Anda di halaman 1dari 16

Menopause dan permasalahannya

serta terapi pengganti hormon

KELOMPOK 5
Fase Penuaan

 Fase Subklinis (25-35 tahun)


 Fase Transisi (35-45 tahun)
 Fase Klinis ( > 45 tahun)
Fase penuaan manusia

1. Fase subklinis
Fase yang terjadi di usia 25-35 tahun. Pada fase ini
sebenarnya sudah mulai terjadi proses penuaan tapi
tidak disadari karena tidak ada gejala.
2. Fase transisi
Fase yang terjadi di usia 35-45 tahun. Pada fase ini
gejala penuaan mulai terlihat, hormon tubuh akan
mengalami penurunan hingga 25 %, gula darah
mulai meningkat, massa otot menjadi lebih kecil,
dan mulai timbul gangguan jantung serta
kegemukan.
3. Fase klinis
Fase yang terjadi di usia >45 tahun. Ketika
seseorang memasuki fase klinis, berbagai tanda
penuaan semakin berlanjut. Tanda yang perlu
diwaspadai antara lain yaitu terjadinya gangguan
penyerapan nutrisi dan mineral, menurunnya
kepadatan tulang, mulai timbul gejala penyakit
kronis, serta menurunnya fungsi seksual.
MENOPAUSE

OVARIUM ATRESIA

ATROPI

KADAR ESTROGEN MENURUN


TANDA TANDA MENOPAUSE

 Tanda Fisik
 Tanda Psikologis
Ketidakteraturan
Gejolak panas Sukar tidur di
siklus haid
malam hari

Jantung berdebar Pusing dan Gangguan


Mudah pingsan berkemih
Tanda Fisik

 Ketidakteraturan siklus haid


 Gejolak rasa panas
 Kekeringan vagina
 Perubahan kulit
 Keringat di malam hari dan sulit tidur
 Perubahan pada mulut
 Kerapuhan tulang
 Badan menjadi gemuk
 Penyakit
ATROPI UROGENITAL

Penipisan epitel
Penipisan jaringan
penyokong
Berkurangnya vaskularisasi

KELUHAN

* VAGINA KERING 22-38% * IRITASI


* DYSURIA 11% * VULVO VAG. PRURITUS
* SERING KENCING 29% * POST COIT. BLEEDING
* INCONTINENSIA 29% * PROLAPSUS
* RECURRENT UTI (urinary tract infection) 8 - 13%
* FLUOR ALBUS 15 - 22%
* INFEKSI 8 - 13%
* DYSPAREUNIA 15%
Tanda Psikologi

 Ingatan menurun
 Kecemasan
 Mudah tersinggung
 Stress
 Depresi
Dampak Klinis Penurunan Estrogen

• Gejala Vasomotor

• Atropi epitel (urogenital, mulut, mata)

• Resiko terjadinya osteoporosis

• Resiko meningkatnya penyakit jantung koroner

• Resiko menderita penyakit alzheimer


Hormon Replacement Therapy

 Tujuan : mengurangi resiko masalah kesehatan yang


dapat timbul akibat kekurangan estrogen tereutama
resiko PJK dan osteoporosis. Bukan untuk
menghentikan menopause.

Estrogen dikombinasikan Progesteron


Dosis estrogen dan progesteron yang dianjurkan
Estrogen
 Estrogen konjugasi dengan dosis 0,625- 1,25
mg/hari
 Estropipate, piperazin estron sulfat dengan dosis
0,75 mg - 1,5 mg/hari
 Estradiol valerat dengan dosis 1 – 2 mg/hari
 Estriol suksinat dengan dosis 4 – 8 mg/hari
Progesteron
 Medroksi progesteron asetat (MPA) dengan dosis 2
- 2,5 mg/hari
 Didrogesteron dengan dosis 5 mg/hari.
Kontraindikasi terapi pengganti hormon

 hipertensi kronik, obesitas, varises yang berat,


menderita penyakit kelenjar tiroid atau sedang
dalam perawatan, menderita atau dengan riwayat
penyakit hati yang berat, hasil pap smear abnormal,
kanker payudara dan gangguan fungsi ginjal.
 Note: Pil KB merupakan estrogen dan progesteron
sintetik, sedangkan terapi pengganti hormon
merupakan estrogen dan progesteron alami
Manfaat Terapi Pengganti Efek Samping Terapi
Hormon Pengganti Hormon
• Estrogen memicu produksi zat • Berat badan naik
anti agregasi, prostasiklin dan • Nyeri payudara
endothelin dari sel-sel • Perdarahan bercak (spotting)
endothelial pembuluh darah. • Sakit kepala
• Prostasiklin sebagai vasodilator • Pruritus berat
sedangkan endothelin sebagai
zat relaksasi otot pembuluh
darah.
• Estrogen dapat meningkatkan
aliran darah ke jantung (khasiat
inotropik)
• Estrogen ↓LDL ↑HDL serum
• memiliki aktivitas antioksidan.
• Meningkatkan aktivitas
osteoblas dan mencegah
osteoporosis lebih lanjut