Anda di halaman 1dari 132

TRAUMA PADA GIGI

Oleh :
drg. Listia Eka Merdekawati, Sp.KG

KULIAH ILMU KONSERVASI II BLOK 7 T.A.2018/2019


PRODI KEDOKTERAN GIGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
KLASIFIKASI TRAUMA GIGI
Klasifikasi Trauma gigi

• Memudahkan dokter gigi


mengidentifikasi kelainan yang
Tujuan Klasifikasi terjadi  melakukan perawatan
yang sesuai dengan keadaan
pasien
Klasifikasi WHO

873.60 Fraktur email


873.61 Fraktur mahkota ( enamel, dentin , ≠ pulpa )
873.62 Fraktur mahkota ( enamel, dentin , pulpa )
873.63 Fraktur akar
873.64 Fraktur mahkota - akar
873.66 Luksasi
873.67 Intrusi dan Ekstrusi
873.68 Avulsi
873.69 Cedera lain seperti laserasi jaringan lunak
Klasifikasi WHO dan Modifikasi Andreasen & Andreasen
 International Association of Dental Traumatology

• Jaringan Lunak (Soft Tissues)

N873. 69 Laserasi

N902.0 Contusio

N910.0 Abrasi
• Fraktur Gigi (Tooth Fracture)

N873. 60 Fraktur Email


N873.61 Fraktur Mahkota :
Email, Dentin, ≠ Pulpa
N873.62 Fraktur Mahkota dengan
keteribatan Pulpa
N873.64 Fraktur Mahkota - Akar
N873.63 Fraktur Akar
• Luksasi (Luxation Injuries)

873.66 Concussion

873.66 Subluxation
873.66 Extrusive Luxation

873.66 Lateral Luxation


873.67 Intrusive luxation

873. 68 Avulsion
Facial Skeletal Injuriese

802.20 Fraktur Tulang alveolar Rahang Bawah

802.40 Fraktur Tulang Alveolar Rahang Atas

802.21 Fraktur Mandibula

802.41 Fraktur Maksila


KONKUSI
Gigi yang mengalami
trauma pada jaringan
periodontal tanpa
malposisi maupun mobiliti
gigi
(Andreasen, 2011)

Gigi yang berdekatan


dengan gigi yang
mengalami trauma lain
atau kerusakan lebih parah
Konkusi
Mekanisme

•Benturan
Trauma
•Pukulan

•Perdarahan
Ligamen •Edema
periodontal •Terputus
•Masih intak

•Perkusi +
Sensitif •Mobiliti –
•Malposisi –

(Andreasen, 2000)
Klinis

Gigi hanya
sensitif
Malposisi &
terhadap
mobility (-)
sentuhan/
perkusi saja

Perdarahan Biasanya
dari sulkus vitalitas gigi
gusi (-) masih (+)
Radiografi
Gigi berada pada posisi normal pada soket
Perawatan

Tidak diperlukan
perawatan
Bila diperlukan, gigi
Monitor kondisi pulpa antagonis digerinda
paling tidak selama 1 Apabila posisi
sedikit untuk
tahun berdekatan dengan gigi
mengurangi kontak
yang fraktur/mobiliti
oklusal
dapat dipasang splint
Follow-up: 4 minggu, 6-
8 minggu, 1 tahun
Respon
Positif: Negatif:
• Asimptomatik • Simptomatik
• Tes pulpa positif • Tes pulpa negatif
• Perkembangan akar • Tidak ada perkembangan
berlanjut pada gigi imatur akar lebih lanjut pada gigi
• Lamina dura intak imatur disertai tanda
periodontitis 
membutuhkan PSA
(Andreasen, 2011)
(Andreasen, 2011)
subluksasi
definisi
Gigi yang mengalami trauma sehingga menyebabkan
sensitifitas terhadap perkusi dan peningkatan
kegoyangan gigi ( Ingle 2009)

Cedera pada gigi yang ditandai sensitifitas pada perkusi ,


peningkatan kegoyangan gigi dan tanpa terjadi perubahan
posisi ( Cohen, 2008)

Cedera minor pada ligamen perodontal dan pulpa yang


disebabkan trauma , dimana sebagian ligamen
periodontal mengalami ruptur dan gigi menjadi longgar
tanpa terjadi perubahan posisi (Andreasen,2007)
Gejala klinis
s:

1. Gigi sensitif terhadap sentuhan


dan perkusi

2. Terjadi peningkatan kegoyangan


gigi

3. . Tidak terjadi perubahan posisi


gigi (displacement)

4. Terkadang terjadi perdarahan


pada sulkus gingiva

5. Pulpa seringkali masih vital , tapi


terkadang tidak memberi respon
terhadap tes vitalitas sesaat
setelah trauma
Gambaran radiografis

pada umumnya tidak


terdapat kelainan pada
gambaran radiografis
mekanisme
Daya yang besar
Trauma pada gigi pada ligamen
periodontium

Hemorrhage,
oedema & ruptur
Kegoyangan gigi
ligamen
periodontium

subluksasi
4 hari kemudian bagian
Respon ligamen Pasca trauma terjadi servikal dan apikal
periodontium terhadap ruptur pada ligamen ligamen periodontium
trauma pada subluksasi periodontium akan mengalami
revaskularisasi

2 minggu sejumlah serat 1minggu, proliferasi


principal substansial fibroblast dan pembuluh
telah mengalami darah , penyatuan serat-
penyembuhan serat principal
perawatan
1. Secara normal
sebenarnya tidak
diperlukan perawatan

2. Menghilangkan
sangkutan oklusal pada
gigi antagonis

3. Pasien dianjurkan
diet makanan yang
lunak selama 2
minggu
4. Jika pasien merasa
tidak nyaman pada
saat pengunyahan
dapat dilakukan
imobilisasi dengan
splint sementara
selama 2 minggu

5. Untuk menghindari resiko


kemungkinan terjadinya
nekrosis pulpa tes sensitifitas
sebaiknya dilakukan 1-2 bulan
setelah trauma
positif Respon perawatan

negatif
• Tidak ada keluhan pasien • Terdapat keluhan
• Tes vitalitas pulpa positip • Tes vitalitas menunjukkan hasil
• Pada gigi tetap muda terjadi negatif
penutupan apeks • Terjadi inflamasi resorbsi
• Lamina dura intak eksternal
• Tidak terjadi penutupan apeks
pada gigi tetap muda dan
ditandai dengan tanda-tanda
periodontitis di
apikaldianjurkan perawatan
endodontik
Evaluasi perawatan
Evaluasi dilakukan setelah 2
minggupembukaan splint &
pemeriksaan klinis & tes vitalitas

Minggu ke 4 dan minggu ke 6-8 


dilakukan pemeriksaan klinis

Pemeriksaan kembali setelah 6 bulan 1


tahun  vitalitas pulpa & ada tidaknya
resobsi eksternal pada gigi
Luksasi Ekstrusi
Pendahuluan
• Sebelum terjadinya trauma  gigi dipegang
oleh serat dan sel-sel yang disebut dengan
ligamen periodontal

Ligamen periodontal rusak


Ditandai dengan adanya
separasi baik sebagian
ataupun keseluruhan dari
jaringan periodontal
sehingga melonggarkan
dan perubahan tempat
pada gigi

- Soket tulang alveolar


utuh
- Ligamen periodontal
robek
Patogenesis luksasi ekstrusi
• Trauma oblik dari depan
• Perpindahan posisi gigi
• Gigi masih melekat
pada ginggiva palatal 
tidak terjadi avulsi
• Jaringan periodontal
dan suplai
neurovaskular rusak
Pemeriksaan Objektif

Visual  Gigi terlihat lebih panjang dari gigi tetangga

Perkusi  Sakit (+)

Mobiliti  derajat 2-3

Sensitifitas  negatif (-)


Perawatan pada Gigi Sulung

Diharapkan reposisi
secara alami 
ekstrusi < 3mm

Ekstraksi Mobiliti
parah, gigi yang
mendekati erupsi
Perawatan pada Gigi Tetap
Reposisi secepat mungkin 
dengan tekanan lembut 
mengeluarkan koagulum
darah antara akar dan soket

Mengoptimalkan
penyembuhan ligamen
periodontal dan suplai
neurovaskuler
Perawatan
Reposisi

Resin Splint

Splinting
Wire Composite
Splint
Hal yang harus diperhatikan
• Kapan gigi tsb mengalami trauma  Kesuksesan
reposisi  > 48 jam sudah tidak bisa direposisi
• 40 % gigi ekstrusi memerlukan perawatan saluran
akar
• 40% saluran akar pada gigi ekstrusi menjadi lebih
kecil  tetap vital  tidak memerlukan
perawatan
• Mahkota akan berubah warna menjadi lebih
gelap
Lee R, Barrett EJ, Kenny DJ: Clinical outcomes for permanent incisor luxations in
a pediatric population: II. Extrusions. Dent Traumatol 2003;19:274-9
Perawatan

Bersihkan gigi dengan Reposisi gigi Bersihkan gigi dengan Aplikasi etsa
menggunakan air, dengan tekanan menggunakan air, selama 20 detik
larutan saline, atau lembut larutan saline, atau kemudian cuci
chlorhexidine chlorhexidine dengan air

Splint digunakan
selama 2
minggu

Gigi dikeringkan
Splint dilepaskan 
dengan udara
kontrol pemeriksaan Aplikasi resin +
ringan
radiografi Light cure
Prognosis
• Revaskularisasi dapat terjadi
Apeks • Konfirmasi dengan radiografi
• Pembentukan apikal lanjutan
terbuka • Respon pulpa bisa kembali (+)

• Tes sensitifitas (-)  gigi


Apeks nekrosis
• Terbentuk apikal rarefaction
tertutup • Diskolorasi mahkota
a. Keadaan awal pasca trauma
b. Keadaan intra oral
c. Gambaran radiografis ekstrusi pada gigi insisivus
d. Setelah diirigasi dengan larutan saline
e. Gambaran setelah reposisi, penjahitan, dan splinting
f. Gambaran radiografis setelah reposisi
Perawatan Saluran Akar
1 minggu setelah splinting  PSA 
tujuan terjadi revaskularisasi

Anastesi lokal  Buka kavum  irigasi


10ml NaOCl 2.5% tanpa instrumentasi

Aplikasi Ca(OH)2  kontrol 2 minggu

Bose et all  J endod. 2009; 35 (10): 1343-9  Penggunaan kalsium hidroksida sebagai
bahan disinfeksi sebelum revaskularisasi pada setengah koronal berkontribusi secara
signifikan dalam peningkatan panjang akar dan ketebalan dinding saluran akar
Setelah 2 minggu  CaoH dibersihkan
 irigasi NaOCl 2.5%  irigasi saline
10ml  keringkan

Buat perdarahan pada apikal K-files


#15  aplikasi MTA  tutup GIC

Restorasi akhir 1 minggu kemudian 


kontrol setiap 3 bulan
a. Gambaran setelah aplikasi medikamen intra kanal Ca(OH)2
b. Gambaran setelah aplikasi MTA dan restorasi akhir
c. 18 bulan setelah aplikasi MTA  terlihat penyempitan pada apikal dan penebalan
dinding lateral
Instruksi pada Pasien
• Makan-makanan lunak selama 1 minggu
• Instruksi untuk menjaga kebersihan rongga
mulut
– Menggunakan sikat gigi bulu lunak
– Berkumur menggunakan khlorhexidine 0.1%

• Kontrol 
– Kontrol berkala dilakukan setelah 4 minggu, 6-8
minggu, 6 bulan, dan 1 tahun
LUKSASI INTRUSI
definisi

Luksasi intrusi terjadi karena adanya benturan gigi dalam


arah aksial ke apikal sehingga terjadi kerusakan pada
tulang, pulpa dan ligamen periodontal
• (Andreasen, 2007)

Gigi terdorong masuk ke dalam soketnya dalam arah


aksial (arah apeks), kadang sampai benar-benar tidak
terlihat. Mobilitasnya menurun dan menyerupai ankilosis
• ( Torabinejad, 2009)
Patogenesis intrusi
Benturan arah axial

Gigi bergerak masuk ke tulang alveolar

Cedera pada pulpa dan periodontium


mengganggu mekanisme homeostatik
periodontal ligamen memblok osteogenesis
yang memisahkan akar dari tulang alveolar

Fusi patologis sementum pada tulang


alveolar (ankylosis)
Pemeriksaan
(garg n garg, 2007; andreasen, 2007, IADT, 2011), ingle, 2007

KLINIS
• Gigi terdorong kedalam soketnya,
infraoklusi.
• Gigi terlihat ankilosis, menempel
kuat dan tertancap di tulang
• Pada perkusi terdengar suara
metal
• Pada gigi campuran, diagnosis
lebih sulit menyerupai gigi yang
sedang erupsi

Ro:
LP dapat tidak terlihat sepanjang akar
CEJ > keapikal dibandingkan gigi sebelahnya.
Prognosis ( Andreasen, 2007)
gigi imature menunjukkan pulp survival selama intrusi dibandingkan gigi
mature, terdapat resiko resorbsi akar (58% gigi imature dan 70% gigi
mature) dan terjadi ankylosis setidaknya 5 tahun setelah cedera.
Perawatan
• Bergantung pada perkembangan akar gigi
(andreasen, 2007)

1. Perawatan gigi dengan pembentukan akar yang


belum lengkap

2. Perawatan Gigi dengan pembentukan akar yang


sudah lengkap
Perawatan dengan pembentukan akar
yang belum lengkap

1 tahun
awal 6 minggu
• Membiarkan erupsi tanpa intervensi, monitor vitalitas
pulpa
• Jika tidak ada pergerakan selama 1 minggu awali
dengan reposisi orthodontik
• Jika gigi intrusi lebih dari 7 mm, reposisi secara bedah
atau orthodonti
• Nekrosis pulpaPSA
Perawatan Gigi dengan pembentukan akar yang sudah
lengkap (Andreasen, 2007)

• jika gigi intrusi < 3mm erupsi tanpa


intervensi. Jika ≠ pergerakan setelah 2-4
minggu, reposisi secara bedah atau orthodonti
sebelum terjadi ankilosis.
• Jika gigi intrusi > 7 mm, reposisi secara bedah
• Pulpa nekrosis  PSA dengan calcium hidroxida
dianjurkan dan perawatan dimulai 2-3 minggu
setelah reposisi
• Setelah gigi direposisi secara bedah atau
orthodonti, stabilisasi dengan splint selama 4-8
minggu
CONTOH KASUS
Ekstrusi dengan orthodontik
•Klinis dan radiografis wanita 22 tahun
setelah terjadi benturan

•Dentin yang terbuka ditutupi CA(OH)2

•Aplikasi 0.5 mm kawat semirigid


orthodontik yang direkatkan mengikuti
lengkung gigi dengan teknik etsa.koil
dipasang mencegah slip.

•Menempatkan bracket
Ekstrusi dengan orthodontik
•Orthodontic traction pada arah
Axial dengan elastik 70-100 gram

• Setelah 10 hari telah terjadi aktivitas


oteoklas dan mulai terjadi ekstrusi.jika
ekstrusi tdk terjadi setelah 10 hari gigi di
luksasi dengan forceps.Jika gigi nonvital
Setelah 2-3 minggu, dapat dilakukan PSA

•Ekstrusi lengkap

Restorasi mahkotadengan komposit


Follow up

• 2 minggu
• 4 minggu
• 6-8 minggu
• 6 bulan
• 1 tahun
• 5 tahun
LUKSASI LATERAL
Luksasi lateral

Luksasi lateral

Perpindahan gigi
selain ke arah
aksial

Fraktur pada
soket alveolar
Luksasi lateral
Gaya horizontal 
mahkota gigi ke palatal
+ apeks gigi ke labial

Ruptur ligamen
periodontal + suplai
neurovaskular pulpa

Kompresi ligamen
periodontal pada
bagian palatal akar
Gambaran klinis
• Pada luksasi lateral  mahkota
kebanyakan bergeser ke lingual
• Terdapat fraktur pada dinding
soket
• Oklusi  dapat timbul rasa sakit
• Gigi stabil pada posisi barunya
• Tes sensibilitas pulpa (-)
• Perkusi : suara metalik
Gambaran radiografi

Peningkatan
ruang ligamen
perio di apikal
Perawatan
1. Anestesi
- Paling efektif  anestesi blok infraorbital
2. Reposisi
a. Tekanan digital dalam arah c. Tulang palatal dan labial
insisal  Membebaskan ujung
dikompresi  reposisi penuh +
akar yang terkunci di tulang
memfasilitasi penyembuhan
labial
jaringan periodontal
b. Gigi direposisi ke arah apikal ke
posisi yang benar
• Jika reposisi manual tidak 3. Pengecekan oklusi + pengambilan
memungkinkan  penggunaan foto radiografi untuk
forsep memverifikasi reposisi yang
adekuat
4. Splinting (4 minggu)
- Splint yang fleksibel  penyembuhan jaringan periodontal + mencegah
ankilosis

.017 x .025 SS wire, komposit

018 round SS wire, komposit

Nilon monofilamen, komposit


Prosedur splinting
1. 1/3 insisal labial gigi yang 2. Etsa dibersihkan dengan
mengalami trauma + gigi semprotan air (20 detik).
sebelahnya dietsa (30 detik) Keringkan dengan semprotan
udara
3. Aplikasi bahan splinting 4. Bahan berlebih dibuang setelah
polimerisasi dengan skalpel atau
abrasive disc
5. Instruksi pasien

Obat kumur Sikat gigi


Chx 0,12% dengan sikat
(2x/hari, 2 Diet lunak
lembut
minggu) setelah makan
Follow up
2 minggu (S,C++)

4 minggu (C++) • Keterangan :


S : pelepasan splint
6-8 minggu (C++) C : pemeriksaan klinis dan
radiografis
++ : jika terdapat tanda
6 bulan (C++) resorpsi eksternal 
perawatan saluran akar
1 tahun (C++) sesegera mungkin

Tiap tahun  5 tahun (C++)


Resiko kematian pulpa (Whitworth, 2010):

Apeks terbuka : 9% Apeks matur : 77%

Resiko resorpsi : tinggi pada daerah kompresi akar-alveolus


AVULSI
Definisi • Terlepasnya gigi dari soketnya secara utuh

• Cedera saat olahraga, berkelahi


Etiologi • Jatuh dari ketinggian
• Kecelakaan

Insidensi • Usia 7 – 10 tahun


Gambaran Klinis Gambaran Radiografi
• Soket gigi kosong, atau terisi • Radiolusen pada daerah
koagulum soket yang kosong
Penanganan Kedaruratan
Tempat
Dokter gigi
kejadian

Gigi dibilas air Media


dingin penyimpanan

Pemeriksaan
Replantasi
klinis dan
langsung
radiografis

Replantasi
Poster edukasi tentang penanganan gigi avulsi (IADT)
Pilihan Perawatan
• Berdasarkan waktu ekstra alveolar dan tahap perkembangan
akar
• Bersihkan debris dengan saline steril
<1 jam, apeks tertutup • Replantasi segera
• Prognosis baik

• Foramen apikal >1.1 mm, potensi


<1 jam, apeks terbuka revaskularisasi tinggi
• Prognosis baik

• Pembuangan ligamen periodontal dan


jaringan pulpa
>1jam, apeks tertutup • Rendam gigi di stannous fluorise 2% selama
5 menit sebelum replantasi
• Prognosis buruk

• Prognosis paling buruk


>1 jam, apeks terbuka • Lakukan perawatan endodontik sebelum
replantasi
Gigi avulsi direndam dalam Insersi gigi insisivus sentral Dorong dengan tekanan
HBSS ringan ke arah apikal

Insersis gigi insisivus lateral Dorong kedua gigi insisivus Gigi selesai direplantasi
dengan tekanan ringan
untuk reposisi ke apikal
Kontak prematur akan
mengganggu proses penyembuhan

Bila perlu, lakukan grinding

Stabilisasi gigi dengan splinting


semifleksibel selama 2 minggu
Titanium Trauma Splint

Aplikasi etsa TTS direkatkan TTS dilepaskan Setelah


dengan bonding dengan ditarik pelepasan splint
dan resin dari permukaan
komposit gigi
Media Penyimpanan Gigi Avulsi
Media Penyimpanan Gigi Avulsi
(Nisha Garg, 2010)
Hank’s Balanced
Salt Solution
Susu Saline
(HBSS-Save a
Tooth)

Saliva Viaspan Air Kelapa

Air
Hanks’s • pH & Osmolaritas paling baik
• Kompatibel dengan sel ligamen periodontal (24 jam)
Balanced • Komposisi : Natrium Klorida, Kalium Klorida, Glukosa,Kalsium Klorida, Magnesium Klorida,
Natrium Bikarbonat, Natrium Fospat
Solution • Tingkat keberhasilan 90% bila gigi direndam didalamnya 30 menit sebelum replantasi

• Menjaga vitalitas ligamen periodontal selama 3 jam


Susu • Relatif bebas bakteri
• pH dan osmolaritas kompatibel dengan sel-sel vital

• Isotonik
Saline • Steril

• Menjaga gigi tetap lembab


• Cairan Biologis
Saliva • Waktu penyimpanan gigi 2 jam
• Tidak Ideal  pH & Osmolaritas tidak kompatibel
• Adanya Bakteri
• pH 7.4
Viaspan • Keuntungan : Untuk pertumbuhan sel
• Menjaga Viabilitas fibroblast selama 24 jam

• Komposisi = cairan intraseluler


Air • Mudah tersedia
Kelapa • Ekonomis
• Bahan alami

• Pilihan terakhir
Air • Sifat Hipotonik  mempercepat lisisnya sel
Konsekuensi Biologis Avulsi
Sekuel Cedera Avulsi Gigi

1. Nekrosis Pulpa 2. Surface Resorption


• Krn terputusnya suplai darah ke • Proses non invasif
gigi • Resorbsi kecil superfisial antara
sementum dan outer dentin
• Proses perbaikan membentuk
jaringan kalsifikasi
• Penghilangan jaringan rusak
oleh makrofag
Sekuel Cedera Avulsi Gigi

3. Inflamatory Root 4. Replacement Resorption


Resorption • Karena kerusakan Lig.Periodontal
• Sebagai hasil nekrosis terinfeksi & sementum yang luas
krn kerusakan sementum • Penyembuhan menyebabkan
• Infeksi pulpa  Toksin bakteri  bersatunya tulang & gigi
migrasi ke ligamen  resorbsi • Ro : tidak ada lamina dura, akar
akar tampak moth-eaten appearance
• Klinis : tidak ada mobilitas,
perkusi terdengar suara metal
Inflammatory
Root
Resorption
Follow Up & Penanganan Pasca
Avulsi Gigi
Gigi Avulsi
Apeks Apeks
Tertutup Terbuka

Perawatan
Revaskulerisasi
Saluran Akar (PSA)

PSA kalau ada


tanda infeksi / gigi
di luar soket > 1
jam
Perawatan Saluran Akar
Preparasi Akses sebelum melepas splint

Sebaiknya menggunakan rubber dam

• Tanpa Clamp  Ganti Wedges

Saluran Akar dibersihkan secara Kemomekanis sesuai panjang kerja

Penggunaan Medikamen

• Ca(OH)2 + saline steril / klorheksidin 0.12% (Konsistensi pasta)


• Ca(OH)2 injeksi dengan tip plastik
• Jangan Menginjeksi Ca(OH)2 ke jaringan periapikal!!!
• Ca(OH)2 mempunyai efek anti bakteri tapi tidak ada efek anti
inflamasi  berlawanan efek dengan penyembuhan periodontal
• Pasta Ledermix  alternatif pada kasus gigi yang lama berada di
luar mulut & adanya gejala IRR (Inflamatory Root Resorption)
Gigi Avulsi biasanya dirawat
Ca(OH)2 beberapa bulan
Bila ada infeksi / gejala IRR
• Aplikasi Ca(OH)2 encer selama 3
mgg
Bila setelah replantasi 7-10 • kemudian diganti Ca(OH)2 kental
hari tidak ada tanda infeksi • Sampai gejala IRR sembuh dan
atau resorbsi  Obturasi 1- Ligamen periodontal normal 
2 minggu kemudian Ca(OH)2 ganti setiap 3 bulan
selama 6-24 bulan
• Disarankan tidak menggunakan
Ca(OH)2 kombinasi barium sulfat
Frekuensi Recall

Gigi dengan Gigi dengan


Apeks Tertutup Apeks Terbuka
Pulpa nekrosis Diharapkan terjadi revaskulerisasi
• PSA setelah 2 mgg trauma • Recall 3-4 mgg
• Obturasi bbrp mgg kemudian • Bila pembentukan akar terjadi, sensitivitas
• Recall 6 bln – 5 thn (+)  Recall 6 bln – 5 thn
• Periksa vitalitas setelah 3 mgg replantasi

Dengan perawatan Ca(OH)2 Perawatan Apeksifikasi


dalam waktu lama • Recall setiap 3 mgg
• Recall tiap 3 mgg • Setiap 3 bulan untuk thn pertama
• Setelah obturasi recall tiap 6 bulan • Setiap 6 bulan tahun berikutnya
Penyembuhan yang diharapkan pada
avulsi
Gigi avulsi yang dirawat dengan tepat  kesempatan survival baik

• Beberapa bulan sampai 20 tahun

Faktor yang mempengaruhi kesembuhan

• Eksta oral dry time


• Waktu perawatan endodontik

Prognosis baik pada gigi mature


Gejala Non Healing

Terjadinya Ankylosis
karena : Penyebab utama :
• Waktu ekstra oral yang lama Inflamatory Root
• Penyimpanan gigi tidak tepat Resorption
• Splinting
FRAKTUR ALVEOLAR
Klasifikasi menurut Andreasen (Berman et all, 2007)

Comminution soket • soket alveolar yang hancur


alveolar: • berhubungan dengan luksasi lateral dan intrusi
• melibatkan satu atau banyak gigi.

Fraktur dinding soket • . Fraktur biasanya terbatas ke tulang kortikal


alveolar fasial dan lingual.

• fraktur melibatkan tulang kortikal labial dan


Fraktur prosesus alveolar : lingual,
• dapat ataupun tidak melibatkan soket gigi.

fraktur melibatkan dasar mandibula dan maksila


Fraktur mandibula dan dan prosesus alveolar. Fraktur ini yang dapat
maksila ataupun tidak melibatkan soket alveolar
Gambar 1. Comminution soket alveolar pada lateral luxation
Gambar 2. fraktur dinding soket alveolar dan prosesus alveolar
Temuan klinis
• Bila hanya melibatkan 1 gigi  dua gigi atau lebih ikut terlibat

• Displacement  Labial ataupun lingual hilangnya kontinuitas lengkung


dan gangguan oklusal  sangat menyakitkan

• Maxilla displacement  palatal dan inferior (khasnya) dengan fraktur


yang terjadi pada dinding soket alveolar labial dan bukal

• Mandibula displacement  terutama anterior, labial ataupun lingual;


biasanya berhubungan dengan lukasasi, avulsi atapun fraktur gigi diantara
segmen.
Temuan Klinis

• Palpasi : rasa sakit, tidak nyaman, mobility seluruh segmen tulang,,


terkadang terdapat krepitasi (suatu gemertak ataupun suara letusan) 
adanya segmen fraktur

• Perkusi : “cracked pot”

• Terkadang, terdapat hancurnya tulang yang luas hilangnya tulang


alveolar dan gigi.

• Tes sensibilitas : bisa positif bisa juga tidak.


Temuan Radiografi

• Garis fraktur horizontal,  diatas apek atau


di apeks gigi
• Garis fraktur vertikal  sepanjang ruang
ligamen periodontal gigi atau tulang
Panoramik dan interdental
periapikal • terdapat pelebaran lateral atau apikal
ruang ligamen periodontal luksasi atau
pergerakan gigi yang berhubungan dengan
fraktur.
• melihat trauma pada gigi
• mengidentifikasi dan mengkonfirmasi
fraktur dinding soket alveolar dan arah
dari gigi yang berpindah.
• Lateral view  mendeteksi
Radiografi keberadaan benda asing yang radiopak
oklusal dan view atau fragmen gigi pada jaringan.
lateral • Lateral view pada gigi sulung  posisi
gigi sulung yang berpindah dan
hubungannya terhadap perkembangan
benih gigi permanen dan dinding soket
alveolar.
• scan pada wajah sering digunakan
fraktur alveolar dan cedera kepala.
• Fraktur maksila melibatkan
CT scan prosesus alveolar dan palatum
lebih terlihat pada scan CT sebagai
perbandingan terhadap radiografi
konvensional
Perawatan

Antibiotik Profilaksis tetanus

pernah diimunisasi tetanus selama 10 tahun yang


Golongan penisilin lalu0.5ml vaksin toksoid tetanus sebaiknya
dan clyndamisin diberikan sebagai “booster”  kecenderungan
tetanus atau luka yang terkontaminasi

Antibiotik  efektif lebih dari 10  0.5ml toksoid tetanus untuk


melawan gram kecenderungan tetanus dan untuk semua luka tusuk,
positif luka terbuka, bersih dan luka minor
• Tidak ada urgensi untuk pemberian toksoid tetanus pada
tahapan akut  proteksi dalam melawan cedera lanjutan dan
tidak untuk cedera yang lalu.
• Immunoglobulin tetanus sebaiknya diberikan sebagai
tambahan terhadap pasien yang terluka yang tidak pernah
menerima imunisasi primer melawan tetanus.
Fiksasi dan
imobilisasi

Reduksi Rehabilitasi

Prinsip
dasar
manajemen
fraktur
Manajemen yang sukses  reduksi imediat dan
akurat, reposisi anatomis dari fragmen alveolar
yang bergeser.

diikuti fiksasi dan imobilisasi dari segmen


alveolar selama 4 sampai 6 minggu sampai
tercapainya penyatuan tulang.

dinilai secara benar selama periode imediat


post-fiksasi dan secara periodik sampai 5 tahun
memeriksa kebutuhan perawatan endodontik.
REDUKSI

Anestesi Lokal  reposisi manual

Anestesi umum  cedera jaringan lunak dan


jaringan keras intra dan ekstraoral yang luas,
pasien dengan ansietas yang tinggi

Hal yang pertama dilakukan sebelum reduksi :


debridemen luka atau soket avulsi membuang
semua fragmen tulang dan gigi, atau gumpalan
darah dalam soket.
FIKSASI DAN IMOBILISASI

Fiksasi untuk fraktur alveolar seharusnya merupakan


desain yang rigid untuk penyembuhan tulang

Stabilisasi dan fiksasi dengan arch bar, splin


komposit, splin akrilik dan terkadang fiksasi plate
and screw.

Periode imobilisasi 4 sampai 6 minggu

Kunci imobilisasi yang adekuat penjangkaran


kurang lebih 3 sampai 4 gigi yang stabil
Composite retained wire splint

kawat stainless steel (gauge 19 atau 22)

diadaptasikan dan secara rigid dikaitkan dengan


komposit kurang lebih 3 gigi yang bersebelahan

metode simpel dan efektif

Keuntungan splin komposit  membantu untuk


menjaga oral higin dan kesehatan jaringan mulut
selama periode fiksasi.
Gambar 3. Composite retained wire splint
Arch bar
pasien dianestesi dan fraktur di reduksi

arch bar dipasang pada bagian permukaan fasial gigi dan diikat
dengan kawat stainless steel dengan gauge 25/24  diulir secara
sirkumferensial melalui ruang interproksimal.
Gambar 4. Arch Bar

Gambar 3. Arch Bar


Alat ortodontik

Kawat ortodontik dan bracket edgewise

Arch wire harus pasif untuk mencegah daya ortodontik yang tidak
disengaja yang dapat membuat pergerakan yang tidak diinginkan.

Splin ini dapat dibersihkan dan dipasang dengan mudah.


Gambar 5. Fiksasi dengan Alat ortodontik
Fiksasi Plate-and-Screw
Direct osteosynthesis dengan miniplate/microplate  berguna
terutama dalam manajemen palatal dan fraktur insisuf rahang atas.

Teknik bedah : pembersihan luka, pemberian anestesi membuka


tempat fraktur melalui insisi mukosa atau melalui laserasi jaringan
lunak

fraktur direduksi secara manual dengan tekanan jari, verifikasi oklusal


dan alignment lengkung secara tepat
Gambar 6. Fiksasi dengan Plate and screw
Gambar 7. Fiksasi dengan Plate and screw
Rehabilitasi

Protesa

Perawatan
Implan
endodontik
Komplikasi fraktur alveolar

Kehilangan
maloklusi
gigi

Kehilangan
tulang alveolar
Pengaruh ke endodontik

Nekrosis
pulpa: 75%
Kehilangan
saluran
pulpa: 15%
Kehilangan
dukungan
marjinal
tulang: 13%
Resorpsi Menurut Andreasen , 2012
akar yang
progresif:
11%
PROGNOSIS

• Interval waktu antara cedera dan fiksasi fraktur alveolar


• Tipe fraktur alveolar
• Berhubungan dengan cedera gigi (luksasi dan avulsi) pada
segmen fraktur
• Tahapan perkembangan akar pada gigi yang terlibat
• Adanya comminution tulang dan gigi
TERIMA KASIH