Anda di halaman 1dari 24

LogoType Jurnal Reading

Pancreatic Enzyme Replacement Therapy in


Children with Severe Acute Malnutrition:
A Randomized Controlled Trial
Rosalie H. Bartels, MD1,2, Céline Bourdon, MSc3, Isabel Potani,
MSc2, Brian Mhango, MSc2, Deborah A. van den Brink, BSc4,
John S. Mponda, MSc5, Anneke C. Muller Kobold, PhD6, Robert
H. Bandsma, MD, PhD4,7, Michael Boele van Hensbroek, MD,
PhD1, and Wieger P. Voskuijl, MD, PhD1,2

Pembimbing
dr. Tundjungsari, Sp.A

Disusun oleh
Rizki Putri Andini R
1710221017
Abstrak
01 Tujuan

Menilai manfaat terapi pengganti enzim


pankreas (PERT) pada anak dengan
malnutrisi akut berat.

02 Desain & Metode

Perawatan
90 anak usia 6-60
Uji coba standar,
bulan dengan
terkontrol secara kelompok
malnutrisi akut
acak intervensiPERT
berat komplikasi
selama 28 hari
Abstrak
03 Hasil

Kelompok intervensi tidak mendapat BB lebih besar dari


kelompok kontrol. Insufisiensi pankreas eksokrin terdapat
pada 83,1% pasien & kadar fecal elastase-1 (FE-1) mening
kat selama perawatan, paling terlihat pada anak dengan
malnutrisi akut nonedematosa. Mortalitas secara signifikan
lebih rendah pada kelompok intervensi (18.6% vs 37.8%).
Abstrak
04 Kesimpulan

PERT mempercepat waktu perawatan anak di rumah sakit.


Mortalitas lebih rendah pada pasien yang mendapat PERT
perlu penelitian lebih lanjut
Mortalitas pasien malnutrisi akut berat berhubungan dengan
fungsi pencernaan yang buruk.
LATAR BELAKANG
• Pada tahun 2015, 16000 anak di bawah usia 5 tahun meninggal setiap
harinya. Afrika Sub-Saharan memiliki mortalitas terbesar (47%).

• Prevalensi insufisiensi enzim pankreas eksokrin sebesar 93% pada


anak malnutrisi akut berat di Malawi. Malnutrisi akut berat dengan
edema (pitting edema bilateral) memiliki insufisiensi pankreas eksokrin
lebih berat daripada malnutrisi akut berat nonedema.

• Pada anak-anak insufisiensi eksokrin pankreas dengan etiologi


malnutrisi akut berat yang mendasari lainnya, dapat mulai dilakukan
terapi penggantian enzim pankreas (PERT), tujuannya mengembalikan
status nutrisi dengan memperbaiki pencernaan.
Tujuan Khusus

1. Meneliti pengaruh PERT pada anak dengan malnutrisi


akut berat yang dirawat di RS
2. Meneliti perbandingan efek PERT terhadap fungsi
eksokrin pankreas yang terlihat dari kadar fecal elastase-1
(FE-1), pasien yang dipulangkan dari RS, mortalitas, dan
fungsi pencernaan yang terlihat dari kadar FFA dan TG
feses
Penelitian antara Februari-
September 2014 anak-anak Kriteria eksklusi:
dengan malnutrisi akut berat dengan Terdapat malaria (apusan darah+),
tanda klinis berat &/nafsu makan penyakit sistemik berat (sepsis,
yang buruk di unit rehabilitasi RS pneumonia berat, diare berat)
Queen Elizabeth Malawi.

Kriteria inklusi: METODE


Usia 6-60 bulan yang dirawat di RS
dengan malnutrisi akut berat.
Malnutrisi akut berat menurut WHO:
BB/TB<-3 SD, LILA <115 mm
(maramus), adanya edema bilateral
(kwashiorkor).
Prosedur
Seluruh subyek dilakukan
Pencatatan nafsu makan,
pemeriksaan apusan darah
derajat edema, status
(melihat adanya parasitemia
hidrasi, dan tanda vital
& hitung hematokrit), dan
setiap hari.
pemeriksaan tes antibodi HIV

Sampel feses diambil Insufisiensi pankreas


Kelompok intervensi pada hari ke 14 dan eksokrin :
(PERT) diberikan hari 28, FE-1<200μg/g, berat
3000 U dihomogenkan & bila FE-1<100μg/g.
lipase/kgBB/hari 3 kali disimpan pada suhu -
sehari, dosis max Fungsi pencernaan
80°C pemeriksaan dgn membagi rasio
10000 U/kgBB/hari.
FE-1, FFA, TG FFA & TG pada hari 28
Setelah 28 hari, tidak ada
perbedaan rata-rata perubahan
BB antara kedua kelompok
Kadar FE-1 berkurang pada
anak dengan malnutrisi akut
berat saat dirawat di rumah
sakit.

Anak dengan edema memiliki kadar FE-1 yang lebih rendah dengan median
32 μg/g feses dibandingkan dengan anak tanpa edema 110 μg/g feses
Mortalitas (box warna hitam) lebih rendah pada kelompok PERT dibandingkan kelompok
kontrol (18,6% vs 37,8%). Lama waktu kedatangan hingga kematian di RS tidak berbeda
signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (4,6 hari vs 4,9 hari). Begitu
juga dengan waktu kepulangan dari RS dan kematian tidak berbeda signifikan (6,7 vs 7,7
hari). Dibandingkan dengan kontrol, anak-anak yang mendapat PERT memiliki
probabilitas yang lebih tinggi untuk dipulangkan setiap hari perawatan.
DISKUSI
1. Pengobatan PERT pada malnutrisi akut berat dengan insufisiensi pankreas
tidak meningkatkan BB setelah 28 hari pengobatan

 Penggunaan klinis PERT pada fibrosis kistik bertujuan untuk mempertahankan


status gizi dan pertumbuhan anak, sedangkan pada penelitian ini digunakan untuk
penyembuhan pada malnutrisi akut berat.
 Konsumsi PERT pada saat perawatan di rumah hanya dievaluasi melalui laporan
pengasuh dan dengan menghitung paket blister kosong yang dibawa saat kunjungan
 Tidak dapat ditentukan apakah waktu selama 28 hari dapat mempengaruhi
perubahan BB
 Keterbatasan dengan hanya memfokuskan terapi pada gangguan pencernaan
untuk meningkatkan BB pada anak malnutrisi akut berat dengan komplikasi
DISKUSI
2. Mortalitas pada kelompok intervensi (17%) lebih rendah secara signifikan
dibandingkan kelompok kontrol (37%)

Dari penelitian terdahulu, terdapat perbedaan mortalitas antara malnutrisi non


edematosa dan malnutrisi edema, walaupun data tidak konsisten
 Tidak dapat disimpulkan dengan jelas bahwa temuan kami untuk perbedaan
dalam kematian dijelaskan oleh perbedaan karakteristik fenotipikal karena lebih
banyak anak dengan marasmus pada kelompok kontrol.
 Lamanya waktu kematian antara kedua kelompok yang sama juga tidak dapat
menjelaskan mortalitas yang lebih rendah pada kelompok PERT.
DISKUSI
3. Lama perawatan di RS pada kelom 4. Anak dengan malnutrisi akut berat
pok intervensi lebih rendah dibanding edema menunjukan insufisiensi pan
kan kelompok kontrol kreas yang lebih berat dan perbaikan
fungsi pankreas (FE-1) yang minimal
 Dapat menjadi implikasi penting untuk
manajemen terapi pada anak malnutrisi  Dapat dipertimbangkan pemberian
akut berat dan memerlukan penelitian terapi spesifik yang berbeda antara
lebih lanjut secara kohort dengan sampel kedua jenis malnutrisi
yang lebih besar serta perbedaan terapi
antara kedua jenis malnutrisi.
KELEMAHAN
1. Standar emas untuk mendiagnosis malabsorpsi lemak (steatorrhea) adalah
dengan mengukur lemak feses secara kuantitatif melalui uji biokimia yang
membutuhkan 3 hari pengumpulan tinja dengan catatan semua asupan
makanan. Banyak faktor lainnya yang mempengaruhi, seperti gangguan
homeostasis empedu, enteropati, dan pertumbuhan bakteri usus halus yang
terlalu cepat.
2. Diperlukan penelitian kohort dengan sampel yang lebih besar untuk mengkon
firmasi temuan pada penelitian ini.
KELEBIHAN
1. Persentasi follow up subyek tinggi (93%)
2. Dilakukan pencatatan berat badan setiap harinya selama dirawat di
rumah sakit
3. Penelitian ini bersifat single blinded perawat yang menimbang berat
badan tidak mengetahui subyek yang menerima PERT maupun subyek
kontrol
Implikasi
KESIMPULAN
Penelitian ini dapat digunakan seba PERT tidak meningkatkan
gai standar acuan untuk terapi tambah BB pada anak malnutrisi
an malnutrisi akut berat namun mem
butuhkan penelitian lebih lanjut deng
01 akut berat dengan
komplikasi
an sampel yg lebih besar utk meng
konfirmasi temuan

Insufisiensi pankreas menu


njukkan perbaikan minimal 02 Mortalitas pada kelompok
PERT lebih rendah dan pena
setelah 28 hari yg tidak ber
hubungan dgn PERT, lama 03 nda maldigesti berhubungan
dengan mortalitas yang lebih
perawatan di RS dapat dipe tinggi
ngaruhi oleh PERT
TERIMAKASIH