Anda di halaman 1dari 23

Referat

 
MATA 
KERING
By :A.DWI U.S. YULIFAR
Pembimbing:
dr. dr. MIFTAHUL AKHYAR LATIEF,
Ph.D , Sp. M, , M.Kes
PENDAHULUAN

– Mata kering adalah suatu gangguan pada permukaan mata yang


ditandai dengan ketidakstabilan produksi dan fungsi dari lapisan
air mata. Tear film normal diperlukan untuk mempertahankan
fungsi permukaan okuler. Perubahan patologis yang terlihat pada
sindrom mata kering (dry eye disease) mempengaruhi semua
komponen tear film.
ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA
 

Anatomi
Kompleks lakrimalis terdiri atas
• glandula lakrimalis
- Glandula lakrimalis terdiri atas struktur dibawah ini:
.Bagian orbita: Berbentuk kenari teretak didalam foss
lakrimalis di segmen temporal atas anterior dari orbita.
. Bagian Palpebrae: Bagian palpebrae yang lebih kecil
terletak tepat di atas segmen temporal dari forniks
konjungtivae superior.
. Pembuluh Darah dan Limfe: Pasokan darah dari glandula
lakrimalis bersal dari arteria lakrimalis.
. Persarafan : Nervus lakrimalis (sensoris), sebuah cabang
dari divisi trigeminus. Nervus petrosus superfisialis magna
(sekretoris), yang datang dari nukleus salivarius superior.
Nervus simpatis yang menyertai arteria lakrimalis dan
nervus lakrimalis

Vaugan, Daniel, Taylor Asbury, Paul Riordan-Eva; alih bahasa : Jan Tamboyang, Braham U. Pendit; editor Y. Joko Suyono. Palpebra dan Apparatus
lakrimalis dalam Oftalmologi Umum, edisi 14. Jakarta: 2000. Hal 94. Widya Medika
• glandulae lakrimalis aksesori,
• kanalikuli,
• sakus lakrimalis
• duktus nasolakrimalis

Vaugan, Daniel, Taylor Asbury, Paul Riordan-Eva; alih bahasa : Jan Tamboyang, Braham U. Pendit; editor Y. Joko Suyono. Palpebra dan
Apparatus lakrimalis dalam Oftalmologi Umum, edisi 14. Jakarta: 2000. Hal 94. Widya Medika
Fisiologi 
Definisi

Sindrom mata kering, adalah gangguan pada permukaan mata yang ditandai
dengan ketidakstabilan produksi dan fungsi dari lapisan air mata dimana jumlah
atau kualitas produksi lapisan air mata berkurang atau penguapan air mata film
meningkat.1 Terjemahan dari "keratoconjunctivitis sicca" dari bahasa

Mc Fadden, murray. Dry eye Syndrome. Diakses dari http://lasik1.com pada tanggal 7-12-2015.
Etiologi

Banyak diantara penyebab sindrom mata kering mempengaruhi lebih dari satu komponen film air mata atau
berakibat perubahan permukaan mata yang secara sekunder menyebabkan film air mata menjadi tidak stabil.
A. Kondisi ditandai hipofungsi kelenjar
lakrimal
 Didapat
 Kongenital
Penyakit sistemik
– Dysautonomia familier (sindrom Riley-Day)
– Sindrom sjorgen
– Aplasia kelenjar lakrimal (alakrima
– Sklerosis sistemik progresif
kongenital)
– Sarkoidosis
– Aplasia nervus trigeminus
– Leukimia, limfoma
– Dysplasia ektodermal
– Amiloidosis
– Hemokromatosis
lanjutan
Infeksi Medikasi
– Trachoma – Antihistamin
– Parotitis epidemica – Antimuskarinik: atropin, skopolamin
– Anestetika umum: halothane, nitrous
oxide
Cedera – Beta-adregenik blocker: timolol,
– Pengangkatan kelenjar lakrimal practolol
– Iradiasi
– Luka bakar kimiawi Neurogenik-neuroparalitik (fasial nerve
palsy)
lanjutan
– Kondisi ditandai defisiensi musin
– Avitaminosis A
– Sindrom steven-johnson
– Pemfigoid okuler
– Konjungtivitis menahun
– Luka bakar kimiawi
– Medikasi-antihistamin, agen muskarin, agen Beta-adregenic blocker
lanjutan

B. Kondisi ditandai defisiensi musin


C.Kondisi ditandai defisiensi lipid:
– Avitaminosis A
– Parut tepian palpebra
– Sindrom steven-johnson
– Blepharitis
– Pemfigoid okuler
D.Penyebaran defektif film air mata
– Konjungtivitis menahun disebabkan:
– Luka bakar kimiawi – Kelainan palpebra

– Medikasi-antihistamin, agen muskarin, – Kelainan konjungtiva


agen Beta-adregenic blocker – Proptosis
Epidemiologi

Mata kering merupakan salah satu gangguan yang sering pada mata, persentase
insidenisanya sekitar 10-30% dari populasi, terutama pada orang yang usianya
lebih dari 40 tahun dan 90% terjadi pada wanita. Frekuensi insidensia sindrom
mata kering lebih banyak terjadi pada ras Hispanic dan Asia dibandingkan
dengan ras kaukasius.
Manifestasi Klinis

Pasien dengan mata kering paling sering mengeluh:


 sensasi gatal atau berpasir (benda asing).
Gejala umum lainnya
 gatal,
 sekresi mukus berlebihan,
 tidak mampu menghasilkan air mata,
 sensasi terbakar,
 fotosensitivitas,
 merah,
 sakit,
 sulit menggerakkan palpebra.
Diagnosis 

Saat ini tidak ada kriteria diagnosis


yang uniform untuk menegakan
diagnosis dry eye. Kombinasi dari
anamnesis dan beberapa tes
pemeriksaan biasa dipakai untuk
menentukan gejala dan tanda dari dry
eye.
Diagnosis dan penderajatan keadaan
mata kering dapat diperoleh dengan
teliti memakai cara diagnostik berikut:
– Tes Schirmer
lanjutan

– Tear film break-up time


dapat diukur dengan meletakkan secarik keras berflourescein pada konjungtiva
bulbi dan meminta pasien berkedip. Film air mata kemudian diperiksa dengan
bantuan saringan cobalt pada slitlamp, sementara pasien diminta agar tidak
berkedip.
lanjutan

Tes Ferning Mata


– Sebuah tes sederhana dan murah
untuk meneliti mukus konjungtiva
dilakukan dengan mengeringkan
kerokan konjungtiva di atas kaca
obyek bersih.
lanjutan

Sitologi Impresi
Sitologi impresi adalah cara menghitung
densitas sel goblet pada permukaan
konjungtiva. Pada orang normal, populasi sel
goblet paling tinggi di kuadran infra-nasal.
Hilangnya sel goblet ditemukan pada ksus
keratokonjungtivitis sicc, trachoma, pemphigoid
mata cicatrix, sindrom stevens johnson, dan
avitaminosis A.
lanjutan

Pemulasan Flourescein
Menyentuh konjungtiva dengan
secarik kertas kering berflourescein
adalah indikator baik untuk derajat
basahnya mata, dan meniskus air
mata mudah terlihat. Flourescein
akan memulas daerah-daerah
tererosi dan terluka selain defek
mikroskopik pada epitel kornea.
lanjutan

Pemulasan Bengal Rose


– Bengal rose lebih sensitif dari
flourescein. Pewarna ini akan
memulas semua sel epitel non-vital
yang mengering dari kornea
konjungtiva.
lanjutan

Penguji Kadar Lisozim Air Mata


Osmolalitas Air Mata
– Penurunan konsentrasi lisozim air mata
umumnya terjadi pad awal perjalanan sindrom – Osmolaritas normal untuk air mata
Sjorgen dan berguna untuk mendiagnosis adalah 295-309 mosm/L.
penyakit ini. Air mata ditampung pada kertas
Schirmer dan diuji kadarnya. Cara paling umum
adalah pengujian secara spektrofotometri. – Tiga metode digunakan untuk
mengukur osmolaritas air mata yaitu
Lactoferrin dengan
– Lactoferrin dalam cairan air mata akan rendah freezing point depression (FDP),
pada pasien dengan hiposekresi kelenjar tekanan uap,
lakrimal. Kotak penguji dapat dibeli dipasaran.
konduktivitas elektrik.
Penanganan dry eye 

– mengkompres menggunakan air hangat selama 2 menit, 2-4 kali sehari. Higienitas palpebra
untuk menstabilkan film air mata.
– Penggantian dan stimulasi air mata. Cairan hipotonik direkomendasikan dan sangat
membantu untuk kasus yang ringan
– antiinflamasi, dan/atau antibiotik. Infeksi yang mengenai tepi palpebra dapat
memperburuk kondisi defisiensi air mata yang sudah ada, dan blepharitis anterior ataupun
superior harus diterapi dengan higienitas palpebra yang adekuat,
– Oklusi puncta. Dilakukan jika diakibatkan evaporasi air mata yang berlebihan
– Therapeutic contact lens therapy (TSCL).Hydrophilic bandage lenses biasanya disediakan
untuk menampung air mata jika digunakan dengan kombinasi air mata artifisial yang banyak.
Lensa terbaru yaitu gas-permeable scleral contact lenses sangat efektif
– Lateral tarsorrhaphy. Dapat menurunkan evaporasi air mata
Prognosis 

Secara umum, prognosis untuk ketajaman visual pada pasien dengan sindrom
mata kering baik.

Vaugan, Daniel, Taylor Asbury, Paul Riordan-Eva; alih bahasa : Jan Tamboyang, Braham U. Pendit; editor Y. Joko Suyono. Palpebra
dan Apparatus lakrimalis dalam Oftalmologi Umum, edisi 14. Jakarta: 2000. Hal 94. Widya Medika
Komplikasi

Pada awal perjalanan, penglihata sedikit terganggu. Dengan memburuknya


keadaan, ketidaknyamanan sangat menggangu. Pada kasus lanjut, dapat timbul:
 ulkus kornea.
 penipisan kornea.
 perforasi.
 Kadang-kadang terjadi infeksi bakteri sekunder, dan berakibat parut dan
vaskularisasi pada kornea, yang sangat menurunkan penglihatan.
Terapi dini dapat mencegah komplikasi-komplikasi ini.

Padhatare S, et all. A comprehensive Reviewon Dry Eye Disease: Diagnosis, Medical Management and Future Challenges. Hindawi Publishing
Corporation. 2015 : 01-13
Terima
kasih