Anda di halaman 1dari 19

RAPAT KEADAAN

SISTEM KUANTUM

Kelompok 5
Abdullah Fawwaz (1152070003)
Irma Apriliani (1152070036)
Kokom Komalasari (1152070039)
Ketidakpastian
Heisenberg
Setelah membahas beberapa aplikasi statisti Maxwell-Boltzmann
yang berlaku untuk partikel klasik, kita akan membahas
beberapa aplikasi assembli kuantum yang diungkapkan oleh
distribusi Bose-Einstein dan Fermi-DiracD.
Namun, sebelum melangkah lebih jauh membahas beberapa
aplikasi assembli kuantum tersebut, mari kita tentukan dahulu
kerapatan keadaan. Kerapatan keadaan menjadi penting ketika
kita akan menghitung besaran-besaran termodinamika assembli
tersebut. Karena merupakan partikel kuantum maka pada boson
maupun fermion kita harus menerapkan prinsip-prinsip
mekanika kuantum. Salah satu prinsip dasar mekanika kuantum
adalah prinsip ketidak pastian Heisenberg yang dapat ditulis
sebagai:

px  h
Koordinat Spasial Satu
Dimensi
Misalkan kita memiliki assembli yang hanya
boleh bergerak bebas dalam satu arah. Posisi
partikel dalam assembli tersebut dinyatakan
dengan koordinat x . Dengan demikian,
momentum partikel hanya memiliki satu
komponen saja, yaitu px.
Elemen kecil ruang :
dT=dxdpx .
Volum ruang fasa untuk semua posisi:

   dxdpx  Ldpx (7.2)


Koordinat Spasial Satu
Dimensi
Dalam satu dimensi, ukuran minimum
ruang fasa yang diijinkan oleh prinsip
ketidakpastian Heisenberg:

 min  xpx  h
jumlah keadaan elemen ruang fase ∆Γp
adalah:

 p Lx
dN   2 dpx (7.3)
 min h
Koordinat Spasial Satu
Dimensi
Jumlah keadaan persatuan volum
assembli menjadi :
dN 1
g ( p )dpx   dpx (7.4)
Lx h
Untuk menyatakan kerapatan keadan dalam variable energi.
Kita gunakan persamaan energi sehingga

  p 2 / 2m
p  2m  (7.5)
 1 d  m  12
dp  2m     d
2   2
Koordinat Spasial Satu
Dimensi
Substitusi persamaan (7.5) dan (7.4) dieroleh kerapatan
keadaan sebagai berikut

1 m 1/2
g ( )d    d (7.6)
h 2

Jumlah keadaan juga dapat diungkapkan dalam variabel


panjang gelombang p  h /  de Broglie. Dari persamaan ini
akan diperoleh

dp  hd  /  2

Substitusi p dan dp ke dalam persamaan (7.13) dan hilangkan


tanda negatifnya, maka

1 h 1
g ( ) d   d  2 d (7.7)
h 2

Koordinat Spasial Dua
Dimensi
Sekarang kita berlanjut ke assembli dalam
kotak dua dimensi dengan ukuran panjang
searah sumbu x dan sumbu y masing-masing Lx
dan Ly. Posisi partikel dalam assembli tersebut
dinayatakan oleh koordinat x dan y saja.
Akibatnya momentum partikel hanya memiliki
dua komponen saja, yaitu Px dan Py.
Elemen kecil ruang fasa
d   dxdydp x dp y
Volume ruang fasa untuk semua posisi variabel
spasial yaitu:

 p   d x d y dpx dp y  Lx Ly dpx dp y (7.8)


Koordinat Spasial
Dua Dimensi
Dalam ruang dua dimensi, ukuran minimum ruang fasa yang
diijinkan oleh prinsip ketidakpastian Heisenberg adalah
d  min  xpx yp y  hxh  h 2
Dengan demikian, jumlah keadaan yang terdapat dalam
elemen ruang fasa ∆Γp adalah

 p Lx Ly
dN   dp x dp y (7.9)
 min h 2

Cara lain adalah membuat elemen ruang momentum yang


dibatasi oleh momentum total antara p sampai p + dp
dimana momentum total memenuhi

p2  p2x  p2 y (7.10)
Koordinat Spasial Dua
Dimensi
Gamabr 7.1 Elemen ruang
momentum akan berupa sebuah
cincin dengan jari-jari p dan
ketebalan dp

Keliling cincin tersebut adalah K p  2 p sedangkan


tebalnya adalah dp. Dengan demikian luas cincin adalah

ds p  K p dp  2 pdp (7.11)
Koordinat Spasial Dua
Dimensi
Dengan menggnati dpx dp y pada persaman (7.9)
dengan dSp pada persamaan (7.11) diperoleh
ungkapan lain jumlah keadaan :
Lx Ly
dN  2 pdp (7.12)
h2

Kerapatan keadan per satuan “volum dua


dimensi (luas)”adalah

dN 1
g ( p )dp   2 2 pdp (7.13)
Lx Ly h
Koordinat Spasial Dua
Dimensi
Untuk menyatakan kerapatan keadan
dalam variable energi. Kita gunakan
persamaan   p 2
/ 2m energi
sehingga
(7.14a)
p  2m 

 1 d  m 
1
(7.14b)
dp  2m     d 2

2   2
Koordinat Spasial Dua
Dimensi
Substitusi persamaan (7.14a) dan
(7.14b) ke dalam persamaan (7.13)
dieroleh kerapatan keadaan sebagai
berikut
1 m 1/2
g ( )d   2 2 ( 2m  )(  d )
h 2
1
 2 2 md  (7.15)
h
Koordinat Spasial Dua
Dimensi
Jumlah keadaan juga dapat diungkapkan dalam
variabel panjang gelombang de Broglie.
Dari persamaan ini akan diperoleh
p h/
dp  hd  /  2
Substitusi p dan dp ke dalam persamaan (7.13)
dan hilangkan tanda negatifnya, maka

1 h 1
g ( ) d   d  2 d (7.16)
h 2

Koordinat Spasial
Tiga Dimensi
Berlanjut ke assembli dalam kotak tiga dimensi
dengan ukuran panjang sisi searah sumbu x , sumbu y
, dan sumbu z masing-masing Lx ,Ly, Lz. Posisi partikel
dalam assembli tersebut dinyatakan oleh koordinat x,
y, dan z.
Momentum partikel terdiri dari tiga komponen, yaitu
px ,py, pz.
Elemen kecil ruang fasa di dalam assembli :

d   dxdydzdpx dp y dpz

Volume ruang fasa untuk semua posisi :

d    dxdydzdpx dp y dpz  Lx Ly Lz dpx dp y dpz (7.17)


Koordinat Spasial Tiga
Dimensi
Dalam ruang tiga dimensi, ukuran minimum
ruang fasa yang diijinkan oleh prinsip
ketidakpastian Heisenberg adalah
d  min  xpx yp y zpz  hxhxh  h3
Jumlah keadaan yang terdapat dalam elemen ruang
fase
 p Lx Ly Lz
dN   dpx dp y dpz (7.18)
 min h 3

Cara lain adalah membuat elemen ruang momentum


yang dibatasi oleh momentum total antara p sampai
p + dp dimana momentum total memenuhi :

p2  p2x  p2  y  p2z (7.19)


Koordinat Spasial
Tiga Dimensi

Gambar 7.2 Elemen


ruang momentum
berupa kulit bola
dengan jari-jari p dan
ketebalan dp

Luas kulit bola tersebut adalah S p  4 p dan


2

ketebalannya adalah dp. Volume kulit bola menjadi:

dV p  S p  4 p 2 dp 7.20
Koordinat Spasial Tiga
Dimensi
Dengan menggnati dpx dp y dpz pada
persaman (7.18) dengan dVp pada
persamaan (7.20) diperoleh ungkapan lain
jumlah keadaan :
Lx Ly Lz
dN  3
4 p 2 dp (7.21)
h
Kerapatan keadan per satun volum adalah

dN 1
g ( p )dp   3 4 p 2 dp (7.22)
Lx Ly Lz h
Koordinat Spasial Tiga
Dimensi

Kita ingin menyatakan kerapatan keadan dalam


variable energi. Kita gunakan persamaan
energi   p 2
/ 2m sehingga :

p  2m  (7.23a)

 1 d  m  12
dp  2m     d (7.23b)
2   2
Koordinat Spasial Tiga
Dimensi
Jumlah keadaan juga dapat diungkapkan dalam
variabel panjang gelombang de Broglie.
Dari persamaan ini akan diperoleh
p h/
dp  hd  /  2

Substitusi persaman (7.23a) dan (7.23b) ke


dalam persamaan (7.22)
diperoleh kerapatan keadaan sebagai berikut :

 h   hd   4
2
1
g ( )d   2 4    2   2 d  (7.25)
h     