Anda di halaman 1dari 26

MANAJEMEN ANASTESI SPINAL PADA

TRANSURETHRAL RESECTION OF PROSTATE


(TURP)
AULIA AGMA DARWIS
N 111 17 081

PEMBIMBING:
dr. MUHAMMAD RIZAL,M.Kes,Sp. An

BAGIAN ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PENDAHULUAN
Anestesi
Anestesi adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan cara menghilangkan nyeri secara sentral,
disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali atau reversibel. Pada anestesi umum harus
memenuhi beberapa hal ini yaitu hipnotik, analgesi, relaksasi otot

Anastesi Spinal
Anastesi spinal bertujuan untuk memblok saraf sensorik untuk menghilangkan sensasi
nyeri. Namun anestesi spinal juga memblok saraf motoric sehingga mengakibatkan
paresis/paralisis di miotom yang selevel dengan dermatom yang diblok. Disamping itu
juga memblok saraf otonom dan yang lebih dominan memblok saraf simpatis sehingga
terjadi vasodilatasi dan penurunan tekanan darah.

Benign Prostate Hyperplasia


Benign Prostate Hyperplasia (BPH) merupakan penyakit yang sering diderita
oleh pria usia lanjut. Oleh karena terjadi obstruksi pada saluran kencing, maka
pasien biasanya masuk dengan gangguan miksi
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. A
Jenis kelamin : Laki-Laki
Usia : 63
Berat Badan : 55 kg
Tinggi Badan : 165 cm
Agama : Islam
Pekerjaan : Petani
Alamat : Pasang Kayu
HETEROANAMNESIS
Keluhan Utama :
Tidak bisa buang air kecil

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien Os masuk rumah sakit dengan keluhan tidak bisa buang air kecil
kurang lebih 1 tahun yang lalu, memberat sejak 3 bulan terakhir. Awalnya
pasien mengeluh nyeri perut bagian bawah dan tidak bisa kencing. Kemudian
pasien datang ke rumah sakit kemudian dirawat dan dilakukakan pemasangan
kateter. Mual tidak ada, muntah tidak ada, sakit kepala tidak ada, pusing tidak
ada dan demam tidak ada. Keluhan yang lain disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu

● Riwayat alergi (-)


● Riwayat asthma (-)
● Riwayat penyakit jantung (-)
● Riwayat hipertensi (-)
● Riwayat operasi sebelumnya (-)
Pemeriksaan Fisik pre Operasi

Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Status Gizi : Baik
Tanda vital : TD : 130/80 mmhg RR: 20 kali/menit VAS: 4
N: 80 kali/menit T: 36,8C
BB : 55 kg
ASA :1
Kepala : Normocephal
Kulit : Sianosis (-)
Mata : anemis (-/-), ikterik (-/-)
Telinga : discharge (-)
Hidung : Discharge (-)
Mulut : Gigi palsu (-), sianosis (-)
Leher : Pembesaran KGB (-), deviasi trakea (-)
Tenggorokan : Tonsil (1/1), faring hiperemis (-)
PERSIAPAN
PRE OPERASI
B1 (Breath)
Jalan nafas paten (bicara spontan), bentuk wajah dalam batas
normal, buka mulut lebih dari 3 jari, Mallampati score: I, gigi
utuh dan baik, gigi palsu (-), kebersihan rongga mulut baik.
RR: 20 kali/menit, tipe abdomino-torakal, cuping hidung (-),
leher gemuk (-), trakea ditengah, massa regio coli (-). Retraksi
interkosta (-). Stridor (-), ronki (-), wheezing (-).
B2 (Blood)
Akral dingin (-/-). Nadi 80 kali/menit, reguler, kuat angkat, TD
130/80 mmHg.
B3 (Brain)
GCS E4 V5 M6, defisit neurologis (-), pupil isokor 3mm/3mm,
reflex cahaya +/+, tanda-tanda ↑TIK (-)
B4 (Bladder)
Terpasang kateter urine
B5 (Bowel)
Cembung (+), nyeri tekan (-)
B6 (Back and Bone)
Mobilitas tidak terbatas, edema -/-, pucat +/+.
CRT <2 detik. Kelainan tulang belakang (-),
sensorik normal.
PEMERIKSAAN LAB
Parameter Hasil Satuan Keterangan

RBC 4,67 106/uL Normal


WBC 5,35 103/uL Normal

PLT 210 103/uL Normal

Hb 13,6 g/dL Normal


HCT 40,8 % Normal
BT 3 Menit Normal
CT 7 Menit Normal
LED 10 mm/jam Normal
HBsAg Non Normal
GDS Reaktif mg/dL Normal
123
Ureum 30 U/L Normal
Kreatinin 1,17 U/L Normal
Diagnosi Pra bedah : Benign Prostat Hyperplasia
(BPH)

Tindakan : TURP

Jenis anastesi : Anastesi Regional

Teknik anastesi : : SAB (Subarachnoid Block)


PERSIAPAN DI KAMAR OPERASI

• Hal-hal yang perlu dipersiapkan di kamar operasi antara lain


adalah:
• Meja operasi dengan asesoris yang diperlukan
• Mesin anestesi dengan sistem aliran gasnya
• Alat-alat resusitasi (STATICS)
• Obat-obat anestesia yang diperlukan.
• Obat-obat resusitasi, misalnya; adrenalin, atropine, aminofilin,
natrium bikarbonat dan lain-lainnya.
• Tiang infus, plaster dan lain-lainnya.
• Alat-alat pantau yang dipasang Pulse Oxymeter
• Kartu catatan medis anestesia
• Selimut penghangat
TINDAKAN ANASTESI
Anestesiologi : dr. Sofyan Bulango, Sp.An
Ahli Bedah : drg. Aristo, Sp.U
Jenis operasi : TURP (Transurethral Resection of Prostat)
Jenis anestesi : Anastesi Regional
Tehnik anestesi : SAB (Subarachnoid Block)
Anastesi dengan : Bupivacaine Hyperbaric 0,5% sebanyak 15 mg
Lama operasi : 10.40 – 11.20 (40 menit)
Lama anestesi : 10.20– 11.20 (1 jam 0 menit)
Infus : 1 line di tangan kiri
Premedikasi : Ondancentron 4 mg
Medikasi : Furosemide 40mg
Ketorolak 30 mg
Asam Tranexamat 500mg
LAPORAN MONITORING
ANESTESI
1.Estimated Blood Volume (EBV)
BB : 55 kg
EBV = 75 cc/kg BB x 55 kg = 4.125 cc
Jumlah perdarahan = ±80cc
% Perdarahan =80/4.125x 100% = 1,93 %

PEMBERIAN CAIRAN
Input yang diperlukan selama operasi
Cairan maintenance (M)
BB Pasien : 55
10 kg pertama : 10 kg x 4cc = 40 cc
10 kg kedua : 10 kg x 2 cc = 20 cc
Sisa BB : 35 kg x 1 cc = 35 cc
Total : 95 cc/jam (2.280 ml/24 jam)

Cairan defisit pengganti puasa (P) :


Pengganti puasa: lama jam puasa (8 jam) x maintenance (95cc) = 760 cc
Stress operasi : pada kasus ini termasuk jenis operasi sedang karena merupakan operasi bedah sedang sehingga
stress operasi =
6 x 55 kg = 330 cc

Pasien ini menjalani operasi selama 35 menit. Jadi kebutuhan cairan pada jam I:
M + SO + 50% PP
95 + 330 + 50% (760) = 805 cc
Cairan yang masuk selama durante operasi sebanyak 1000 cc (RL 500 cc 2 kolf) sehingga sesuai dengan
perhitungan cairan yang harus diberikan sebanyak 805 cc.
POST OPERATIF

SKOR PEMULIHAN PASCA ANESTHESIA Bromage Score

Kriteria Nilai Skor

Dapat memfleksikan kaki dan lutut (None) 0 0

Hanya dapat menekuk lutut kanan tetapi tidak dapat 1


mengangkat kaki (Partial)

Hanya dapat menggerakkan kaki (Almost Complete) 2

Tidak dapat mengangkat kaki sama sekali 3


(Complete)
TOTAL

Keterangan : Pasien dapat dipindahkan ke bangsal atau ruang perawatan jika skor kurang dari atau sama
dengan 2.
PEMBAHASAN
• Pasien tergolong PS ASA II
• Anastesi yang digunakan pada kasus ini adalah dengan general anastesi.
• Teknik anestesinya Sub Arachoid Blok (SAB) atau anestesi spinal.
• Operasi yang dilakukan adalah TURP. Pasien yang akan menjalani TURP umumnya adalah
pasien geriatric, untuk itu penting untuk dilakukan evaluasi ketat terhadap fungsi
kardiovaskular, respirasi dan ginjal.
• Jenis anestesi yang dipilih adalah regional anestesi dengan cara anestesi spinal. Anestesi
regional baik spinal maupun epidural dengan blok saraf tinggi memberikan efek anestesi
yang memuasakan dan kondisi operasi yang optimal bagi prosedur operasi TURP
Saat sebelum melalui pembedahan, pada pasien ini di lakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, Dengan
keadaan tersebut, pasien termasuk dalam kategori ASA II E
I. Pasien normal dan sehat fisik dan mental
II. Pasien dengan penyakit sistemik ringan dan tidak ada keterbatasan fungsional
III. Pasien dengan penyakit sistemik sedang hingga berat yang menyebabkan keterbatasan fungsi
IV. Pasien dengan penyakit sistemik berat yang mengancam hidup dan menyebabkan ketidakmampuan fungsi
V. Pasien yang tidak dapat hidup/bertahan dalam 24 jam dengan atau tanpa operasi
VI. Pasien mati otak yang organ tubuhnya dapat diambil.
The Power of PowerPoint | 19
Sebelum dilakukan operasi pasien dipuasakan selama 8 jam. Tujuan puasa
untuk mencegah terjadinya aspirasi isi lambung karena regurgitasi atau
muntah pada saat dilakukannya tindakan anestesi akibat efek samping dari
obat-obat anastesi yang diberikan. The Power of PowerPoint | 20
BUPIVACAINE
Pada pasien digunakan obat anestesi golongan amide yaitu
bupivakain HCL. Berdasarkan teori bupivakain lebih kuat dan
lama kerjanya 2 – 3 x lebih lama dibanding lidokain atau
mepivakain, Onset anestesinya juga lebih lambat dibanding
lidokain, ikatan dengan HCl mudah larut dalam air, pada
konsentrasi rendah blok motorik kurang adekuat
MEDIKASI
• Ondansentron 4mg
merupakan suatu antagonis reseptor 5HT3 yang bekerja secara selektif dan kompetitif dalam
mencegah maupun mengatasi mual dan muntah.
• Ketorolac 30mg/ml IV
(AINS) yang bekerja menghambat sintesis prostaglandin sehingga dapat menghilangkan rasa
nyeri/analgetik efek.
• Furosemide 40mg
- golongan diuretic
- sebagai diuresis sehingga mengurangi pembengkakan dan retensi cairan yang disebabkan
oleh berbagai masalah kesehatan.
- Dosis dewasa diberikan dosis awal 20-80 mg oral sebagai dosis tunggal.
- Dosis yang sama atau ditingkatkan diberikan 6-8 jam kemudian. \
- Dapat ditingkatkan lagi setiap 6-8 jam sampai efek yang diinginkan terjadi.
• Asam Tranexamat
golongan obat anti fibrinolitik. menghentikan perdarahan pada sejumlah kondisi, misalnya
perdarahan pasca operasi dan sebagainya.
Selama perioperatif cairan kristaloid yang diberikan pada pasien
adalah Ringer Laktat (RL) yang merupakan larutan isotonik
(Natrium Klorida, kalium klorida, kalsium klorida dan natrium
laktat) yang komposisinya serupa dengan cairan ekstraseluler,
mengandung ion-ion yang terdistribusi kedalam cairan
intravaskular sehingga bermanfaat untuk mengembalikan
keseimbangan elektrolit.
Pemberian kristaloid saat dilakukan anestesi spinal lebih
efektif dalam menurunkan insidensi terjadinya hipotensi,
karena dengan cara ini kristaloid masih dapat memberikan
volume intravaskuler tambahan (additional fluid) untuk
mempertahankan venous return dan curah jantung
Pembedahan selesai dilakukan, dengan pemantauan
akhir TD 120/70 mmHg; Nadi 55x/menit, dan SpO2 99%.
Pembedahan dilakukan selama 35menit dengan
perdarahan ±88cc
TERIMAKASIH