Anda di halaman 1dari 33

SISTEM HEMATOLOGI

Sistem hematologi tersusun atas darah dan tempat darah


diproduksi, termasuk sumsum tulang dan nodus limfa.
Darah terdiri dari 2 komponen utama, yaitu:
1. Plasma darah, bagian cair darah yang terdiri dari air,
elektrolit, dan protein darah.
2. Butir-butir darah, yang terdiri atas komponen-
komponen berikut:
a) Eritrosit: sel darah merah.
b) Leukosit: sel darah putih.
c) Trombosit: butir pembeku darah.
SEL DARAH MERAH
Sel darah merah merupakan cairan bikonkaf
dengan diameter sekitar tujuh mikron yang
memungkinkan gerakan oksigen masuk dan keluar
sel secara cepat dengan jarak yang pendek antara
membran dan inti sel, warnanya kuning kemerah-
merahan karena didalamnya mengandung suatu
zat yang disebut hemoglobin. Jumlahnya pada
orang dewasa kira- kira 11,5 – 15 gram dalam 100
cc darah. Normal Hb wanita 11,5 mg% dan Hb laki-
laki 13,0 mg%.
SEL DARAH PUTIH ( LEUKOSIT)
Bentuknya dapat berubah ubah dan dapat bergerak
dengan perantara kaki palsu( pseudopodia) mempunyai
bermacam- macam inti sel sehingga ia dapat dibedakan
menurut inti selnya serta warnanya bening( tidak
berwarna). Sel darah putih dibentuk di sumsum tulang dari
sel- sel bakal.
Fungsi sel darah putih adalah sebagai berikut:
1. Sebagai serdadu tubuh, yaitu membunuh dan
memakan bibit penyakit/ bakteri yang masuk kedalam
jaringan
2. Sebagai pengangkut yaitu mengangkut / membawa zat
lemak dari dinding usus melalui limpa terus ke
pembuluh darah.
LEUKOSIT

 6 jenis :neutrofil, eosinofil, basofil monosit,


limfosit dan sel plasma
 Pembentuk: vitamin dan asam amino
 4.800-10.800/mm3
 Kekebalan: fagositosis, respon antibodi
hormonal, antibodi seluler
TROMBOSIT (Platelet)

Trombosit juga disebut keping darah


adalah sel-sel yang berbentuk oval kecil
yang dibuat disumsum tulang. Trombosit
membantu dalam proses pembekuan
darah.
Leukemia?

Adalah suatu Produksi sel darah


putih yang tidak terkontrol
disebabkan oleh mutasi yang
menjurus kepada kanker dari sel
mielogenosa atau sel lymfogenosa.
(fisiologi Guyton)
Faktor Etiologi (faktor pencetus)

Mutasi sel induk

Ploriferasi sel induk

Akumulasi sel muda dalam sum-sum tulang

Hiperkatabolik Gagal sumsum tulang

Katabolisme meningakt Anemia,


Perdarahan, infeksi
kaheksia Hiperu Keringat
rikemia malam SEL LEUKEMIA Inhibisi hematopoiseis normal

Infiltrasi keorgan

tulang darah RES Tempat lain

Nyeri tulang hiperviskositas Limfadenopati Meningitis, lesi kulit,


Hepatomegali pembesaran testis
Splenomegali
Faktor Pencetus Leukemia:
Menurut Wiwik Handayani (2002: 88) Walaupun pada sebagian besar penderita
leukemia faktor-faktor penyebabnya tidak dapat diidentifikasi, tetapi ada
beberapa faktor yang terbukti dapat menyebabkan leukemia antara lain, yaitu:
 Faktor genetik
Insidensidensi leukemia akut pada anak-anak penderita sindrom down adalah dua
kali lebih banyak daripada normal.
 Sinar Radioaktif
Sinar radioaktif merupakan faktor eksternal yang paling jelas dapat menyebabkan
leukemia pada binatang maupun pada manusia
 Virus
Beberapa virus tertentu sudah dibuktikan menyebabkan leukemia pada binatang
sampai sekarang belum dapat dibuktikan bahwa penyebab leukemia pada
manusia adalah virus. Meskipun demikian ada beberapa hasil penelitian yang
mendukung teori virus sebagai penyebab leukemia yaitu enzim reverse
transkriptase ditemukan dalam darah manusia. Seperti diketahui enzim ini
ditemukan didalam virus onkogenia seperti retrovirus tipe c yaitu jenis virus RNA
yang menyebabkan leukemia pada bianatang. Enzim tersebut menyebabkan virus
yang bersangkutan dapat membentuk bahan genetik yang kemudian bergabung
dengan genom sel yang terinfeksi.
KLASIFIKASI LEUKEMIA

Secara sederhana leukemia dapat diklasifikasikan


berdasarkan maturasi sel dan tipe sel asal yaitu :
1. Leukemia Akut
Leukemia akut adalah keganasan primer sumsum
tulang yang berakibat terdesaknya komponen
darah normal oleh komponen darah abnormal
(blastosit) yang disertai dengan penyebaran ke
organ-organ lain
Leukemia, dibagi menjadi 2, yaitu:
 Leukemia Limfositik Akut (LLA)
 Leukemia Mielositik Akut (LMA)
Ciri –cirinya
Perjalanan penyakit akut
: 2 – 6 bulan, sel
umumnya berbentuk
muda (blas)
Jumlah sel mencapai :
100.000/mm 3 darah
Lanjutan...
2. Leukemia Kronis
Leukemia kronis merupakan suatu penyakit yang ditandai
poliferasi neoplastik dari salah satu sel yang berlangsung
atau terjadi karena keganasan hematologi.
Dibagi menjadi:
 Leukemia limfositik kronis (LLK)
 Leukemia Granulositik/ mielositik kronik (LGK/LMK)
Ciri nya :
Perjalanan penyakit menahun, dpt smp 20
tahun
Sel-sel leukemia adl sel dewasa (tua),
jumlahnya 200.000 – 500.000/mm 3 darah
Gejala dan tanda

Gejala klinis dari leukemia pada umumnya


adalah anemia, trombositophenia, neuthropenia,
infeksi, kelainan organ yang terkena infiltrasi,
hipermetabolisme, pembengkakan nodus limpa di
leher, ketiak, perut, atau kemaluan, rasa sakit
yang terus terutamanya di bawah sternum, rasa
letih dan lesu, kehilang berat tanpa sebab
tertentu, demam, lebam, rasa sakit pada tulang,
kadar pernafasan rendah( shortness of breath),
kehilangan daya untuk makan.(loss of diet).
Gejala dan Tanda: Nyeri tekan pada
Rasa lelah sternum,
Penurunan berat badan hepatomegaly, purpura,
Rasa sakit di perut
perdarahan retina,
panas, pembesaran
Mudah berdarah
getah bening, benjolan
Berlangsung perlahan-
lahan biru pada kulit,
Keringat malam
umumnya tidak anemi.
Sering demam tanpa
infeks
PENCEGAHAN
1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer meliputi segala kegiatan yang dapat menghentikan
segala kejadian suatu penyakit atau gangguan sebelum terjadi. Yaitu:
 Pengendalian terhadap pemaparan sinar radioaktif
 Pengendalian terhadap pemaparan terhadap lingkungan, seperti
pencegahan ini dilakukan pada pekerja yang sering terpapar dengan
benzene dan zat adiktif serta senyawa lainnya.
 Mengurangi frekuensi merokok
 Pemeriksaan kesehatan pranikah
 Pencegahan ini lebih ditunjukkan pada pasangan yang akan menikah.
Pemeriksaan ini memastikan status kesehatan masing- masing calon
mempelai. Apabila masing- masing pasangan atau salah satu dari
pasangan tersebut mempunyai riwayat keluarga yang menderita
sindrom down atau kelainan gen lainnya , dianjurkan untuk konsultasi
dengan ahli hematologi. Jadi pasangan tersebut dapat memutuskan
untuk menikah atau tidak .
Lanjutan...
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder bertujuan untuk menghentikan perkembangan
penyakit atau cidera menuju suatu perkembangan ke arah kerusakan atau
ketidakmampuan dapat dilakukan dengan cara mendeteksi penyakit secar
dini dan pengobatan secara cepat dan tepat.
 Diagnosis dini
 Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik untuk jenis LLA yaitu ditemukan spemogali ( 86%),
hepatomegali limfadenopati nyeri tekan tulang dada, ekimosis dan
pendarahan retina. Pada penderita LMA ditemukan hipertrofi gusi yang
mudah berdarah. Kadang-kadang ada gangguan penglihatan yang
disebabkan adanya pendarahan fundus oculi. Pada pender4ita leukimi jenis
LLK ditemukan hepatospenomegali dan limfadenopati. Anemia, gejala-gejela
hipermetyabolisme (penurunan berat badan, berkeringat) menunjukan
penyakitnya sudah berlanjut. Pada LGK/LMK hampir selalu ditemukan
splenomegali yaitu pada 90% kasus. Selain itu juga didapatjkan nyeri tekan
pada tulang dada dan hepatomegali, kadang-kadang terdapat purpura,
pendarahan retina, panas, pembesaran getah bening dan kadang-kadang
priapismus.
PENCEGAHAN LEUKEMIA
Menurut riset, ternyata buah pisang dan jeruk
dapat mencegah leukemia. Buah ini di
perkirakan dapat mencegah leukemia karena
mengandung vitamin C yang merupakan
antioksidan. Ini dapat mengurangi kerusakan
DNA dan menghentikan proses tumbuhnya
kanker. Selain itu menurut para ahli kunyit dapat
mencegah kanker.
 Bawang putih
penelitian di Penn State University BP dpt
hancurkan sel kanker dalam darah, krn
mengandung Organosulfida
 Anggur (resverator)
 Lemon ( Limonen)
 Teh Hijau ( Polifenol)
 Tomat ( Licopene)
 Wortel ( Beta Karoten)
 Alpukat (Antioksidan, Omega 3, Asam Folat, Vit
C/E
Lanjutan...
 Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang dilakukan dengan pemeriksaan darah tepi dan
pemeriksaan sumsum tulang. Yang terdiri dari:
a. Pemeriksaan darah tepi
Pada penderita leukemia jenis LLA ditemukan leukositosis(60%) dan
kadang-kadang leukopenmia (25%) pada penderita LMA ditemukan
penurunan eritrosit dan trombosit. Pada penderita LLK ditemukan
limfositosis lebih dari 50.000/mm sedangkan pada penderita LGK/LMK
ditemukan leukositosis lebih dari 50.000/mm.
b. Pemeriksaan sumsum tulang
Hasil pemeriksaan sumsum tulang pada penderita leukemia akut
ditemukan keadaan hiperselular. Hampir semua sel sumsum tulang
diganti sel leukemia atau blast, terdapat perubahan tiba-tiba dari sel
muda(blast) ke sel yang matang tanpa sel antara (leukemic gap). Pada
penderita LLK ditemukan adanya infiltrasi merata oleh limfosit kecil yaitu
lebih dari 40% dari total sel yang berinti. Kurang lebih 95% pasien LLK
disebabkabn oleh peningkatan limfosit B. Sedangkan pada penderta
LGK/L,K ditemukan keadaan hiperselular dengan peningkatan jumlah
megakariosit dsan aktifitas granulopoeisis jumlah granulosit lebih dari
30.000/mm.
Penatalaksanaan medis
1. Kemoterapi
Terdiri dari beberapa fase, yaitu:
 Fase induksi
Fase induksi adalah regimen kemoterapi yang intensif, bertujuan
untuuk mengeradikasi sel-sel leukemia secara maksimal sehingga
tercapai remisi komplit. Walaupun remisi komplit telah tercapai, masih
tersisa sel- sel leukemia di dalam tubuh penderita tetapi tidak dapat
terdeteksi. Bila dibiarkan, sel- sel ini berpotensi menyebabkan
kekembuhan dimasa yang akan datang.
 Fase konsolidasi
Fase ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari fasi induksi. Kemoterapi
konsolidasi biasanya terdiri dari beberapa siklus kemoterapi dan
menggunakan obat dengan jenis dan dosis yang sama atau lebih besar
dari yang digunakan pada fase induksi.
Penatalaksanaan medis

2.Terapi Radiasi (Radioterapi)


Terapi Radiasi (juga disebut sebagai radioterapi)
menggunakan sinar berenergi tinggi untuk
membunuh sel-sel leukemia. Bagi sebagian besar
pasien, sebuah mesin yang besar akan
mengarahkan radiasi pada limpa, otak, atau bagian
lain dalam tubuh tempat menumpuknya sel-sel
leukemia ini. Beberapa pasien mendapatkan radiasi
yang diarahkan ke seluruh tubuh. (Iradiasi seluruh
tubuh biasanya diberikan sebelum transplantasi
sumsum tulang.)
Penatalaksanaan medis
3. Transplantasi Sel Induk (Stem Cell)
Beberapa pasien leukemia menjalani transplantasi sel induk
(stem cell). Transplantasi sel induk memungkinkan pasien
diobati dengan dosis obat yang tinggi, radiasi, atau keduanya.
Dosis tinggi ini akan menghancurkan sel-sel leukemia sekaligus
sel-sel darah normal dalam sumsum tulang. Kemudian, pasien
akan mendapatkan sel-sel induk (stem cell) yang sehat melalui
tabung fleksibel yang dipasang di pembuluh darah balik besar
di daerah dada atau leher. Sel-sel darah yang baru akan
tumbuh dari sel-sel induk (stem cell) hasil transplantasi ini.
Setelah transplantasi sel induk (stem cell), pasien biasanya
harus menginap di rumah sakit selama beberapa minggu. Tim
kesehatan akan melindungi pasien dari infeksi sampai sel-sel
induk (stem cell) hasil transplantasi mulai menghasilkan sel-sel
darah putih dalam jumlah yang memadai.
Rhesus positif (rh positif) adalah apabila tdpt
faktor Rh dalam eritrosit
sedang Rhesus negatif (rh negatif) adalah
apabila tidak ada faktor rhesus dlm eritrositnya.
Terdapat 27 macam antigen (faktor) Rhesus
diberi kode Rh 1.....Rh 27, Diantara antiden
mayor adlh Rh O (antigen D).
Antigen pada manusia tersebut dinamakan
antigen-D, dan merupakan antigen yang
berperan penting dalam transfusi.
Sistem golongan darah Rhesus merupakan
antigen yang terkuat bila dibandingkan dengan
sistem golongan darah lainnya.
Dengan pemberian darah Rhesus positif
(D+) satu kali saja sebanyak ± 0,1 ml secara
parenteral pada individu yang mempunyai
golongan darah Rhesus negatif (D-), sudah dapat
menimbulkan anti Rhesus positif (anti-D) walaupun
golongan darah ABO nya sama.
1. Bayi dg rhesus ( +) yg berarti dlm eritrositnya tdpt
aglutinogen faktor rhesus, didlm plasma drhnya tdk
ditemukan aglutinin anti rhesus, sebab bila dlm
plasma tdpt aglutinin anti rhesus , maka eritrosit tdi
akan lisis.
2. Pd wktu lahir bayi dg Rh (-), berarti dlm eritrositnya
tdk tdpt aglutinogen faktor rhesus , didlm
plasmadrhnya juga tidak tdpt aglutinin anti rhesus
1. Individu dg gol Rhesus (-) , aglutinin
anti rh akan muncul bila individu tdi mendpt
sensitisasi (mdpt antigen rh) krn menerima
tranfusi darah dg gol darah Rh (+) yg
pertama,
2. aglutinin anti Rh pada individu Rh(-) dpt
ditemukan pd byi yg baru lahir krn ia mendpt
dri ibunya ( krn aglutinin anti Rh dpt
melewati plasenta byi td.
3. Indiv dg gol Rh (+) aglutinin anti Rh dpt
ditemukan pd saat lahir , krn bayi medpt zat
anti selama dikandung ibunya apbl ibunya
memyi Rh (-) ini dpt diamati pada byi dg
eritroblastosis Fetalis.
Insiden
Insiden pasien yang mengalami Inkompatibilitas
Rhesus ( yaitu rhesus negatif) adalah 15% pada
ras berkulit putih dan 5% berkulit hitam, jarang
pada bangsa asia. Rhesus negatif pada orang
indonesia jarang terjadi, kecuali adanya
perkawinan dengan orang asing yang
bergolongan rhesus negatif.
Patofisiologi
Pada saat ibu hamil eritrosit janin dalam beberapa
insiden dapat masuk kedalam sirkulasi darah ibu, yang
dinamakan Feto maternal microtransfusion. Bila ibu
tidak memiliki antigen seperti yang terdapat pada
eritrosit janin, maka ibu akan distimulasi untuk
membentuk imun antibodi. Imun anti bodi tipe IgG
tersebut dapat melewati plasenta dan kemudian
masuk kedalam peredaran darah janin, sehingga sel-
sel eritrosit janin akan diselimuti (coated) dengan
antibodi tersebut dan akhirnya terjadi aglutinasi dan
hemolisis.
Gejala klinis
Hidrops fetalis
Bayi yang menunjukan edema yang menyeluruh,
asites dan pleural efusi pada saat lahir.
Hiperbilirubinemia
gangguan sistem syaraf pusat, khususnya ganglia
basal atau menimbulkan kernikterus
Diagnosis
Deteksi antibodi antiserum ibu
Pengobatan
Bentuk ringan tidak memerlukan pengobatan spesifik,
kecuali bila terjadi kenaikan bilirubin yang tidak wajar.
Bentuk sedang memerlukan tranfusi tukar, yang
umumnya dilakukan dengan darah yang sesuai
dengan darah ibu (Rhesus dan ABO). Jika tak ada
donor Rhesus negatif, transfusi tukar dapat dilakukan
dengan darah Rhesus positif , sesering mungkin
sampai semua eritrosit yang diliputi antibodi
dikeluarkan dari tubuh bayi.
Pencegahan
• Untuk menurunkan insidens kelainan hemolitik
akibat isoimunisasi Rhesus, adalah imunisasi pasif
pada ibu. Setiap dosis preparat imunoglobulin yang
digunakan memberikan tidak kurang dari 300
mikrogram antibodi D. 100 mikrogram anti Rhesus
(D) akan melindungi ibu dari 4 ml darah janin.
• Suntikan anti Rhesus (D) yang diberikan pada saat
persalinan bukan sebagai vaksin dan tak membuat
wanita kebal terhadap penyakit Rhesus. Suntikan ini
untuk membentuk antibodi bebas, sehingga ibu
akan bersih dari antibodi pada kehamilan
berikutnya.
THANK
YOU