Anda di halaman 1dari 26

SISTEMA URINARIA

Muh. Sarwansyah
Organa Urinaria meliputi:
1. Ren
2. Ureter
3. Vesica Urinaria
4. Urethra
SISTEMA URINARIA

• Sirkulasi Ginjal (Anatomi Ginjal)


• Miksi
• Diuresis
• Pembentukan Urine Encer & Pekat
Anatomi Ginjal
• Anatomi eksternal:
– Retroperitoneal
• Renal fascia
• Adipose capsule
• Renal capsule
– Renal hilum
Anatomi Ginjal
• Anatomi internal
– Cortex renalis
– Medulla renalis
– Pyramid renalis
– Papilla renalis
– Collumna renalis
– Ductus papillaris
– Calyx minor
– Calyx major
– Pelvis renalis
– Sinus renalis
Nephron:
1. Renal corpuscle :
a. Glomerulus
b. Bowman’s capsule
2. Renal tubule:
a. Proximal convoluted tubule
b. Loop of Henle
c. Distal convoluted tubule
Collecting duct
Papillary duct
Vaskularisasi Ginjal
• Renal artery Renal vein

• Segmental arteries

• Interlobar arteries Interlobar veins

• Arcuate arteries Arcuate veins

• Interlobular arteries Interlobular veins

Peritubular venules
• Afferent arterioles
Peritubular capillaries

• Glomerular capillaries Efferent arterioles Vasa recta


Miksi
• Urine duktus kolektivus =
urine vesica urinaria
• Ureter (peristaltik)
• Vesica Urinaria
• Vesicoureteral reflux
• Ureterorenal reflex
(konstriksi a. afferen)
• Refleks mikturisio
• Urethra
Inervasi:
1. Parasimpatis (S2 – S3  nervus pelvicus  plexus
sacralis); sensoris & motoris
2. Simpatis (L2  nervus hypogastricus): pembuluh darah
3. Somatis (nervus pudendus  m. sphincter externus)
Pengisian Vesica Urinaria

1. Vesica Urinaria kosong  Tekanan = 0 cm


air

2. Urine 30 – 50 ml  Tekanan tonik naik 5 –


10 cm air

3. Urine 200 – 300 ml  Tekanan naik sedikit


(micturition reflex)

4. Urine 300 – 400 ml  Tekanan naik cepat


• Tekanan tonik meningkat

• Kontraksi mikturisio: reseptor sensoris regang 


stretch reflex  nervus pelvicus  kontraksi m.
detrusor (bbrp detik – 1 menit; semakin penuh
semakin sering)

• “Self regenerative” micturition reflex

• Urine tidak dikeluarkan  inhibisi bbrp menit – 1


jam

• Refleks mikturisio meningkat  refleks inhibisi via


n. pudendus  m. sphincter externus
Fasilitasi & Inhibisi Mikturisio oleh Otak

1. Pusat-pusat fasilitasi & inhibisi di batang otak


terutama pons
2. Pusat-pusat di korteks serebri, terutama inhibisi
tapi dapat menjadi eksitatoris

Pengaturan miksi oleh otak/ pusat-pusat atas:


1. Inhibisi parsial
2. Mencegah mikturisio via kontraksi tonik m.
sphincter externus
3. Fasilitasi pusat mikturisio sakral  refleks
mikturisio & inhibisi m. sphincter externus

Urinasi sadar  kontraksi abdomen


Abnormalitas mikturisio
• Destruksi serabut saraf sensoris  hilang
kontrol  overflow incontinence (tabes dorsalis
pada syphilis  radiks dorsalis)

• Kerusakan spinal di atas regio sacral


• “spinal shock” kemudian refleks kembali

• Kerusakan parsial medula spinalis/ batang otak


• Sinyal inhibitoris hilang
• Impuls fasilitasi tak terkontrol  urinasi
sering, tak terkontrol
Diuresis
• Memperlambat reabsorbsi air
• Terapi hipertensi
• Diuretik alami: kopi, teh, soda (inhibisi
reabsorbsi Na+), alkohol (inhibisi ADH)
• Mekanisme kerja kebanyakan diuretik: inhibisi
reabsorbsi Na+
• Furosemide (Lasix)  inhibisi Na+ K+ 2 Cl-
symporters di thick ascending limb of the loop of
Henle
• Chlorthiazide (Diuril)  tubulus distalis (inhibisi
Na+ Cl- symporters)
– ADH mengontrol kepekatan urine (pada tubulus distalis
& duktus kolektivus)
Pembentukan Urine Encer

1. Air & ion diserap di tubulus proksimalis


2. Air direabsorbsi di descending limb of Henle 
osmolaritas cairan tubulus
3. Simporter Na+, K+, Cl- pada thick ascending limb dari
loop of Henle
4. Thick ascending limb tak permeabel terhadap air 
150 mOsm/l di akhir loop of Henle (LOH)
5. Tubulus kontortus distalis tak terlalu permeabel
terhadap air & kadar ADH rendah
6. Kadar ADH rendah, duktus kolektivus tak permeabel
terhadap air  65 – 70 mOsm/l
• Pembentukan Urine Pekat

• Asupan air sedikit/ kehilangan air banyak


• ADH  urine pekat (4x), 1200 mOsm/l
• Syarat pemekatan urin:
1. Kadar ADH tinggi
2. Osmolaritas cairan interstisial medulla renalis tinggi
Hiperosmolaritas karena struktur nephron
juxtamedullaris (25% dari total nephron)
• Proses Produksi Urine Pekat

1. Tubulus proksimalis. Air (65%) + elektrolit direabsorbsi.


Osmolaritas cairan tubulus = plasma (300 mOsm/L)

2. Descending loop of Henle (DLH). Reabsorbsi air > elektrolit


 osmolaritas cairan tubulus = medulla (1200 mOsm/L)

3. Thin ascending loop of Henle (ALH). Kedap air; difusi pasif


NaCl (kadar tinggi dari DLH); urea masuk; osmolaritas

4. Thick ascending loop of Henle. Kedap air; transport aktif


Na+, K+, Cl- ke medula renalis. Osmolaritas = 100 mOsm/L
5. Tubulus distalis awal. Kedap air; elektrolit direabsorbsi 
cairan tubulus semakin encer

6. Tubulus distalis akhir & tubulus kolektivus kortikal. ADH 


reabsorbsi air; agak kedap urea  kadar urea tubulus
Osmolaritas cairan tubulus

7. Duktus kolektivus medulla bagian dalam. ADH 


reabsorbsi air (< tubulus kolektivus kortikal); kadar urea &
difusi fasilitasi transporter urea  akumulasi di jaringan
interstisial medulla
Volume Urine Minimal (Obligatory Urine Volume)
• Manusia 70 kg  ekskresi 600 mOsm “solute”/ hari
• Kemampuan konsentrasi urine maksimal = 1200 mOsm/L
• Volume urine minimal = 600 mOsm/ hari = 0,5 L/ hari
1200 mOsm/L

Dehidrasi karena Minum Air Laut


• Konsentrasi NaCl air laut = 1200 mOsm/L
• Minum 1 L  1200 mOsm dikeluarkan  keluar urine 1 L
• Ekskresi “solute” lain (terutama urea)  600 mOsm/ L
• Ekskresi urine 1 L = 600 mOsm urea + 600 mOsm NaCl
• Minum 1 L = 1200 mOsm air laut  keluarkan urine 2 L 
dehidrasi
Rujukan

1. Tortora GJ & Derrickson B, 2006. Principles of


Anatomy and Physiology, 11th ed, John Wiley & Sons,
Inc, pp 992 – 1035
2. Guyton AC & Hall JE, 2006. Textbook of Medical
Physiology, 11th ed, Elsevier Inc, pp. 311 – 314, 348 -
357