Anda di halaman 1dari 31

IDENTITAS PASIEN

 Nama : Ny. M
 Usia : 56 tahun
 JK : Wanita
 TTL : 3-9-1962
 No. RM : 016553
 Alamat : Kalipawon, Panjang Ambarawa
Anamnesis
 Keluhan utama:
Sesak sejak 1 hari SMRS

 RPS
Sesak sejak 1 hari smrs, sesak semakin memberat, keluhan sesak dirasakan
lebih baik saat pasien dalam posisi duduk atau tiduran dengan bantal
yang lebih tinggi, sesak disertai nyeri dada (tidak menjalar), batuk (+)
berdahak, demam (-),
 RPD
ASMA (+), HT(-), DM(-)
PEMERIKSAAN FISIK
 KU/Kes teraba
 CM/tampak sesak  Perkusi : sonor kedua paru, batas jantung
 TV :  Kanan atas : ICS II Parasternal Dextra

 Kanan bawah : ICS IV Parasternal Dextra


 Tekanan Darah 210/100mmHg
 Kiri atas : ICS III Parasternal sinistra
 Nadi 109x/menit
 Kiri bawah : ICS VI Midclavicularis sinistra
 RR 26x/menit
 Auskultasi : rhonki -/-, wheezing +/+, murmur (-),
 Suhu 36.7 C gallop (-)
 SpO2 94%

 Status Lokalis
 Kepala : Normocephal

 Mata : konjungtiva anemis (-)


 Hidung : pernapasan cuping (-)
 Thorax :
 Inspeksi : gerakan dinding dada simetris, retraksi
(-)
 Palpasi : vocal fremitus normal, ictus cordis tak
 Abdomen
 Inspeksi : datar
 Auskultasi : BU (+) normal
 Perkusi : timpani di seluruh lapang abdomen
 Palpasi : supel, NT (-), hepatomegali (-)

 Ekstremitas
 Edema tungkai (-)
 CRT < 2 detik
 Sianosis (-)
DIAGNOSIS

 Asma serangan ringan sedang


 Hipertensi Urgency
TERAPI IGD

 O2 NRM 4 lpm
 Nebulizer Combivent
 IVFD RL 20 tpm
 PO nifedipin 10 mg
 PO Candesartan 1x8 mg
 PO Salbutamol 3x1
 PO Dexametason 12,5mg 2x1
ASMA

 Asma adalah penyakit saluran respiratori dengan dasar inflamasi


kronik yang mengakibatkan obstruksi dan hiperreaktivitas saluran
respiratori dengan derajat bervariasi3. Manifestasi klinis asma dapat
berupa batuk yang bervariasi dalm frekuensi dan intensitas1,
wheezing, sesak napas, dada tertekan yang timbul secara kronik
dan atau berulang, reversibel, cenderung memberat pada malam
atau dini hari, dan biasanya timbul jika terdapat pencetus3.
ETIOLOGI

EKSTRINSIK GABUNGAN INTRINSIK

Debu, serbuk
bunga, bulu
infeksi saluran
binatang, obat-
pernafasan dan
obatan dan
emosi
spora jamur
FAKTOR RESIKO

FAKTOR GENETIK FAKTOR LINGKUNGAN

• Alergen didalam ruangan (tungau,debu


• Hiperreaktivitas rumah,kucing, jamur)
• Atopi/alergi bronkus • Alergen diluar ruangan (tepung sari)
• Makanan (kacang, makanan laut, susu sapi,
• Genetik telur)
• Jenis kelamin • Obat-obatan tertentu ( antibiotik)
• Ras/etnik • Bahan yang mengiritasi (Parfum, obat nyamuk
semprot)
• Ekspresi emosi berlebih
• Asap rokok
• Asap rokok
• Polusi udara diluar dan didalam ruangan
• Exercise induced asthma
• Perubahan cuaca
MANIFESTASI KLINIS

 Batuk berulang
 Mengi
 Sesak napas
 Dada terasa berat
 Gejala
biasanya akan memburuk pada
malam hari yang dipicu dengan infeksi
pernapasan dan inhalasi alergen.
klasifikasi
 Berdasarkan derajat beratnya
 Berdasarkan umur serangan
 Asma bayi - (bawah dua tahun)  Asma serangan ringan-sedang

 Asma balita (bawah lima tahun)  Asma serangan berat


 Serangan asma dengan ancaman henti
 Asma usia sekolah (5 – 11 tahun)
napas
 Asma remaja (12 – 17 tahun)
 Berdasarkan kekerapan timbulnya
gejala
 Asma intermitten
 Asma persisten ringan
 Asma persisten sedang
 Asma persisten berat
 Berdasarkan derajat kendali
Asma terkendali adalah asma yang tidak bergejala, dengan
atau tanpa obat pengendalian dan kualitas hidup pasien baik.
 Asma terkendali penuh (well controlled)
 Tanpa obat pengendali : pada asma intermitten
 Dengan obat pengendalian : pada asma persisten (ringan/ sedang/
berat)
 Asma terkendali sebagian (partly controlled)
 Asma tidak terkendali (uncontrolled)
 Berdasarkan keadaan saat ini
 Tanpa gejala
 Ada gejala
 Serangan ringan-sedang
 Serangan berat
 Ancaman gagal napas
 Serangan asma adalah episode perburukan yang progresif akut
dari gejala-gejala batuk, sesak napas, wheezing, rasa dada
tertekan, atau berbagai kombinasi dari gejala-gejala terserbut3
Kriteria penentuan derajat asma dibuat pada kunjungan awal dan berdasarkan
anamnesis

Derajat Asma Uraian kekerapan gejala asma

Intermitten Episode gejala asma < 6 kali/ tahun atau jarak antar gejala ≥ 6
minggu

Persisten ringan Episode gejala asma > 1 kali/ bulan, < 1 kali/minggu

Persisten sedang Episode gejala asma > 2 kali/ minggu, namun tidak setiap hari

Persisten berat Episode gejala asma terjadi hampir setiap hari


DIAGNOSIS
ANAMNESIS
- Keluhan wheezing,batuk kering
berulang, sesak nafas, rasa dada Pemeriksaan fisik
tertekan - Wheezing
- Gejala timbul secara episodik atau - Alergi  allergic shiners atau
berulang geographictongue
- Timbul bila ada faktor pencetus
(Iritan,Alergen,Infeksi saluran
nafas,aktivitas)
- Adanya riwayat alergi pada pasien atau
keluarganya
- Variabilitas
- Reversibilitas
 PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Saturasi
- Spirometri
- Ananlisis gas darah
- Rontgen toraks
- Skin prick test
- Eosinofil total darah
- Pemeriksaan IgE spesifik
- Uji inflamasi saluran respiratori: FENO(Fractional Exhaled Nitric Oxide),
Eosinofil sputum
- Uji provokasi bronkus  exercise, metakolin
Alur diagnosis asma
berdasarkan Global Initiative
for Asthma (GINA) 2018
DIAGNOSIS
BANDING Obstruksi mekanis
Laringomalasia, Kelainan sistem organ
trakeomalasia lain
Hipertrofi timus
Pembesaran kelenjar Penyakit refluks
getah bening gastroesofagus
Aspirasi benda asing (GERD)
Vascularring, laryngeal
web Penyakit jantung
Inflamasi: infeksi, alergi Disfungsi pita suara bawaan
Malformasi kongenital Gangguan
saluran respiratori
Rinitis, rinosinusitis neuromuskular
Chronic upper airway Batuk psikogen
cough syndrome
Infeksi respiratori
berulang
Bronkiolitis
Aspirasi berulang Patologi bronkus
Defisiensi imun Displasia
Tuberkulosis bronkopulmonal
Bronkiektasis
Diskinesia silia primer
Fibrosis kistik
TERAPI ASMA

RELIVER CONTROLLER

• LABA
• SABA
• STEROID IHALASI
• KORTIKOSTEROID
• LTRA
• METHYL-XANTHINE
• TEOFILIN LEPAS
• ANTIKOLINERGIK
LAMBAT
 Agonis (β2 kerja pendek)
 salbutamol, terbutalin, dan prokaterol.
 Ipratropium bromide
 Kombinasi agonis β2 kerja pendek dan ipratropium bromide (antikolinergik) pada serangan
asma ringan-sedang menurunkan risiko rawat inap dan memperbaiki PEF dan FEV1
dibandingkan dengan 2 – agonis saja.
 Aminofilin intravena diberikan pada anak dengan serangan asma berat atau
dengan ancaman henti napas yang tidak berespons terhadap dosis maksimal
inhalasi agonis β2 dan steroid sistemik
 Steroid sistemik
 prednisone atau prednisolone diberikan per oral dengan dosis 1-2 mg/kgBB/hari dengan
dosis maksimum sampai 40mg/hari, maksimal1 kali dalam 1 bulan. Lama pemberian 3- 5
hari tanpa tapering off.
 Adrenalin
 Steroid inhalasi
• Tatalaksana di rumah
Untuk serangan ringan dapat
digunakan obat oral golongan
agonis 𝛽2 kerja pendek, lihat respon
gejala (sesak napas dan wheexing)
menghilang, cukup diberikan satu
kali. Bila belum membaik dalam 30
menit, ulangi sekali lagi. Jika 2 kali
pemberian agonis 𝛽2 kerja pendek
via nebulizer belum membaik,
segera bawa ke fasilitas kesehatan
terdekat.
Kriteria pasien yang memerlukan ICU

 Tidak ada respons sama sekali terhadap tata laksana awal di UGD dan/atau
perburukan asma yang cepat.
 Adanya kebingungan, disorientasi, dan tanda lain ancaman henti napas, atau
hilangnya kesadaran.
 Tidak ada perbaikan dengan tata laksana baku di ruang rawat inap.
 Ancaman henti napas: hipoksemia tetap terjadi meskipun sudah diberi oksigen
(kadar PaO2 <60 mmHg dan/atau PaCO2 >45 mmHg, meskipun tentu saja gagal
napas dapat terjadi pada kadar PaCO2 yang lebih tinggi atau lebih rendah).
KOMPLIKASI

 STATUS ASMATIKUS
 ATELEKTASIS
 HIPOKSEMIA
 PNEUMOTHORAKS
 EMFISEMA