efisien,

efektif dan adil, menjalin hubungan saling tergantung


dengan profesi lain untuk meningkatkan pemberian
layanan kepada pasien, terlibat dalam pengembangan
profesi untuk meningkatkan kinerja tim, saling
melengkapi dari semua anggota tim untuk
mengoptimalkan anggota tim.
c. Komunikasi Interprofessional, terdiri dari:
1)Membina hubungan komunikasi dengan prinsip kesetaraan antar
profesi kesehatan.
2) Mampu untuk menjalin komunikasi dua arah yang efektif antar
petugas kesehatan yang berbeda profesi dalam
3) Berinisiatif membahas kepentingan pasien bersama profesi
kesehatan lain.
4) Pembahasan mengenai masalah pasien dengan tujuan
keselamatan pasien bisa dilakukan antar individu ataupun
antar kelompok profesi kesehatan yang berbeda.
5) Mampu menjaga etika saat menjalin hubungan kerja dengan
profesi kesehatan yang lain.
6) Mampu membicarakan dengan profesi kesehatan yang lain
mengenai proses pengobatan (termasuk alternatif/ tradisional)
7) Informasi yang bersifat komplimenter/ saling melengkapi:
kemampuan untuk berbagi informasi yang appropriate dengan
petugas kesehatan dari profesi yang berbeda (baik tertulis di medical
record, verbal maupun non-verbal).
8) Paradigma saling membantu dan melengkapi tugas antar profesi
kesehatan sesuai dengan tugas, peran dan fungsi profesi masing-
masing.
9) Negosiasi: kemampuan untuk mencapai persetujuan bersama antar
profesi kesehatan mengenai masalah kesehatan pasien.
10) Kolaborasi: Kemampuan bekerja sama dengan petugas kesehatan dari
profesi yanglain dalam menyelesaikan masalah kesehatan pasien.
11) Memahami keunikan masing-masing profesi,
12) Mendengarkan secara aktif ideide dan opini dari masing-masing
profesi, 13) Saling memberikan umpan balik instruktif masing-
masing anggota tim
d. Kerjasama tim, terdiri dari: 1) Adanya peran masing-
masing dalam tim profesional. 2) Adanya
pengembangan tim dalam pelibatan tim yang efektif,
3) Terlibat aktif dalam penyelesaian masalah pasien
yang spesisfik yang berpusat pada pemecahan
masalah, 4) Mengintegrasikan pengetahuan dan
pengalaman masing-masing profesi dalam
pengambilan kepetusan perawatan, 5) Terlibat dalam
secara kontruktif dalam tindakan penyelesaian
masalah pasien
9. Penguatan Nilai Kolaborasi Antar Profesi Dan
Pengembangan Pendidikan Interprofesi Menuju
Pelayanan Kesehatan Yang Berkualitas
Berdasarkan hasil simposium IPE, 2014 Health Profesional
Education Quality (HPEQ) menyusun strategi
pengembangan nilai-nilai pendidikan Interprofesi dan
kolaborasi antar profesi sebagai berikut:
a) Alternatif Metode Pembelajaran
Mahasiswa meliputi: Kuliah Kerja Nyata (KKN), Diskusi
kasus, E-Learning, Skill Laboratorium terintegrasi, Kuliah
umum, Simulasi, Role Play, Fielt Trip, Pengenalan Program
Studi, Tutorial, Organisasi kemahasiswaan.
Dosen meliputi: Kuliah Kerja Nyata (KKN), Studi kasus, Problem
Base Learning (PBL), Skill Laboratorium, kuliah bersama,
Simulasi, Kepanitiaan umum bersama, Role Play, penelitian
bersama.
b. Topik yang Menarik untuk Penerapan Interprofessional
Education (IPE)
Mahasiswa meliputi: Biomedik dasar, Etika kesehatan, Komunitas,
manajemen bencana, Masalah kesehatan global (HIV/AIDS,
TBC, MDGs), Emergency, Geriatric, Kesehatan Ibu dan Anak,
Promotif dan Preventif, Epidemiologi, Pediatric, Penyakit
jantung coroner.
Dosen meliputi: Biomedik dasar, etika kesehatan, komunitas,
manajemen bencana, masalah kesehatan global (HIV, TBC,
MDGs)
c. Alternatif Waktu penerapan Interprofesional Education (IPE)
Mahasiswa meliputi: Penerimaan Mahasiswa Baru, Tahun Awal,
Tahap Profesi (Klinik), Tahun Awal dan Tahun Akhir,
Pertengahan Tahun dan Tahun Akhir, Semester 4.
Dosen meliputi: Tahun Awal, Tahun Awal dan Tahun Akhir,
Penerimaan Mahasiswa Baru, Pertengahan dan Tahun Akhir.
d. Persiapan pelaksanaan Interprofesional Education (IPE)
Mahasiswa meliputi Fasilitator, Bagian Administrasi koordinator
IPE, Fasilitas fisik, Standart Kurikulum, Standart Operasional
Prosedur (SOP) Interprofessional Education (IPE) dari Dikti,
Kebijakan hukum dan regulasi, Komitment antar institusi,
sinkronisasi, Birokrasi, Modul Pembelajaran, Kajian IPE
Dosen meliputi: Fasilitator, Bagian administrasi
koordinator

Interprofessional Education (IPE) Komitmen mitra


institusi, Lahan praktik, Fasilitas fisik, Standart
Kurikulum, Standart Operasional Prosedur (SOP)
Interprofessional Education (IPE) dari Dikti, Kebijakan
hukum, Komitment antar institusi, Sinkronisasi
birokrasi
10. Strategi Pengembangan Nilai-Nilai Pendidikan
Interprofessional
Education dan Kolaborasi Antar Profesi.
a. Program Penguatan Nilai Interprofessional Eduacation
Kepada Generasi Muda sebagai agen Perubahan:
1)Kajian Ilmiah,
2) Hibah penelitian dan pengajaran,
3) Konferensi Health Profesional Education Quality (HPEQ),
4) Capacyty Building,
5) Networking dengan Interprofessional Education center and
Experts,
6) Publikasi International
b. Inovasi Program Kolaborasi Antara Mahasiswa Dan Profesional
Muda Kesehatan Dalam Menjaga Keberlanjutan Misi Kolaborasi
Antara Profesi Dan Pengembangan Pendidikan Interprofessional
Education:
Pembentukan Nusantara Health Collaborative (NHC)
Nilai Nusantara Health Collaborative: a) Kolaborasi antar profesi, hal ini
sebagai solusi percepatan peningkatan, b) Kualitas pelayanan
kesehatan yang berkelanjutan, c) Standarisasi, harmonisasi standart
pelayanan, standart pendidikan, dan standart kompetensi tiap bidang
kesehatan yang mendorong implementasi praktik kolaborasi antar
profesi kesehatan, d) Berbagi sumber daya, kolaborasi dengan

prinsip berbagi sumber daya dan prinsip saling melengkapi antar


tenaga kesehatan untuk efisiensi proses, demi efektivitas
pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat
e)
Optimalisasi teknik informasi komunikasi, dalam upaya
perluasan akses diseminasi informasi dan memperkuat komunikasi
efektif dalam mendukung keberhasilan kolaborasi anterprofesi
dengan berlandaskan etika penggunaan teknik informasi
komunikasi yang benar, f) Kemitraan, kecerdasan strategi
komunikasi dan advokasi dalam mengakarkan praktik
pendidikan dan kolaborasi interprofesi antara mahasiswa dan
profesional muda kesehatan dengan seluruh pemangku
kepentingan yang terkait.
Output Perihal
Teknis, meliputi: a)
Panduan Nasional:
materi dan
Standart Operasional
Prosedur (SOP)
Pelaksanaan
Nusantara
Health
Collaborative
yang terstandar

Nasional untuk setiap regional, b)


Metode e-learning: Webinar dan Live-streaming pelaksanaan NHC, c) Stakeholders
relationship management system yang berbasis database seluruh pihak yang terlibat pada
NHC, d) Virtual management system dalam hal komunikasi dan koordinasi antar
seluruh pihak NHC
 2. Output Substansi, meliputi: a) Kajian sikap dan
lingkungan pembelajaran dalam implementasi
Interprofessional Education (IPE), b) Alternatif
metode pembelajaran interprofesi untuk berbagai isu
kesehatan di Indonesia, c) Policy brief: pengembangan
praktik kolaborasi dan pendidikan interprofesi di
Indonesia, d) Kemitraan dengan berbagai stakeholders
untuk menjaga keberlanjutan program, e) Komunitas
agenagen/ champion kolaborasi dari mahasiswa,
profesional kesehatan muda, dan pemangku kebijakan
yang terlibat.
e. Rencana Tindak Lanjut
Pengembangan Pendidikan Interprofessional Education:
a)Memasukkan komponen pendidikan interprofesi pada
standart pendidikan tiap bidang kesehatan, kurikulum
pendidikan tinggi bidang kesehatan, instrument
akreditasi prodi kesehatan dan uji kompetensi profesi
kesehatan, b) Penyusunan pedoman baku/modul
penyelenggaraan pendidikan Interprofessional
Education (IPE) di tatanan pendidikan tinggi profesi
kesehatan, c) Publikasi Internasional dan beasiswa
untuk Interprofessional Education Course.
Pengembangan Praktik Kolaborasi, meliputi:
b) Memasukkan komponen pendidikan
Interprofessional Education (IPE) pada standar
kompetensi dan standart pelayanan tiap bidang
kesehatan, instrumen akreditasi Rumah Sakit, b)
Penyusunan pedoman pelaksanaan praktik kolaborasi
diberbagai pelayanan kesehatan, 3) Panduan
pelaksanaan pelayanan yang menjamin implementasi
standart dijalankan dengan benar dan harmoni