Anda di halaman 1dari 31

OPTIK NEURITIS DAN

GLAUKOMA

Disusun oleh :
Nama : Karel Respati
NIM : 2011730144
Pembimbing: dr. Mega Prayoga, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT


MATA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANJAR
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2019
DEFINISI NEURITIS
OPTIK

Neuritis optik adalah


peradangan atau demielinisasi
saraf optik akibat berbagai
macam penyakit.
ETIOLOGI
• Uveitis.
• Penyakit sinus dan infeksi orbita.
• Multiplel sklerosis
KLASIFIKASI

Papilitis Retrobulbar

• Pembengkakan • Peradangan
diskus yang saraf optik yang
disebabkan oleh terdapat
peradangan dibelakang bola
lokal di nervus mata sehingga
saraf optik dan tidak
dapat terlihat menimbulkan
dengan kelainan fundus
pemeriksaan mata.
funduskopi.
Manifestasi
Klinis
Papilitis Retrobulbar
• Visus sangat menurun dalam • Visus sangat terganggu dan
waktu yang cepat, kadang- disertai dengan amaurosis
kadang sampai buta. fugax (bola mata bila
• Rasa sakit dimata terutama digerakkan akan terasa berat
saat penekanan. dibagian belakang bola mata)
• Dapat disertai demam atau • Rasa sakit akan bertambah bila
setelah demam biasanya pada bola mata ditekan yang disertai
anak yang menderita infeksi dengan sakit kepala.
virus atau infeksi saluran napas • Pada neuritis gambaran fundus
bagian atas. normal pada awal, namun lama
• Pada pemeriksaan pupil ditemui kelamaan akan terlihat
adanya RAPD yaitu kelainan kekaburan batas papil saraf
pupil yang sering dijumpai optik dan degenerasi saraf
dengan adanya tanda pupil optik.
Marcus Gunn.
• Gangguan lapang pandang
DIAGNOSA
Anamnesa
• Penglihatan turun mendadak dalam beberapa jam
sampai hari yang mengenai satu atau kedua mata.
• Penglihatan warna terganggu.
• Rasa sakit bila mata bergerak dan ditekan
• Adanya defek lapang pandang.
• Pasien mengeluh penglihatan menurun setelah olahraga
atau suhu tubuh naik (tanda Uhthoff).
• Beberapa pasien mengeluh objek yang bergerak lurus
terlihat mempunyai lintasan melengkung (Pulfrich
phenomenon)
• Riwayat Pasien dengan sklerosis multipel
DIAGNOSA
Pemeriksaan Ophthalmologi
Pemeriksaan visus
Didapatkan penurunan visus yang bervariasi mulai
dari ringan sampai kehilangan total penglihatan.
Pemeriksaan segmen anterior
Pada pemeriksaan segmen anterior, palpebra,
konjungtiva, maupun kornea dalam keadaan wajar.
Refleks pupil menurun pada mata yang terkena dan
defek pupil aferen relatif atau Marcus Gunn pupil
umumnya ditemukan. Pada kasus yang bilateral, defek
ini bisa tidak ditemukan.
DIAGNOSA
Pemeriksaan segmen posterior
• Pada neuritis optik akut sebanyak dua pertiga dari
kasus merupakan bentuk retrobulbar, maka papil tampak
normal, dengan berjalannya waktu, nervus optikus dapat
menjadi pucat akibat atrofi.
• Pada kasus neuritis optik bentuk papilitis akan tampak
edema diskus yang hiperemis dan difus, dengan
perubahan pada pembuluh darah retina, arteri menciut
dan vena melebar.
DIAGNOSA
Pemeriksaan Tambahan
• Tes konfrontasi

• Tes ishihara untuk melihat adanya penglihatan

warna yang terganggu, umumnya warna merah


yang terganggu.
Pemeriksaan Penunjang
• Magnetic Resonance Imaging (MRI)

• Pemeriksaan cairan serebrospinal

• Pemeriksaan darah
PENATALAKSANAAN
• Prednison oral 1 mg/kgBB/hari selama 14 hari,
kemudian dilakukan penurunan dosis setiap
minggunya.
Atau
• Injeksi metilprednisolon 4x250 mg selama 3 hari,
diikuti dengan metilprednisolon oral 1 mg/kgBB/hari
dan penurunan dosis setiap minggu.
GLAUKOMA
• Suatu optik neuropati yang biasanya ditandai dengan
gejala penurunan lapang pandang dengan faktor
risiko yang paling banyak tekanan intraokular yang
tinggi (TIO > 21).
GLAUKOMA

⇓ eksresi
aquos humor.


TIO

⇑ produksi
aquos humor.
FAKTOR RESIKO

Hipertensi/hipotensi
Diabetes mellitus
> 45 tahun
Riwayat glaukoma +
Miopia/hipermetropia
Post OP
Glaukoma Primer Sudut Terbuka
Gejala

 Visus
 Lapang pandang menyempit
 Sefalgia

LAMBAT DAN PERLAHAN


Penatalaksanaan

• TIO > 21 mmHg : pilokarpin 2%


• Tidak ada perbaikan 
• Timolol
• Asetazolamid
• Epinefrin

• Trabekulektomi
Glaukoma Primer Sudut Tertutup
Gejala

 Visus cepat 
 Nyeri orbita

 Sefalgia

 Nause, vomitus

 Halo
Penatalaksanaan

• Miotik  pilokaprin 2-4%


• Carbonic anhidrase inhibitor
• Hiperosmotik  gliserin 50%

• Operasi:
• Iridektomi perifer
GLAUKOMA SEKUNDER

• KATARAK IMATUR / IMINENS


• Trauma
• OPERASI
Glaukoma Kongenital

Kanal
Schlemen

Tidak
Saluran terbentuk
Keluar sempurna
cairan
mata
Gejala

• Epifora
• Fotofobia
• Edema kornea
• kornea keruh
Glaukoma absolut

STADIUM
AKHIR

Kebutaan total
Kornea keruh

Bilik mata dangkal

Gejala Atrofi papil

Mata keras

Nyeri
Lapang Pandang

Tonometri
Pemeriksaan

Oftalmoskop

Gonioskopi
Tes air minum

TIO Glauko
diukur ma

MINU
TIO 
M AIR
45
1
menit
LITER
Pressure congestive test

Pasang tensi 50-60 mmHg


 1 menit ukur TIO.

⇑ 9 mmHg

mencurigakan

Ukur TIO
11 mmHg 
glaukoma
Uji Steroid

Dexamethaso
Pemeriksaan TIO
n/Bethameta  Setiap minggu
son 0,1%

GLAUKOM 2 minngu
TIO > 8
A mmHg
Uji Kamar Gelap

Pasien
Glauko
masuk
60-90 Ukur Tio  8 ma
ke
menit TIO mmHg sudut
kamar
tertutup
gelap
DAFTAR PUSTAKA

 Vaughan, Daniel, Taylor Asbury, Paul Riordan.


Oftalmologi Umum. Edisi 14. Jakarta ; Widya
Medika. 2002.
 Ilyas, Sidarta. Penuntun Ilmu Penyakit Mata Edisi
Ketiga. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 2009.
 Ilyas, Sidarta, Muzakkir Tanzil, dkk. Sari Ilmu
Penyakit Mata. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2008.
 Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia.
Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Sagung Seto. 2002.
TERIMA KASIH