Anda di halaman 1dari 137

AIR TANAH,

PERMEABILITAS
DAN REMBESAN

Materi Kuliah : Mekanika Tanah I


Oleh : Tri Sulistyowati
AIR TANAH
DEFINISI AIR TANAH
 Air tanah didefinisikan sebagai air yang terdapat
dibawah permukaan tanah
 Salah satu sumber air tanah adalah air hujan
yang meresap ke dalam tanah melalui ruang pori
antar butiran tanah
 Air sangat mempengaruhi sifat-sifat teknis dan
mekanis tanah, terutama tanah berbutir halus
 Air merupakan faktor penting dalam masalah-
masalah teknis yang berhubungan dengan tanah
seperti : penurunan, stabilitas pondasi, stabilitas
lereng, rembesan dan lain-lain.
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
SIKLUS HIDROLOGI AIR
TANAH
Awan
Awan
Awan Awan

hujan
hujan
hujan hujan

Transpirasi Evaporasi air


permukaan

angin Perkolasi

Permukaan phreatik
Evaporasi danau
Evaporasi laut (muka air tanah)

laut
aliran air tanah aliran air tanah

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


AIR TANAH DAN SISTEM AKUIFER

Pengambilan air tanah Jika volume


tergantung pengambilan
– kapasitas akuifer melebihi volume
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
– recharge yang masuk ke recharge, maka akan
terjadi penurunan
JENIS-JENIS AIR
TANAH
Berdasarkan asal-usul terjadinya, ada beberapa jenis air tanah
yaitu :
 Air meteroik (meteroic water), berasal dari sebagian air

hujan yang masuk ke dalam tanah.


 Air muda (Juvenille), merupakan kontribusi langsung dari

kegiatan magmatis atau vulkanis selama proses


pendinginan batuan yang baru saja dapat bebas
bersirkulasi.
 Air konat (conate water), berasal dari air yang terperangkap

di antara celah-celah sedimen dan tertutup oleh sedimen


yang lebih kedap air dan akan tersimpan disana. Air ini
terasa asin karena sebagian besar sedimen didepositkan
dibawahTriair laut.
Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI JUMLAH AIR
TANAH DI PERMUKAAN BUMI
 Kemiringan permukaan tanah, kemiringan yang
curam akan memperbesar kuantitas dan tingkat
limpasan permukaan.
 Vegetasi, dapat menyerap sejumlah besar
embun sebelum mencapai permukaan tanah.
 Kondisi iklim, jumlah curah hujan dan temperatur
harian mempengaruhi tingkat penguapan.
 Porositas dan permeabilitas selubung bumi, yaitu
struktur dan kemampuan dari tanah pada lapisan
kulit bumi untuk menyerap air.

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


DISTRIBUSI VERTIKAL AIR TANAH

1. Zona air tanaman. Air di zona ini berada dalam


keadaan tidak jenuh, kecuali pada saat air berlebih di
muka tanah. Tebal zona ini tergantung dari jenis tanah
Zona air dan tanaman.
tanaman 2. Zona jenuh sebagian (vadose sedang), yaitu lapisan
tanah bagian atas dimana air yang memasuki selubung
Zona jenuh Air Vadose bumi tertahan gaya tarik permukaan lapisan tanah
Aerasi

sebagian
Zona

tersebut Ketebalan zona ini berkisar antara 0 m s/d


(vadose ratusan meter, tergantung dari muka air tanah
sedang) setempat.
3. Zona kapiler, yaitu suatu kedalaman dimana air
Zona kapiler tertahan oleh tarikan permukaan. Zona ini berkisar
MAT antara muka air tanah s/d kenaikan kapiler air didalam
pori tanah. Akibat tekanan kapiler, air mengalami isapan
jenuh air

Air Tanah

atau tekanan negatif.


Zona

Zona jenuh air 4. Zona jenuh, yaitu lapisan dibawah zona vadose yang
mencapai kedalaman cukup besar, tetapi tergantung
pada stratigrafi dimana celah, retakan dan rongga pori
Lapisan kedap terisi penuh oleh air
air 5. Garis freatik (muka air tanah), batas atas dari zona
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
jenuh, tekanan hidrostatis adalah nol
TEKANAN KAPILER
Tekanan kapiler terjadi
karena tarikan lapisan tipis
air di bagian atas yang
disebabkan pertemuan dua
jenis material yang berbeda
sifatnya  2T cos 
u
r
u negatif, artinya air
dalam pipa tertarik atau
terhisap
2T cos 
hc 
gw r
Dengan :
hc = tinggi air dalam pipa
kapiler
Geometri meniskus pada kenaikan kapiler r = jari-jari pipa
dan posisi air
Tri kapiler pada
Sulistyowati, ST.,lapisan tanah
MT. - Teknik gw = berat volume air
Sipil FT Unram
PENGARUH TEKANAN
KAPILER
 Akibat tekanan kapiler, air tanah tertarik ke atas melebihi permukaannya.
 Pori-pori tanah sebenarnya bukan sistem pipa kapiler, tapi teori kapiler dapat diterapkan
guna mempelajari kelakuan air pada zone kapiler.
 Air dalam zone kapiler ini dapat dianggap bertekanan negatif, yaitu mempunyai tekanan
di bawah tekanan atmosfer.
 Tinggi minimum dari hc(min) dipengaruhi oleh ukuran maksimum pori-pori tanah. Di dalam
batas antara hc(min) dan hc(maks), tanah dapat bersifat jenuh sebagian (partially saturated).
 Terzaghi dan Peck (1948) memberikan hubungan pendekatan antara hc (maks)dan
diameter butiran, sebagai berikut :
C
hc 
e D10
Dengan :
C = konstanta, tergantung bentuk butiran dan sudut kontak (10 – 50 mm 2)
D 10 = diameter efektif (mm)

 Pengaruh tekanan kapiler pada tanah adalah menambah tegangan efektif.


 Jika tekanan kapiler membesar, tegangan kontak diantara prtikel membesar pula,
akibatnya ketahanan tanah terhadap
Tri Sulistyowati, geser Sipil
ST., MT. - Teknik atauFT
kuat geser tanah meningkat
Unram
TINGGI AIR KAPILER BERBAGAI JENIS TANAH
(HANSBO, 1975)

MACAM TANAH KONDISI KONDISI PADAT


LONGSOR
Pasir kasar 0,03 – 0,12 m 0,04 – 0,15 m
Pasir sedang 0,12 – 0,50 m 0,35 – 1,10 m
Pasir halus 0,30 – 2,00 m 0,40 – 3,50 m
Lanau 1,50 – 10,00 m 2,50 – 12,00 m
Lempung > 10,00 m

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


PERMEABILITAS
APAKAH PERMEABILITAS ITU ?
Permeabilitas didefinisikan sebagai sifat bahan yang
memungkinkan aliran rembesan dari cairan (air, minyak dll)
mengalir melalui rongga porinya.

Air
Air

Tanah Loose Tanah Padat


Air mudah mengalir Air sulit mengalir
Permeabilitas Tinggi
Tri Sulistyowati, Permeabilitas Rendah
ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
GARIS ALIRAN
Aliran air lewat tanah

 Air bergerak dari titik yang lebih tinggi (A) ke titik yang lebih
rendah (B)
 Kecepatan aliran air bervariasi, tergantung ukuran dan
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
konfigurasi rongga pori
PERSAMAAN BERNOULLI
Total tinggi energi pada suatu titik dalam air yang
bergerak berdasarkan persamaan Bernoulli adalah :
P V2 P
h  Z h Z
g w 2g gw
Untuk aliran air dalam tanah, nilainya
dimana : sangat kecil  0
P/gw = tinggi tekanan (m)
P = tekanan (t/m2)
V2/2g = tinggi kecepatan (m)
Z = tinggi elevasi (m)
h = tinggi energi total (m)
V = kecepatan (m/det)
g = percepatan gravitasi (m/det2)
gw = berat volume air (t/m 3
)
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
GRADIEN HIDROLIK

P
Dh
hA  A Gradie
gw Alir n
a n PB
hB  hidroli
gw k (i)
A TAN
AH
B
L Dh
ZA ZB i
L
Datu
Kehilanga  Pm   PB 
n tinggi Dh   A
 Z A     ZB   (h A  Z A )  (hB  ZB )
energi  gw   gw 
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
(Dh)
Berdasarkan persamaan Bernoulli
HUKUM DARCY
 Kecepatan aliran (v) yang mengalir di dalam tanah yang jenuh,
menurut Darcy adalah :
v=k.i
dimana
v = kecepatan aliran air dalam tanah (discharge velocitiy) (cm/det)
k = koefisien rembesan (cm/det)
i = gradien hidrolik; i = Dh / L
Dh = besarnya kehilangan energi antara dua titik
L = jarak antara dua titik yang kehilangan energi = Dh
 Banyaknya air yang mengalir melalui penampang tanah dengan luas A
dalam satu satuan waktu atau debit aliran adalah :
q=v.A=k.i.A
 Sedangkan volume air yang mengalir dalam suatu waktu tertentu t
adalah :
Vair = Q = q x t = V . A . t = k . i . A . t
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
KETEPATAN HUKUM DARCY

 Bila gradien hidrolik bertambah


besar secara perlahan, aliran di
zona I dan zona II akan tetap
lamiar dan kecepatan v
mempunyai hubungan yang linier
dengan gradien hidrolik
 Pada gradien hidrolik yang lebih
tinggi aliran menjadi turbulen
(zona III).
 Bila gradien hidrolik berkurang,
keadaan aliran laminar hanya
Variasi Kecepatan Aliran (v) akan terjadi dalam zona I saja.
dengan gradien hidrolik
Tri Sulistyowati, (i)- Teknik Sipil FT Unram
ST., MT.
KETEPATAN HUKUM DARCY
 Hukum Darcy, hanya sesuai untuk aliran laminer, yaitu bila gradien hidrolik
hanya sampai hidrolik kritis (icr) dan kecepatannya sampai kecepatan kritis (vcr).
 Kriteria nilai batas aliran air dalam tanah, bilangan Reynold (Rn) :

v D gw
Rn 
m
dengan :
v = kecepatan aliran (cm/det)
D = diameter rata-rata butiran tanah (cm)
gw = berat volume cairan (gr/cm3)
m = koefisien kekentalan (gr/cm.det)
 Untuk aliran laminer dalam tanah, maka bilangan Reynold (Rn) < 1
 Berdasarkan persamaan diatas, maka untuk aliran air lewat berbagai macam jenis
tanah (pasir, lanau, lempung), adalah laminer , sehingga : v  i.
 Dengan demikian, Hukum Darcy tepat untuk hitungan aliran rembesan di dalam
tanah. Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
KETEPATAN HUKUM DARCY
 Pada pasir kasar, kerikil dan batuan, aliran turbulen mungkin dapat terjadi.
 Untuk ini, gradien hidrolik diberikan menurut persamaan (Forchhheimer, 1992) :
i = av + bv2
Dengan a dan b adalah konstanta eksperimental
 Leps memberikan persamaan kecepatan aliran air melalui pori, sebagai berikut :
vv = C RH0,5 i 0,54
Dengan :
vv = kecepatan rata-rata air lewat pori
C = konstanta yang merupakan fungsi bentuk dan kekasaran partikel batuan
RH = radius hidrolik rata-rata
i = gradien hidrolik

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


HUBUNGAN KECEPATAN ALIRAN (v)
DAN KECEPATAN REMBESAN (vs)
 Kecepatan aliran (v) didasarkan pada kecepatan air mengalir pada suatu
luasan penampang tanah total (luas pori-pori + luas butiran penampang
melintang tanah)
 Kecepatan rembesan (vs) adalah kecepatan sesungguhnya dari air yang
melalui ruang pori, yang nilainya lebih besar daripada kecepatan aliran (v).
 Karena air hanya melewati ruang pori, maka kecepatan nyata rembesan lewat
tanah (vs) adalah :
v ki
vs  atau vs 
n n Luas pori dalam
Dengan : n adalah porositas penampang
Luas penampang melintang = Av
contoh tanah = A

=
Kecepatan
aliran, v

L Luas butiran tanah


Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
dalam penampang
melintang = As
VARIASI KECEPATAN ALIRAN DENGAN GRADIEN HIDROLIK
DALAM TANAH LEMPUNG

 Kecepatan aliran (v) mempunyai hubungan


linier dengan gradien hidrolik (i)
 Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan
oleh Hansbo (1960) terhadap tanah lempung
tidak terganggu (undisturbed sample),

Kecepatan
aliran (v)
diperoleh bahwa ada suatu gradien hidrolik (i)
yang berlaku :
v = k (i – io) → untuk i ≥ i’
v = k in → untuk i < i’
 Dari persamaan tersebut, apabila gradien
hidrolik sangat rendah, hubungan antara v dan
Tanah
i tidak linier lempung
 Harga pangkat n untuk empat jenis lempung
Swedia yang digunakan dalam pengujian
tersebut, kira-kira adalah 1,5. io i’
 Mitchell (1976), dengan mempertimbangkan
Gradien
berbagai kemungkinan, maka hukum Darcy
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
masih tetap berlaku.
hidrolik, (i)
KOEFISIEN PERMEABILITAS
 Koefisien permeabilitas adalah suatu besaran yang
menunjukkan kecepatan aliran air di dalam suatu medium,
misalnya tanah.
 Koefisien permeabilitas mempunyai satuan sama dengan
kecepatan.
 Bila pengaruh sifat-sifat air dimasukkan maka :
K rw g
k
m
Dengan :
K = koefisien absolut, tergantung dari sifat butiran tanah (cm2)
rw = rapat massa air (gr/cm3)
m = Koefisien kekentalan air (gr/cm.det)
g = percepatan gravitasi (cm/det2)
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
BESARNYA KOEFISIEN PERMEABILITAS

 Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya koefisien permeabilitas secara umum


adalah :
 kekentalan cairan
 distribusi ukuran pori
 distribusi ukuran partikel
 angka pori
 kekasaran permukaan butiran
 derajad kejenuhan tanah
 bentuk partikel
 struktur tanah
 temperatur
 Pada tanah berlempung, faktor-faktor yang mempengaruhi koefisien permeabilitas
adalah :
 Struktur tanah
 Konsentrasi ion dan ketebalan lapisan air yang menempel pada butiran
lempung
 Koefisien rembesan tanah yang jenuh air adalah rendah; harga tersebut akan
Tri Sulistyowati,
bertambah secara ST., MT. bertambahnya
cepat dengan - Teknik Sipil FT Unram
derajad kejenuhan tanah
HARGA KOEFISIEN PERMEABILITAS
TANAH

JENIS KOEFISIEN PERMEABILITAS


TANAH (CM/DET)
Kerikil 1,00 – 100
bersih
Pasir kasar 10-2 – 1,00
Pasir halus 10-3 – 10-2
Lanau 10-5 – 10-3
Lempung Kurang dari 10-6
Lapisan Kurang dari 10-7
kedap

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


UJI PERMEABILITAS DI LABORATORIUM

Ada dua jenis pengujian untuk


menentukan koefisien permeabilitas di
laboratorium, yaitu :
1. Pengujian standar secara langsung,
antara lain :
a. Uji tinggi konstan (constant head)
b. Uji tinggi jatuh (falling head)
2. Pengujian secara tidak langsung, antara
lain :
a. Dari pengujian
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknikkonsolidasi
Sipil FT Unram
Uji Permeabilitas Dengan Cara
Tinggi Konstan (Constant Head)

Peralatan ujiST.,
Tri Sulistyowati, permeabilitas dengan cara
MT. - Teknik Sipil FT Unram
Uji Permeabilitas Dengan Cara
Tinggi Konstan (Constant Head)
 Pengujian ini sesuai untuk tanah berbutir kasar
 Dalam pengujian, pemberian air dalam pipa masuk (inlet) dijaga sedemikian
rupa hingga perbedaan tinggi air di dalam inlet dan outlet selalu konstan
selama pengujian
 Setelah kecepatan aliran air melalui contoh tanah konstan, air dikumpulkan
dalam gelas ukur selama waktu yang telah ditentukan
 Volume total air yang dikumpulkan dinyatakan dalam persamaan :
Q = q t = k i A t dimana i = Dh/L
QxL
k
Aht
Dengan :
k = koefisien permeabilitas tanah(cm/det)
Q = debit rembesan (cm3/det)
L = panjang contoh tanah yang ditest (cm)
A = luas penampang contoh tanah (cm2)
h = tinggi jatuh (cm)
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
t = waktu (det)
Uji Permeabilitas Dengan Cara
Tinggi Jatuh (Falling Head)

Peralatan uji
Tri Sulistyowati, ST.,permeabilitas
MT. - Teknik Sipil FT Unramdengan cara
Uji Permeabilitas Dengan Cara
Tinggi Jatuh (Falling Head)
 Sesuai digunakan untuk tanah berbutir halus.
 Air dituangkan lewat pipa pengukur dan dibiarkan mengalir melewati benda uji
tanah
 Tinggi air pada awal pengujian (h1) pada waktu t1 = 0 dicatat, pada waktu tertentu
(t2) setelah pengujian berlangsung penurunan muka air adalah h2.
 Debit rembesan dihitung dengan persamaan :
h dh
q  k i A  k A  a
L dt
t h2
aL  dh   aL   h1 
 dt   
Ak 

h 
; k 
 At
 ln

  h2



0 h1

aL h
k  2,303 log 1
At h2

a = luas penampang dalam burette (cm2)


h = perbedaan tinggi muka air dalam
burette dalam waktu t (cm)
A = luas penampang contoh
Tri Sulistyowati, tanah
ST., MT. (cm2Sipil
- Teknik ) FT Unram
L = panjang contoh tanah yang ditest (cm)
Pengaruh Temperatur Air Terhadap
Nilai k
Harga koefisien permeabilitas (k) biasanya diberikan untuk test
dimana temperatur air yang digunakan = 20C. Kalau pada waktu
test temperatur air yang digunakan tidak sama dengan 20C dapat
dihitung sebagai berikut :

k(20C) = k(TC) x ( m T/m 20)


dimana :
T = kekentalan dari air pada temperatur TC
20= kekentalan dari air pada temperatur 20C

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


Grafik Hubungan antara m T / m 20 dan T

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


Tabel Nilai m T / m 20 untuk berbagai
temperatur
Temperatur Temperatur
m T / m 20 m T / m 20
(oC) (oC)
10 1,298 21 0,975
11 1,263 22 0,952
12 1,228 23 0,930
13 1,195 24 0,908
14 1,165 25 0,887
15 1,135 26 0,867
16 1,106 27 0,847
17 1,078 28 0,829
18 1,051 29 0,811
19 1,025 30 0,793
20 1,000

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


Uji Permeabilitas dari Uji
Konsolidasi

Peralatan uji permeabilitas dari uji


konsolidasi
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
Uji Permeabilitas dari Uji
Konsolidasi
 Koefisien permeabilitas Tanah Lempung (10 -6 – 10-9 cm/det) dapat ditentukan
dengan falling head permeameter yang direncanakan khusus dari percobaan
konsolidasi.
 Pada alat ini luas benda uji dibuat besar.
 Untuk menghindari penggunaan pipa yang tinggi, tinggi tekanan dapat dibuat
dengan cara pemberian tekanan udara
 Harga Koefisien Permeabilitas diperoleh dari persamaan konsolidasi :
Tv g w De H2
k
t Ds (1  e)
Cv t k De
;  ; dan
Dimana : Tv Cv  mv 
H2 g w mv Ds(1  e)

dengan :
Tv = faktor waktu; Cv = koefisien konsolidasi; t = waktu;
H = panjangTri aliran air; DsST.,
Sulistyowati, MT. - Teknik tekanan
= tambahan Sipil FT Unram
yang diterapkan
Uji Permeabilitas dari Uji Kapiler
Horisontal

Peralatan uji permeabilitas dari uji kapiler


horisontal
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
Uji Permeabilitas dari Uji Kapiler
Horisontal
 Tanah dimasukkan dalam tabung dengan posisi mendatar
 Jika katup A dibuka, air dalam bak penampung akan masuk ke dalam
tabung alat pengujian melalui silinder tanah secara kapiler.
 Jarak x dari titik 1 adalah fungsi dari waktu t.
 Pada titik 1, tinggi energi total (total head) adalah nol. Pada titik 2 (dekat
dengan permukaan basah), tinggi energi total adalah –(h + h c).
 Dengan menggunakan persamaan Darcy :
v = n S vs = k i
dengan :
n = porositas
S = derajad kejenuhan tanah
vs = kecepatan rembesan air lewat rongga pori
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
Uji Permeabilitas dari Uji Kapiler
Horisontal
dx ( energi total pada 1)  ( energi total pada 2)
Karena v s dan i
dt x
0    (h  hc ) h  hc
i 
x x
dx 1 h  hc
Sehingga : v s  k
dt nS x
x2 t
k
 x dx   nS
(h  hc ) dt
x1 0
Persamaan dasar untuk menentukan
koefisien permeabilitas, dengan derajad
x 22  x12 2k kejenuhan tanah selama air bergerak
 (h  hc ) dianggap 100%.
t nS
Kenyataannya nilai S tanah bervariasi
antara 75% - 90%
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
Langkah-langkah Uji Kapiler
Horisontal
1. Buka katup A.
2. Segera sesudah air mengalir, dicatat waktu (t) yang dibutuhkan untuk pengaliran sepanjang
x.
3. Ketika air terdepan telah mengalir kira-kira setengah panjang benda uji (x = Ll2), tutup katup
A dan buka katup B.
4. Lanjutkan sampai gerakan air mencapai x = L.
5. Tutup katup B. Ambil tanah benda uji dan tentukan besar kadar air dan derajat kejenuhannya.
6. Gambarkan hubungan nilai x2 terhadap waktu t. Bagian oa adalah basil plot dari pembacaan
data pada langkah butir (2), dan bagian ab dalam langkah butir (4).
7. Sehingga dapat diperoleh :
Dx 2 2k
 (h  hc )
Suku persamaan sebelah kiri Dt nS
menunjukkan kemiringan dari garis lurus x2 terhadap t.
8. Tentukan kemiringan garis oa dan ab, misal m1, dan m2, maka :

2k 2k
m1  (h  hc ) dan m 2  (h2  h1 )
nS nS
Karena n, S, h1, h2, m1, dan m2 ditentukan dari hasil pengujian, maka kedua persamaan
hanya akan mengandung 2 bilangan yang tak diketahui, yaitu k dan h, Dari kedua persamaan
ini, nilai k dapat
Tri dihitung
Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
Grafik hubungan nilai x2 terhadap waktu t

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


UJI PERMEABILITAS DI
LAPANGAN
Koefisien permeabilitas dapat ditentukan secara
langsung di lapangan, dengan beberapa cara yaitu :
 Uji permeabilitas dengan menggunakan sumur uji

 Uji permeabilitas pada sumur artesis (confined


aquifer)
 Uji permeabilitas dengan lubang auger

 Uji permeabilitas dengan menggunakan lubang bor

 Uji permeabilitas dengan menggunakan lubang bor

dengan cara tinggi energi berubah-ubah (variable


head)
 Uji permeabilitas dengan pengukuran kecepatan
rembesan
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
Uji permeabilitas di lapangan
dengan menggunakan sumur uji

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


Uji permeabilitas di lapangan
dengan menggunakan sumur uji
 Sebuah sumur digali dengan debit air tertentu, disekitar sumur yang ditest (well
test) dibuat beberapa sumur observasi (observation well) pada jarak yang
berbeda-beda dari sumur yang ditest (minimal dua sumur observasi).
 Air dari dalam sumur dipompa dengan kecepatan konstan
 Setelah pemompaan dimulai, ketinggian air di dalam sumur yang ditest dan
sumur observasi diukur hingga keadaan konstan (steady state) dicapai, dimana
penurunan permukaan air tanah akibat pemompaan menunjukkan kedudukan
yang tetap.
 Permukaan penurunan yang telah stabil, yaitu garis penurunan muka air tanah
terendah, diamati dari beberapa sumur pengamat yang digali di sekitar sumur
pengujian tersebut.
 Penurunan muka air terendah terdapat pada sumur uji.
 Penurunan permukaan air disuatu lokasi, berkurang dengan bertambahnya jarak
dari sumur uji. Bentuk teoritis garis penurunan berupa lingkaran dengan pusat
lingkaran pada sumur ujinya. Jarijari R dalam teori hidrolika sumuran disebut jari
jari pengaruh kerucut penurunan (radius of influence of the depression cone).
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
Uji permeabilitas di lapangan
dengan menggunakan sumur uji
 Koefisien permeabilitas tanah di lapangan dari hasil sumur uji :
2,303 q R
k

 H2  h2  log
ro
 Jika penurunan muka air maksimum pada debit Q tertentu adalah Smak, sedang
Smak= H – h, maka persamaan diatas menjadi :
2,303 q R
k log
 2H  Smak  Smak ro
 Nilai R diestimasi dengan persamaan (Sichardt, 1930) :
R  3000 S k (m)
dengan :
S = penurunan muka air maksimum (m)
k = koefisien permeabilitas tanah (m/det)
 Persamaan ini memberikan nilai R yang sangat aman.
 Bila dalam praktek R tidak tersedia, nilai R dari Sichardt tersebut dapat digunakan
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
karena tidak menghasilkan kesalahan yang besar
Uji permeabilitas di lapangan
dengan menggunakan sumur uji
 Untuk penurunan muka air yang lebih besar, pada sumur-sumur
tunggal, Weber (1928) memberikan persamaan untuk lingkaran
pengaruh (R) sbb. :

H k (t ) 
Rc   (m)
 n 
dengan :
k = koefisien permeabilitas tanah (m/det)
c = koefisien yang nilainya mendekati 3
H = tebal lapisan air (m)
t = waktu penurunan (det)
n = porositas tanah
nilai n bervariasi dari 0,25 (pasir kasar) sampai 0,34 (pasi halus)
nilai rata-rata n = 0,30 dapat digunakan
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
Uji permeabilitas di lapangan
dengan menggunakan sumur uji
Lingkaran pengaruh R pada berbagai jenis tanah
(Jumikis, 1962)
Tanah
R
Jenis Tanah Ukuran Butiran (mm) (m)

Kerikil Kasar > 10 > 1500


Kerikil sedang 2 – 10 500 – 1500
Kerikil halus 1–2 400 – 500
Pasir kasar 0,5 – 1 200 – 400
Pasir sedang 0,25 – 0,50 100 – 200
Pasir halus 0,10 – 0,25 50 – 100
Pasir sangat halus 0,05 – 0,10 10 – 50
Pasir berlanau 0,025 – 0,05 5 – 10

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


Uji permeabilitas di lapangan
pada sumur artesis

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


Uji permeabilitas di lapangan
pada sumur artesis
 Pada pengujian ini, sumur dibangun menembus lapisan tanah yang
mudah meloloskan air, dimana lapisan ini terletak diantara dua lapisan
tanah yang kedap air di bagian atas dan bawahnya.
 Air yang mengalir dipengaruhi oleh tekanan artesis
 Sumur yang digali menembus bagian dasar, tengah maupun pada batas
atas lapisan lolos air
 Persamaan koefisien permeabilitas dari hasil uji sumur artesis :
R
log 
q  ro 
k x
2,73T Smak

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


Uji permeabilitas di lapangan
pada sumur artesis
 Persamaan koefisien permeabilitas dari hasil uji sumur artesis :
 Jika terdapat dua sumur observasi :  r2 
log 
k
q
x  r1 
2,73T S1  S 2
 Jika terdapat satu sumur observasi : r 
log 1 
q  ro 
k x
2,73T Smak  S1
dengan :
k = koefisien permeabilitas tanah (m/det)
q = debit aliran arah radial (m3/det)
T = tebal lapisan lolos air (m)
Smak = penurunan muka air pada sumur pengujian (m)
S1 = penurunan muka air pada sumur observasi-1 (m)
S2 = penurunan muka air pada sumur observasi-2 (m)
ro = jari-jari sumur pipa pengujian (m)
r1, r2 = jarak dari sumurST.,
Tri Sulistyowati, pengujian keSipil
MT. - Teknik sumur observasi (m)
FT Unram
Uji permeabilitas di lapangan
dengan menggunakan lubang auger
 Lubang dibuat di lapangan sampai
kedalaman L di bawah muka air
tanah.
 Air didalam lubang galian ditimbun
hingga muka air tanah di dalam
galian turun sebesar Dy.
 Waktu yang dibutuhkan oleh air di
dalam galian untuk naik ke posisi
semula dicatat.
 Koefisien permeabilitas dapat
Uji permeabilitas di lapangan ditentukan dengan persamaam
dengan lubang auger (Ernst, 1950; Dunn, Anderson dan
dengan : Kiefer, 1980) :
r = jari-jari lubang auger (m) 40 r Dy
y = rata-rata jarak antara tinggi air dalam k 
 L  y  y Dt
lubang auger dengan muka air tanah  20
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram   2  
selama interval waktu Dt  r  L
Uji permeabilitas di lapangan
dengan menggunakan lubang bor

Uji permeabilitas di ST.,


Tri Sulistyowati, lapangan dengan
MT. - Teknik lubang bor (USBR, 1961).
Sipil FT Unram
Uji permeabilitas di lapangan
dengan menggunakan lubang bor
 Lubang dibuat di lapangan sampai kedalaman tertentu di bawah muka air
tanah.
 Cara pertama, air diizinkan mengalir dengan tinggi energi yang tetap, ke
dalam atau ke luar dari lapisan yang diuji, lewat ujung dari lubang pipa bor.
 Ujung terbawah lubang bor harus lebih dari 5d, diukur dari lapisan atas dan
bawah, dengan d adalah diameter dalam lubang pipa.
 Ketinggian air di dalam lubang bor dipelihara konstan, perbedaan tinggi
antara air dalam lubang dan muka air tanah = h. Debit q yang konstan untuk
memelihara ketinggian air supaya konstan, diukur.
 Besar koefisien permeabilitas, dihitung dengan persamaan yang
dikembangkan dari percobaan analogi elektris sebagai berikut:
q
k
2,75 dh
dengan:
d = diameter dalam pipa
h = beda tinggi air
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
q = debit untuk memelihara tinggi energi yang sama.
Uji permeabilitas di lapangan dengan menggunakan lubang bor
dengan cara tinggi energi berubah-ubah (variable head)

(a) (b)

Uji permeabilitas di lapangan


Tri Sulistyowati, ST., MT.dengan lubang
- Teknik Sipil bor, (a) dan (b) variable head
FT Unram
Uji permeabilitas di lapangan dengan menggunakan lubang bor
dengan cara tinggi energi berubah-ubah (variable head)

 Dalam pengujian dengan tinggi energi berubah-ubah (variable-head), debit yang


mengalir dari lapisan ke dalam lubang bor diukur dengan mencatat waktu (t) pada
ketinggian air relatif di dalam lubang yang diukur terhadap ketinggian muka air tanah,
pada perubahan tinggi dari h1 ke h2.
 Cara pertama, pipa bor dengan diameter dalam d, ditekan pada jarak yang pendek D
(tak lebih dari 1,5 m) di bawah muka air pada lapisan yang dianggap mempunyai
tebal tak terhingga (gambar a). Aliran yang terjadi, lewat lubang di ujung pipa bor.
Koefisien permeabilitas untuk kondisi ini diberikan menurut persamaan (Hvorslev) :
 d h1
k ln
11 t h2
 Cara kedua, sebuah lubang bor dengan pipa (casing) yang dilubangi pada bagian
bawahnya, dengan panjang L (bisa dengan pipa atau tanpa pipa), dimana L > 4d, di
dalam lapisan yang dianggap berkedalaman tak terhingga (gambar b). Koefisien
permeabilitas dalam kondisi ini diberikan menurut persamaan (Hvorslev) :
d2  2L   h1 
k ln  ln 
8Lt  d  ST.,
Tri Sulistyowati,  hMT.
2 - Teknik Sipil FT Unram
Uji permeabilitas di lapangan
dengan pengukuran kecepatan rembesan

Uji permeabilitas di lapangan dengan pengukuran kecepatan rembesan


Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
Uji permeabilitas di lapangan
dengan pengukuran kecepatan rembesan

 Permeabilitas tanah berbutir kasar, dapat diperoleh dari pengujian


kecepatan rembesan di lapangan.
 Cara ini meliputi penggalian lubang tanpa pipa (trial pit) pada dua titik A
dan B, dimana aliran rembesan berjalan dari A ke B
 Gradien hidrolik (i), ditentukan dari perbedaan muka air yang tetap pada
lubang bor A dan B, dibagi dengan jaraknya AB.
 Pada lubang A dimasukkan bahan wama. Waktu perjalanan bahan
warna dari A ke B dicatat.
 Kecepatan rembesan dihitung dari panjang AB dibagi dengan waktunya.
 Selanjutnya porositas tanah dapat ditentukan dalam percobaan
laboratorium.
 Nilai koefisien permeabilitas dihitung dengan persamaan :
v sn
k
i
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
Uji permeabilitas di lapangan
dengan pengukuran kecepatan rembesan
 Lubang dibuat di lapangan sampai kedalaman tertentu di bawah muka air
tanah.
 Cara pertama, air diizinkan mengalir dengan tinggi energi yang tetap, ke
dalam atau ke luar dari lapisan yang diuji, lewat ujung dari lubang pipa bor.
 Ujung terbawah lubang bor harus lebih dari 5d, diukur dari lapisan atas dan
bawah, dengan d adalah diameter dalam lubang pipa.
 Ketinggian air di dalam lubang bor dipelihara konstan, perbedaan tinggi
antara air dalam lubang dan muka air tanah = h. Debit q yang konstan untuk
memelihara ketinggian air supaya konstan, diukur.
 Besar koefisien permeabilitas, dihitung dengan persamaan yang
dikembangkan dari percobaan analogi elektris sebagai berikut:
q
k
2,75 dh
dengan:
d = diameter dalam pipa
h = beda tinggi air
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
q = debit untuk memelihara tinggi energi yang sama.
PENENTUAN KOEFISIEN
PERMEABILITAS SECARA
EMPIRIS
Beberapa persamaan untuk memperkirakan harga koefisien permeabilitas
tanah, antara lain :
 Untuk pasir yang seragam (uniform), harga k dapat ditentukan

dengan persamaan berikut ini (Hazen, 1930):


k = C . (D10 )2 (cm/detik)
dimana :
C = konstanta ( 1 – 1,5 )
D10 = ukuran efektif (mm)
 Untuk tanah pasir bersih yang halus sampai dengan agak kasar,
harga k menurut Cassagrande adalah :
k = 1,4 e2 . (k0,85 )
dimana :
k = koefisien rembesan pada angka pori e
k0,85 = koefisien rembesan yang bersesuaian dengan angka pori 0,85
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
PENENTUAN KOEFISIEN PERMEABILITAS SECARA EMPIRIS
(lanjutan......)

 Dengan menggunakan persamaan Kozeny-Carman :


e3 e3
k atau dapat ditulis k  C1
1 e 1 e
dimana :
e = angka pori dan C1 = konstanta
 Amer dan Awad (1974) menyarankan bahwa konstanta C1 dapat
dinyatakan sebagai fungsi ukuran efektif dan keseragaman pasir, atau :
2,32
C1  C 2 D10 Cu0,6
dimana :
D10 = ukuran efektif; Cu = koefisien keseragaman dan C 2 = konstanta
 Sehingga persamaan Kozeny-Carman menjadi :
3
2,32 e
k  C 2 D10 Cu0,6
1 e
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
PENENTUAN KOEFISIEN PERMEABILITAS SECARA EMPIRIS
(lanjutan......)

 Nilai koefisien permeabilitas untuk


tanah lempung yang terkonsolidasi
secara normal (normally consolidated)
dapat ditentukan dengan persamaan
empiris berikut (Samarasinghe,
Huang dan Drnevich, 1982):
en
k  C3
1 e
dimana : C3 dan n adalah konstanta-
konstanta yang ditentukan dari hasil
percobaan
 Untuk suatu jenis tanah lempung,
apabila variasi dari k terhadap angka
pori diketahui, grafik antara k (1 + e)
dan e dapat digambar, sehingga harga
C3 dan n dapat ditentukan
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
Variasi harga k terhadap en/(1+e) untuk tanah lempung New Liskeard yang
terkonsolidasi secara normal (Samarasinghe, Huang dan Drnevich , 1982)

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


Koefisien Permeabilitas pasir seragam Madison,
dari uji constant head; D10 = 0,2 mm

Nomor k20 e3 e2
e e2
pengujian (mm/det) 1+e 1+e
1 0,797 0,504 0,282 0,353 0,635
2 0,704 0,394 0,205 0,291 0,496
3 0,606 0,303 0,139 0,229 0,367
4 0,804 0,539 0,288 0,358 0,646
5 0,688 0,356 0,193 0,280 0,473
6 0,617 0,286 0,144 0,235 0,381
7 0,755 0,490 0,245 0,325 0,570
8 0,687 0,436 0,192 0,280 0,472
9 0,582 0,275 0,125 0,214 0,339

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


REMBESAN
MENGAPA ANALISIS REMBESAN AIR
DALAM TANAH SANGAT PENTING ????

Analisis rembesan air dalam tanah


sangat penting karena mengingat
hal-hal berikut ini :
 Untuk memperhitungkan
banyaknya air yang merembes di
bawah bangunan air
 Untuk memecahkan masalah
pemompaan air pada
pelaksanaan konstruksi dalam
tanah
 Untuk memperhitungkan
stabilitas lereng bendungan
tanah yang terkena daya
rembes.
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
TRAGEDI SITU GINTUNG

Situ Gintung, waduk peninggalan Belanda yang berada di kelurahan Cirendeu,


Ciputat,Tangerang Selatan, Banten, pada tanggal 27 Maret 2009 pukul 05.10 WIB, jebol

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


TRAGEDI SITU GINTUNG

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


TRAGEDI SITU GINTUNG

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


Kasus : Seepage dan Piping yang menyebabkan jebolnya
WASHINGTON POWER CANAL
Dibangun pada tahun :1957 – 1958

Sebelum kanal jebol


akbiat rembesan
(seepage) dan piping

Setelah kanal jebol akbiat


rembesan (seepage) dan
piping
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
(21 April 2002)
Kasus : Seepage dan Piping yang menyebabkan jebolnya
WASHINGTON POWER CANAL
Dibangun pada tahun :1957 – 1958

1 2

3 4

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


Kasus : Seepage dan Piping yang menyebabkan jebolnya
WASHINGTON POWER CANAL
Dibangun pada tahun :1957 – 1958

5 6

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


Kasus : Seepage dan piping yang menyebabkan
jebolnya TETON DAM

1 2

3 4

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


KONSEP REMBESAN AIR DALAM
TANAH
TEORI REMBESAN DUA DIMENSI.
 Bila tanah dianggap homogen dan isotropis, maka Rembesan di dalam tanah
dalam bidang x-z hukum Darcy dapat dinyatakan
sebagai berikut :
dh dh
v x  k i x  kdan v z  k iz  k
dx dz
tinggi h berkurang dalam arah vX dan vZ
 Suatu elemen tanah jenuh dengan dimensi dx, dy,
dz berturut-turut dalam arah sumbu x, y, dan z di
mana aliran terjadi hanya pada bidang x, z,
diperlihatkan dalam gambar di samping.
 Komponen kecepatan aliran air masuk elemen adalah vX dan vZ.
 Perubahan kecepatan aliran arah x = dvX/d X dan z = dvZ/d Z.
 Volume air masuk ke elemen persatuan waktu dapat dinyatakan dengan :
vX dy dz + vZ dx dy
dan volume air meninggalkan elemen persatuan waktu adalah :
 dv x   dv z 
 v x  Tri Sulistyowati,  MT.
dx dy dzST., 
v z- Teknik dz dx
Sipil FT dy
Unram
 dx   dz 
KONSEP REMBESAN AIR DALAM
TANAH
 Jika elemen volume tetap dan air dianggap tidak mudah mampat, selisih antara
volume air masuk dan keluar adalah nol, persamaan di atas akan menjadi :
dv x dv z
 0 Persamaan kontinuitas dalam dua dimensi
dx dz
 Jika volume elemen berubah, persamaan kontinuitas menjadi :
 dv x dv z  dV
  dx dy dz 
 dx dz  dt
Dengan dV/dt adalah perubahan volume per satuan waktu
 Ditinjau fungsi q (x,z), yang disebut fungsi potensial, sedemikian sehingga :
dq dh dq dh
 vx  k
dan  v z  k
dx dx dz dz
 Maka : d2q d2q
2
 2 0
dx dz
 Fungsi q (x,z) memenuhi persamaan Laplace.
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
KONSEP REMBESAN AIR DALAM
TANAH
 lntegrasi persamaan sebelumnya, diperoleh :
q(x,z) = - k h (x,z) + C
dengan C adalah kontanta.
 Jadi, jika fungsi q(x,z) diberikan suatu nilai konstan q1, akan menunjukkan kurva
dengan nilai tinggi h, konstan.
 Jika fungsi q(x,z) diberikan suatu nilai q1, q2, q3, ... dan seterusnya, suatu kurva akan
terbentuk dengan tinggi energi total yang konstan (tapi dengan nilai yang berbeda
pada tiap kurvanya); yang disebut garis ekipotensial.
 Selanjutnya, ditinjau fungsi kedua f(x,z) yang disebut fungsi aliran, dan dibentuk
oleh :
df dh df dh
  v z  dan
k  v  k
dz memenuhi pers.
dx Laplace
x
dx dz
 Deferensial total dari fungsi f(x,z) ini, menghasilkan :
df df
df  dx  dz   v z dx  v x dz
dx dz
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
KONSEP REMBESAN AIR DALAM
TANAH
 Jika fungsi f(x,z) diberikan suatu nilai konstan f1, maka df = 0 dan :
dz v z

dx v x
 Jadi, kemiringan kurva pada tiap titiknya adalah :
f(x,z) = f 1
 Dengan menetapkan arah dari resultan kecepatan
pada setiap titik, kurvanya akan menunjukkan lintasan
aliran.
 Jika fungsi f(x,z) diberikan beberapa nilai konstan f1,
f2, f3, ...., kurva bentuk kedua akan membentuk
Rembesan antara
lintasan aliran yang disebut garis aliran. dua garis aliran
 Aliran per satuan waktu antara dua garis aliran untuk
nilai fungsi aliran f1 dan f2 diberikan oleh :
f2 f2
 df df 
Dq     v z dx  v x dz    dx  dz   f2  f1

f1 f
 dx dz 
1
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
Jadi aliran lewat saluran antara dua garis aliran adalah konstan
KONSEP REMBESAN AIR DALAM
TANAH
 Deferensial total dari fungsi q(x,z) adalah:
dq dq
dq  dx  dz  v x dx  v z dz Garis aliran dan garis ekipoten
dx dz
dz vx
 Jika q(x,z) konstan, maka dq = 0 dan 
dx vz
 Dari persamaan garis aliran dan garis
ekipotensial terlihat bahwa kedua garis tersebut
berpotongan satu sama lain tegak lurus.
 Ditinjau dua garis aliran f1 dan (f1 + Df) yang
dipisahkan oleh jarak Db.
 Garis aliran berpotongan tegak lurus dengan dua
ekipotensial q1, dan (q1 + Dq) yang dipisahkan oleh
jarak Dl.
 Arah l dan b bersudut  terhadap sumbu x dan z.
 Pada titik A kecepatan dalam arah .l adalah vs
dengan komponen vs, dalam arah x dan z adalah :
vX = vs cos  dan v = v sin 
Tri Sulistyowati,Z ST., sMT. - Teknik Sipil FT Unram
KONSEP REMBESAN AIR DALAM
TANAH
 Selanjutnya :
dq dq dx dq dz
   v s cos2   v s sin2   v s
dl dx dl dz dl
dan
df df dx df dz
    v s sin (  sin  )  v s cos2   v s
db dx db dz db
 Jadi :
df dq

db dl
 Dengan cara pendekatan, diperoleh :

Df Dq

Db Dl

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


JARING ARUS
(FLOWNET)
 Sekelompok garis aliran dan garis Jaring arus pada struktur tura
ekipotensial disebut jaring arus (flow-net).
 Garis ekipotensial adalah garis-garis yang
mempunyai tinggi energi potensial yang
sama (h konstan).
 Gambar disamping memperlihatkan contoh
dari sebuah jaring arus pada struktur turap
baja.
 Permeabilitas lapisan lolos air dianggap
isotropis ( kx = kZ = k).
 Garis penuh adalah garis aliran dan garis
titik-titik adalah garis ekipotensial.
 Garis PQ dan TU adalah garis ekipotensial,
sedang QRST dan VW adalah garis aliran.
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
JARING ARUS
(FLOWNET)
 Dalam penggambaran jaring-arus, garis aliran dan garis ekipotensial digambarkan
secara coba-coba (trial and error).
 Fungsi q(x,z) dan f(x,z) diperoleh pada batas kondisi yang relevan.
 Prinsip dasar yang harus dipenuhi di dalam cara jaring arus adalah antara garis
ekipotensial dan garis aliran harus berpotongan tegak lurus.
 Penggambaran jaring arus diusahakan harus sedemikian rupa sehingga Df bernilai
sama antara sembarang dua garis aliran yang berdekatan dan Dq bernilai sama
antara sembarang dua garis ekipotensial berdekatan.
 Bila, perpotongan garis aliran dan garis ekipotensial berbentuk bujur sangkar (Dl=
Dlb). Untuk sembarang bujur sangkar, maka :
Df = Dq
 Karena Df = Dq dan Dq = k Dh, maka diperoleh :
Dq = k Dh h
 Gradien hidrolik diberikan menurut persamaan : i  dan
D h D h 
Dl Nd
Dengan :
h = beda tinggi energi antara garis ekipotensial awal dan akhir
Nd = jumlah penurunan dari
Tri Sulistyowati, garis
ST., MT. ekipotensial
- Teknik Sipil FT Unram
JARING ARUS
(FLOWNET)
Jaring arus pada struktur bendung
Debit rembesan dalara satu lajur aliran

Hitungan rembesan dengan cara jaring arus dalam struktur bangunan air :
 Lajur aliran adalah ruang memanjang yang terletak di antara dua garis aliran yang

berdekatan.
 Garis-garis ekipotensial memotong garis aliran dan hubungannya dengan tinggi h,

juga diperlihatkan.
 Debit Dq, adalah aliran yang lewat satu lajur aliran per satuan lebar struktur

bendung.
 Menurut hukum Darcy :
 
h1  h2   h 2  h3
Dq  k i ST.,
Tri Sulistyowati,
 bFT1xUnram
k - Teknik Sipil
A MT. 1  k   b 2 x1  .....dst
 l1   l2 
JARING ARUS
(FLOWNET)
 Jika elemen aliran digambarkan sebagai bujur sangkar, maka :
l1 = b1 ; l2 = b2 ; l3 = b3 ; ..... dst
h kehilangan tinggi energi
dan h1  h2  h2  h3  h3  h 4  .....  Dh  antara dua garis ekipotensial
Nd berurutan adalah sama
h
Sehingga diperoleh : Dq  k
Nd
 Jika terdapat Nf lajur aliran, debit remebesan (q) per satuan lebar dari struktur
dinyatakan oleh : Nf untuk menghitung debit rembesan
q  Nf Dq  k h lewat bagian bawah bangunan air
Nd
 Jaring arus dapat digambarkan dengan berbentuk segiempat, nilai banding panjang
dan lebar dari jaring-arus harus konstan, atau :
b1 b 2 b3
   .....  n
l1 l2 l3
 Pada penggambaran jaring arus, sembarang elemen jaring arus harus memenuhi bi
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
= n li
JARING ARUS
(FLOWNET)
 Untuk jaring arus dengan bentuk segiempat, untuk satu lajur aliran, debit rernbesan
per satuan lebar dari struktur, ditentukan oleh :
 Dh   Dh   h 
Dq  k   b x 1  k   nl x 1  k Dh n  k  n
 l   l   Nd 
 Bila dalam jaring arus terdapat N1 lajur aliran, maka debit rembesan:
 Nf 
q  k h   n
 Nd 

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


Soal
Dasar sungai terdiri dari pasir tebal 4,1 m dengan k = 2,1 x 10 -6 m/det dan
dibawahnya terdapat lapisan tanah lempung (kedap air) yang tebal. Sebuah
cofferdam yang terdiri dari 2 buah turap dibangun pada jarak 2,75 m. Tinggi air
yang terbendung 1,25 m. Jika kedalaman galian 1 m, maka :
a) Gambarkan jaring aliran (flownet)
b) Hitung debit rembesan per meter panjang cofferdam
c) Hitung faktor keamanan terhadap piping

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


Penyelesaian Soal

a. Gambar jaring aliran (flownet) adalah sebagai berikut :

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


b. Debit rembesan :
Nf = 3 x 2 = 6; Nd = 11; h = 1 + 1,25 = 2,25 m
Sehingga :
q = k.h (Nf/Nd) = 2,1 x 10-6 x 2,25 x (6/11)
= 2,58 x 10-6 m3/det per meter panjang cofferdam
c. Perhitungan faktor keamanan terhadap piping
Panjang garis aliran :
PQ = LPQ = 0,5 m; Dh = 6/11 = 0,545 m;
Gradien hidrolis :
ie = Dh / LPQ = 0,545/0,5 = 1,09
g’ = gsat – gw = 19 – 9,81 = 9,19 kN/m3
Gradien hidrolis kritis :
ic = g’ / gw = 9,19/9,81= 0,94
Faktor keamanan terhadap piping :
F = ic/ie = 0,94/1,09 = 0,6 < 3 (TIDAK AMAN)
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
TEKANAN REMBESAN
 Air pada keadaan statis didalam tanah, akan mengakibatkan tekanan hidrostatis
yang arahnya ke atas (uplift).
 Akan tetapi, jika air rnengalir lewat lapisan tanah, aliran air akan mendesak partikel
tanah sebesar tekanan rembesan hidrodinamis yang bekerja menurut arah
alirannya.
 Besarnya tekanan rembesan akan merupakan fungsi dari gradien hidrolik.

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik


Tekanan Sipil FT Unram
rembesan
TEKANAN REMBESAN
 Keterangan gambar :
 Beda panjang aliran sama dengan dL dan luas potongan melintang tabung aliran
adalah dA.
 Besarnya gaya tekan dapat dinyatakan sebagai fungsi dh, sebagai berikut :
dp = g Wdh dA
dengan gW adalah berat volume air dan dp adalah gaya hidrodinamis yang disebut
gaya rembesan.
 Dari persamaan di atas, gaya per satuan satuan volume:
dp dp g dh dA
  w
dV dA dL dA dL
 Karena aliran air dalam tanah biasanya lamban, gaya inersia pada air yang
bergerak diabaikan. Dengan menganggap dpl(dA dL) = D, akan diperoleh
persamaan gaya rembesan per satuan volume :
D = g W i (kN/m3, t/m3)
dengan i = dh/dL adalah gradien hidrolik.
 Gaya hidrodinamis persatuan
Tri Sulistyowati, ST., volume (D)Sipil
MT. - Teknik bekerja sepanjang arah aliran airnya.
FT Unram
TEKANAN REMBESAN
PENGARUH TEKANAN AIR TERHADAP STABILITAS TANAH

 Pada titik 1, atau sembarang titik di Pengaruh gaya rembesan (D)


mana garis aliran bararah vertikal ke terhadap berat volume efektif
bawah, berat volume efektif (gef) adalah : tanah
g ef = (g’ + D)
 Pada titik 2, atau sembarang titik pada
garis aliran, dua vektor D dan g’ bekerja
saling tegak lurus, menghasilkan vektor
resultan gaya yang miring
 Pada titik 3, dimana arah aliran vertikal,
berat volume efektifnya adalah :
g ef = (g’ - D)
□ Jika D = g’, tanah akan nampak kehilangan beratnya, sehingga menjadi tidak stabil
□ Keadaan ini disebut kondisi kritis, dimana gradien hidrolik dan kecepatannya dalam
kondisi kritis, maka :
D = g wic
□ Bila kecepatan aliran melebihi kecepatan kritis, maka D > g’, dan g ef menjadi
negatif . Hal ini berarti tanah dalam keadaan mengapung atau terangkat ke atas
□ Tri Sulistyowati,
Tanah dalam kondisi ST., MT.
ini disebut - Teknik
dalam Sipil mengapung
kondisi FT Unram (quick condition)
TEKANAN REMBESAN
TEORI KONDISI MENGAPUNG (QUICK CONDITION)

 Tekanan hidrodinamis dapat mengubah keseimbangan lapisan tanah


 Pada keadaan seimbang, besarnya gaya yang bekerja ke bawah W = g’ sama
dengan gaya rembesan D = g w . ic, atau :
W↑ - D↓ = 0
 Besarnya berat tanah terendam adalah :
W = g’ = (1 – n) (Gs – 1) g w
Gs  1
g'  g w (kN / m3 , t / m3 )
1 e
 Substitusi g’ dan D = g w . ic, diperoleh : g’ = g w . ic
 Gradien hidrolik kritis : ic = g’ / g w ; sehingga :
Gs  1 Gs  1
g w  g w ic  0 ic 
1 e 1 e
 Gradien hidrolik kritis adalah gradien hidrolik minimum yang akan menyebabkan
kondisi mengapung pada jenis tanah tertentu ic
 Dalam perancangan terhadap bahaya mengapung harus dipenuhi :
i 
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram SF
dengan SF = faktor keamanan ( 3 atau 4)
TEKANAN REMBESAN
KEAMANAN BANGUNAN TERHADAP BAHAYA PIPING

 Bila tekanan rembesan ke atas yang terjadi dalam tanah sama dengan ic, maka
akan berakibat tanah mengapung.
 Keadaan semacam ini juga dapat berakibat terangkutnya butir-butir tanah halus,
sehingga terjadi pipa-pipa di dalam tanah yang disebut piping.
 Akibat terjadinya pipa-pipa yang berbentuk rongga-rongga, dapat mengakibatkan
fondasi bangunan mengalami penurunan, hingga mengganggu stabilitas
bangunan.
 Harza (1935) mamberikan faktor keamanan bangunan air terhadap bahaya piping,
sebagai berikut :
ic
SF  (SF
ie = faktor aman, 3 atau 4)
dengan ie adalah gradien keluar maksimum (maximum exit gradient) dan ic = g'/ g w.
 Gradien keluar maksimum dapat ditentukan dari jaring arus dan besarnya sama
dengan :
Dh/l
Dh adalah kehilangan tinggi energi antara dua garis ekipotensial terakhir, dan l
adalah panjang dari elemenST.,
Tri Sulistyowati, aliran).
MT. - Teknik Sipil FT Unram
TEKANAN REMBESAN
KEAMANAN BANGUNAN TERHADAP BAHAYA PIPING

 Dengan menggunakan notasi yang diperlihatkan dalam


gambar disamping, gradien keluar maksimum diberikan
menurut persamaan :
h
ie  C
B
 Lane (1935) menyelidiki keamanan struktur bendungan
terhadap bahaya piping. Panjang lintasan air melalui
dasar bendung dengan memperhatikan bahaya piping
dihitung dengan cara pendekatan empiris, sebagai
berikut :
 Lh
Lw    Lv
3
dengan :
Lw = weighted – creep – distance
SLh = jumlah jarak horisontal menurut lintasan
terpendek
Gradien keluarTrikritis
Sulistyowati, SL
ST., MT. =
- Teknik
jumlahSipil FT Unram
jarak vertikal menurut lintasan
v
(Harza, 1935)
TEKANAN REMBESAN
KEAMANAN BANGUNAN TERHADAP BAHAYA PIPING

Hitungan weighted-creep- Nilai angka aman untuk weighted-creep-


distance Angka aman WCR
Tanah
(weighted -creep - ratio)
Pasir sangat halus atau lanau 8,5
Pasir halus 7,0
Pasir sedang 6,0
Pasir kasar 5,0
Kerikil halus 4,0
Kerikil kasar 3,0
Lempung lunak sampai
2,0-3,0
sedang
Lempung keras 1,8
Cadas 1,6

 Setelah weighted - creep - distance dihitung, weighted - creep - ratio (WCR) dapat
ditentukan dengan menggunakan persamaan :  Lw
WCR 
H1  H2
 Nilai WCR harus lebih besar dari nilai yang terdapat dalam tabel di atas.
 Lintasan aliran yang melewati struktur dengan sudut kemiringan >45o
diperhitungkan sebagai lintasan
Tri Sulistyowati, ST., MT. vertikal (Lv),FT sedang
- Teknik Sipil Unram kemiringan lintasan aliran
<45o, diperhitungkan sebagai lintasan horisontal (Lh).
TEKANAN REMBESAN
KEAMANAN BANGUNAN TERHADAP BAHAYA PIPING

Keruntuhan akibat  Terzaghi (1922) mengerjakan beberapa pengujian


piping pada sederet model pada turap tunggal.
turap  Hasilnya, lokasi yang dipengaruhi oleh bahaya
piping terjadi sejarak dl2 dari dinding turap (d =
kedalaman penetrasi turap ke tanah).
 Stabilitas struktur dapat ditentukan dengan
memperhatikan prisma tanah pada sisi hilir
menurut tebal satuan dan dari potongan dx d/2.
 Dengan menggunakan jaring arus, tekanan ke
atas dapat ditentukan dari persamaan :
U = ½ g W. d. ha
dengan ha = tinggi energi hidrolik rata-rata pada
dasar dari prisma tanah.
 Gaya berat prisma tanah yang terendam bekerja
ke bawah, dapat dinyatakan dengan berat
mengapung :
W' = ½ g ‘ d2
 Faktor aman dinyatakan
1 g ' d2
dengan:
W' d g'
Tri Sulistyowati, ST., MT. - TeknikSF
Sipil  12
 FT Unram  = 4)
(SF
U g d ha ha g w
2 w
TEKANAN REMBESAN
KEAMANAN BANGUNAN TERHADAP BAHAYA PIPING

Keamanan terhadap bahaya piping pada bendungan

 Untuk keamanan struktur turap tunggal pada gambar di atas, dalam menghitung
faktor aman minimum terhadap piping, Terzaghi (1943) menyarankan untuk
memperhatikan stabilitas prisma tanah berdimensi d/2 x d' x l.
 Perhatikan bahwa 0 < d‘  d.
 Akan tetapi, bila faktor aman (SF) yang diberikan 4 sampai 5, penggunaan d = d'
dianggap cukup aman dan memenuhi
Tri Sulistyowati, syarat
ST., MT. - Teknik Sipilkestabilan
FT Unram (Harr, 1962).
TEKANAN REMBESAN
GAYA TEKANAN AIR PADA STRUKTUR
 Jaring arus dapat digunakan untuk menentukan Tinggi tekanan di bawah dasar bendu
besar gaya tekanan air keatas (uplift pressure)
di bawah sebuah struktur.
 Cara hitungannya disajikan dalam contoh sebagai
berikut :
Tinggi tekanan di titik D, E, F, G, H, I :
D = [11+2,3] - [2(11/12)] = 11,47 m
E = [11+2,3] - [3(11/12)] = 10,55 m
F = [11+2,3-1,65]-[3,5(11/12)] =11,47 m
G = [13,3-16,5] - [8,5(11/12)] = 3,86 m
H = [11+2,3] - [9(11/12)] = 5,05 m
I = [11+2,3] - [10(11/12)] = 4,13 m
 Tinggi tekananyang telah dihitung kemudian
digambarkan (Gambar b)
 Gaya tekanan ke atas per satuan panjang dari
bendung (U), dihitung dengan persamaan :
U = g w x (luas diagram tinggi tekanan) x 1
U = 1 x [0,5(11,47 + 10,55)(1,65) + 0,5 (10,55 +
8,44)(1,65) + 0,5(8,44 + 3,86)(19) + 0,5(3,86
+ 5,05)(1,65) + 0,5(5,05 + 4,13)(1,65)]
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
= 173,88 t/m (1705,76 kN/m)
KONDISI TANAH
ANISOTROPIS
 Dalam tinjauan tanah anisotropis, walaupun tanah mungkin homogen,
tapi mempunyai permeabilitas yang berbeda pada arah vertikal dan
horizontalnya.
 Kebanyakan tanah pada kondisi alamnya dalam keadaan tak isotropis,
artinya mempunyai nilai koefisien permeabilitas maksimum searah
lapisannya, dan nilai minimum ke arah tegak lurus lapisannya. Arah-arah
ini selanjutnya dinyatakan dalam arah x dan z.
 Dalam kodisi ini permeabilitas pada arah horizontal dan vertikalnya
dapat dinyatakan dalam bentuk:
kx = kmak dan kz = kmin
 Untuk kondisi ini, persamaan Darcy menjadi :
dh dh
v x  k xi x  k x v z  k ziz  k z
dx
dan dz

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


KONDISI TANAH
ANISOTROPIS
d 2h d 2h
 Persamaan Kontinuitas : k x 2
 kz 2
0
dx dz
Dengan :
kx = koefisien permeabilitas arah horisontal
kz = koefisien permeabilitas arah vertikal d 2h d 2h
 Dari persamaan di atas, dapat dibentuk : 2
 2
0
(k z / k x )dx dz

d 2h d 2h
x t  x (k z / k x ) 2
 2
(k z / k x )dx dx t
 Bila ; maka :

d 2h
 Sehingga: d 2h Persamaan kontinuitas untuk kondisi
0 isotropis dalam bidang xt dan z
dx t 2 dz 2
faktor skala yang diterapkan dalam arah x yang
xt  x (k z / k x ) dimaksudkan untuk mentransformaslkan keadaan tak
Tri Sulistyowati, ST., MT. -isotropis keFT dalam
Teknik Sipil Unram kondisi isotropis, di mana
persamaan Laplace masih memenuhi
KONDISI TANAH
ANISOTROPIS
 Sesudah jaring arus digambarkan untuk potongan yang sudah ditransformasi,
jaring arus kondisi nyatanya dapat diperoleh dengan penggunaan kebalikan dari
faktor transformasinya. Bila perlu, transformasi juga dapat dibuat dalam arah z.
 Nilai koefisien permeabilitas yang diterapkan pada potongan transformasinya,
diberikan sebagai koefisien isotropik ekivalen, dengan :
k '  (k x / k z )
 Vreendenburgh (1936) telah berhasil membuktikan ketepatan dari persamaan di
atas.
 aliran air rembesan bekeria
dalam arah sumbu x
 Jaring arus digambarkan dalarn
dua kondisi, yaitu kondisi
transformasi dan kondisi asli.
 Kecepatan arah sumbu x (vX)
dinyatakan dengan notasi k'
pada potongan yang
ditransformasi, dan kX pada
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
potongan kondisi aslinya. Elemen jaring arus (a) Skala transformasi, (b) Skala
asli.
KONDISI TANAH
ANISOTROPIS
 Cara pembuktian dilakukan sebagai berikut :
dh dh dh dh
v x  k '  k 
dx t dengan :dx
x dx t kz
dx
Jadi : kz kx
k'  k x  (k x / k z )
kx
 Langkah-langkah dalam hitungan jaring arus pada kondisi tanah anisotropis :
a. Untuk penggambaran potongan melintang strukturnya, gunakan sembarang
skala vertikal.
b. Tentukan, (k z / k x )  (k vertikal / k horisontal )
c. Hitunglah skala horisontal, sedemikian sehingga skala horizontal = (k z / k x )
kali skala vertikal.
d. Dengan skala yang ada pada butir (a) dan (c), gambarkan potongan melintang
dari strukturnya.
e. Gambarkan jaring arus untuk potongan yang ditransformasi, dengan cara yang
sama seperti keadaan isotropis.  Nf 
f. Hitung debit rembesan menurut persamaan : q  h (k x . k z ) 
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram

 Nd 
KONDISI TANAH
BERLAPIS
MENGHITUNG DEBIT REMBESAN TANAH BERLAPIS DENGAN CARA JARING ARUS

Jaring arus pada


pertemuan
lapisan dengan k
berbeda

 Bila jaring arus akan digambarkan untuk kondisi 2 lapisan yang berbeda,
maka pada batas lapisannya gambar jaring arus akan patah. Kondisi
demikian disebut kondisi transfer.
 Lapisan tanah 1 dan 2, mempunyai koefisien permeabilitas yang tidak
sama.
 Garis patahpatah yang memotong lajur aliran pada gambar, adalah garis-
garis ekipotensial.
 Dh adalahTritinggi energi
Sulistyowati, ST.,hilang di Sipil
MT. - Teknik antara dua garis ekipotensial yang
FT Unram
berdekatan.
KONDISI TANAH
BERLAPIS
MENGHITUNG DEBIT REMBESAN TANAH BERLAPIS DENGAN CARA JARING ARUS

 Ditinjau dari suatu panjang satuan yang tegak lurus bidang gambar, debit
rembesan yang melalui lajur aliran adalah
Dh Dh k 1 b 2 / l2
Dq  k1 b1  k 2 atau
b2 
l1 l2 k 2 b1 / l1
 dengan l1 dan b1, adalah panjang dan lebar dari elemen aliran lapisan
tanah 1, sedang l2 dan b2 adalah panjang dan lebar pada lapisan tanah 2,
masing-masing dinyatakan dengan persamaan :
l1 = AB sin q1 = AB cos 1 ; l2 = AB sin q2, = AB cos 2
b1 = AC cos q1 = AC sin 1 ; b2 = AC cos q2 = AC sin 2
Maka :
b1 / l1 = cos q 1 / sin q 1 = sin  1 /cos  1 atau b1 / l1 = 1 / tg q 1 = tg  1
dan b2 / l2 = 1 / tg q 2 = tg  2
Sehingga
k diperoleh
tg q : 
tg
1 1 1 Persamaan untuk penggambaran jaring
 
k2 tg q2 tg ST.,
Tri Sulistyowati,
2
MT. - Teknikarus
Sipil pada tanah yang tidak homogen
FT Unram
KONDISI TANAH
BERLAPIS
MENGHITUNG DEBIT REMBESAN TANAH BERLAPIS DENGAN CARA JARING ARUS

Pertimbangan penting untuk digunakan


dalam penggambaran jaring arus pada
kondisi tanah berlapis.
 Jika k1 > k2 , maka dapat digambarkan
elemen jaring arus bujur sangkar
pada lapisan 1. Ini berarti bahwa l1 =
b1, maka k1/k2 = b2/l2 . Jadi jaring arus
dalam lapisan 2 akan berupa
segiempat dengan nilai banding lebar
dan panjangnya = k1/k2 (Gambar a).
 Jika k1 < k2 , maka dapat digambarkan
jaring arus bujur sangkar pada
Variasi jaring arus pada batas
lapisan 1, yaitu dengan l1 = b1. Dari lapisan dengan k berbeda
persamaan k1/k2 = b2 / l2 , maka
elemen jaring arus dalam lapisan 2
Tri Sulistyowati,
akan segiempat (Gambar ST.,b).
MT. - Teknik Sipil FT Unram
KONDISI TANAH
BERLAPIS
MENGHITUNG DEBIT REMBESAN TANAH BERLAPIS DENGAN CARA JARING ARUS

Contoh : Jaring arus pada bendungan dengan k berbeda

k1 4 x 10 2 tg  2 tg q2
 2
  2 maka, pada penggambarannya
k 2 2 x 10  2 tg 1 tg q1

Didalam lapisan 1, elemen aliran digambar bujur sangkar, dan karena k1/k2 = 2 ,
Tri Sulistyowati,
panjang dibagi lebar elemen ST.,aliran
MT. - Teknik Sipil FT 2,
dari lapisan Unram
akan sama dengan ½
KONDISI TANAH
BERLAPIS
MENGHITUNG DEBIT REMBESAN TANAH BERLAPIS DENGAN CARA MENGANGGAP
SEBAGAI LAPISAN TUNGGAL

 Ditinjau dua lapisan tanah dengan tebal H1, dan H2 yang


mempunyai koefisien permeabilitas masing-masing k1 dan k2.
 Dua lapisan tersebut dainggap sebagai lapisan tunggal dengan
tebal H 1 + H2

Kondisi tanah berlapis

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


KONDISI TANAH
BERLAPIS
MENGHITUNG DEBIT REMBESAN TANAH BERLAPIS DENGAN CARA MENGANGGAP
SEBAGAI LAPISAN TUNGGAL

 Pada tinjauan aliran rembesan satu dimensi arah horizontal, garis-garis


ekipotensial dalam tiap lapisan adalah vertikal.
 Jika h1, dan h2 adalah tinggi energi total pada masing-masing lapisan
maka untuk sembarang titik pada tiap lapisannya, h1 = h2 .
 Karena itu, sembarang garis vertikal yang lewat dua lapisan merupakan
ekipotensial untuk kedua lapisan tersebut.
 Jadi, gradien hidrolis dalam dua lapisan dan dalam lapisan tunggai
ekivalennya adalah sama, yaitu gradien hidrolis iX.
 Aliran horizontal total persatuan waktu diberikan oleh :
qx = (H1 + H2) kXiX = (H1 k1 + H2 k2 )iX

H1 k1  H2 k 2
kx 
H1  H2
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
KONDISI TANAH
BERLAPIS
MENGHITUNG DEBIT REMBESAN TANAH BERLAPIS DENGAN CARA MENGANGGAP
SEBAGAI LAPISAN TUNGGAL

 Untuk aliran rembesan satu dimensi arah vertikal, debit tiap lapisan dan debit
dalam anggapan lapisan tunggal ekivalen harus sama. Jika persyaratan
kontinuitas dipenuhi, maka :
qz = (vz A) = v1 A = v2 A
vz = kz iz = k1 i1 = k2 i2
k k
A adalah luas, sehingga : i1  z i z dan i2  z iz
k1 k2
 Dalam keadaan yang sekarang, kehilangan tinggi energi pada kedalaman H1 + H2
sama dengan jumlah kehilangan energi total dalam tiap lapisan, yaitu:
iz (H1 + H2 ) = i1 H1 + i2 H2 H1  H2
kz 
H H   H1 H2 
 k ziz  1  2    
atau k
 1 k 2  k
 1 k 2 

 Cara yang sama dapat dilakukan guna menghitung koefisien permeabilitas


ekivalen untuk kx dan kZ pada sembarang jumlah lapisan tanahnya.
 Dapat dilihat bahwa kx harus selalu lebih besar kz, yaitu rembesan yang terjadi
cenderung Tri
lebih besar dalam
Sulistyowati, arah
ST., MT. horisontal
- Teknik Sipil FTatau sejajar lapisan, daripada dalam
Unram
arah tegak lurus lapisannya
REMBESAN PADA STRUKTUR
BANGUNAN

 Hukum Darcy dapat diterapkan untuk menghitung debit


rembesan yang melalui struktur bendungan.
 Dalam merencanakan sebuah bendungan, perlu
diperhatikan stabilitasnya terhadap bahaya longsoran, erosi
lereng dan kehilangan air akibat rembesan yang melalui
tubuh bendungannya.
 Beberapa cara untuk menentukan besarnya rembesan yang
melewati bendungan yang dibangun dari tanah homogen,
antara lain :
1.Cara Dupuit
2.Cara Schaffernak
3.CaraTriA. Cassagrande
Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
REMBESAN PADA STRUKTUR
BANGUNAN
PERHITUNGAN REMBESAN CARA DUPUIT

Hitungan rembesan cara Dupuit


 Garis ,AB adalah garis
permukaan freatis, yaitu garis
rembesan paling atas.
 Besarnya rembesan per satuan
panjang arah tegak lurus bidang
gambar yang diberikan oleh
Darcy, adalah q = k i A.

 Dupuit (1863), menganggap bahwa gradien hidrolis (i) adalah sama dengan
kemiringan permukaan freatis dan besarnya konstan dengan kedalamannya yaitu i =
dz/dx, maka :
 
d H2
dz k 2
q H1  H22
qk
dx
z  q dx   kz dz 2d
0 H1
 Persamaan di atas memberikan permukaan garis freatis dengan bentuk parabolis.
 Akan tetapi, derivatif dari persamaannya tidak mempertimbangkan kondisi masuk
dan keluarnya air rembesan pada tubuh bendungannya.
 Lagi pula, jikaTriHSulistyowati,
Z = 0, garis freatis akan memotong permukaan kedap air
ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
REMBESAN PADA STRUKTUR
BANGUNAN
PERHITUNGAN REMBESAN CARA SCHAFFERNAK

 Schaffemak (1917) menganggap bahwa Hitungan rembesan


cara Schaffemak
permukaan freatis merupakan garis AB, yang
memotong garis kemiringan hilir pada jarak a dari
dasar lapisan kedap air.
 Rembesan persatuan panjang bendungan dapat
ditentukan dengan memperhatikan bentuk segitiga
BCD
 Debit rembesan q = kiA
A = BD x 1 = a sin 
 Dari anggapan Dupuit, gradien hidrolik
i = dz/dx = tg . H d
Maka :
q  kx
dz
 k a sin  tg   z dz   a sin  tg  dx
dx a sin  a cos 
½ (H2 – a2 sin ) = (a sin ) (tg ) (d – a cos  )
Sehingga diperoleh :
d  d2 H2 
2d  [ 4d2  4{(H2 cos2  ) / sin2 ] a   
a cos   cos2  sin2  
2 cos   
 Setelah nilai a diketahui, debit rembesan dapat ditentukan dari persamaan :
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
q = k a sin a tg 
REMBESAN PADA STRUKTUR
BANGUNAN
PERHITUNGAN REMBESAN CARA A. CASSAGRANDE

 A. Casagrande (1937) memberikan cara untuk


menghitung rembesan lewat tubuh bendungan
yang berasal dari pengujian model.
 Parabola AB berawal dari titik A seperti yang
diperlihatkan dalam gambar di samping,
dengan AA = 0,3 x (AD).
 Pada modifikasi ini, nilai d yang digunakan
dalam persamaan merupakan jarak horizontal
Penyesuaian jarak d cara A. Cassagrande
antara titik E dan C
 Persamaan debit rembesan (cara Schaffernak) diperoleh dengan didasarkan
pada anggapan cara Dupuit dimana gradien hidrolik (i) sama dengan dz/dx.
 A. Casagrande (1932) menyarankan hubungan ini melalui pendekatan pada
kondisi dalam kenyataannya.
 Dalam kenyataannya, i = dz/ds
 Untuk kemiringan sebelah hilir  > 30o, deviasi dari anggapan Dupuit menjadi
kenyataan.
 Didasarkan pada persamaan di atas, debit rembesan
q = kiATri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
REMBESAN PADA STRUKTUR
BANGUNAN
PERHITUNGAN REMBESAN CARA A. CASSAGRANDE

 Pada segitiga BCF


dz
i  sin ; A  BF x1  a sin 
ds
 Maka :
H x

qk
dz
ds
2
z  k a sinatau
  
z dz  a sin2  ds
a sin  a

dimana s adalah panjang dari kurva A’BC


 Penyelesaian persamaan di atas menghasilkan: Hitungan rembesan cara A. Cassagrande
H2  2 H2 
2
a  2a s  0 
as s 
2
sin   sin2  

 Dengan kesalahan sebesar kira-kira 4-5%, s dapat dianggap merupakan garis
lurus A'C, maka :
s  (d2  H2 ) a  ( d2  H2 )  ( d2  H2ctg2 )

 Besarnya debit rembesan dapat ditentukan dengan persamaan :


q = k a sin2 
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
REMBESAN PADA STRUKTUR BANGUNAN
PERHITUNGAN REMBESAN CARA A. CASSAGRANDE

Grafik untuk hitungan rembesan (Taylor, 1948)

 Dalam penerapan persamaan nilai a (Cara A Cassagrande), Taylor (1948)


memberikan penyelesaian dalam bentuk grafik,.
 Prosedur untuk mendapatkan debit rembesan, adalah sebagai berikut :
1. Tentukan nilai banding d/H.
2. Dengan nilai pada butir (1) dan , tentukan nilai m.
3. Hitunglah Tri
panjang a = mH/sin .
Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
4. Hitunglah debit rembesan, dengan q = k a sin2 
REMBESAN PADA STRUKTUR
BANGUNAN
PENGGAMBARAN GARIS REMBESAN SECARA GRAFIS

Tri Sulistyowati,
Gambar ST., MT. - Teknik
parabola rembesan Sipil FT grafis
secara Unram (Casagrande, 1932).
REMBESAN PADA STRUKTUR
BANGUNAN
PENGGAMBARAN GARIS REMBESAN SECARA GRAFIS

 Jika bentuk dan posisi garis rembesan paling atas B 1B2ES pada potongan
melintang bendungan diketahui, besarnya rembesan air dapat dihitung.
 Bentuk garis rembesan kecuali dapat ditentukan secara analistis, dapat
juga ditentukan secara grafis atau dari pengamatan laboratorium dari
sebuah model bendungan sebagai prototype, ataupun juga, secara
analogi elektris.
 Garis rembesan yang melalui bendungan berbentuk kurva parabolis. Akan
tetapi, penyimpangan kurva terjadi pada daerah hulu dan hilirnya.
 Bentuk parabola rembesan BB2ERAV, disebut dengan parabola dasar.
 Penggambaran secara grafis didasarkan pada sifat khusus dari kurva
parabola.
 Untuk itu, harus diketahui satu titik pada parabola (titik B) dan posisi dari
fokus F dari parabolanya.
 Menurut A. Casagrande, letak titik B (x,z) dengan z = H, adalah pada
permukaan air dihulu bendungan dengan jarak 0,3 kali B1D1, dihitung dari
titik B1, atauTriBB 1 = 0,3 DST.,
Sulistyowati, 1B1'MT. - Teknik Sipil FT Unram
REMBESAN PADA STRUKTUR
BANGUNAN
PENGGAMBARAN GARIS REMBESAN SECARA GRAFIS

 Posisi fokus F dari parabolanya, biasanya dipilih pada perpotongan batas


terendah garis aliran (yang dalam hal ini adalah garis horizontal) dan
permukaannya.
 Perlu diperhatikan bahwa sebelum parabola dapat digambarkan,
parameter p harus diketahui lebih dulu.
FV = HV = p dan HC = 2p + x
Jadi,
2 2

x  z  x  2p
dan p  2

1  x 2  z2  x
  
Pada x = d dan z = H, maka : p  21 


d 2
 H   d
2


Dari persamaan di atas, maka p dapat dihitung.
 Untuk menggambarkan parabola dasar, maka persamaannya menjadi :
z 2  4p 2
x
4p
 Dengan p Tri
yang diketahui, nilai x untuk berbagai nilai z dapat dihitung
Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
dengan persamaan ini.
REMBESAN PADA STRUKTUR
BANGUNAN
PENGGAMBARAN GARIS REMBESAN SECARA GRAFIS

1. Penggambaran Parabola Dasar untuk Kemiringan Sudut Hilir  > 30o


Perpotongan parabola dasar dengan permukaan hilir bendungan titik R
dihitung menurut cara Casagrande, yaitu sebesar (a + Da) dengan a =
FS. Perhatikan bahwa panjang Da, adalah panjang SR, dengan :
FA = 2p; FV = p FA = 2p; FV = p FA = 2p;
FS = a ;SR = Da FS = a ;SR = Da FV=p
RS Da
 c
RF a  Da
adalah fungsi dari , di mana  adalah sudut kemiringan bendungan
bagian hilir.

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


REMBESAN PADA STRUKTUR
BANGUNAN
PENGGAMBARAN GARIS REMBESAN SECARA GRAFIS

1. Penggambaran Parabola Dasar untuk Kemiringan Sudut Hilir  > 30o

Kemiringan susut dengan variasi drainase

 Pada bendungan, air dapat keluar melalui sisi luar hilir bendungan.
 Bila di bagian hilir dibangun sistem drainase pada kakinya, seperti yang
diperlihatkan dalam gambar (a dan b) di atas, maka besarnya sudut kemiringan 
dari permukaan air keluar berturutturut akan sama dengan 90o dan 135o.
 Bila bangunan drainasi seperti dalam gambar c, sudut kemiringan  dari
permukaan air keluar adalah 180o.
 Sudut kemiringan diukur searah jarum jam. Perhatikan bahwa, titik F adalah
fokus dari Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
parabola.
REMBESAN PADA STRUKTUR
BANGUNAN
PENGGAMBARAN GARIS REMBESAN SECARA GRAFIS

1. Penggambaran Parabola Dasar untuk Kemiringan Sudut Hilir  > 30o


 Nilai c untuk berbagai macam 
diberikan oleh Casagrande untuk
sembarang kemiringan  dari 30o
sampai 180o.
 Dengan diketahuinya sudut  yang
berasal dari gambar penampang
potongan bendungan, nilai c dapat
ditentukan dari gambar disamping.
 Adapun persamaan untuk
menghitung besarnya Da adalah :
Da = (a + Da) c
 Dari Da yang telah diperoleh ini, Nilai c (A. Casagrande, 1937)
kemudian dapat ditentukan posisi
titik S, dengan tinggi ordinat S = a
sin  Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
REMBESAN PADA STRUKTUR
BANGUNAN
PENGGAMBARAN GARIS REMBESAN SECARA GRAFIS

2. Penggambaran Parabola Dasar untuk Kemiringan Sudut Hilir  < 30o


Untuk  < 30o, posisi titik S dapat ditentukan
secara grafis yang didasarkan pada
persamaan menurut Schaffernak. Untuk
menentukan panjang a dilakukan langkah-
langkah sebagai berikut :
1. Gambarkan kemiringan hilir bendungan
ke arah atas.
2. Gambarkan garis vertikal AC lewat titik B.
3. Gambarkan setengah lingkaran OJC
dengan diameter OC.
4. Gambarkan garis horizontal BG.
5. Dengan O sebagai pusat dan OG Penggambaran parabola
sebagai jari jari, gambarkan bagian rembesan untuk a < 30°.
lingkaran GJ.
6. Dengan C sebagai pusat dan CJ sebagai
jari jari, gambarkan bagian lingkaran JS.
7. Ukur panjang OS yang merupakan
panjang Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
REMBESAN PADA STRUKTUR
BANGUNAN
DEBIT REMBESAN PADA BENDUNGAN TANAH
ANISOTROPIS
 Jika permeabilitas tanah bahan bendungan anisotropis,
untuk menghitung debit rembesan, maka penampang
bendungan harus lebih dulu ditransformasi.
 Nilai x, transformasi adalah :
 kz 
x1    x
 kx 
 Maka, seluruh hitungan harus didasarkan pada gambar
transformasinya, demikian juga untuk koefisien
permeabilitas ekivalen
k'  k x k z 

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


REMBESAN PADA STRUKTUR
BANGUNAN
KONDISI ALIRAN MASUK, KELUAR, DAN KONDISI TRANSFER DARI GARIS
REMBESAN MELALUI TUBUH BENDUNGAN

 Kondisi-kondisi aliran air masuk, keluar, clan kondisi transfer dari


garis rembesan melalui badan bendungan, telah dianalisis oleh
Casagrande (1937).
 Kondisi aliran air masuk, adalah bila aliran rembesan berasal
dari daerah bahan tanah dengan koefisien permeabilitas sangat
besar atau k1 = ∞, menuju bahan dengan permeabilitas k2.
 Kondisi aliran air keluar, adalah bila aliran rembesan berasal
dari bahan dengan koefisien permeabilitas k1, menuju ke bahan
dengan k2= ∞.
 Kondisi transfer terjadi bila rembesan melewati bahan dengan
nilai k yang berbeda.
 Dengan menggunakan gambar berikut, dapat ditentukan
kelakuan garis freatis untuk berbagai macam potongan melintang
bendungan Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
REMBESAN PADA STRUKTUR
BANGUNAN
KONDISI ALIRAN MASUK, KELUAR, DAN KONDISI TRANSFER DARI GARIS
REMBESAN MELALUI TUBUH BENDUNGAN

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


Kondisi aliran rembesan pada bendungan (A. Cassagrande, 1937)
REMBESAN PADA STRUKTUR BANGUNAN
CARA MENGGAMBAR JARING ARUS PADA STRUKTUR BENDUNGAN TANAH

 Setelah kondisi-kondisi aliran air masuk, keluar, dan kondisi transfer


diketahui, kemudian dapat digambarkan jaring arus pada penampang
tubuh bendungan.
 Gambar di atas memperlihatkan potongan tubuh bendungan dengan
koefisien permeabilitas yang homogen pada seluruh penampangnya.
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
REMBESAN PADA STRUKTUR BANGUNAN
CARA MENGGAMBAR JARING ARUS PADA STRUKTUR BENDUNGAN TANAH

Prosedur menggambar jaring arus pada struktur bendungan tanah :


1. Gambarkan garis freatis, dengan cara yang telah dipelajari. Perhatikan bahwa
garis AB merupakan garis ekipotensial dan BC garis aliran. Tinggi energi
tekanan pada sembarang titik pada garis freatis adalah nol. Jadi, selisih tinggi
energi total antara dua garis ekipotensial, harus sama dengan selisih elevasi
antara titik-titik di mana garis ekipotensial berpotongan dengan garis freatis.
Karena kehilangan tinggi tekanan antara dua garis ekipotensial berdekatan
sama, maka dapat ditentukan penurunan ekipotensianya (Nd). Lalu dihitung
nilai Dh = h/Nd.
2. Gambarkan garis tinggi tekanan pada penampang melintang bendungan. Titik-
titik potong dari garis-garis tinggi tekanan dan garis freatis merupakan titik
kedudukan garis ekipotensial
3. Gambarkan garis jaring arusnya, dengan mengingat garis ekuipotensial dan
garis aliran berpotongan tegak lurus.
4. Debit rembesan yang lewat tubuh bendungannya, ditentukan dengan
menggunakan persamaan :
Nf
q  kh
Nd FT Unram
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil
REMBESAN PADA STRUKTUR BANGUNAN
CARA MENGGAMBAR JARING ARUS PADA STRUKTUR BENDUNGAN TANAH

Jaring arus untuk bendungan dengan filter

JaringTriarus
Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
pada bendungan dengan dengan drainase tegak
REMBESAN PADA STRUKTUR
BANGUNAN
CARA MENGGAMBAR JARING ARUS PADA STRUKTUR BENDUNGAN TANAH

 Bila permeabilitas arah horizontal tidak sama dengan permeabilitas


vertikalnya (tanah anisotropis), potongan transformasi harus digunakan dengan
cara seperti yang telah dipelajari sebelumnya. Kemudian jaring arus dapat
digambar pada kondisi transformasinya.
 Debit rembesan dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
 Nf 
q  k xk y h  
 Nd 

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


Jaring arus pada bendungan dengan k2 = 5 k1
REMBESAN PADA STRUKTUR BANGUNAN
CARA MENGGAMBAR JARING ARUS PADA STRUKTUR BENDUNGAN TANAH

 Garis freatis yang telah tergambar merupakan hasil cobacoba. Dari persamaan
yang telah dipelajari sebelumnya :
b2
k1 l2
 b1
k2 l1

 Jika b, = l, dan k2= 5 k1, maka b2/I2 = 1/5. Dengan demikian, elemen jaring arus
berbentuk bujur sangkar digambarkan dalam setengah bagian badan
bendungan, dan pada setengah bagian yang lain (hilir badan bandungan),
elemen jaring arus mempunyai lebar dibagi panjang = 1/5.
 Debit rembesan dihitung dengan persamaan :
h h
q  k1 Nf (1)  k 2 Nf ( 2 )
Nd Nd

dimana Nf(1) adalah jumlah lajur aliran penuh pada tanah dengan permeabilitas
k1 dan Nf(2) adalah jumlah lajur aliran penuh pada tanah dengan permeabilitas k2.
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
FILTER

Konsep
lapisan filter
dan tanah
yang
dilindungi
 Bila air rembesan mengalir dari lapisan dengan butiran yang lebih halus menuju
lapisan yang kasar, kemungkinan terangkutnya bahan butiran lebih halus lolos
melewati bahan yang lebih kasar tersebut dapat terjadi. Pada waktu yang lama,
proses ini mungkin akan menyumbat ruang pori di dalam bahan kasarnya, atau
juga, dapat terjadi piping pada bagian butiran halusnya.
 Erosi butiran ini mengakibatkan turunnya tahanan aliran air dan naiknya gradien
hidrolik. Bila kecepatan aliran membesar akibat dari pengurangan tahanan aliran
yang berangsur-angsur turun, akan terjadi erosi butiran yang lebih besar lagi,
sehingga membentuk pipa-pipa di dalam tanah yang dapat mengakibatkan
keruntuhanTri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
pada bendungan.
FILTER
 Contohnya, jika bahan timbunan yang berupa batuan dari
bendungan berhubungan langsung dengan bagian bahan
bendungan yang berbutir halus, maka air rembesan akan dapat
mengangkut butiran halusnya. Guna mencegah bahaya ini, harus
diadakan suatu lapisan filter yang diletakkan di antara lapisan yang
halus dan kasar tersebut
 Filter atau drainase untuk mengendalikan rembesan, harus
memenuhi dua persyaratan :
(1) Ukuran pori-pori harus cukup kecil untuk mencegah butir-butir
tanah terbawa aliran.
(2) Permeabilitas harus cukup tinggi untuk mengizinkan kecepatan
drainase yang besar dari air yang masuk filternya.

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


FILTER
Persyaratan yang harus dipenuhi untuk merencanakan bahan filter seperti
yang disarankan oleh Bertram (1940), adalah sebagai berikut ini.
 Untuk memenuhi kriteria piping, nilai banding ukuran diameter D
15 filter
harus tidak lebih dari empat atau lima kali ukuran diameter D85 dari tanah
yang dilindungi, atau :
D15 f
 4 sampai 5
D85s
 Kriteria selanjutnya, untuk meyakinkan permeabilitas bahan filter
mempunyai kemampuan drainase yang cukup tinggi, ukuran butiran D15
dari tanah filter harus lebih dari 4 atau 5 ukuran butiran D15 dari tanah
yang dilindungi.
D15 f
 4 sampai 5
D15s

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


FILTER
 Kelompok teknisi Amerika (US Corps of Engineers) menambahkan
persyaratan, bahwa nilai banding D50 dari tanah filter dan tanah yang
dilindungi maksimum harus 25.
D50 f
 25
D50s
 Ketebalan dari lapisan filter dapat ditentukan dari hukum Darcv. Filter
yang terdiri dari dua lapisan atau lebih dengan gradasi yang berbeda,
dapat juga digunakan dengan lapisan terhalus diletakkan pada daerah
hulu dari susunan filternya.

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


Soal :
Sebuah bendungan urugan tanah mempunyai koefisien rembesan arah x :
kx = 2,25 x 10-8 m/det dan arah z : kz = 1 x 10-8 m/det seperti pada gambar.
Dambarkan jaring aliran (flownet) untuk skala transformasi dan skala
sebenarnya dan hitung debit rembesan yang melalui tubuh bendungan bila
tanah dibawah bendungan kedap air.

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


Penyelesaian Soal :

Karena kondisi tanah urugan bendungan adalah anisotropis, dimana kx tidak


sama dengan kz, maka gambar bendungan harus ditransformasi dengan
skala yang baru.
Ukuran arah x dikalikan dengan faktor skala sebagai berikut :
kz 1x10 8
n  8
 0,67
kx 2,25x10

Koefisien rembesan ekivalen (k’) jika tanah untuk urugan pada tubuh
bendungan dianggap isotropis adalah sebagai berikut :

n  kx.kz  (2,25x10 8 ) x (1x10 8 )  1,5x10 8 m / det

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


Gambar bendungan setelah ditransformasi adalah
sebagai berikut :

Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram


Gambar jaring aliran (flownet)

Perhitungan untuk penggambaran parabola rembesan adalah sebagai


berikut :
 BC = 0,3 (BD)

 d = FC’ = 20 m (menurut skala)

 z = h = 19 m

p  12 [ (d 2  z 2 )  d]  12 [ (20 2  19 2 )  20]  3,50 m


z 2  4p 2 z 2  (4 x 3,50 2 ) z 2  49
x  
4p (4 x3,50) 14
Perhitungan kurva parabola dasar dilakukan dengan memasukkan nilai x
tertentu ke dalam persamaan diatas, sehingga diperoleh nilai z sbb :
x (m) -3,50 0 5 10 15 20
z (m) 0 7 10,9 13,7 16,0 19
0 4 9
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
Gambar parabola dasar pada tubuh bendungan dan jaring aliran (flownet) adalah:

a. Skala transformasi

Perhitungan debit rembesan :


Dari gambar jaring aliran
(flownet) diperoleh Nf = 7 dan Nd
= 19, sehingga :
q = k’ h (Nf/Nd)
= 1,5 x 10-8 x 19 x (7/19)
= 1,05 x 10-7 m3/det
b. Skala sebenarnya
atau :
q = kx h (Nf/Nd) n
= 2,25 x 10-8 x19x(7/19)x0,67
= 1,05 x 10-7 m3/det
(n adalah perbandingan antara
lebar dan panjang sisi elemen
jaring aliran pada skala
sebenarnya)
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram
Soal :

Suatu lapisan tanah lempung dengan berat volume g = 2,3 gr/cm3 digali
untuk pondasi. Bila penggalian tanah sampai kedalaman 8 m mulai terjadi
kelongsoran, hitunglah berapa besarnya nilai kohesi tanah lempung
tersebut, jika sudut geser dalam tanah f = 0o.
Penyelesaian Soal :
Diketahui bahwa : Ho = 8 m = 800 cm; f = 0o;
sehingga : √Nf = tan (45o + 0o) = 1
Kedalaman kritis terjadinya kelongsoran pada suatu lapisan tanah :
4c Nf Ho g
Ho  2hcsehingga
 : c
g 4 Nf
Nilai kohesi lapisan tanah lempung adalah sebagai berikut :
Ho g 800 x 2,30
c   460 gr / cm 2  0,46kg / cm 2
4 Nf 4x1
Tri Sulistyowati, ST., MT. - Teknik Sipil FT Unram