Anda di halaman 1dari 42

SURVEILAN EPIDEMIOLOGI

Oleh :
Defi Kristina Sari, SST., M.Kes
PENGERTIAN
• Menurut WHO surveilans adalah Suatu proses
pengumpulan, pengolahan, analisis dan
interpretasi data kesehatan secara sistematis,
terus menerus dan penyebarluasan informasi
kepada pihak terkait untuk melakukan
tindakan
Jadi, surveilans epidemiologi
• Merupakan kegiatan pengamatan terhadap penyakit
atau masalah kesehatan serta faktor determinannya.
• Penyakit dapat dilihat dari perubahan sifat penyakit
atau perubahan jumlah orang yang menderita sakit.
• Sakit dapat berarti kondisi tanpa gejala tetapi telah
terpapar oleh kuman atau agen lain, misalnya orang
terpapar HIV, terpapar logam berat, radiasi dsb.
• Sementara masalah kesehatan adalah masalah yang
berhubungan dengan program kesehatan lain, misalnya
Kesehatan Ibu dan Anak, status gizi, dsb.
• Faktor determinan adalah kondisi yang mempengaruhi
resiko terjadinya penyakit atau masalah kesehatan
Lanjutan …
• Merupakan kegiatannya yang dilakukan secara
sistematis dan terus menerus.
• Sistematis melalui proses pengumpulan,
pengolahan data dan penyebaran informasi
epidemiologi sesuai dengan kaidah-kaidah
tertentu, sementara terus menerus menunjukkan
bahwa kegiatan surveilans epidemiologi
dilakukan setiap saat sehingga program atau unit
yang mendapat dukungan surveilans
epidemiologi mendapat informasi epidemiologi
secara terus menerus juga
RUANG LINGKUP PENYELENGGARAAN SISTEM SURVEILANS
EPIDEMIOLOGI KESEHATAN

1. Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular


• Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit menular dan
faktor resiko untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit menular.
2. Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular
• Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit tidak menular
dan faktor resiko untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit tidak menular.
3. Surveilans Epidemiologi Kesehatan Lingkungan dan Perilaku
• Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit dan faktor
resiko untuk mendukung program penyehatan lingkungan.
4. Surveilans Epidemiologi Masalah Kesehatan
• Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap masalah kesehatan
dan faktor resiko untuk mendukung program-program kesehatan tertentu.
5. Surveilans Epidemiologi Kesehatan Matra
• Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap masalah kesehatan
dan faktor resiko untuk upaya mendukung program kesehatan matra
TUJUAN
• Memprediksi dan mendeteksi dini epidemi (outbreak)
• Memonitor, mengevaluasi, dan memperbaiki program
pencegahan dan pengendalian penyakit,
• Memasok informasi utk penentuan prioritas,
pengambilan kebijakan, perencanaan, implementasi
dan alokasi sumber daya kesehatan.
• Monitoring kecenderungan (Tren) penyakit endemis
dan mengestimasi dampak penyakit di masa
mendatang.
• Mengidentifikasi kebutuhan riset dan investigasi lebih
lanjut
LINGKUP
• Epidemic
• Penyakit infeksi (Penyakit Menular)
• Penyakit Tidak Menular
• Health Services Problem.
• Population Problem.
KEGUNAAN & MANFAAT :
• Mempelajari pola kejadian penyakit dan penyakit
potensial pada populasi sehingga dapat efektif
dalam investigasi, controling dan pencegahan
penyakit di populasi
• Mempelajari riwayat alamiah penyakit, spektrum
klinik dan epidemiologi penyakit (siapa, kapan
dan dimana terjadinya, serta keterpaparan faktor
resiko)
• Menyediakan basis data yang dapat digunakan
untuk memperkirakan tindakan pencegahan dan
kontrol dalam pengembangan dan pelaksanaan
Pada umumnya surveilans epidemiologi menghasilkan
informasi epidemiologi yang akan dimanfaatkan dalam :

1. Merumuskan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian,


pemantauan dan evaluasi program pemberantasan
penyakit serta program peningkatan derajat kesehatan
masyarakat, baik pada upaya pemberantasan penyakit
menular, penyakit tidak menular, kesehatan lingkungan,
perilaku kesehatan dan program kesehatan lainnya.
2. Melaksanakan sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa
penyakit dan keracunan serta bencana.
3. Merencanakan studi epidemiologi, penelitian dan
pengembangan program Surveilans epidemiologi juga
dimanfaatkan di rumah sakit, misalnya surveilans
epidemiologi infeksi nosokomial, perencanaan di rumah
sakit dsb
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka kegiatan surveilans epidemiologi
dapat diarahkan pada tujuan-tujuan yang lebih khusus, antara lain :

• Untuk menentukan kelompok atau golongan populasi yang


mempunyai resiko terbesar untuk terserang penyakit, baik
berdasarkan umur, jenis kelamin, pekerjaan, dan lain–lain
• Untuk menentukan jenis dari agent (penyebab) penyakit dan
karakteristiknya
• Untuk memastikan keadaan–keadaan yang menyebabkan bisa
berlangsungnya transmisi penyakit.
• Untuk mencatat kejadian penyakit secara keseluruhan
• Memastikan sifat dasar dari wabah tersebut, sumber dan cara
penularannya, distribusinya, dsb
KEGIATAN RUTIN UNIT SURVEILANS :
a) Melaksanakan kegiatan surveilans
• Pengumpulan data
• Pengolahan dan penyajian
• Analisis dan interpretasi
• Penyebarluasan informasi dan rekomendasi
b) Penanggulangan KLB :
• SKD KLB
• Penyelidikan dan penanggulangan KLB
c) Pengembangan sistem surveilans termasuk pengembangan
jaringan informasi
d) Koordinasi kegiatan surveilans : lintas program dan lintas
sektoral
JENIS SURVEILANS :
a) Surveilans aktif
• Pengamatan kasus dilakukan secara langsung ke
lapangan.
• Hasil yang diperoleh lengkap dan jauh lebih
baik
• Dibutuhkannya dana dan tenaga khusus.
b) Surveilans pasif
• Pengamatan kasus dilakukan secara tidak
langsung, yaitu melalui laporan.
• Hasil yang diperoleh kurang lengkap
ALASAN DILAKSANAKAN SURVEILANS :
• Beban penyakit (burden of disease) tinggi,
sehingga merupakan masalah penting
kesehatan masyarakat.
• Terdapat tindakan kesehatan masyarakat yang
dapat dilakukan untuk mengatasi masalah
tersebut.
• Data relevan mudah diperoleh
• Hasil yang diperoleh sepadan dengan upaya
yang dilakukan (pertimbangan efisien)
LANGKAH-LANGKAH PENGEMBANGAN SURVEILANS
EPIDEMIOLOGI BERBASIS MASYARAKAT

• Meskipun di lapangan banyak variasi


pelaksanaannya, namun secara garis besarnya
langkah-langkah pokok yang perlu ditempuh
adalah dengan melakukan persiapan internal
dan persiapan eksternal
A. PERSIAPAN

1. Persiapan Internal
• Hal-hal yang perlu disiapkan meliputi seluruh
sumber daya termasuk petugas kesehatan,
pedoman/petunjuk teknis, sarana dan
prasarana pendukung dan biaya pelaksanaan
1. Persiapan Internal
a. Petugas Surveilans
• Untuk kelancaran kegiatan surveilans di desa siaga sangat
dibutuhkan tenaga kesehatan yang mengerti dan
memahami kegiatan surveilans.
• Petugas seyogyanya disiapkan dari tingkat Kabupaten/Kota,
tingkat Puskesmas sampai di tingkat Desa/Kelurahan.
• Untuk menyamakan persepsi dan tingkat pemahaman
tentang surveilans sangat diperlukan pelatihan surveilans
bagi petugas
• Untuk keperluan respon cepat terhadap kemungkinan
ancaman adanya KLB, di setiap unit pelaksana (Puskesmas,
Kabupaten dan Propinsi) perlu dibentuk Tim Gerak Cepat
(TGC) KLB.
• Tim ini bertanggung jawab merespon secara cepat dan
tepat terhadap adanya ancaman KLB yang dilaporkan oleh
masyarakat
1. Persiapan Internal

b. Pedoman/Petunjuk Teknis
• Sebagai panduan kegiatan maka petugas kesehatan sangat
perlu dibekali buku-buku pedoman atau petunjuk teknis
surveilans.
c. Sarana & Prasarana
• Dukungan sarana & prasarana sangat diperlukan untuk
kegiatan surveilans seperti : kendaraan bermotor, alat
pelindung diri (APD), surveilans KIT, dll.
d. Biaya
• Sangat diperlukan untuk kelancaran kegiatan surveilans.
Biaya diperlukan untuk bantuan transport petugas ke
lapangan, pengadaan alat tulis untuk keperluan pengolahan
dan analisa data, serta jika dianggap perlu untuk insentif
bagi kader surveilans
2. Persiapan Eksternal
• Tujuan langkah ini adalah untuk mempersiapkan masyarakat,
terutama tokoh masyarakat, agar mereka tahu, mau dan mampu
mendukung pengembangan kegiatan surveilans berbasis
masyarakat.
• Pendekatan kepada para tokoh masyarakat diharapkan agar mereka
memahami dan mendukung dalam pembentukan opini publik untuk
menciptakan iklim yang kondusif bagi kegiatan surveilans di desa
siaga.
• Dukungan yang diharapkan dapat berupa moril, finansial dan
material, seperti kesepakatan dan persetujuan masyarakat untuk
kegiatan surveilans.
• Langkah ini termasuk kegiatan advokasi kepada para penentu
kebijakan, agar mereka mau memberikan dukungan.
• Jika di desa tersebut terdapat kelompok-kelompok sosial seperti
karang taruna, pramuka dan LSM dapat diajak untuk menjadi kader
bagi kegiatan surveilans di desa tersebut
3. Survei Mawas Diri atau Telaah Mawas Diri

• Survei mawas diri (SMD) bertujuan agar masyarakat dengan


bimbingan petugas mampu mengidentifikasi penyakit dan
masalah kesehatan yang menjadi problem di desanya.
• SMD ini harus dilakukan oleh masyarakat setempat dengan
bimbingan petugas kesehatan.
• Melalui SMD ini diharapkan masyarakat sadar akan adanya
masalah kesehatan dan ancaman penyakit yang dihadapi di
desanya, dan dapat membangkitkan niat dan tekad untuk
mencari solusinya berdasarkan kesepakatan dan potensi
yang dimiliki.
• nformasi tentang situasi penyakit/ancaman penyakit dan
permasalah kesehatan yang diperoleh dari hasil SMD
merupakan informasi untuk memilih jenis surveilans
penyakit dan faktor risiko yang diselenggarakan di desa
tersebut
4. Pembentukan Kelompok Kerja Surveilans Tingkat Desa

• Kelompok kerja surveilans desa bertugas melaksanakan


pengamatan dan pemantauan setiap saat secara terus
menerus terhadap situasi penyakit di masyarakat dan
kemungkinan adanya ancaman KLB penyakit, untuk
kemudian melaporkannya kepada petugas kesehatan di
Poskesdes.
• Anggota Tim Surveilans Desa dapat berasal dari kader
Posyandu, Juru pemantau jentik (Jumantik) desa,
Karang Taruna, Pramuka, Kelompok pengajian,
Kelompok peminat kesenian, dan lain-lain.
• Kelompok ini dapat dibentuk melalui Musyawarah
Masyarakat Desa
5. Membuat Perencanaan Kegiatan Surveilans

• Setelah kelompok kerja Surveilans terbentuk, maka


tahap selanjutnya adalah membuat perencanaan
kegiatan, meliputi :
– Rencana Pelatihan Kelompok Kerja Surveilans oleh petugas
kesehatan
– Penentuan jenis surveilans penyakit dan faktor risiko yang
dipantau.
– Lokasi pengamatan dan pemantauan
– Frekuensi Pemantauan
– Pembagian tugas/penetapan penanggung jawab lokasi
pemamtauan
– Waktu pemantauan
– Rencana Sosialisasi kepada warga masyarakat
B. Tahap pelaksanaan
1. Pelaksanaan Surveilans di Tingkat Desa
a. Pelaksanaan Surveilans oleh Kelompok Kerja
Surveilans Desa.
• Surveilans penyakit di tingkat desa dilaksanakan oleh
kelompok kerja surveilans tingkat desa, dengan melakukan
kegiatan pengamatan dan pemantauan situasi
penyakit/kesehatan masyarakat desa dan kemungkinan
ancaman terjadinya KLB secara terus menerus.
• Pemantauan tidak hanya sebatas penyakit tetapi juga
dilakukan terhadap faktor risiko munculnya suatu penyakit.
Pengamatan dan pemantauan suatu penyakit di suatu desa
mungkin berbeda jenisnya dengan pemantauan dan
pengamatan di desa lain.
• Hal ini sangat tergantung dari kondisi penyakit yang sering
terjadi dan menjadi ancaman di masing-masing desa
a. Pelaksanaan Surveilans oleh Kelompok Kerja

• Hasil pengamatan dan pemantauan dilaporkan secara


berkala sesuai kesepakatan (per minggu/ per bulan/
bahkan setiap saat) ke petugas kesehatan di Poskesdes.
Informasi yang disampaikan berupa informasi :
• 1). Nama Penderita
• 2). Penyakit yang dialami/ gejala
• 3). Alamat tinggal
• 3). Umur
• 4). Jenis Kelamin
• 5). Kondisi lingkungan tempat tinggal penderita, dll
b.Pelaksanaan Surveilans oleh Petugas Surveilans Poskesdes

• Kegiatan surveilans di tingkat desa tidak lepas


dari peran aktif petugas petugas
kesehatan/surveilans Poskesdes.
• Kegiatan surveilans yang dilakukan oleh
petugas kesehatan di Poskesdes adalah :
1. Melakukan pengumpulan data penyakit dari
hasil kunjungan pasien dan dari laporan warga
masyarakat
b.Pelaksanaan Surveilans oleh Petugas Surveilans Poskesdes

2. Membuat Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) dengan menggunakan


data laporan tersebut diatas dalam bentuk data mingguan. Melalui PWS
akan terlihat kecenderungan peningkatan suatu penyakit. PWS dibuat
untuk jenis penyakit Potensial KLB seperti DBD, Campak, Diare, Malaria, dll
serta jenis penyakit lain yang sering terjadi di masyarakat desa setempat.
• PWS merupakan bagian dari sistem kewaspadaan dini KLB yang
dilaksanakannoleh Poskesdes.
• Setiap desa/kelurahan memiliki beberapa penyakit potensial KLB
yang perlu diwaspadai dan dideteksi dini apabila terjadi.
• Sikap waspada terhadap penyakit potensial KLB ini juga diikuti
dengan sikap siaga tim profesional, logistik dan tatacara
penanggulangannya, termasuk sarana administrasi, transportasi dan
komunikasi.
• Contoh PWS Penyakit Diare dari data mingguan
b.Pelaksanaan Surveilans oleh Petugas Surveilans Poskesdes

3. Menyampaikan laporan data penyakit secara berkala


ke Puskesmas (mingguan/bulanan).
4. Membuat peta penyebaran penyakit. Melalui peta ini
akan diketahui lokasi penyebaran suatu penyakit
yang dapat menjadi focus area intervensi.
5. Memberikan informasi/rekomendasi secara berkala
kepada kepala desa tentang situasi penyakit
desa/kesehatan warga desa atau pada saat
pertemuan musyawarah masyarakat desa untuk
mendapatkan solusi permasalah terhadap upaya-
upaya pencegahan penyakit
b.Pelaksanaan Surveilans oleh Petugas Surveilans Poskesdes

6. Memberikan respon cepat terhadap adanya KLB atau


ancaman akan terjadinya KLB. Respon cepat berupa
penyelidikan epidemiologi/investigasi bersama-sama
dengan Tim Gerak Cepat Puskesmas.
7. Bersama masyarakat secara berkala dan terjadwal
melakukan upaya-upaya pencegahan dan
penanggulangan penyakit
2. Pelaksanaan Surveilans di Tingkat Puskesmas

• Kegiatan surveilans di tingkat Puskesmas dilaksanakan


oleh petugas surveilans puskesmas dengan serangkaian
kegiatan berupa pengumpulan data, pengolahan,
analisis dan interpretasi data penyakit, yang
dikumpulkan dari setiap desa siaga. Petugas surveilans
puskesmas diharuskan:
1. Membangun sistem kewaspadaan dini penyakit,
diantaranya melakukan Pemantauan Wilayah Setempat
dengan laporan mingguan) Melalui PWS ini diharapkan
akan terlihat bagaimana perkembangan kasus penyakit
setiap saat
2. Pelaksanaan Surveilans di Tingkat Puskesmas

2. Membuat peta daerah rawan penyakit.


Melalui peta ini akan terlihat daerah-daerah
yang mempunyai risiko terhadap muncul dan
berkembangnya suatu penyakit. Sehingga
secara tajam intervensi program diarahkan ke
lokasi-lokasi berisiko.
3. Membangun kerjasama dengan program dan
sektor terkait untuk memecahkan kan
permasalah penyakit di wilayahnya
2. Pelaksanaan Surveilans di Tingkat Puskesmas

4. Bersama Tim Gerak Cepat (TGC) KLB Puskesmas,


melakukan respon cepat jika terdapat laporan
adanya KLB/ancaman KLB penyakit di wilayahnya.
5. Melakukan pembinaan/asistensi teknis kegiatan
surveilans secara berkala kepada petugas di
Poskesdes.
6. Melaporkan kegiatan surveilans ke Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota secara berkala
(mingguan/bulanan/tahunan)
PENYELIDIKAN KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)

A. Pengertian Wabah/ KLB serta Kriteria KLB


1. Wabah
• Wabah penyakit menular adalah kejadian berjangkitnya
suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah
penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada
keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta
dapat menimbulkan mala petaka (UU No.4, 1984).
• Menteri menetapkan jenis-jenis penyakit tertentu yang
dapat menimbulkan wabah.
• Menteri menetapkan dan mencabut penetapan daerah
tertentu dalam wilayah Indonesia yang terjangkit wabah
sebagai daerah wabah
PENYELIDIKAN KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)

2. KLB
• KLB adalah timbulnya atau meningkatnya
kejadian kesakitan/kematian yang bermakna
secara epidemiologi pada suatu daerah dalam
kurun waktu tertentu (Peraturan Menteri
Kesehatan RI, Nomor 560/ Menkes/ Per/ VIII/
1989).
• KLB penyakit menular merupakan indikasi
ditetapkannya suatu daerah menjadi suatu
wabah, atau dapat berkembang menjadi suatu
wabah
PENYELIDIKAN KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)

3. Kriteria Kerja KLB


• Kepala wilayah/daerah setempat yang
mengetahui adanya tersangka wabah (KLB
penyakit menular) di wilayahnya atau tersangka
penderita penyakit menular yang dapat
menimbulkan wabah, wajib segera melakukan
tindakan-tindakan penanggulangan seperlunya,
dengan bantuan unit kesehatan setempat, agar
tidak berkembang menjadi wabah (UU 4, 1984
dan Permenkes 560/Menkes/Per/VIII/1989)
PENYELIDIKAN KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)
4. Suatu kejadian penyakit atau keracunan dapat dikatakan
KLB apabila memenuhi kriteria sbb:
• Timbulnya suatu penyakit/ menular yang sebelumnya tidak
ada/ tidak dikenal.
• Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus menerus
selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis
penyakitnya (jam, hari, minggu), seperti contoh berikut:
• Peningkatan kejadian penyakit/kematian, 2 kali atau lebih
dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, minggu,
bulan, tahun).
• Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan
kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka
rata-rata per bulan dalam tahun sebelumnya.
• Angka rata-rata perbulan selama satu tahun menunjukkan
kenaikan dua kali lipat atau lebih dibanding dengan angka
rata-rata per bulan dari tahun sebelumnya
B. Penyakit-penyakit Menular yang Berpotensi Wabah/KLB

• Penyakit-penyakit menular yang wajib dilaporkan adalah


penyakit-penyakit yang memerlukan kewaspadaan ketat
yang merupakan penyakit-penyakit wabah atau yang
berpotensi wabah atau yang dapat menimbulkan kejadian
luar biasa (KLB).
• Penyakit-penyakit menular dikelompokkan sebagai berikut:
1. Penyakit karantina atau penyakit wabah penting antara
lain adalah:
• DHF
• Campak
• Rabies
• Tetanus Neonatorum
• Diare
• Pertusis
• Polio
B. Penyakit-penyakit Menular yang Berpotensi Wabah/KLB

2. Penyakit potensi wabah/KLB yang menjalar dalam waktu cepat atau


mempunyai mortalitas tinggi, dan penyakit yang telah masuk
program eradikasi/ eliminasi dan memerlukan tindakan segera:
• • Malaria
• • Influenza
• • Anthrax
• • Hepatitis
• • Typhus abdominalis
• • Meningitis
• • Keracunan
• • Encephalitis
• • Tetanus
B. Penyakit-penyakit Menular yang Berpotensi Wabah/KLB

3. Penyakit-penyakit potensial wabah/KLB lainnya dan


beberapa penyakit penting.
4. Penyakit-penyakit menular yang tidak berpotensi
menimbulkan wabah dan KLB tetapi diprogramkan,
ditingkat kecamatan dilaporkan secara bulanan melalui
RR terpadu Puskesmas ke Kabupaten, dan seterusnya
secara berjenjang sampai ke tingkat pusat. Penyakit-
penyakit tersebut meliputi : Cacing, Lepra, Tuberculosa,
Syphilis, Gonorhoe, Filariasis & AIDS, dll. Sehingga
petugas Poskesdes diharapkan melaporkan kejadian-
kejadian penyakit ini ke tingkat Kecamatan/Puskesmas
juga.
B. Penyakit-penyakit Menular yang Berpotensi Wabah/KLB

• Dari penyakit-penyakit diatas, pada keadaan tidak ada


wabah/KLB secara rutin hanya yang termasuk
kelompok 1 dan kelompok 2 yang perlu dilaporkan
secara mingguan. Bagi penyakit kelompok 3 dan
kelompok 4 bersama-sama penyakit kelompok 1 dan 2
secara rutin dilaporkan bulanan ke Puskesmas.
• Jika peristiwa KLB atau wabah dari penyakit yang
bersangkutan sudah berhenti (incidence penyakit
sudah kembali pada keadaan normal), maka penyakit
tersebut tidak perlu dilaporkan secara mingguan lagi.
Sementara itu, laporan penyakit setiap bulan perlu
dilaporkan ke Puskesmas oleh Bidan desa/petugas di
Poskesdes
C. Laporan Kewaspadaan (dilaporkan dalam 24 jam)

• Laporan kewaspadaan adalah laporan adanya


penderita, atau tersangka penderita penyakit yang
dapat menimbulkan wabah. Yang diharuskan
menyampaikan laporan kewaspadaan adalah:
• Orang tua penderita atau tersangka penderita, orang
dewasa yang tinggal serumah dengan penderita atau
tersangka penderita, Kepala Keluarga, Ketua RT, RW,
Kepala Desa.
• Dokter, petugas kesehatan yang memeriksa
penderita, dokter hewan yang memeriksa hewan
tersangka penderita
C. Laporan Kewaspadaan (dilaporkan dalam 24 jam)

• Laporan kewaspadaan disampaikan kepada Lurah atau Kepala Desa


dan atau Poskesdes/unit pelayanan kesehatan terdekat selambat-
lambatnya 24 jam sejak mengetahui adanya penderita atau
tersangka penderita atau tersangka penderita (KLB), baik dengan
cara lisan maupun tertulis. Kemudian laporan kewaspadaan
tersebut harus diteruskan kepada Poskesdes untuk diteruskan ke
Puskesmas setempat.
• Isi laporan kewaspadaan antara lain:
1. Nama atau nama-nama penderita atau yang meninggal
2. Golongan Umur
3. Tempat dan alamat kejadian
4. Waktu kejadian
5. Jumlah yang sakit dan meninggal
C. Laporan Kewaspadaan (dilaporkan dalam 24 jam)

• Diharapkan setelah adanya laporan kewaspadaan dari desa


ke Puskesmas maka pihak Puskesmas dapat segera
merespon dengan melaporkan ke Dinkes Kabupaten/Kota
dengan menggunakan format W1 (laporan KLB) selama
kurang dari 24 jam dan ditindaklanjuti dengan melakukan
penyelidikan epidemiologi.
• Penyelidikan Epidemiologi dapat dilakukan oleh Tim Gerak
Cepat (TGC) Puskesmas bekerjasama TGC Desa dan TGC
Kabupaten.
• Bersamaan Penyelidikan Epidemiologi dilakukan juga
upaya-upaya penanggulangan dengan melibatkan
masyarakat setempat
TERIMA KASIH ....