Anda di halaman 1dari 25

Demam Tifoid

PUTRI AYUNINGTYAS
406152071

REFERAT
KEPANITERAAN ILMU PENYAKIT DALAM
RSPI PROF. DR. SULIANTI SAROSO
28 MARET 2016 – 4 JUNI 2016
Definisi

 Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella


enterica serotipe typhi
 Berasal dari famili Enterobacteriaceae
 Telah berkembang dan beradaptasi untuk bertahan
hidup di dalam tubuh manusia
 Penularannya melalui makanan atau air yang
terkontaminasi
 Infeksi biasanya terjadi pada saluran pencernaan
yaitu usus halus
Epidemiologi

 Terjadi di seluruh dunia


 Endemik di Asia, Afrika, Amerika Latin
 80% kasus terjadi di Indonesia, Bangladesh, Cina,
India, Laos, Nepal, Pakistan, dan Vietnam
 Mayoritas kasus demam tifoid terjadi di area-area
yang kurang berkembang
 Indonesia  insidens demam tifoid banyak pada
usia 3-19 tahun, ± 900 000 kasus per tahun, > 20
000 kematian
Etiologi

 Bakteri gram-negatif Salmonella enterica serotipe typhi


 Selain itu, terdapat juga bakteri Salmonella paratyphi 
gejala serupa namun lebih ringan  demam paratifoid 
angka kejadian jarang
 Bakteri ini tidak berkapsul, berflagel, dan fakultatif anaerob
 Serotipe dibagi berdasarkan antigen O (tubuh kuman),
antigen H (flagel kuman), dan antigen Vi (spesifik untuk S.
typhi & S. paratyphi)
 Kapsul polisakarida Vi  mekanisme protektif terhadap aksi
bakterisidal dalam serum pada pasien yang terinfeksi
Transmisi

 Hanya dapat bertahan hidup di dalam tubuh


manusia
 Ditularkan melalui rute fekal-oral
 Meskipun telah sembuh, seseorang yang pernah
terinfeksi dapat menjadi carrier  asimptomatik
 Cara penularan:
 Makanan dan minuman yang terkontaminasi
 Hand-to-mouth transmission  tidak mencuci tangan setelah
menggunakan toilet
 Penggunaan obat yang menunrunkan tingkat keasaman
lambung memudahkan infeksi
Patofisiologi

Widodo D. Demam Tifoid. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam: 2009; 2797-2805.
Patofisiologi

Widodo D. Demam Tifoid. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 5. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam: 2009; 2797-2805.
Manifestasi klinis

 Prolonged fever  38.8-40.5˚C


 Sakit kepala
 Menggigil
 Mialgia
 Malaise
 Gejala gastrointestinal  nyeri abdomen, kolik
abdomen, mual, muntah
 Nafsu makan menurun
 Batuk kering
 Penurunan kesadaran
Diagnosis

Anamnesis:
 Gejala prodromal  demam, lemas, sakit kepala,
mual, muntah
 Gejala gastrointestinal  bau mulut, bibir kering,
lidah kotor, nyeri perut di daerah uluhati, perut
kembung, konstipasi
 Gangguan kesadaran
Diagnosis

Pemeriksaan fisik:
 Demam naik turun, cenderung tinggi pada malam
hari lalu menurun pada pagi hari
 Lidah kotor  coated tongue (bagian dalam putih,
luar merah)
 Hepatosplenomegali
 Gangguan kesadaran
 Rose spots  jarang pada pasien Indonesia
Pemeriksaan penunjang

 Darah perifer lengkap


 Kultur
 Uji Widal
 Uji TUBEX®
 Uji Typhidot®
 Uji dipstik IgM
 Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)
Pemeriksaan darah perifer lengkap

 Anemia ringan
 Umumnya leukopenia, namun dapat juga normal
atau leukositosis
 Dapat trombositopenia
 SGOT dan SGPT sering meningkat
Kultur

 Kultur darah, urin, feses


 Hasil positif  diagnosis pasti, negatif  tidak
menyingkirkan diagnosis, karena biakan
dipengaruhi beberapa faktor:
 Volume darah yang digunakan
 Waktu pengambilan spesimen
 Telah diterapi antibiotik sebelum spesimen diambil
 Riwayat vaksinasi sebelumnya
 Sensitivitas kultur tergantung waktu perjalanan
klinis
Uji Widal

 Pemeriksaan serologis untuk mendeteksi antibodi O


dan H terhadap bakteri Salmonella typhi
 Menguji reaksi aglutinasi antara antigen bakteri
Salmonella typhi dengan antibodi yaitu aglunitin
dalam tubuh pasien
 Dianggap positif jika titer ≥ 1/160
 Sudah mulai ditinggalkan karena spesifisitas dan
sensitivitas yang rendah
Uji Widal
Uji TUBEX®

 Uji sederhana dan cepat, membutuhkan waktu ± 2


menit
 Mirip dengan uji Widal, namun sensitivitas dan
spesifisitas lebih tinggi
 Menggunakan teknik pemisahan partikel berwarna
 Mendeteksi antibodi terhadap antigen yang spesifik
hanya untuk Salmonella typhi
 Belum banyak digunakan, masih dikembangkan
Uji TUBEX®
Uji Typhidot®

 Mendeteksi antibodi IgM dan IgG spesifik terhadap


Salmonella typhi
 Sederhana, spesifisitas 75%, sensitivitas 95%
 Murah dan diagnosis cepat
 Modifikasi  uji Typhidot-M®  IgG telah
diinaktivasi total maka deteksi spesifik terhadap IgM
Uji dipstik IgM

 Mendeteksi antibodi IgM spesifik terhadap


Salmonella typhi dalam serum atau darah
 Sensitivitas 65-77% dan spesifisitas 95-100%
 Menggunakan dipstik, reagen pendeteksi, dan
tabung reaksi
 Reaksi pengikatan antibodi IgM spesifik terhadap
Salmonella typhi dengan antigen lipopolisakarida
(LPS) Salmonella typhi, dan pewarnaan antibodi
yang terikat
 Hasil bisa didapat pada hari yang sama pasien
datang, memudahkan terapi segera
Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)

 Menegakkan diagnosis demam tifoid dari serum dan


urin
 sensitivitas dan spesifisitas yang lebih tinggi
dibanding uji Widal
 Pengambilan cairan tubuh invasif
 Kesulitan mempertahankan sampel hingga waktu
pemeriksaan
 Maka metode ini masih sulit untuk digunakan
Tatalaksana

 Suportif:
 Tirah baring
 Hidrasi cairan intravena
 Nutrisi adekuat
 Antiemetik
 Antipiretik
 Antimikroba:
 Pilihan utama: Kloramfenikol 4 x 500 mg sampai dengan 7 hari
bebas demam
 Alternatif: Florokuinolon  siprofloksasin 2 x 500 mg per hari
selama 6 hari/ofloksasin 2 x 400 mg per hari selama 7 hari,
Tiamfenikol 4 x 500 mg, Kotrimoksazol 2 x 960 mg selama 2 minggu
Komplikasi

 Intestinal  perdaharan usus, perforasi usus, ileus


paralitik, pankreatitis
 Ekstraintestinal:
 Darah  anemia hemolitik, trombositopenia
 Kardiovaskuler  miokarditis, kegagalan sirkulasi perifer
 Paru  pneumonia
 Hepatobilier  hepatitis, kolesistitis
 Ginjal  pielonefritis, glomerulonefritis
 Tulang  osteomyelitis
 Neuropsikiatrik  tifoid toksik
Pencegahan

 Memastikan adanya akses terhadap air bersih


 Menganjurkan kebersihan makanan
 Vaksinasi
 Oral:
 Ty21a  kapsul atau cair
 3 dosis dengan jarak 2 hari, sebelum makan
 Proteksi dimulai 10-14 hari setelah dosis ketiga, 70%
 Injeksi:
 Polisakarida Vi
 1 dosis IM atau SK
 Proteksi dimulai tujuh hari setelah injeksi, dan konsentrasi
antibodi tertinggi adalah pada hari ke-28
Kesimpulan

 Demam tifoid adalah peyakit infeksi yang disebabkan oleh


bakteri Salmonella typhi
 Merupakan masalah kesehatan masyarakat, terutama di
negara yang sedang berkembang
 Penularan Salmonella typhi adalah melalui air dan
makanan yang terkontaminasi, juga melalui sanitasi toilet
yang tidak terjaga
 Menginfeksi saluran cerna
 Angka mortalitas dan morbiditas terus meningkat dengan
penyebaran Salmonella typhi dengan resistensi terhadap
antibiotik.