Anda di halaman 1dari 28

OLEH : AL MURHAN, M.

Kes
 Latar Belakang

Infeksi Rumah Sakit (IRS) atau Healthcare


Associated Infection (HAIs) adalah infeksi
yang terjadi pada pasien selama perawatan di
rumah sakit atau fasilitas pelayanan
kesehatan lain, yang tidak ditemukan dan
tidak dalam masa inkubasi saat pasien masuk
rumah sakit.
Infeksi Rumah Sakit (IRS) merupakan masalah penting
di seluruh dunia yang terus meningkat merupakan
masalah utama bagi semua rumah sakit. Dampak
yang ditimbulkan meningkatkan lama masa rawat,
angka kematian, biaya perawatan, dan pengobatan
membebani rumah sakit maupun pasien. Pencegahan
dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit (PPIRS)
merupakan suatu upaya penting dalam meningkatkan
mutu pelayanan di rumah sakit. Hal ini hanya dapat
dicapai dengan keterlibatan secara aktif semua
personil rumah sakit, mulai dari petugas kebersihan
sampai dengan dokter dan mulai dari perkarya
sampai dengan jajaran direksi. Kegiatan tersebut
dilakukan secara baik dan benar di semua sarana
rumah sakit: peralatan medis dan non medis, ruang
perawatan dan prosedur serta lingkungan.
Terjadinya infeksi rumah sakit dipengaruhi oleh
beberapa faktor, antara lain :
 Banyaknya pasien yang dirawat yang menjadi
sumber infeksi bagi lingkungan dan pasien
lainnya.
 Interaksi antara petugas, pasien dan pengunjung
yang menjadi sumber infeksi.
 Kontak langsung antara petugas rumah sakit
yang tercemar bakteri atau cairan dari tubuh
pasien.
 Penggunaan alat/ peralatan medis yang tercemar
oleh bakteri.
 Kondisi pasien yang lemah akibat penyakit yang
dideritanya.
Infeksi nosokomial atau yang sekarang
disebut sebagai infeksi berkaitan dengan
pelayanan di fasilitas pelayanan kesehatan
atau Healthcare Associated Infection (HAIs)
dan infeksi yang di dapat dari pekerjaan
merupakan masalah penting di seluruh dunia
yang terus meningkat (Alvarado, 2000).
Kewaspadaan Standar atau Standard Precaution
disusun oleh CDC tahun 1996 dengan menyatukan
Universal Precaution (UP) atau Kewaspadaan terhadap
darah dan cairan tubuh yang telah dibuat tahun 1985
untuk mengurangi risiko terinfeksi patogen yang
berbahaya melalui darah dan cairan tubuh lainnya
dan Body Substance Isolation (BSI) atau isolasi
terhadap cairan tubuh yang dibuat 1987 untuk
mengurangi risiko penularan patogen yang berada
dalam bahan yang berasal dari tubuh pasien
terinfeksi. Pedoman Kewaspadaan Isolasi dan
pencegahan transmisi penyebab infeksi di sarana
kesehatan diluncurkan Juni tahun 2007 oleh CDS dan
HICPAC, dengan penambahan istilah HAIs (Healthcare
Associated Infection) menggantikan istilah infeksi
nosokomial, higiene respirasi/ etika batuk, praktek
menyuntik yang aman dan pencegahan infeksi pada
prosedur lumbal pungsi.
 Kewaspadaan Standar untuk pelayanan semua pasien.
Kategori I meliputi:
1. Kebersihan Tangan/ Hand hygiene
2. Alat Pelindung Diri (APD) : sarung tangan, masker,
goggle (kaca mata pelindung), face shield
(pelindung wajah) dan gaun
3. Peralatan perawatan pasien
4. Pengendalian lingkungan
5. Pemrosesan peralatan pasien dan penatalaksanaan
linen
6. Kesehatan karyawan/ perlindungan petugas
kesehatan
7. Penempatan pasien
8. Hygiene respirasi/ etika batuk
9. Praktek menyuntik yang aman
10. Praktek untuk lumbal pungsi
 Mencuci tangan adalah menggosok air dgn sabun scr
bersama sama seluruh kulit permukaan tangan dgn
kuat dan ringkas kemudian dibilas di bawah air
mengalir (Larsan, 1995)
 Mencuci tangan asepteik/antiseptik adalah proses yg
secara mekanik melepaskan kotoran dan debris dari
kulit tangan dgn menggosok air dan sabun antiseptik
yg mengandung chlorheksidin di aplikasikan ke
seluruh kulit permkaan tangan dgn kuat dan ringkas
kemudian dibilas di bawah air mengalir, untuk
menghambat dan membunuh mikroarganisme
 Antisseptik Handrub bereaksi cepat menghilangkan
sementara atau mengurangi mikroorganisme
penghuni tetap dan melindungi kulit tanpa
menggunakan air
 Perawat
 Bidan
 Dokter
 Pos/Pekarya
 Terapis Tehnisi
 Petugas lab
 Petugas gizi
 Mahasiswa
 CS/OB/OG
 Pengunjung, Keluarga, dll
1. Sebelum kontak dgn pasien
2. Setelah kontak dengan pasien
3. Sebelum tindakan invasif
4. Setelah kontak dgn cairan tubuh
5. Setelah kontak dengan lingkunan sekitar
pasien
1. Sarung Tangan
 Pakai bila mungkin terkontaminasi cairan
tubuh
 Pakai sesuai ukuran
 Pakai sarung tangan sekali pakai
 Jgn memakai sarung tangan 1 pasang untuk
pasien berbeda
 Lepaskan sarung tangan segera setelah
selesai
2. Masker/Goggle
 Pakailah untuk melindungi Konjungtiva,
mukus, membran mata, hidung, mulut
selama melakukan prosedur
 Pilih sesuai tindakan yg dikerjakan
 Masker bedah dapat dipakai secara umum
 Pakai selama tindakan
 Jangan mengalungkan masker di lehar
3. Gaun/Apron
 Kenakan Gaun bersih untuk melindungi kulit
 Pilih yg sesuai dgn bahan gaun dgn tindakan
 Kenakan saat merawat pasien infeksi
 Jangan memakai gaun pakai ulang walaupun
untuk pasien yg sama
 Lepaskan gaun segera dan cuci tangan
4. Sepatu Pelindung
 Digunakan jika ada resiko tertumpah cairan
tubuh
 Digunakan untuk melindung kaki dari cedera
5. Topi/Pelindung Kepala
 Digunakan untuk menutup rambut dan kulit
kepala, ehingga serpihan rambut dan kulit
kepala tidak masuk ke dalam luka setelah
pembedahan
 Untuk melindungi pemakainya dari darah
atau cairan tubuh yg terpercik
 Jenis kewaspadaan berdasarkan transmisi :
1. AIRBONE PRECAUTIONS (KEWASPADAAN
PENULARAN LEWAT UDARA)
2. DROPLET PRECAUTIONS (KEWASPADAAN
PENULARAN LEWAT DROPLET)
3. CONTANT PRECAUTIONS (KEWASPADAAN
PENULARAN LEWAT KONTAK)
4. MELALUI COMMON VEHICLE (MAKANAN,
AIR, OBAT, ALAT, PERALATAN)
5. MELALUI VECTOR (LALAT, NYAMUK, TIKUS).
1. Mengenakan apron lengan panjang
2. Mengenakan masker surgical
3. Mengenakan kacamata atau pelindung
wajah
4. Mengenakan sarung tangan non steril
1. Mengenakan alat pelindung kaki
2. Mengenakan apron lengan panjang
3. Mengenakan masker surgical/N95
4. Memakai penuutup kepala
5. Mengenakan kacamata atau pelindung
wajah
6. Mengenakan sarung tangan
1. Melepas sarung tangn
2. Melepas gaun pelindung
3. Melepas penutup kepala
4. Melepas kaca mata
5. Lepaskan masker
6. Melepaskan sepatu boot
7. Kebersihan tangan
 Bila Anda merasa akan batuk atau bersin,
segeralah berpaling/menjauh sedikit dari orang-
orang disekitar Anda;
 Kemudian tutuplah hidung dan mulut anda
dengan menggunaka tissue/saputangan atau
lengan dalam baju anda;
 Segera buang tissue yang sudah dipakai ke
dalam tempat sampah;
 Cucilah tangan dengan menggunakan air bersih
dan sabun atau gel pembersih tangan; dan
 Bila perlu gunakan masker.
SAMPAH NON MEDIS (DOMESTIK)
KANTONG PLASTIK HITAM
 Kertas, Plastik, Plastik Bungkus Spuit/ Infus,
Kardus, Kayu, Kaleng, Daun, Sisa Makanan.

Sampah yang tidak terkontaminasi dengan cairan


tubuh pasien
selang Infus, Kateter Urine, Kantong Urine,
Popok Disposeble, Kasa, Perban, Masker,
Sarung TANGAN, Pembalut Kewanitaan,
Kapas Cebok, Lidi Kapas, Depper, Kapas
Akohol.
Sampah yang terkontaminasi dengan cairan
tubuh pasien
 Plabot, Flacon, Botol, Gelas, Topeles

Sampah wadah plastik/ beling yang tidak


terkontaminasi dengan cairan tubuh pasien