Anda di halaman 1dari 35

AMENOREA PRIMER

OLEH :
dr. ANNA SARI DEWI
PEMBIMBING :
dr. TELLY TESSY, SpOG(K)

SUB BAGIAN FERTILITAS ENDOKRIN DAN REPRODUKSI


BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR, 2005
Pendahuluan
 Amenorea : tidak terjadinya haid
pada seorang wanita.
 Amenorea primer
 Amenorea sekunder
 Amenorea primer mempunyai sebab-
sebab yang lebih berat dan lebih sulit

 Amenorea fisiologik prepubertas,


kehamilan, laktasi, dan wanita post
menopause.
 Pematangan seksual terlambat tidak
nampak tanda-tanda pubertas normal
sampai umur mencapai diatas 2.5 SD.

 Menarche terlambat dengan pertumbuhan


seksual sekunder yang adekuat
 Pubertas terlambat dengan pertumbuhan
seksual sekunder yang tidak adekuat/tidak
ada
 Pubertas terlambat dengan pertumbuhan
seksual sekunder yang heteroseksual
Terjadinya keterlambatan pubertas
dengan pertumbuhan seksual sekunder
yang tidak adekuat dapat disebabkan
oleh:
 Disfungsi hipotalamus-pituitari
 Kegagalan gonad
 Disfungsi hipotalamus-pituitari :
 Gangguan pada hipotalamus
 Organik
 Fungsional

 Gangguan pada hipofisis


 Organik (sindrom Sheehan)
 Fungsional (sindrom Kallmann)
 Kegagalan gonad :
 Disgenesis/Agenesis Ovarii (sindrom Turner)
 Sindrom Feminisasi Testikuler Menopause
Prematur
 Menopause prematur
 Sindrom Ovarium yang Tidak Peka (The
insensitive ovary syndrome)
 Tumor-tumor ovarium
 Penghentian fungsi ovarium karena operasi,
radiasi, radang dan sebagainya.
Gambaran Klinis
 Aplasi Uterus dan Vagina (Sindrom
Mayer-Kustner-V Rokitansky)
 Sindrom Feminisasi Testikuler (Androgen
Insensitivity Sindrom)
 Sindrom Adrenogenital
 Gangguan gonad
 Sindrom Kallman
Diagnosis
 Anamnesa
 Pemeriksaan fisis
 Pemeriksaan ginekologi
 Pemeriksaan laboratorium
 Pemeriksaan radiologi
 Pemeriksaan kromosom
ALGORITMA
PEMERIKSAAN AMENOREA
 Periksa hasil laboratorium berikut ini : tes
fungsi tiroid, kadar LH, FSH, dan prolaktin.
 TSH ,T4 hipotiroidisme.
 TSH normal periksa LH, FSH, prolaktin.
 Kadar LH, FSH periksa kariotipenya.
 Kariotipe 45,XO gonadal dysgenesis (seperti
Sindrom Turner)
 Kariotipe 46,XX penyebab utama adalah
kegagalan ovarium
 LH, FSH / normal MRI kepala.
 MRI kepala abnormal tumor pituitary,
kerusakan pituitary, atau penyakit hypothalamus.
 Prolaktin
 MRI kepala abnormal tumor pituitary atau lesi otak
yang mengganggu tangkai pituitary.
 MRI normal penggunaan ganja atau obat-obat

 MRI kepala normal, riwayat dan pemeriksaan fisik


normal gangguan makan, olahragawan, atau
stress psikososial.
Penatalaksanaan
 Uji dengan progesterone (uji P):
 DMPA, diprogesteron, nortesteron asetat
5 – 10 mg/hari selama 7 – 10 hari.
 Uji P positif perdarahan + sesudah 3 - 4
hari kemudian
 Uji P negatif perdarahan -
 Uji P positif wanita tersebut memiliki
uterus, endometrium, vagina, selaput
dara, ovarium/folikel, fungsi hipofisis dan
hipotalamus yang normal.

 Belum ingin anak progesteron hari


ke 16 – 25 siklus haid selama 3 siklus
berturut-turut

 Ingin anak pemicu ovulasi.


 Uji progesteron negatif Uji E + P
(E : 21 hari + P : 12-21).

 Hasil positif perdarahan 2-3 hari kemudian

 Hasil negatif pemeriksaan FSH, LH dan


prolaktin.
Jika normal normagonadotrop amenorea
Laporan Kasus
 Anamness
Nona 18 tahun datang dengan keluhan
belum pernah haid. Pertumbuhan badan
sangat lambat, payudara kurang
berkembang, rambut pubis dan rambut
ketiak tidak ada, alat kelamin luar kecil.
Riwayat keluarga pertumbuhan normal.
Napsu makan baik. Keluhan batuk lama (-)
kecuali jika cuaca dingin sering mengeluh
batuk dan sesak.
Keluhan yang lain : sakit kepala,
gangguan penglihatan, pendengaran,
nyeri perut, nyeri dada, dan penyakit
metabolik tidak ada. Riwayat gangguan
emosional tidak ada. Riwayat lahir aterm
ditolong bidan dengan BBL 1800 gr. Saat
dihamilkan ibu osi menderita hipertensi
dan DM dan selalu mengkonsumsi obat
anti hipertensi dan anti diabetik oral.
Bab dan Bak : normal
 Pemeriksaan Fisis
 KU : Baik, sadar
 Tanda Vital :
 TD : 110/70 mmHg N : 76x/menit
S : 36,7 C P : 20x/menit
 Pemeriksaan Luar :
 BB : 30 kg
 TB : 135 cm
 Tanda-tanda hirsutisme (-)
 Tanda-tanda kelamin sekunder :-
 Bulu ketiak :-/-
 Rambut pubis : -
 Buah dada : + / + minimal
Pertumbuhan payudara minimal
Rambut pubis dan ketiak tidak ada
 Pemeriksaan Ginekologi
 Vulva/vagina : kecil
 Pemeriksaan dalam tidak dilakukan
 Rectal touché :
 Spincter : mencekik
 Ampulla : kosong
 Mukosa : licin
 Uterus : +, kecil
 Adneksa : sulit dinilai
 Handscoen : darah (-), feses (+)
 Pemeriksaan Laboratorium
 Darah rutin :
 Hb : 13,7 g/dl
 Lekosit : 11.000/mm3
 Trombosit : 395.000/mm3
 CT : 7` 30``
 BT : 2` 00``
 LED : 20 mm

 Urine : normal, plano tes negatif


 Pemeriksaan Radiologik
 Thorax foto : kesan aspek bronkhitis dan
skoliosis dekstrokonveks
vertebra thorakalis
 CT scan kepala : tidak ada kelainan
 Penatalaksanaan
 Tablet estradiol valerat + norgestrel 1x/hari
 Tablet kalsium 500 mg 2 x 1/hari
 Diet tinggi kalori tinggi protein dan kalsium
 Olahraga teratur
Pembahasan
Pada pasien ini dari anamnesa
diketahui keluhan utamanya adalah belum
pernah haid sampai sekarang (18 tahun).
Selain itu pertumbuhan badan sangat
lambat demikian pula payudara, rambut
pubis, rambut ketiak, alat-alat kelamin
luar kurang berkembang.
Riwayat ibu dan kerabat lainnya
mengalami menarche pada umur 12 – 15
tahun dan pertumbuhan fisik normal.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan
pertumbuhan badan yang lambat dan alat
kelamin sekunder tidak berkembang
dengan baik, demikian pula dengan alat
genitalia interna dan eksterna.
Dari hasil pemeriksaan laboratorium
didapatkan kadar FSH dan LH yang tinggi, kadar
progesterone yang rendah dan kadar serum
estradiol dibatas bawah. Dari hasil pemeriksaan
CT scan kepala tidak didapatkan adanya
tumor/kelainan organik di hipotalamus-hipofisis.
Berdasarkan hasil pemeriksaan diatas kami
menegakkan diagnosa amenora primer
hipergonadotropik hipogonadisme.
Pada hipergonadotropik hipogonadism
didapatkan hipoestrogenisme dengan
konsentrasi FSH serum ≥ 45 mIU/ml.
Konsentrasi FSH yang tinggi menandakan
kegagalan gonad. Penyebabnya ada
karena kelainan kromosom dan tanpa
kelainan kromosom. Pada kasus ini
kelemahannya adalah karena belum
dilakukan pemeriksaan kromosom
(kariotip) sehingga sulit dipastikan apakah
ada kelainan kromosom atau tidak.
Pada pasien ini lalu dilakukan uji
estrogen + progesterone dengan
memberikan tablet yang mengandung
estradiol valerat + norgestrel selama satu
siklus dan ternyata hasilnya positif.
Dikatakan bahwa pasien yang tidak
mengalami perdarahan setelah dilakukan
uji P, namun berdarah setelah diuji E + P
adalah amenorea sebagai akibat
hipoestrogenisme dan endometrium yang
tidak terstimulasi.
Pada pasien ini diberikan terapi ciclo-
progynova yang mengandung estradiol
valerat + norgestrel 1 tablet/hari selama
21 hari dan setelah 1 minggu meminum
tablet yang terakhir, pasien melapor kalau
sudah mendapat haid. Ini menunjukkan
bahwa uji P + E positif pada pasien ini.
Prognosis
Dengan penanganan yang tepat, keluhan
amenorea dan keterlambatan pematangan
seksual kemungkinan dapat teratasi
demikian pula resiko osteoporosis, dan
atrofi organ-organ genital. Untuk hamil,
kemungkinan pasien ini membutuhkan
donatur oosit dan mengikuti program IVF.
TERIMA
KASIH