Anda di halaman 1dari 23

“EFUSI PLEURA”

DEFINISI/BATASAN
Efusi pleura adalah kondisi yang ditandai dengan akumulasi cairan yang berlebih di
rongga pleura akibat ketidakseimbangan antara proses pembentukan dan
penyerapan.
Normalnya ruang pleura mengandung sekitar 5–10 ml cairan pleura (0,1 mg/kgBB).
ETIOLOGI
MANIFESTASI KLINIS
Gejala tidak sensitif atau spesifik
Dispneu, nyeri dada pleura, demam dan batuk
PEMERIKSAAN FISIK
Ekspansi dada asimetris (efusi pleura masif), tidak adanya fremitus taktil, kusam
hingga perkusi, penurunan nafas suara, egofonisme, dan gesekan pleura.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Torax Foto
PA (200 mL), lateral (50 ml) cairan
2. USG Torax
Sejumlah kecil efusi pleura dapat dideteksi secara akurat
TORAKOSINTESIS
Prosedur diagnostik yang berarti, untuk mengetahui penyebab dan mengurangi
gejala.
Variabel Transudat Eksudat

1. Penyebab Umum Gagal Jantung Kongestif Kanker


Cirrhosis Pneumonia
Sindrom Nefrotik Trauma
Emboli Paru Tuberkulosis
Emboli Paru
Rheumatoid Artritis
SLE

2. Rasio protein cairan pleura <0,5 >0,5


dibanding protein serum

3. Rasio LDH cairan paru <0,6 >0,6


dibading LDH serum

4. LDH cairan pleura <2/3 diatas normal, dibanding >2/3 diatas normal dibanding
serum serum
TORAKOSINTESIS
Harus hati-hati pada pasien yang menerima ventilasi mekanik.
Harus ditunda pada pasien dengan gangguan hemodinamik atau pernapasan yang
parah hingga pasien stabil.
Harus menghindari daerah infeksi kulit.
PERALATAN
Larutan antiseptik (Klorheksidin atau povidone-iodine)
Kasa steril
Duk steril
Handscoen steril
Spuit ukuran jarum 22 dan 25 untuk injeksi
Anastesi lokal (misal. lidokain)
PERALATAN
Transfusi set
Jarum suntik besar (35-60 ml) untuk aspirasi cairan
Three-way stopcock
Tabung drainase bertekanan tinggi
Balutan oklusi steril
Tabung spesimen
Satu atau dua wadah besar untuk evakuasi cairan
PERSIAPAN
Menjelaskan prosedur kepada pasien & mendapatkan informed consent secara
tertulis
Memeriksa identitas pasien
Memastikan tempat penusukan jarum sudah ditandai dengan benar
Cek sekali lagi identitas dan lokasi pungsi
PERSIAPAN
Karena tindakan steril maka harus cuci tangan sebelum tindakan dan memakai
handscoen steril selama tindakan
Minta bantuan satu atau dua orang sebagai asisten untuk membantu memposisikan
dan memantau pasien serta mengisi tabung spesimen
PERSIAPAN
Menempatkan pasien duduk di tepi tempat tidur, condong ke depan dengan kedua
lengan bersandar di meja samping tempat tidur
Jika tidak bisa, posisi telentang atau miring
Tingkat efusi diperkirakan berdasarkan suara pekak saat auskultasi dan atau
penurunan/tidak adanya fremitus raba
Memasukkan jarum dengan jarak 1-2 ICS dibawah batas atas efusi (5-10 cm lateral
tulang belakang)
Jangan masukkan jarum dibawah tulang rusuk ke-9
Tandai tempat, disterilkan dengan antiseptik, memasang duk steril
PERSIAPAN
Anestesi epidermis yang menutupi tepi superior dari tulang rusuk yang terletak dibawah ICS
pungsi menggunakan lidocain 1% atau 2% dengan jarum kecil (ukuran 25).
Suntikan jarum (ukuran 22) yang berisi lidocain di sepanjang tepi superior tulang rusuk
secara bergantian
Jarum tidak boleh menyentuh permukaan inferior tulang rusuk untuk menghindari cedera
saraf dan pembuluh interkostal
ASPIRASI CAIRAN PLEURA
Memasang spuit dan three way pada transfusi set
Memasukkan jarum dibagian superior tulang rusuk, kemudian aspirasi untuk
memastikan kedalaman
Setelah cairan diperoleh, berhenti memajukan jarum
Aspirasi 50 ml untuk analisis diagnostik
Kemudian aspirasi kedua untuk mengeluarkan cairan, cairan yang diaspirasi tidak
boleh melebihi 1500 ml.
Ketika tindakan selesai, lepaskan transfusi set saat pasien menahan napasnya pada
akhir ekspirasi. Lalu tutup dengan oclusive dressing
ANALISIS CAIRAN PLEURA
Cairan aspirasi harus segera ditempatkan dalam tabung spesimen dan dianalisis tanpa
penundaan untuk membedakan antara transudat dengan eksudat
Jika efusi adalah transudat, biasanya tidak ada evaluasi lebih lanjut. Hanya mengobati
kondisi medis yang mendasari

Variabel Transudat Eksudat


1. Penyebab Umum Gagal Jantung Kongestif Kanker
Cirrhosis Pneumonia
Sindrom Nefrotik Trauma
Emboli Paru Tuberkulosis
Emboli Paru
Rheumatoid Artritis
SLE

2. Rasio protein cairan


pleura dibanding <0,5 >0,5
protein serum

3. Rasio LDH cairan paru <0,6 >0,6


dibading LDH serum

4. LDH cairan pleura <2/3 diatas normal, >2/3 diatas normal


dibanding serum dibanding serum
ANALISIS CAIRAN PLEURA
Pengujian tambahan akan diperlukan jika yang diperoleh cairan eksudat
Tes Cara Pengumpulan Ulasan
1. Hitung sel dan Tabung yang diberi Dominasi PMN proses
diferensial EDTA akut seperti efusi
parapneumonia atau
emboli paru; dominasi
MN menunjukkan proses
kronik seperti kanker
atau tuberculosis

2. Kultur dan Pertimbangkan


pewarnaan Jarum untuk pewarnaan, penggunaan
botol kultur pewarnaan atau biakan

Nilai serum 1-20%


3. Hematokrit Tabung yang diberi menunjukkan adanya
EDTA kanker, embolus paru,
atau trauma; nilai serum
>50% menunjukkan
adanya hemothorax
DAFTAR PUSTAKA
1. Noppen, M., M.D. Waele, R. Li, K.V. Gucht, J. D’haese, E. Gerlo, dan W. Vincken.
2000. Volume and Cellular Content of Normal Pleural Fluid in Humans
Examined by Pleural Lavage. Am J Respair Crit Care Med. 162: 1023-1026.
2. Guzman, E.D., dan R.A. Dweik. 2007. Diagnosis and Management of Pleural
Effusions: A Practical Approach. Comprehensive Therapy. 33(4): 237-246.
3. Karkhanis, V.S., dan J.M. Joshi. 2012. Pleural effusion: diagnosis, treatment,
and management. Dove Med Press. 4: 31-52.
4. Kalantri. S., R. Joshi, T. Lokhande, A. Singh, M. Morgan, J.M. Colford Jr, dan
M. Pai. 2007. Accuracy and Reliability of Physical Sign in the Diagnosis of
Pleural Effusion. Respiratory Medicine. 101: 431-438.
DAFTAR PUSTAKA
5. Porcel J.M. 2011. Pearls and myths in pleural fluid analysis. Respirology. 16(1):
44-52.
6. Havelock, T., R. Teoh, D. Laws, dan F. Gleeson. 2010. Pleural procedures and
thoracic ultrasound: British Thoracic Society pleural disease guideline 2010.
Thorax. 65: 61-76.
7. William, A. 2008. Thal-Quick Chest Tube Introducers. Australia: Cook Medical
Incorporated.
8. Thomsen, T.W., J. DeLaPena, dan G.S. Setnik. 2006. Thoracentesis. The New
England Journal Of Medicine. 355: 16-19.