Anda di halaman 1dari 20

FAKULTAS JOURNAL

KEDOKTERAN READING
UNIVERSITAS JANUARI 2019
Non-Operative Management of Acute
PATTIMURA
Appendicitis
Evidence versus Practice in Eastern
Health, Victoria, Australia

Siska Teurupun

Pembimbing
dr Ubaidillah, Sp.B
DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS
KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
1/30/19 AMBON 1
Allan Z* and Al-
Habbal Y
Department of
General Surgery, Box
Hill Hospital,
Melbourne, Victoria,
Australia
ABSTRAK

• Tujuan penelitian
Pendah Mengevaluasi
tatalaksana non operatif
uluan pada appendicitis akut
yang dipraktikan saat ini di
Eastern Health

• Penelitian observasional
retrospektif pada semua
Metode pasien yang ditangani
secara konservatif untuk
appendicitis akut di
Eastern Health dari Juli
2011-Desember 2016.
• 54 pasien appendicitis akut
konservatif

Has
• 1516 pasien yang ditangani dengan
operasi
• Kelompok konservatif, simple

il appendicitis 19 pasien appendicitis


komplikata 35 pasien
• follow up 6 - 24 bulan.
• Angka rekurensi 20.4% (11 pasien).
• Jumlah interval
appendicectomy25.9% (14 pasien).
• Jumlah interval kolonoskopy 37%
(20 pasien).
• AppendicectomyTerapi

Kesim
utama
• Tatalaksana konservatif
alternatif yang aman dan

pulan valid.
• Angka rekurensi secara
konservatif sebanding dengan
yang dijumpai dalam literatur
PENDAHULUAN
Appendicitis akut Penyebab tersering nyeri akut
abdomen Perawatan di rumah sakit & operasi
20% kasus berkomplikasi Perforasi, peritonitis
atau campuran & lainya tanpa komplikasi.

Appendicitis komplikasitatalaksana yang dipilih


kebanyakan konservatif, adanya bukti kuat
tatalaksana operatif pada kunjungan awal
Berdampak angka morbiditas dan mortalitas
yang lebih tinggi

Tanpa komplikasi pilihan terapi


AppendicectomyAngka kesembuhan yang tinggi,
namun komplikasi seperti cedera organ intra
abdominal yang serius masih terjadi.
Penggunaan laparascopy Meningkatkan
jumlah intervensi pembedahan

Dalam 2 dekade terakhir Banyak


literatur mengevaluasi validitas terapi
pemberian antibiotik saja untuk
tatalaksana appendicitis tanpa komplikasi
Hasilnya cukup menjanjikan

Penelitian ini bertujuan Meninjau performa


dalam menatalaksana appendicitis akut di
jaringan kesehatan ini dalam 5 tahun
terakhir, berfokus kelompok pasien yang
ditatalaksana konservatif.
METODE
penelitian observasional retrospektif di rumah sakit
Eastern Health y pusat rujukan tersier di Melbourne,
Australia.
Disetujui oleh Office of Research and Ethics di Eastern
Health, yang diakreditasi oleh National Health and
Medical Research Council (NHMRC.

Semua pasien yang datang ke jaringan rumah sakit


Eastern Health dengan diagnosa Appendicitis atau kondisi
lain yang berhubungan Juli 2011 - Desember 2016
datanya diisolasi menggunakan International Classifiction
of Disease, revisi ke-10, Clinical Modifictaion (ICD-10-CM).

Pasien-pasien dalam penelitian yaitu bila


memiliki diagnosis appendicitis yang jelas
secara radiologis dan diterapi secara
konservatif.
Bagan kriteria inklusi dan ekslusi
Modalitas diagnosis dengan pencitraan diklasifikasi
menjadi Computed Tomography (CT) scan,
Ultrasonography (US) scan dan lainya.

Diagnosa Diklasifikasi menjadi simple appendicitis dan


appendicitis komplikata (appendicitis perforasi, tumpukan
appendiceal atau abses dan appendiceal phlegmon).

Tatalaksana rawat inapMenentukan penggunaan


antibitok dan apakah pasien membutuhkan intervensi
dengan pedoman radiologis atau tidak

Pasien di follow up lebih dari 24 bulan setelah keluar.


Dikumpulkan informasi tentang kolonoskopy saat rawat
jalan, interval appendicectomy dan episode appendicitis
rekuren.
Alasan Jumlah
Ketidakcocokan (komorbiditas 4
medis)
Temuan pencitraan adanya patologis 3
lain (selain adanya appendicitis) Alasan dilakukanya
tatalaksana konservatif pada
Menolak pembedahan 1 simple appendicitis
Perbaikan klinis yang dialami secara 11
cepat dengan antibiotik

Total 19

Ya Tidak

Kolonoskopy 20 (37%) 34 (63%)

Follow up setelah Interval 14 (25.9%) 40 (74.1%)


kunjungan pertama appendicectomy

Episode rekuren 11 (20.4%) 43 (79.6%)


HASIL
PEMBAHASAN
Appendicectomy Pilihan Hansson dkk 
terapi appendicitis akut Mendefinisikan efikasi pada
Peserta penelitian (54 pasien kelompok antibiotik sebagai
ditangani secara konservatif perbaikan definitif tanpa
perlu dilakukan pembedahan
versus 1516 pasien ditangani selama rata-rata waktu follow
secara operatif) up 1 tahun

Erickson dkk
membandingkan skor nyeri,
Styrud skk, Hansson dkk serta WBC dan CRPPasien
Erickson dll Menyimpulkan diterapi dengan antibiotik
bahwa terapi antibiotik saja memiliki signifikansi skor
sama efektifnya dengan nyeri lebih rendah dan
appendicectomy penurunan jumlah WBC yang
lebih cepat dibandingkan
dengan appendicectomy
Salminen dkk dan Vons Appendicitis komplikata 
dkk Menggunakan kriteria Terapi lini pertama yaitu
non-inferiority Tidak dapat terapi konservatif antibiotik
menunjukan kelemahan dengan atau tanpa bantuan
terapi antibiotik dibanding drainase abses secara
pembedahan radiologis.

Vons dkk  Hasil akhir


primer sebagai terjadinya
Appendicitis tanpa
peritonitis post-intervensi
komplikasi  terapi
dalam 30 hari setelah
konservatif mencegah
dimulainya terapi dan
kemungkinan penyebaran
menemukan bahwa hal ini
infeksi lokal, cedera pada
secara signifikan lebih
viscera di sekitarnya dan
sering terjadi pada
semua jenis komplikasi yang
kelompok terapi antibiotik
dapat disebabkan oleh
dibandingkan pada
pembedahan.
kelompok appendicectomy
(8% vs 2%).
Penelitian lain
Hanya sekelompok kecil
Pembedahan segera pada
pasien (19 pasien) dengan
pasien dengan
simple appendicitis yang
pembentukan phlegmon i
mendapat tatalaksana non-
3 kali lipat peningkatkan
operatif selama periode
morbiditas dibandingkan
penelitian pada jaringan
dengan tatalaksana
kesehatan ini
konservatif

Peneliti meyakini
Simillis dkk Peningkatan yang
signifikan pada jumlah bahwa hasil
keseluruhan komplikasi,
operasi ulang, infeksi luka,
penelitian ini
ileus atau obstruksi usus dan merepresentasikan
pembentukan abses abdomen
maupun pelvis pada pasien-
praktik yang saat
pasien yang menjalani operasi ini digunakan di
segera versus tatalaksana
konservatif Melbourne,
Australia
Interval appendicectomy
Penelitian masih
Interval
mempertanyakan perlunya
appendicectomyAppendic
interval appendicectomy
ectomy yang dilakukan
angka komplikasinya 23%
setelah keberhasilan
dan rekurensinya rendah
tatalaksana konservatif untuk
berkisar dari 5-15% pada
mencegah episode rekuren di
periode follow up antara 6-48
masa datang.
bulan
Beberapa peneliti 
Appendicitis komplikata
Tidak terdapat konsensus di terdapat potensi risiko adanya
rumah sakit ini yang keganasan yang terlibat atau
mengatakan tentang siapa kondisi patologis lain
yang sebaiknya mendapat Bukti terbaru dari
interval appendicectomy dan
siapa yang tidak. tinjauan sistematik
menentang interval
appendicectomy rutin
Prediktor terhadap episode rekuren
Episode rekuren appendicitis
setelah tatalaksana konservatif
membutuhkan perhatian dan
terapi.
Dari penelitian ini, 20.4% (11 pasien)
mengalami episode rekuren selama
follow up, sebanding dengan yang
dilaporkan dalam literatur yang
menemukan sebanyak 3-25%.
Sebuah penelitian case-control Gejala
yang persisten setelah resolusi massa
inflamasi appendicular dan waktu
resolusi lebih dari 6 hari berhubungan
kuat dengan rekurensi sebaiknya
ditawarkan melakukan interval
Koike dkk Cairan
appendiceal intraluminal
yang (CT scan atau US
scan) prediktor
independen signifikan
untuk appendicitis
rekuren

Penelitian lainya CT scan


Adanya kalsifikasi
appendicolith 
berkaitan erat dengan
rekurensi appendicitis.
Interval kolonoskopy
Lai
dkkinterv
al
kolonoscop
Tidak y dilakukan
terdapat pada
konsensus pasien
siapa yang dengan
Mayoritas sebaiknya
pasien massa
melakukan appendicea
tersebut (16 kolonoskop l
pasien) y dan siapa
Penelitian ini memiliki yang tidak.
menunjukan appendicitis
37% (20 komplikata,
pasien) 1 pasien
menjalani kolitis saat
interval kolonoskopy
kolonskopy
pada
kesimpulan
Appendicectomy masih menjadi pilihan terapi
untuk appendicitis akut

Tatalaksana konservatif berhasil dan dapat


diadopsi sebagai terapi lini pertama pada simple
appendicitis dalam kondisi spesifik, seperti pada
pasien usia tua dengan komorbiditas multipel.
Tatalaksana konservatif sebaiknya ditawarkan
pada appendicitis rekuren dan kemungkinan
rekurensi yang tinggi sesuai pemeriksaan
pencitraan.
Interval kolonoskopy dijadwalkan pada pasienn
dengan risiko tinggi adanya keganasan dan
proses penyakit lain