Anda di halaman 1dari 20

Komunikasi

Terapeutik
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan
secara sadar, mempunyai tujuan, serta kegiatannya dipusatkan
untuk kesembuhan pasien.

Tujuan Komunikasi Terapeutik


1. Membantu pasien untuk memperjelaskan dan mengurangi
beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan
untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal-
hal yang diperlukan
2. Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil
tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya
3. Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri
dalam hal peningkatan derajat kesehatan
4. Mempererat hubungan atau interaksi antara klien dengan
terapis (tenaga kesehatan) secara professional dan proporsional
dalam rangka membantu menyelesaikan masalah klien.
Prinsip – prinsip komunikasi terapeutik

1. Memperhatikan semua komunikasi verbal dan nonverbal pasien.


2. Mendengarkan dan menghadirkan diri, baik secara fisik maupun
emosional.
3. Menyadari perasaan dan peka terhadap situasi pasien.
4. Membentuk hubungan interpersonal untuk memfasilitasi
penyelesaian masalah dan perubahan perilaku yang diperlukan
untuk fungsi adaptif pasien.

Helping Relationship

Helping relationship dapat terjalin setelah merawat pasien selama


beberapa minggu atau beberapa menit. Kunci untuk mencapai
hubungan tersebut adalah tumbuhnya rasa percaya dan penerimaan
antara perawat dan pasien serta keyakinan yang mendasari bahwa
perawat peduli dan ingin membantu pasien.
Helping relationship dipengaruhi oleh berbagai karakteristik
personal dan profesional perawat dan pasien. Usia, jenis kelamin,
penampilan, diagnosis, pendidikan, nilai-nilai, latar belakang
etnik dan budaya, kepribadian, harapan, dan tempat dapat
mempengaruhi perkembangan helping relationship perawat-
pasien.

Langkah-langkah dalam membina helping relationship :


a. Mendengar aktif
b. Membantu mengidentifikasi apa yang dirasakan oleh pasien.
c. Tempatkan diri dalam posisi pasien (empati).
d. Bersikap jujur e. Bersikap tulus dan dapat dipercaya
e. Gunakan keterampilan perawat.
f. Waspada terhadap perbedaan budaya yang dapat
mempengaruhi makna dan pemahaman.
g. Jaga kerahasiaan pasien.
h. Sadari peran dan keterbatasan perawat.
Karakteristik Perawat Yang Mengfasilitasi Hubungan
Terapeutik

1. Kesadaran diri terhadap nilai yang dianutnya;


2. Kemampuan untuk menganalisa peranannya sendiri;
3. Kemampuan menjadi contoh peran;
4. Altruistik;
5. Rasa tanggung jawab etika dan moral;
6. Tanggung jawab.
SELF AWARENESS (Kesadaran intrapersonal dalam hubungan
interpersonal)

Self awareness yaitu perhatian yang berlangsung ketika seseorang


mencoba memahami keadaan internal dirinya. Prosesnya yaitu
berupa refleksi dimana seseorang secara sadar memikirkan hal-hal
yang di alaminya. Dalam pengertian lain, self awareness yaitu
keadaan ketika seseorang membuat dirinya sendiri untuk sadar akan
emosi yang sedang di alami dan pikiran-pikiran mengenai emosi
tersebut.

1. Kesadaran diri
Kesadaran diri (self awareness) atau dalam kata lain
pengetahuan diri (self knowledge) dimana individu akan sadar
dengan dirinya sendiri, bahwa individu memiliki kekurangan
serta kelebihan,serta dalam kesehariannya individu sadar hal
tersebut adalah dirinya.
Manfaat Kesadaran diri

 Memahami diri dalam relasi orang lain


 Menyusun tujuan hidup dan karir
 Membangun relasi dengan orang lain
 Memahami nilai-nilai keberagaman
 Memimpin orang lain secara efektif
 Meningkatkan produktifitas
 Meningkatkan kontribusi pada perusahaan, masyarakat dan
keluarga

Cara mengembangkan kesadaran diri


1. Analisa diri : minta orang lain untuk menilai diri kita
2. Perilaku berhubungan erat dengan tindakan-tindakan kita.
3. Kepribadian merupakan kondisi karakter/tempramen diri yang
relatif stabil sebagai hasil bentukan faktor-faktor sosial,
budaya dan lingkungan sosial.
4. Sikap merupakan cara respon kita terhadap rangsangan
(stimulus) objek luar tertentu.

Eksplorasi perasaan

Eksplorasi perasaan yaitu suatu tehnik yang bertujuan menggali


perasaan klien yang tersimpan, dan bertujuan untuk menggali atau
mencari lebih dalam tentang masalah yang di hadapi klien, tehmik ini
bermanfaat pada tahap kerja untuk mendapatkan gambaran yang
detail tentang masalah yang di alami seorang klien, agar seorang
perawat dapat berperan efektif dan therapeutic, ia harus menganalisa
dirinya melalui eksplorasi perasaan.
Kemampuan menjadi model/ Role model

Role model adalah penerjemmahan dri kata teladan, jadi role model
memiliki pengertian suatu tindakan yang mencerminkan suatu sikap
yang baik sehingga dapat dijadikan sebagai model acuan atau
dicontoh.

Panggilan jiwa

Perawat adalah profesi yang sangat berperan dalam sebuah tindakan


advance terhadap masalah dan kesembuhan pasien dengan metode
asuhan keperawatan secara komprehensif dan menyeluruh,
berkesinambungan, serta terkoordinasi dan kolaborasi dengan profesi
lainnya dengan tetap menjunjung tinggi tanggung jawab, hukum,
etika dan moral secara profesional.
Etika dan tanggung jawab perawat

Tanggung jawab perawat yaitu suatu keadaan dimana adanya saling


percaya dan di percaya antar pasien dan perawat. Hal ini
menunjukkan bahwa perawat profesional menampilkan kinerja
secara teliti dan hati-hati,serta kegiatan yang di lakukan seorang
perawat yang secara jujur dan tidak tertutup kepada pasien. Klien
merasa yakin bahwa perawat bertanggung jawab dan memiliki
keahlian yang relevan dengan disiplin ilmunya.

Contoh, jika perawat memasang alat kontrasepsi tanpa persetujuan


klien maka akan berdampak pada masa depan klien.klien tidak akan
mempunyai keturunan padahal memiliki keturunan adalah hak setiap
manusia. Perawat secara retrosfektif harus bisa mempertanggung
jawab kan perbuatannya meskipun tindakan perawat tersebut di
anggap benar menurut pertimbangan medis.
Menghadirkan Diri Secara Terapeutik Dan Dimensi Respon Dan
Dimensi Tindakan.

1. Dimensi Respon :
* keikhlasan / kesejatian;
* menghargai / menghormati;
* empati;
* konkrit.
2. Dimensi Tindakan :
* Konfrontasi;
* kesegeraan;
* keterbukaan;
* Emotional Chatarsis
(perasaan haru karena emosi)
* bermain peran
Hambatan-hambatan dalam Komunikasi terapeutik

1. Faktor yang bersifat teknis.


Yaitu kurangnya penguasaan teknik komunikasi yang mencakup
unsur-unsur yang ada dalam komunikator dalam mengungkapkan
pesan, menyandi, lambang-lambang, kejelian dalam memilih
media, dan metode penyampaian pesan.
2. Faktor yang bersifat perilaku.
Bentuk dari perilaku yang dimaksud adalah perilaku komunikan
yang bersifat sebagai berikut.
a. pandangan yang bersifat apriori,
b. prasangka yang didasarkan atas emosi,
c. suasana yang otoriter,
d. ketidakmauan berubah walaupun salah,
e. sifat yang egosentris.
3. Faktor yang bersifat situasional
Yaitu kondisi dan situasi ekonomi, sosial, politik, dan keamanan.
Sedangkan menurut Stuart dan Sundeen (1998) hambatan
kemajuan hubungan terapeutik terapis pasien terdiri atas hal-hal
berikut:

a. Resisten.
Resisten adalah upaya pasien untuk tetap tidak menyadari
aspek penyebab ansietas yang dialaminya. Perilaku resisten
ini biasanya ditujukan pasien pada fase kerja, karena pada
fase ini banyak berisi proses penyelesaian masalah.
b. Transferen.
Transferen merupakan reaksi tidak sadar di mana pasien
mengalami perasaan dan sikap terhadap terapis yang pada
dasarnya terkait dengan tokoh di dalam kehidupannya yang
lalu.
c. Kontertransferen.
Kebutuhan terapeutik dibuat oleh terapis, bukan oleh pasien.
Kontertransferen merujuk pada respons emosional spesifik
oleh terapis terhadap pasien yang tidak tepat dalam isi
konteks hubungan terapeutik atau ketidaktepatan dalam
intensitas emosi.
Fase-fase Dalam Komunikasi Terapeutik

Fase komunikasi terapeutik dalam hubungan perawat-


pasien terdiri dari 5 (lima) fase, yaitu :

1. Fase Prainteraksi :
Pra interaksi merupakan masa persiapan sebelum
berhubungan dan berkomunikasi dengan pasien.
Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah :
 Evaluasi diri;
 Penetapan tahapan hubungan / interaksi;
 Rencana interaksi
2. Fase Perkenalan :
Perkenalan merupakan kegiatan yang dilakukan saat
pertama kali bertemu/ kontak dengan pasien. Hal-hal
yang perlu dilakukan adalah :
 Memberi salam;
 Memperkenalkan diri perawat;
 Menanyakan nama pasien;
 Menyepakati pertemuan (kontrak);
 Melengkapi kontrak;
 Memulai percakapan awal;
 Menyepakati masalah pasien;
 Mengakhiri perkenanlan.
3. Fase Orientasi :
Fase Orientasi dilaksanakan pada awal setiap pertemuan
kedua dan seterusnya. Tujuan fase orientasi adalah
memvalidasi keakuratan data, rencana yang telah dibuat
dengan keadaan pasien saat ini dan mengevaluasi hasil
tindakan yang lalu, umumnya dikaitkan dengan hal yang
telah dilakukan bersama pasien :
 Memberi salam;
 Memvalidasi keadaan pasien;
 Mengingatkan kontrak.

4. Fase Kerja :
Fase kerja merupakan inti hubungan perawat-pasien
yang terkait erat dengan pelaksanaan rencana tindakan
keperawatan yang akan dilaksanakan sesuai dengan
tujuan yang akan dicapai :
Tujuan tindakan keperawatan adalah :
 Meningkatkan pengertian pengenalan pasien akan
dirinya;
 Meningkatkan kemampuan pasien dalam
menyelesaikan masalah
 Melaksanakan terapi/ teknikal keperawatan;
 Melaksanakan pendidikan kesehatan;
 Melaksanakan kolaborasi;
 Melaksanakan observasi dan monitoring.

5. Fase Terminasi :
Fase terminasi merupakan akhir dari setiap pertemuan
perawat-pasien. Terminasi dibagi dua yaitu :
a. Terminasi Sementara :
Akhir dari tiap pertemuan perawat-pasien. Pada
terminasi ini, perawat akan bertemu lagi dengan
pasien pada waktu yang telah ditentukan.
Isi percakapan mencakup :
 Evaluasi hasil;
 Tindak lanjut;
 Kontrak yang akan datang.
b. Terminasi Akhir :
Terjadi jika pasien akan pulang dari rumah sakit. Isi
percakapan :
 Evaluasi hasil;
 Tindak lanjut;
 Eksplorasi perasaan;
 Hal yang sama dilakukan pada keluarga
Tehnik-tehnik Komunikasi Terapeutik

• Mendengarkan dengan aktif (Active Listening);


• Memberi kesempatan pada pasien untuk memulai pembicaraan;
• Memberikan penghargaan;
• Mengulang kembali;
• Klarifikasi;
• Mengarahkan pembicaraan;
• Membagi persepsi;
• Diam;
• Memberi informasi;
• Memberi saran;
• Open Ended Question (pertanyaan terbuka);
• Eksplorasi.

Anda mungkin juga menyukai