Anda di halaman 1dari 30

Pembimbing

Mayor dr. Puranto Budi Susetyo, SpM

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO
JAKARTA
Periode 19 November 2018 – 22 Desember 2018
• Retina merupakan selaput yang terletak paling belakang
• Retina berfungsi sebagai tempat jatuhnya bayangan sehingga dapat melihat.
• Pada retina terdapat

Sel Batang 125 juta sel


7 juta sel
Sel Kerucut
Bintik Buta
• Retina berbatas dengan koroid
dengan sel pigmen epitel retina
• Warna retina biasanya jingga
1. Epitelium Pigmen Retina
2. Lapisan Fotoreseptor
3. Membran Limitan Eksterna
4. Lapis Nukleus Luar
5. Lapis Pleksiform Luar
6. Lapis Nukleus Dalam
7. Lapis Pleksiform Dalam
8. Lapis Sel Ganglion
9. Lapis Serabut Saraf
10. Membran Limitan Interna

Merupakan lapis avascular dan


mendapat metabolisme dari
kapiler koroid.
• Permukaan luar retina sensorik
bertumpuk dengan
lapisan epitel berpigmen
retina
• retina dan epitelium pigmen
retina mudah terpisah
hingga membentuk suatu
ruang subretina
fotoreseptor kerucut, sel ganglionnya,
dan serat saraf keluar

 Retina adalah jaringan paling kompleks di mata.


 Sel-sel batang dan kerucut di lapisan fotoreseptor
mampu mengubah rangsangan cahaya menjadi
suatu impuls saraf
• bagian retina lainnya, yang sebagian besar
terdiri dari sel batang, digunakan untuk
penglihatan perifer dan malam (skotopik). untuk penglihatan warna ( fotopik ), dan
sebagian besar selnya adalah sel kerucut
• Setiap sel fotoreseptor kerucut mengandung
rhodopsin
Siang hari = Sel Kerucut Malam hari = Sel Batang
 Ablasio retina adalah pemisahan retina sensorik, yakni lapisan fotoreseptor (sel
kerucut dan batang) dan epitel pigmen retina.
 Pada keadaan ini sel epitel pigmen masih melekat erat dengan membran Bruch.
 Antara sel kerucut dan sel batang retina tidak terdapat suatu perlekatan struktural
dengan pigmen epitel
Traksi atau
Regmatogenosa Eksudatif
Tarikan
 Adanya robekan pada retina sehingga cairan
masuk ke belakang antara sel pigmen epitel
dengan retina.
 Terjadi pendorongan retina oleh badan kaca cair
yang masuk melalui robekan atau lubang pada
retina ke rongga subretina sehingga mengapungkan
retina dan terlepas dari lapis epitel pigmen koroid.
• Faktor Predisposisi

• Usia
• Jenis Kelamin
• Miopi
• Afakia
 Ablasio yang terjadi akibat tertimbunnya eksudat di bawah retina dan mengangkat
retina.
 Penimbunan cairan subretina sebagai akibat keluarnya cairan dari pembuluh
darah retina dan koroid ( ekstravasasi).
 Pada ablasio ini lepasnya jaringan retina terjadi
akibat tarikan jaringan parut pada badan kaca
 Penglihatan turun tanpa rasa sakit.
 Tipe ini juga dapat terjadi sebagai
komplikasi dari ablasio retina regmatogensa.
 Di Amerika Serikat insiden ablasio retina 1 dalam 15.000 populasi dengan
prevalensi 0,3%
 Sedangkan insiden per tahun kira-kira 1 diantara 10.000 orang dan lebih sering
terjadi pada usia lanjut kira-kira umur 40-70 tah
 Pasien dengan miopia yang tinggi (>6D) memiliki 5%
 Afakia sekitar 2%
 Komplikasi ekstraksi katarak dengan hilangnya vitreus dapat meningkatkan angka
kejadian ablasio hingga 10%
 Terjadi robekan pada retina,
sehingga vitreus yang mengalami
likuifikasi dapat memasuki ruangan subretina.
 Retina tertarik oleh serabut
jaringan kontraktil pada permukaan retina
 Akumulasi cairan dalam ruangan subretina
akibat proses eksudasi.
Ruangan potensial antara neuroretina dan epitel pigmennya sesuai dengan rongga
vesikel optik embriogenik. Kedua jaringan ini melekat longgar, pada mata yang
matur dapat berpisah :
 1. Jika terjadi robekan pada retina, sehingga vitreus yang mengalami likuifikasi
dapat memasuki ruangan subretina dan menyebabkan ablasio progresif (ablasio
regmatogenosa).
 2. Jika retina tertarik oleh serabut jaringan kontraktil pada permukaan retina,
misalnya seperti pada retinopati proliferatif pada diabetes mellitus (ablasio retina
traksional).
 3. Walaupun jarang terjadi, bila cairan berakumulasi dalam ruangan subretina
akibat proses eksudasi, yang dapat terjadi selama toksemia pada kehamilan
(ablasio retina eksudatif)
 Floater dan cahaya berkilat
 Sering melihat adanya bayangan atau tirai
 Penurunan tajam penglihatan
 Membran abu-abu merah muda yang sebagian menutupi gambaran vascular
koroid.
 Didapatkan pergerakan undulasi retina ketika mata bergerak.
 Mungkin didapatkan debris terkait pada vitreous yang terdiri dari darah
( pendarahan vitreous) dan pigmen, atau kelopak lubang retina ( operculum) dapat
ditemukan mengambang bebas.
 Prosedur meliputi lokalisasi posisi robekan retina,
menangani robekan dengan cryoprobe, dan
selanjutnya dengan scleral buckle (sabuk)
 Sabuk dijahit mengelilingi sklera
 Terjadi tekanan pada robekan retina
 Penutupan retina ini akan menyebabkan cairan
subretinal menghilang secara spontan
 Membuat insisi kecil pada dinding bola mata
 Kemudian memasukkan instruyen ingá cavum vitreous melalui pars plana.
 Setelah itu dilakukan vitrektomi dengan vitreus cutre untuk menghilangkan berkas
badan kaca (viteuos stands), membran, dan perleketan – perleketan.
 Ablasio retina eksudatif terjadi akibat adanya penimbunan cairan eksudat di
bawah retina (subretina) dan mengangkat retina.

• Toksemia gravidarum
Penyakit
• Hipertensi renalis
Sistemik
• Poliartritis nodosa

• Akibat inflamasi
• Akibat penyakit vascular
Penyakit
Mata • Akibat neoplasma
• Akibat perforasi bola mata
pada operasi intraokular
Jika cairan tetap ada dan
Pada Ablasio retina
menumpuk

Cairan bisa masuk ke ruang Lapisan sensoris akan terlepas


ruang vitreus dan subretinal dari lapisan epitel pigmen

Terjadinya penumpukan cairan Ablasio Retina Eksudatif


 Keluhan mata merah
 Defek lapang pandang dapat terjadi mendadak dan berprogres cepat
 Floater dapat ditemukan
 Keluhan Photopsi/light flashes (kilatan cahaya) keluhan ini bisa ada atau tidak ada.
 ablasio retina yang terlihat berbentuk bulosa tanpa robek
 Ablasio retina eksudatif halus dan cembung
 Ablasio umumnya terlihat dominan di perifer
 Terdapat fenomena ” shifting fluid ”
 Kadang-kadang, pola pembuluh retina mungkin terganggu akibat adanya
neovaskularisasi di puncak tumor.
 Ablasio retina eksudatif memiliki konfigurasi konveks ( permukaannya halus dan
berombak )
 Retina yang terlepas sangat mobile
 Terjadi fenomena shifting fluid dimana cairansubretinal merespon gaya gravitasi
 Penyebab ablasio retina, misalnya tumor koroid, dapat terlihat dari funduskopi atau
mungkin pasien memiliki penyakit sistemik yang berhubungan dengan
ablasionretina
 Keluahan mata merah
 Floaters (terlihatnya benda melayang – layang)
 Photopsi/light flashes (kilatan cahaya)
 Penurunan tajam penglihatan, penderita mengeluh penglihatannya sebagian
seperti tertutup tirai yang semakin lama semakian luas.
 Menanyakan riwayat penyakit seperti hipertensi maligna, eklampsia dan gagal
ginjal.
 Pemeriksaan visus.
 Tekanan intraokuler biasanya sedikit lebih atau mungkin normal.
 Pemeriksaan funduskopi. Merupakan salah satu cara terbaik untuk mendiagnosa
ablasio retina dengan menggunakan oftalmoskop indirek binokuler.
 Memeriksa apakah ada tanda-tanda trauma ataupun penyakit mata lainnya yang
dapat menyebabkan terjadinya ablasio retina eksudatif.
 Mata merah
 Penurunan defek lapang pandang
 Tidak terdapat kerusakan maupun robekan pada retina,
 Tidak ditemukan adanya perubahan pada viterus
 Ablasio retina eksudatif halus dan cembung
 Cairan subretinal yang terbentuk dapat keruh dan berpindah
 Massa koroid bisa ditemukan
 Tekanan intraokular dapat bervariasi
 Transluminasi dapat terblok apabila ditemukan lesi pigmen koroid
 Pemeriksaan laboratorium
 Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan bila retina tidak dapat tervisualisasi oleh
karena perubahan kornea, katarak, atau perdarahan.
 Teknik pencitraan seperti foto orbita, CT scan, atau MRI tidak diindikasikan
 Tatalaksana untuk ablasio retina eksudatif adalah dengan medikamentosa sesuai
dengan etiologi ablasio.
 Pada beberapa kasus ablasio retina eksudatif seringkali ditemukan berhubungan
dengan penyakit sistemik sehingga memerlukan penanganan multi disiplin.
 Tatalaksana dengan kortikosteroid sistemik.
Mortalitas dan morbiditas bergantung terhadap penyebab dasar dari
ablasio retina eksudatif
 Ablasio retina eksudatif terjadi akibat adanya penimbunan cairan eksudat di
bawah retina (subretina) dan mengangkat retina
 Penyebab terjadinya ablasio retina eksudatif dibagi menjadi dua yaitu penyakit
sistemik dan penyakit mata.
 Tanda dan gejala adanya Ablasio retina eksudatif yaitu memiliki konfigurasi
konveks, retina yang terlepas sangat mobile dan terjadi fenomena shifting fluid ,
tidak adanya photopsia, Defek lapang pandang dapat terjadi mendadak dan
berprogres cepat, Ablasio retina eksudatif halus dan cembung dan Pergeseran
cairan ditandai dengan mengubah posisi daerah terpisah dengan gravitasi adalah
ciri khas yang dari detasemen retina eksudatif.
 Diagnosis ablasio retina eksudatif dapat dimulai dari anamnesis, pemerisaan
oftalmoskop dan pemeriksaan penunjang.
 Ablasio retina eksudatif dapat sembuh sendiri dengan menangani penyebab
utama terjadinya ablasio retina eksudatif.