Anda di halaman 1dari 52

POSYANDU

HALIMAHTUS SA’DIYYAH
SEFANYA SISCA ROTUA
SHINTA TRI UTAMI
MANFAAT
UTAMA

• MEMANTAU
KESEHATAN
ANAK

• DETEKSI DINI
GIZI BURUK
PENGERTIAN
TUJUAN
SASARAN PELAYANAN
LOKASI DAN PENYELENGGARAAN
KEGIATAN / PELAYANAN
PERAN KADER
PEMELIHARAAN IBU HAMIL & MENYUSUI
LANGKAH – LANGKAH PELAKSANAAN KEGIATAN
PEMBINAAN POSYANDU
Pos Pelayanan Keluarga Berencana - Kesehatan Terpadu

PENGERTIA
N
Sistem pelayanan yang dipadukan antara satu program dengan program
lainnya yang merupakan forum komunikasi pelayanan terpadu dan dinamis
BKKBN, 1989 seperti halnya program KB dengan kesehatan atau berbagai program
lainnya yang berkaitan dengan kegiatan masyarakat.

DEPKES RI, Wadah pemeliharaan kesehatan yang dilakukan dari, oleh dan untuk
2006 masyarakat yang dibimbing petugas terkait.
Posyandu dipandang sangat bermanfaat bagi masyarakat namun keberadaannya
di masyarakat kurang berjalan dengan baik.

Pemerintah mengadakan revitalisasi posyandu.

Revitalisasi posyandu  upaya pemberdayaan posyandu untuk mengurangi


DEPDAGRI, dampak dari krisis ekonomi terhadap penurunan status
1999
gizi dan kesehatan ibu dan anak.

Tujuan:

Meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam menunjang upaya


mempertahankan dan meningkatkan status gizi serta kesehatan ibu dan anak
melalui peningkatan kemampuan kader, manajemen dan fungsi posyandu.
Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat, dimana masyarakat dapat sekaligus
pelayanan profesional oleh petugas sektor, serta non-profesional (oleh kader)
dan diselenggarakan atas usaha masyarakat sendiri.

Posyandu dapat dikembangkan dari pos pengembangan balita, pos imunisasi, pos
KB, pos kesehatan. Pelayanan yang diberikan posyandu meliputi: KB, KIA, gizi,
imunisasi, dan penanggulangan diare serta kegiatan sektor lain.
MEMPERCEPAT MEMPERCEPAT
MENINGKATKAN
PENURUNAN ANGKA PENERIMAAN NORMA
PELAYANAN KESEHATAN
KEMATIAN IBU, BAYI, KELUARGA KECIL BAHAGIA
IBU UNTUK MENURUNKAN
BALITA DAN ANGKA DAN SEJAHTERA
IMR
KELAHIRAN (NKKBS)

MENINGKATKAN WAHANA GERAKAN


KEMAMPUAN MENGEMBANGKAN REPRODUKSI,
MASYARAKAT UNTUK KEGIATAN KESEHATAN & KETAHANAN, DAN
MENGEMBANGKAN KB EKONOMI KELUARGA
KEGIATAN KESEHATAN SEJAHTERA
SASARAN PELAYANAN
MASYARAKAT , terutama:
LOKASI & PENYELENGGARAAN
 Berada di tempat yang mudah didatangi masyarakat dan ditentukan oleh masyarakat

 Prioritas dibentuk ditempat yang rawan dibidang gizi dan kesehatan lingkungan

 Pelayanan KB direncanakan dan dikembangkan oleh kader bersama lurah, LKMD,


tokoh masyarakat, pemuda dengan bimbingan tim pembina LKMD tingkat kecamatan
KEGIATAN / PELAYANAN

KB
PELAYANAN KESEHATAN
PENIMBANGAN
 Pelayanan gizi
 Pencegahan terhadap
penyakit
 Pengobatan penyakit
 Pelayanan kontrasepsi
IMUNISASI
 Mencatat pendaftaran
 Membentu menimbang
 Mencatat dalam buku register, penimbangan dan KMS
 Memberikan penyuluhan
 Menemukan penderita diare/muntaber, memberikan penyuluhan, memberikan
oralit dan merujuk kasus yang berat
 Menemukan, mencatat, menyuluh dan merujuk, bayi yang belum diimunisasi
petugas kesehatan.
PEMELIHARAAN IBU HAMIL
 Mencatat dalam buku
 Memberikan penyuluhan, merujuk dan memberikan tablet tambah darah

PEMELIHARAAN IBU MENYUSUI


 Mencatat dalam buku
 Memberikan penyuluhan tentang KB dan kesehatan
 Merujuk ke petugas kesehatan
LANGKAH – LANGKAH PELAKSANAAN KEGIATAN
PERSIAPAN
 Kader merencanakan kegiatan setelah musyawarah masyarakat desa dan latihan
kader sudah selesai.

 Kegiatan direncanakan bersama Lurah, LKMD (Sie KB Kes. PKK) dengan bimbingan
tim LKMD tingkat kecamatan.

 Perencanaan kegiatan meliputi:

 Penyusunan tenaga pelaksanaan dan tugasnya dengan memanfaatkan kelompok


kegiatan yang ada.

 Penyusunan jadwal kegiatan.

 Penentuan tempat kegiatan.

 Cakupan keluarga/sasaran.

 Perlengkapan yang diperlukan.

 Kader mengisi registrasi gizi dan KB untuk data desa.

 Kader mengajak kelompok sasaran untuk datang ke posyandu dengan cara


pendekatan kelompok, perorangan melalui tokoh.
Sehari sebelum pelaksanaan:
PELAKSANAAN
 Sebelum pelaksanaan memberitahu kepada ibu hamil, ibu menyusui, PUS, orang tua, bayi dan anak balita
agar datang ke posyandu.

 Kader menyediakan alat-alat yang diperlukan, meja, kursi, dacin, buku register, poster, KMS, oralit, vit. A,
tablet tambah darah, alat kontrasepsi, pemberian obat sederhana.

Pada hari pelaksanaan:

 Penyuluhan kelompok tentang 5 program terpadu.

 Pendaftaran sasaran di buku register, imunisasi.

 Penimbangan bayi, balita dicatat di KMS. Di bawah garis merah, 3 x tidak naik, sakit dirujuk ke petugas
kesehatan; usia 3-14 bulan pelayanan imunisasi; dan diare diberi oralit, dan penyuluhan kepada orangtua.

 Pelayanan ibu hamil, semua ibu hamil diberi obat tambah darah. Rujukan ke Puskesmas bila diperlukan,
apabila muka pucat, kaki bengkak, hamil lebih dari 3 x, tinggi badan kurang dari 145 cm, hamil kurang dari
20 tahun dan diatas 30 tahun, perdarahan dari alat kelamin, belum imunisasi.

 Pelayanan ibu menyusui, pengobatan, penyuluhan, pelayanan KB. Rujukan ke Puskesmas.

 Pelayanan pasangan usia subur, kegiatan di Posyandu 1-2 x sebulan. Waktu yang dipilih merupakan hasil
kesepakatan bersama antara Lurah, LKMD, masyarakat dan Puskesmas.
PEMBINAAN POSYANDU
Pertemuan untuk membahas hasil kegiatan dan mengusahakan dukungan masyarakat melalui
penyuluhan KB dan kesehatan pada setiap kesempatan yang ada seperti arisan, pengajian,
selamatan, pertunjukkan.

Mengajak masyarakat ikut terlibat dalam pelaksanaan.

Menggali dan menghimpun kemampuan masyarakat untuk melengkapi kebutuhan Posyandu


dengan dana, sarana, pemikiran.

Mengusahakan swadaya masyarakat seperti dana sehat, usaha peningkatan pendapatan


keluarga, koperasi simpan pinjam.

Kunjungan rumah bagi peserta yang tidak hadir di Posyandu.

Melaporkan masalah dan perkembangan kepada Lurah/LKMD.

Mengusahakan kegiatan untuk pembinaan kader seperti olahraga, arisan, karyawisata,


kesenian, koperasi, pakaian seragam dan lain-lain.
KMS
KMS adalah suatu pencatatan lengkap tentang kesehatan seorang anak. KMS harus dibawa ibu setiap kali ibu menimbang
anaknya atau memeriksa kesehatan anak dengan demikian pada tingkat keluarga KMS merupakan laporan lengkap bagi
anak yang bersangkutan, sedangkan pada lingkungan kelurahan bentuk pelaporan tersebut dikenal dengan SKDN.

SKDN adalah data untuk memantau pertumbuhan balita SKDN sendiri mempunyai singkatan yaitu sebagai berikut:

 S= adalah jumlah balita yang ada diwilayah posyandu,

 K =jumlah balita yang terdaftar dan yang memiliki KMS,

 D= jumlah balita yang datang ditimbang bulan ini,

 N= jumlah balita yang naik berat badanya.

Pencatatan dan pelaporan data SKDN untuk melihat cakupan kegiatan penimbangan (K/S), kesinambungan kegiatan
penimbangan posyandu (D/K), tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan (D/S), kecenderungan status gizi (N/D),
efektifitas kegiatan (N/S).
STRATIFIKASI
POSYANDU
TINGKAT PENCAPAIAN  ORGANISASI DAN
PROGRAM
POSYANDU PRATAMA

 POSYANDU MASIH BELUM


MANTAP
INTERVENSI:
 KEGIATAN BELUM RUTIN TIAP • MEMOTIVASI MASYARAKAT
BULAN • MENAMBAH JUMLAH
 KADER AKTIFNYA TERBATAS KADER

 MASYARAKAT BELUM SIAP


POSYANDU MADYA

POSYANDU SUDAH
MELAKSANAKAN KEGIATAN LEBIH INTERVENSI:
DARI 8X PERTAHUN • MENGGIATKAN KADER
JUMLAH KADER TUGAS 5 ORANG • MENINGKATKAN CAKUPAN
ATAU LEBIH MASYARAKAT DENGAN
PENDEKATAN PKMD
CAKUPAN PROGRAM UTAMA (KB,
KIA, GIZI & IMUNISASI) MASIH
RENDAH <50%
POSYANDU PURNAMA

 Posyandu melaksanakan kegiatan


lebih dari 8x pertahun
 Jumlah kader tugas 5 orang atau INTERVENSI:
lebih • SOSIALISASI PROGRAM
DANA SEHAT
 Cakupan program utama masih • PELATIHAN DANA SEHAT
rendah <50%
 Ada program tambahan seperti
Dana Sehat yang masih sederhana
POSYANDU MANDIRI

 Posyandu yang melakukan kegiatan


teratur setiap bulan INTERVENSI:
 Cakupan 5 program utama bagus • PEMBINAAN PROGRAM
DANA SEHAT
 Program tambahan dan Dana Sehat • MEMPERBANYAK
sudah >50% PROGRAM TAMBAHAN
 Pembinaan dana sehat
Penggolongan diatas berdasarkan 8 indikator, yaitu:

Frekuensi Penimbangan Pertahun


Seharusnya posyandu menyelenggarakan kegiatan setiap bulan, jadi
bila teratur ada 12x kegiatan. Kenyataannya tidak semua posyandu
sanggup melaksanakan kegiatan setiap bulan. Maka diambil batasan 8x

Rata-Rata Jumlah Kader Pada Hari H Posyandu


Jika jumlah kader 5 orang atau lebih tanda kegiatannya tertangani
dengan baik. Semakin tinggi tingkat motivasi kader dan pengguna semakin
tercapai pula upaya revitalisasi posyandu.
Cakupan D/S
Peran serta masyarakat dianggap baik bila D/S dapat mencapai 50 %.
S JUMLAH BALITA DI POSYANDU
D JUMLAH BALITA YANG DTANG BULAN INI
N JUMLAH BALITA YANG NAIK BERAT BADANNYA
K JUMLAH BALITA YANG TERDAFTAR DAN MEMILIKI KMS

Cakupan Imunisasi
Cakupan Ibu Hamil
Cakupan KB
Ketiga cakupan ini dihitung secara kumulatif selama 1 tahun. Cakupan ini
dianggap baik bila mencapai >50%
Program Tambahan
Posyandu pada mulanya melaksanakan 5 program yaitu : KIA,
KB, Perbaikan Gizi, Imunisasi dan Penaggulangan Diare. Bila telah
mantap, maka programnya dapat ditambahan. Program tambahan disini
adalah bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat seperti :
Bina Keluarga Balita, Pos Obat Desa, Pondok Bersalin Desa, dan
sebagainya.

Dana Sehat
Dana sehat merupakan wahana untuk memandirikan posyandu.
Diharapkan bila dana sehat telah mampu membiayai posyandu, maka
tingkat kemandirian masyarakat sudah baik. Sebagai ukuran digunakan
persentase kepala keluarga (KK) yang ikut dana sehat, dikatakan baik
bila cakupan > 50 %.
Kriteria Kategori Posyandu
NO INDIKATOR PRATAMA MADYA PURNAMA MANDIRI
1 Frek. Penimbangan <5
>8
>5

2 Rerata Kader tugas <8


3 Rerata Cakupan D/S <50% <50%

4 Cakupan Kumulatif <50% <50%


Kb
5 Cakupan Kumulatif <50% <50%
KIA
6 Cakupan Kumulatif <50% <50%
Imunisasi

7 Program Tambahan (-) (+)


8 Cakupan dana sehat 50% >50%

Sumber : Depkes RI, 2004


MEJA I MEJA II MEJA III
Pendaftaran balita, ibu Pencatatan hasil
Penimbangan balita
hamil, ibu menyusui penimbangan

MEJA IV MEJA V
Penyuluhan dan
Pelayanan kesehatan,
pelayanan gizi bagi ibu
KB, imunisasi dan pojok
balita, ibu hamil dan ibu
oralit
menyusui
MDGS KESEHATAN
Pembangunan kesehatan di Indonesia merupakan bagian integral dari
pembangunan nasional.
Tujuan diselenggarakan pembangunan kesehatan adalah:
 Meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi
kesehatan setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang
optimal.
 Memberikan pelayanan kesehatan secara mudah, merata dan murah. Dengan
meningkatnya pelayanan kesehatan, pemerintah berupaya meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat.
Karena kesehatan merupakan salah satu tiang utama dalam usaha peningkatan
kualitas sumber daya manusia maupun kesejahteraan masyarakat.
Kehidupan yang layak dan kesejahteraan penduduk merupakan tujuan dari pembangunan di setiap
negara, agar keadaan bumi yang aman, makmur, dan sejahtera dapat tercapai. Untuk mewujudkan
semua itu, pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan Bangsa -Bangsa (PBB)
bulan September 2000, sebanyak 189 negara anggota PBB yang diwakili oleh kepala negara dan
kepala pemerintahan sepakat untuk melahirkan sebuah deklarasi Millenium Development Goals
(MDGs) atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Tujuan Pembagunan Millenium.
Deklarasi itu berdasarkan pendekatan yang inklusif, dan berpijak pada perhatian bagi pemenuhan
hak-hak dasar manusia. Di dalam KTT Milenium tersebut juga dihasilkan konsensus yang
merangkai upaya-upaya untuk mencapai tujuan MDGs dengan perhatian utama pada hak asasi
manusia, tata pemerintahan yang baik, demokratisasi, pencegahan konflik, dan pembangunan
perdamaian.
Pada mulanya, MDGs merupakan sebuah review atas kebijakan pembangunan yang
dikeluarkan oleh OECD-DAC pada pertengahan tahun 1990 dan kemudian
dimasukkan kedalam Tujuan Pembangunan Internasional (Internasional Development
Goals) tahun 2000 dan direvisi menjadi Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium
Development Goals) pada KTT Milenium. Setiap tujuan (goal) dari MDGs memiliki satu
atau beberapa target dengan beberapa indikatornya. MDGs memiliki 8 tujuan, 18
target, dan 48 indikator yang telah disusun oleh konsensus para ahli dari sekertariat
PBB, Dana Moneter Internasional (IMF), Organisasi untuk Pembangunan dan
Kerjasama Ekonomi (OECD) dan Bank Dunia.
Masing-masing indicator digunakan untuk memonitor perkembangan pencapaian
setiap tujuan dan target. Selain Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs), ada beberapa
tujuan pembangunan yang lain ditetapkan pada dekade 1960-an hingga 1980-an.
Sebagian terlahir dari konferensi global yang diselenggarakan PBB pada 1990-an,
termasuk KTT Dunia untuk Anak, Konferensi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua
1990 di Jomtien, Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan 1992 di Rio
de Janeiro, serta KTT Dunia untuk Pembangunan Sosial 1995 di Copenhagen. MDGs
tidak bertentangan dengan komitmen global yang sebelumnya karena sebagian dari
MDGs itu telah dicanangkan dalam Tujuan Pembangunan Internasional (IDG), oleh
negara-negara maju yang tergabung dalam OECD pada 1996 hingga selanjutnya
diadopsi oleh PBB, Bank Dunia dan IMF.
Beberapa hal penting yang perlu mendapat perhatian berkaitan dengan MDGs
adalah sebagai berikut:
Pertama, MDGs bukan tujuan PBB, sekalipun PBB merupakan lembaga yang aktif
terlibat dalam promosi global untuk merealisasikannya. MDGs adalah tujuan dan
tanggungjawab dari semua negara yang berpartisipasi dalam KTT Milenium, baik
pada rakyatnya maupun secara bersama antar pemerintahan.
Kedua, tujuh dari delapan tujuan telah dikuantitatifkan sebagai target dengan
waktu pencapaian yang jelas, hingga memungkinkan pengukuran dan pelaporan
kemajuan secara objektif dengan indikator yang sebagian besar secara
internasional dapat diperbandingkan.
Ketiga, tujuan-tujuan dalam MDGs saling terkait satu dengan yang lain.
Keempat, dengan dukungan PBB, terjadi upaya global untuk memantau
kemajuan, meningkatkan perhatian, mendorong tindakan dan penelitian yang
akan menjadi landasan intelektual bagi reformasi kebijakan, pembangunan
kapasitas dan memobilisasi sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai
semua target.
Kelima, 18 belas target dan lebih dari 40 indikator terkait ditetapkan untuk dapat
dicapai dalam jangka waktu 25 tahun antara 1990 dan 2015. Sekalipun MDGs
merupakan sebuah komitmen global tetapi diupayakan untuk lebih
mengakomodasikan nilai-nilai lokal sesuai dengan karakteristik masing-masing
negara sehingga lebih mudah untuk diaplikasikan. Dalam sidang umum PBB
yang ke-60 pada tanggal 14-16 September 2005, dilakukan juga evaluasi
pelaksanaan lima tahun MDGs. Dalam evaluasi tersebut dikatakan bahwa 50
negara gagal mencapai paling sedikit satu target MDGs. Sedangkan 65 negara
lainnya beresiko untuk sama sekali gagal mencapai paling tidak satu MDGs
hingga 2040. Sehingga hingga kini, MDGs masih menjadi suatu perdebatan
tentang tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam MDGs, sumber daya yang
dibutuhkan dan bagaimana cara pencapaian MDGs.
1. MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN ANAK
TUJUAN Indonesia telah mencapai target yang ditetapkan oleh MDGs yaitu, Angka Kematian Balita (AKBA)
MDGS menurun dari 97/1000 kelahiran hidup pada tahun 1989 menjadi 46/1000 kelahiran hidup pada tahun
2000.

Angka Kematian Bayi (AKB) menurun dari 68/1000 kelahiran menjadi 35/1000 kelahiran hidup pada
tahun 1999 sedangkan MDGs menargetkan angka kematian bayi dan balita 65/1000 kelahiran hidup.

Indonesia sedang mencanangkan Program Nasional Anak Indonesia yang menjadikan isu kematian
bayi dan balita sebagai salah satu bagian terpenting.
Program tersebut merupakan bagian dari Visi Anak Indonesia 2015, sebuah gerakan yang melibatkan
seluruh komponen masyarakat, mulai dari pemerintah, sektor swasta hingga akademisi dan
masyarakat sipil.
Secara bersama-sama, kelompok ini berusaha meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejaheraan
bayi dan balita.
Selain mempromosikan hidup sehat untuk anak dan peningkatan akses serta kualitas terhadap
pelayanan kesehatan yang komprehensif, bagian dari target MDGs keempat adalah untuk
meningkatkan proporsi kelahiran yang dibantu tenaga terlatih.
Sehingga diharapkan terjadi perubahan perilaku di masyarakat untuk lebih aktif mencari pelayanan
kesehatan, terutama untuk anak dan balita.
2. Meningkatkan Kesehatan Ibu
Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia menurun dari 390 (SDKI 1994) menjadi
307 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003).
Penurunan ini antara lain disebabkan oleh meningkatnya persalinan oleh tenaga
kesehatan dari 46,13 persen menjadi 72,4 persen.
Meskipun diperkirakan AKI saat ini lebih rendah lagi, untuk dapat mencapai
tujuan MDGs, perlu upaya yang lebih keras lagi.
Pencapaian target MDGs sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup akan dapat
terwujud hanya jika dilakukan upaya yang lebih intensif untuk mempercepat laju
penurunannya.
Kematian ibu dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk status kesehatan secara
umum, pendidikan dan pelayanan kesehatan selama kehamilan dan persalinan.
Penyebab utama kematian Ibu adalah perdarahan, infeksi, eklampsi, partus lama
dan komplikasi abortus.
3. Memerangi HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya

Jumlah kasus HIV yang masuk perawatan mengalami peningkatan, tahun 2010
sebanyak 15.275 orang.
Sedangkan jumlah kasus AIDS pada tahun 2010 sebanyak 4.158 orang.
Angka penemuan kasus TB (CDR) dan angka keberhasilan TB (SR) tahun 2009
sudah melampaui target MDGs tahun 2015.
Sementara angka kesakitan malaria yang diukur dengan angka API (Annual
Parasite Incidence) menunjukkan penurunan pada periode 5 tahun s/d 2010
menjadi angka 1,58.
Angka ini telah mendekati target MDGs yang harus dicapai pada tahun 2015.
4. Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan. Tujuan pertama ini memiliki dua target
besar. Pertama, menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya di
bawah $1 (PPP) per hari. Kedua, menurunkan proporsi penduduk yang menderita
kelaparan menjadi setengahnya antara 1990-2015.

5. Menciptakan pendidikan dasar untuk semua. Pendidikan yang merata merupakan


suatu hal yang mendasar. Dalam tujuan ini memastikan pada 2015 semua anak-anak
di manapun, baik laki-laki maupun perempuan dapat menyelesaikan pendidikan dasar.

6. Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Masalah gender


merupakan suatu hal yang sering menjadi perdebatan. Maka dari itu, tujuan ketiga
yakni menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan
pada 2005 dan di semua jenjang pendidikan.
7. Memastikan kelestarian hidup. Bukan hanya dari segi kesehatan perorangan,
namun tujuan dari MDGs ini juga menjaga kelestarian hidup. Target dalam tujuan ini
adalah memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan
dan program nasional, serta mengembalikan sumber daya lingkungan yang hilang.

8. Membangun kemitraan global untuk pembangunan. Dalam hal pembangunan di


setiap negara, maka disepakati beberapa target, seperti, mengembangkan lebih
lanjut mengenai sistem perdagangan, menanggapi kebutuhan khusua negara-
negara yang belum berkembang, menanggapi kebutuhan khusus negara-negara
yang hanya berbatasan dengan daratan dan negara-negara kepulauan kecil yang
sedang berkembang melalui program aksi untuk pembangunan berkelanjutan, dan
menyelesaikan secara menyeluruh masalah utang negara-negara berkembang.
Secara umum, pencapaian MDGs pada bidang kesehatan di Indonesia cukup baik.
Kematian bayi dan kematian balita dapat diturunkan dengan relatif cepat.
Dengan perkembangan tersebut, kemungkinan besar, target MDGs untuk penurunan
Angka Kematian Bayi dan Angka Kematian Balita pada tahun 2015 akan tercapai.
Angka Kematian ibu juga menunjukkan penurunan yang cukup berarti.
Walaupun begitu, diperlukan upaya yang lebih keras untuk mempercepat penurunan
angka kematian ibu untuk mencapai target MDGs.
Dalam hal pengendalian penyakit menular, upaya penanggulangan tuberkulosis (TB)
telah berhasil menunjukkan hasil yang cukup signifikan.
Namun perkembangan penyakit HIV/AIDS dan malaria yang cukup mengkhawatirkan
masih merupakan persoalan serius dan perlu mendapat penanganan khusus.
Untuk itu, dibutuhkan partisipasi semua kalangan untuk mewujudkan Indonesia sehat
dengan mengoptimalkan pelaksanaan program MDGs 2015.
TFC ( Therapeutic
Feeding Centre ) /
PPG ( Pusat
Pemulihan Gizi )
Balita yang sehat dan cerdas adalah idaman bagi setiap orang. Namun apa yang terjadi jika balita
menderita gizi buruk?. Di samping dampak langsung terhadap kesakitan dan kematian, gizi buruk juga
berdampak terjadinya gangguan pertumbuhan, perkembangan intelektual, dan produktivitas. Anak yang
kekurangan gizi pada usia balita akan tumbuh pendek, dan mengalami gangguan pertumbuhan dan
perkembangan otak yang berpengaruh pada rendahnya tingkat kecerdasan.

Berdasarkan hasil survey Pemantauan Status Gizi (PSG) Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) tahun 2010
diketahui bahwa prevalensi gizi buruk di Jawa Timur adalah sebesar 2,5 % .Sedangkan dari hasil
laporan Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk tahun 2011 di Jawa Timur terdapat 6925 anak yang
menderita gizi buruk. Guna mengantisipasi makin parahnya kondisi yang mungkin terjadi akibat
kejadian gizi buruk, maka pemerintahan Jawa Timur telah melakukan upaya yang diharapkan mampu
memberikan hasil yang signifikan dalam menurunkan / mengurangi masalah gizi yang masih ada ini
yaitu melalui pengembangan program TFC (Therapeutic Feeding Centre) atau Panti Pemulihan Gizi.
Dibawah ini diinformasikan tentang gambaran tentang program TFC secara garis besar.
DEFINISI
 TFC ( Therapeutic Feeding Centre ) atau PPG ( Pusat Pemulihan Gizi ) adalah
pusat pemulihan gizi buruk dengan perawatan serta pemberian makanan anak
secara intensif dan adekuat sesuai usia dan kondisinya, dengan melibatkan
peran serta orang tua (ibu)agar dapat mandiri ketika kembali ke rumah.
 TFC merupakan tempat pemberian makanan tambahan disertai dengan terapi
diet dan medis pada anak yang menderita gizi buruk (sangat kurus) yang
bertujuan menurunkan angka kematian balita.
 Perawatan di TFC dilakukan meliputi 3 aspek, yaitu aspek : medis, nutrisi, dan
keperawatan.
TUJUAN
Umum : Meningkatkan status gizi dalam rangka perbaikan gizi masyarakat

Khusus :
a. Meningkatkan penanganan gizi buruk
b. Menurunkan angka kematian akibat gizi buruk
c. Melaksanakan tata laksana gizi buruk
d. Mendekatkan pelayanan pada masyarakat
e. Memperbaiki dan meningkatkan status gizi
SASARAN
 Balita kurus dan balita sangat kurus dilakukan penapisan dari pemantauan
pertumbuhan balita disemua Posyandu.
 Balita yang hasil penimbangannya pada Kartu Menuju Sehat (KMS) berada di
bawah garis merah (BGM) atau selama 2 (dua) kali berturut-turut berat
badannya tidak naik, yang dikenal dengan istilah “2T”
 Balita BGM dan 2 T dilakukan penapisan dengan menilai berat badan
dibanding panjang badan atau tinggi badannya. Jika balita tersebut termasuk
kategori balita kurus maupun balita sangat kurus, maka balita tersebut perlu
mendapat penanganan (intervensi) di TFC.
TEMPAT
TFC dapat dikembangkan dengan membuat bangunan tambahan
secara khusus atau memanfaatkan bangunan (ruangan) yang
telah ada di Rumah Sakit maupun Puskesmas Perawatan.
TENAGA PELAKSANA
 Dokter: 1 orang
 Perawat supervisor, dengan latar belakang pendidikan Diploma III : 1 orang
 Perawat, dengan latar belakang pendidikan Diploma III atau SPK: 3 orang
 Ahli gizi, dengan latar belakang pendidikan Diploma III: 1 orang
 Tenaga masak: 1 orang
 Ibu yang anaknya dirawat, ikut bertanggung jawab untuk kebersihan tempat
WAKTU PELAYANAN
 Tenaga kesehatan bertugas merawat pasien secara bergantian selama 24 jam,
yaitu selama 7 hari dalam seminggu.
 Waktu kerja dapat dibagi menjadi 3 shift, yaitu : 1) pukul 07.00 –14.00; 2)
pukul 14.00 –21.00; dan 3) pukul 21.00 –07.00
 Pada kondisi tertentu dokter diharapkan dapat bertugas selama 24 jam, jika
menjumpai pasien dengan keadaan gawat darurat.
FASILITAS RUANGAN DAN SARANA PENUNJANG
 Tempat tidur dan kelengkapannya, misalnya : bantal, sprei, selimut, perlak, dll.
 Ruang administrasi.
 Ruang konseling kesehatan dan gizi.
 Ruang bermain anak-anak.
 Ruang penyimpanan obat
 Ruang persiapan pembuatan dan penyimpanan makanan formula.
 Dapur dan gudang penyimpanan bahan makanan.
 Sumur, kamar mandi, WC, tempat mencuci dan menjemur.
KELENGKAPAN
 Peralatan medis dan obat-obatan.
 Antropometri set (alat ukur : Berat Badan, Tinggi Badan, dan Panjang Badan)
 Media penyuluhan (KIE).
 Food model, brosur, poster, buku-buku pedoman, dan lain-lain.
 Peralatan dapur, misalnya : kompor, termos, sendok makan, sendok teh ,
piring, gelas, blender, dan sebagainya.
 Bahan pembuat makanan formula, misalnya : susu skim, susu full cream,
mineral mix, gula pasir, beras, sayuran, minyak, dan sebagainya.
LANGKAH PENYELENGGARAAN TFC
 Advokasi dan sosialisasi.

Kegiatan advokasi dan sosialisasi dimaksudkan untuk mendapatkan dukungan


dari berbagai pihak terkait dalam rangka keberhasilan penyelenggaraan TFC.

 Penjaringan (screening) sasaran.

Penjaringan sasaran dapat dilakukan melalui kegiatan : penimbangan balita di


Posyandu, pelayanan pengobatan di Puskesmas, survai Pemantauan Status
Gizi, maupun Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) Gizi.
 Pelatihan tatalaksana anak gizi buruk.

Pelatihan tatalaksana anak gizi buruk dimaksudkan untuk meningkatkan


pengetahuan dan keterampilan peserta dalam penanganan balita gizi buruk.
Sasaran (peserta) pelatihan adalah Tim Asuhan Gizi, yaitu : Dokter spesialis anak,
Perawat di bagian anak, dan ahli gizi.

 Pelayanan dengan menerapkan tatalaksana anak gizi buruk oleh tenaga yang
sudah terlatih.

Dilakukan dengan mengacu pada buku tatalaksana anak gizi buruk, meliputi
penanganan pada fase stabilitasi, fase transisi, dan fase rehabilitasi.
SESI PERTANYAAN???
 Puspa: apakah ada persyaratan khusus untuk menjadi kader posyandu?
 Hana: imunasasi itu untuk bayi umur berapa saja? Dan ada imunisasi apa
saja?
 Destia: bagaimana pelayanan kesehatan yang komprehensif?
 Hana: jelaskan hubungan peran kader posyandu dengan status gizi balita!
 Puspa: Adakah posyandu untuk lansia? Kalau ada pelayanannya apa saja?
 Destia: Apa pengertian kader? Bagaimana kader mengajak masyarakat ke
posyandu?
 DINAR: Bagaimana jalannya program perbaikan gizi?
 CAMELIA: CONTOH PELAYANAN POSYADU UNTUK IBU HAMIL
 Agnes: Jelaskan penimbangan bayi dibawah garis merah & cakupan d/s?
 Mey: apabila imunisasi tidak sesuai prosudur apa dampaknya?
 Yayah:apa pendapat kalian imunisasi yang baik seperti apa? Lebih baik
diimunisasi atau tidak?