Anda di halaman 1dari 27

HASIL PRAKTEK KLINIK MANAJEMEN TB PARU

MAHASISWA SEMESTER 7 DIV KEPERAWATAN


POLTEKKES KEMENKES GORONTALO

2018
PROFIL PUSKESMAS KOTA UTARA
 Berdasarkan data statistik tahun 2017, wilayah kerja Puskesmas Kota
Utara Kota Gorontalo memiliki luas sebesar 8,36 km 2. Secara geografis
wilayah kerja Puskesmas Kota Utara terletak pada N 0,56647 lintang
utara dan E 123,06911 bujur timur.
 Secara administratif wilayah kerja Puskemas Kota Utara Kota Gorontalo
terdiri dari 6 kelurahan dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

1. Kelurahan Wongaditi Timur terdiri dari 4 lingkungan


2. Kelurahan Wongaditi Barat terdiri dari 2 lingkungan
3. Kelurahan Dulomo Selatan terdiri dari 4 lingkungan
4. Kelurahan DulomoUtara terdiri dari 4 lingkungan
5. Kelurahan Dembe II terdiri dari 3 lingkungan
6. Kelurahan Dembe Jaya terdiri dari 2 lingkungan
 
LATAR BELAKANG

 Di Indonesia, penyakit Tuberculosis termasuk salah satu prioritas nasional untuk


program pengendalian penyakit karena berdampak luas terhadap kualitas hidup dan
ekonomi, serta sering mengakibatkan kematian. Sejak tahun 1993, WHO
menyatakan bahwa TB merupakan kedaruratan global bagi kemanusiaan.Walaupun
strategi DOTS telah terbukti sangat efektif untuk pengendalian TB, tetapi beban
penyakit TB di masyarakat masih sangat tinggi. Dengan berbagai kemajuan yang
dicapai sejak tahun 2003. Pada tahun 2013, diperkirakan 9,0 jutaorang terinfeksi TB
dan 1,5 juta meninggal karena penyakit ini, 360.000 di antaranya adalah HIV
positif.(WHO, 2014).
TUJUAN
TUJUAN UMUM
 Menggambarkan secara umum mengenai sistem manajemen TB Paru terutama

yang diterapkan atau diaplikasikan di Puskesmas Kota Utara tahun 2018.

TUJUAN KHUSUS
 Menggambarkan pengertian TB Paru dan Manajemen TB Paru

 Menggambarkan penyebab dan penularan TB Paru

 Menggambarkan pemeriksaan TB Paru

 Menggambarkan pengobatan TB Paru

 Menggambarkan pencegahan TB Paru dan pencegahan kontak

serumah
 Menggambarkan pencatatan dan pelaporan TB Paru

 Menggambarkan hasil cakupan program TB paru dengan

menggunakan rumus perhitungan indikator


PENGERTIAN MANAJEMEN TB PARU

 Manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari perencanaan,


pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang telah
dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang
telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya yang
lainnya. Manajemen TB Paru merupakan suatu proses yang
meliputi manajemen terpadu pengendalian tuberkulosis
resisten obat, manajemen laboratorium tuberkulosis, dan
manajemen logistik.
PENYEBAB TB PARU

 Mycobacterium Tuberculosis adalah bakteri penyebab


terjadinya penyakit tuberculosis. Bakteri ini pertama kali
ditemukan oleh Robert Kock pada tanggal 24 maret 1882.
Bakterinya disebut Basilus kock. (Naga Sholeh S, 2014)

PENULARAN TB PARU
 pasien TB BTA positif melalui percik renik dahak yang

dikeluarkan. Namun, bukan berarti bahwa pasien TB dengan


hasil pemeriksaan BTA negatif tidak mengandung kuman
dalam dahaknya.
 Infeksi akan terjadi apabila orang lain menghirup udara yang

mengandung percik renik dahak yang infeksius tersebut


Pemeriksaan TB Paru

Pemeriksaan Dahak
 S (Sewaktu) : dahak ditampung pada saat terduga pasien
TB datang berkunjung pertama kali ke fasyankes. Pada
saat pulang, terduga pasien membawa sebuah pot dahak
untuk menampung dahak pagi pada hari kedua.

 P (Pagi) : dahak ditampung dirumah pada hari kedua,


segera setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan
sendiri kepada petugas di fasyankes.

 S (Sewaktu) : dahak ditampung di fasyankes pada hari


kedua, saat menyerahkan dahak pagi.
PENGOBATAN TB PARU

Tujuan Pengobatan TB Paru adalah :

 Menyembuhkan pasien dengan memperbaiki produktivitas serta kualitas

hidup

 Mencegah terjadinya kematian oleh karena TB atau dampak buruk

selanjutnya

 Mencegah terjadinya kekambuhan TB

 Mencegah terjadinya dan penularan TB resisten obat


PRINSIP PENGOBATAN TB

 Pengobatan diberikan dalam bentuk paduan OAT


 Diberikan dalam dosis yang tepat
 Ditelan secara terartur dan diawasi secara langsung oleh PMO
(Pengawas Menelan Obat) sampai selesai pengobatan
 Pengobatan diberikan dalam jangka waktu yang cukup terbagi
dalam tahap awal serta tahap lanjutan untuk mencegah
kekambuhan
. Tahapan pengobatan TB
Tahap awal: Pengobatan diberikan setiap hari. Paduan pengobatan pada tahap ini
adalah dimaksudkan untuk secara efektif menurunkan jumlah kuman yang ada dalam
tubuh pasien dan meminimalisir pengaruh dari sebagian kecil kuman yang mungkin
sedah resisten sejak sebelum pasien mendapatkan pengobatan. Pengobatan tahap awal
pada semua pasien baru, harus diberikan selama 2 bulan. Pada umumnya dengan
pengobatan secara teratur dan tanpa adanya penyulit, daya penularan sudah sangat
menurun setelah pengobatan selama 2 minggu.

Tahap Lanjutan: Pengobatan tahap lanjutan merupakan tahap yang penting untuk
membunuh sisa-sisa kuman yag masih ada dalam tubuh khususnya kuman persister
sehingga pasien dapat sembuh dan mencegah terjadinya kekambuhan.
Panduan OAT yang digunakan oleh Program Pengendalian Nasional
Pengendalian. Tuberkulosis di Indonesia adalah:

 Kategori 1 : 2(HRE)/4(HR)3
 Kategori 2 : 2(HRE)S/(HRZE)/5(HR)3E3
 Kategori Anak : 2(HRZ)/4(HR) atau 2HRZA(S)/4-10HR
 Obat yang digunakan dalam tatalaksana pasien TB resisten
obat di Indonesia terdiri dari OAT lini ke-2 yaitu Kenamisin,
Levofloksasin, Etionamide, Slikoserin, Moksifloksasin dan
PAS, serta OAT lini -1, yaitu Pirazinamid, dan Etambutol.
Kategori-1 : 2(HRZE)/4(HR)3

 Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:


 Pasien TB Paru terkonfirmasi bakteriologis
 Pasien TB Paru terdiagnosa klinis
 Pasien TB ekstra paru
Kategori-2 : 2(HRZE)S / (HRZE) / 5(HR)3E3
 Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif
yang pernah diobati sebelumnya (pengobatan ulang) :
 Pasien kambuh
 Pasien gagal pada pengobatan dengan paduan OAT
kategori 1 sebelumnya
 Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost
to follow-up)
PENCEGAHAN KONTAK SERUMAH
 Bagi penderita, pencegahan penularan dapat dilakukan dengan menutup
mulut saat batuk, dan membuang dahak tidak di sembarang tempat.
 Bagi masyarakat, pencegahan penularan dapat dilakukan dengan
meningkatkan ketahanan terhadap bayi, yaitu dengan memberikan vaksinasi
BCG.
 Bagi petugas kesehatan, pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan
penyuluhan tentang penyakit TBC, yang meliputi gejala, bahaya, dan akibat
yang ditimbulkannya terhadap kehidupan masyarakat pada umumnya.
HASIL CAKUPAN PROGRAM TB PARU DENGAN
MENGGUNAKAN RUMUS PERHITUNGAN INDIKATOR

 Cakupan Jumlah Penderita TB

Rumus : x 100 %

Angka proporsi seluruh pasien TB untuk wilayah kerja Puskesmas Kota


Utara tahun 2018 dari bulan Januari sampai dengan bulan Agustus yaitu :
120

x 100 % = 55%
100

80

60
Telah melebihi target
nasional yakni 43,2 % 40

20

0
Jumlah Penderita TB Estimasi Penderita TB CNR %
 Jadi, pada tahun 2017 masih menggunakan Case Detection
Rate atau disingkat dengan CDR. CDR adalah presentase
jumlah pasien baru TB Paru BTA (+) . Cara menentukan CDR
juga berbeda dengan CNR, karena CDR hanya menghitung
pasien TB Paru yang BTA(+) tidak dengan pasien ekstra paru.
Sedangkan CNR adalah presentase seluruh pasien TB Paru,
baik pasien yang BTA(+) maupun Ekstra paru.
 Data penderita TB Paru di wilayah kerja Puskesmas Kota Utara pada
tahun 2017 yaitu sekitar 52 penderita dengan 44 orang adalah pasien TB
Paru BTA(+) dan 8 orang pasien Ekstra Paru. Didapatkan 105% untuk
CDR tahun 2017 dengan kata lain sudah melebihi target nasional yaitu
90%.
 Target nasional untuk CNR tahun 2018 adalah 64%, Jadi kalau dihitung,
target CNR untuk tahun 2018 dari bulan januari sampai dengan bulan
Agustus 43,2 %,sedangkan Puskesmas Kota Utara telah mencapai 55 % ,
artinya telah melebihi target nasional.
CAKUPAN ANGKA KONVERSI (CONVERTION RATE)

Rumus: x 100 %

Angka Konversi (CR) untuk wilayah Puskesmas Kota Utara tahun


2018 dari bulan Januari sampai dengan bulan Agustus, yakni :
80

70

60

50
x 100% = 69%
40

30

20

10

0
Jumlah Konversi 25 Jumlah Yang Diobati 36 Angka Konversi (CR) 69%
 Dari grafik sebelumnya dapat disimpulkan bahwa hasil angka
Konvensi (CR) di wilayah Puskesmas Kota Utara tahun 2018
dari bulan Januari sampai dengan bulan Agustus adalah 69%
dengan perhitungan Target nasional sampai pada bulan
Agustus yaitu 53,6 % . yang artinya cakupan angka konversi
telah melebihi target nasional.
CAKUPAN ANGKA KESEMBUHAN TAHUN 2017
Rumus : x 100 %

Untuk evaluasi hasil Cakupan Angka Kesembuhan (Care


Rate) untuk wilayah Puskesmas Kota Utara digunakan Data
tahun 2017 yakni :
100
90
80
x 100% = 93% 70
60
50
40
30
20
• Angka minimal yang
10
harus dicapai yakni 85% 0
 Berdasarkan Grafik 3.3 diatas dapat disimpulkan
bahwa Hasil Angka Kesembuhan (Cure Rate) di
wilayah Puskesmas Kota Utara menunjukkan angka
pada tahun 2017 : 93% yang berarti telah mencapai
lebih dari target nasional yaitu 85%.
PROPORSI PASIEN TB ANAK DIANTARA SELURUH
PENDERITA TB TAHUN 2018
 Rumus : x 100 %

Hasil Proporsi pasien TB anak untuk wilayah Puskesmas Kota Utara tahun 2018
dari bulan Januari sampai bulan Agustus, yaitu :

x 100% = 8% 60

50

40

30

20

10

0
Jumlah Pasien TB Anak Jumlah Seluuh Pasien TB Proporsi Pasien TB Anak
HAMBATAN PADA PROGRAM TB DIPUSKESMAS
KOTA UTARA

 Pasien yang mangkir atau terlambat dalam hal pengambilan obat


merupakan pasien yang mempunyai pekerjaan yang mereka
tidak boleh tinggalkan, sehingga pasien tidak ada kesempatan
dalam melakuan pengambilan obat tepat waktu.
 Pada saat dilakukan observasi petugas juga melihat kesehatan
lingkungan sekitar penderita yang tidak terjaga kebersihannya.
Selain itu, masih ada rumah yang tidak memiliki jendela kamar,
sehingga tidak ada cahaya matahari yang masuk.
Dokumentasi
TERIMA KASIH 