Anda di halaman 1dari 46

LAPORAN KASUS

“KATARAK SENIL IMMATUR”

Disusun oleh :

Karel Respati (2011730144)

Pembimbing :
dr. Rety Sugiarti, Sp.M

Kepaniteraan Klinik Stase Ilmu Bedah


Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2018
IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. I
Umur : 62 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
No. Rekam Medik : 28.XX.XX.
Tgl. MRS : 3 Januari 2019
ANAMNESIS

KELUHAN UTAMA

Penglihatan kabur pada kedua mata.


RIWAYAT PENYAKIT
SEKARANG

Pasien datang ke poliklinik mata RSUD Banjar dengan keluhan penglihatan


kedua mata kabur seperti tertutup asap sejak ± 6 bulan yang lalu, awalnya pasien masih
dapat melihat jauh namun lama kelamaan pasien hanya dapat melihat dekat dan
memberat pada 3 bulan sebelum masuk rumah sakit. Pasien juga mengeluhkan sering
merasa silau jika terpapar sinar terang atau sinar matahari di siang hari pada kedua
mata sehingga pasien lebih nyaman ditempat yang sedikit cahaya. Keluhan mata merah
disangkal, nyeri disangkal, mata berair disangkal, gatal disangkal, melihat pelangi disekitar
sumber cahaya disangkal. Riwayat menggunakan kacamata sebelumnya disangkal.
Riwayat trauma pada mata pasien disangkal.
1
Anamnesis
• Riwayat penyakit dahulu
• Pasien baru pertama mengalami keluhan seperti ini
• Riwayat memakai kacamata (-)
• Riwayat hipertensi (-)
• Riwayat diabetes tidak diketahui oleh pasien

• Riwayat Pengobatan OS mengaku


• Belum pernah diobati dan berobat kedokter
Anamnesis
• Riwayat Penyakit Keluarga
• Hipertensi : tidak ada
• Riwayat DM : tid : tidak ada ada

• Riwayat Trauma OS mengaku


• Trauma pada bagian wajah terutama mata pada pasien
disangkal
PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : Tampak baik


Kesadaran : Composmentis

Tanda Vital :
TD= 130/80mmHg RR= 20x/menit
HR= 80x/menit T= 36.8ºC
Status Generalis Internus

Kepala : Normocephal, rambut lurus, tidak mudah dicabut dan


tidak rontok, laserasi (-).
Mata : Refleks cahaya (+/+), pupil isokor, sklera ikterik (-/-),
konjungtiva anemis (-/-), edema palpebra -/-
Hidung : Normonasi, deviasi septum (-), sekret (-/-), darah (-/-),
massa (-/-)
Telinga : Normotia, serumen (-/-), darah (-/-), Pembesaran
KGB retro/post auricular (-/-)
Mulut : bibir tidak sianosis, mukosa tidak pucat.
Leher : Pembesaran KGB (-), Kaku kuduk (-)
Jantung
 I : Ictus Cordis terlihat di linea mid clavicularis
 P : ictus cordis teraba normal di ICS V MCL Sinistra
 P : Batas jantung kanan setiinggi ics 4 linea parasternal dekstra, Batas jantung kiri setinggi ics
4 linea midclavikularis sinistra.
 A : BJ 1 BJ II reguler, murmur (-), galoop (-)
Paru-Paru
 I :Tidak ada dinding torax yang tertinggal
 P : Vocal premitus sama di kedua lapang paru
 P : Sonor di kedua lapang paru
 A : vesikuler dikedua lapang paru
Abdomen
 I : Datar (-), distensi (-)
 A : BU (+)
 P : Timpani di seluruh lapang abdomen
 P : Nyeri tekan (-), Hepatospenomegali (-)
 Ektremitas Atas dan Bawah : Akral hangat ; CRT < 2dt
Foto Klinis Shadow Test

Okuli sinistra
Okuli dextra
STATUS OFTALMOLOGIS

OD OS

Lensa keruh Lensa keruh


sebagian sebagian
No Pemeriksaan OD OS

1 Visus 6/30, PH : 6/20 3/60

2 Kedudukan Bola Mata


Posisi Ortoforia Ortoforia

Eksoftalmus (-) (-)

Endoftalmus (-) (-)

3 Pergerakan Bola Mata


Atas (+) baik (+) baik

Bawah (+) baik (+) baik

Temporal (+) baik (+) baik

Temporal atas (+) baik (+) baik

Temporal bawah (+) baik (+) baik

Nasal (+) baik (+) baik

Nasal Atas (+) baik (+) baik

Nasal Bawah (+) baik (+) baik


No Pemeriksaan OD OS

4 Palpebra Superior dan Inferior

Hematom (-) (-)

Edema (-) (-)

Hiperemis (-) (-)

Benjolan (-) (-)

Ulkus (-) (-)

Fistel (-) (-)

Hordeolum (-) (-)

Kalazion (-) (-)

Ptosis (-) (-)

Ektropion (-) (-)

Entropion (-) (-)

Trikiasis (-) (-)


No Pemeriksaan OD OS

5 Punctum Lakrimalis

Edema (-) (-)

Hiperemis (-) (-)

Benjolan (-) (-)

Fistel (-) (-)

6 Konjungtiva Tarsal Superior

Edema (-) (-)

Hiperemis (-) (-)

Sekret (-) (-)

Benjolan (-) (-)

Folikel (-) (-)

Papil (-) (-)


No Pemeriksaan OD OS

8 Konjungtiva Bulbi

Kemosis (-) (-)

Pterigium (-) (-)

Pinguekula (-) (-)

Flikten (-) (-)

Simblefaron (-) (-)

Injeksi konjungtiva (-) (-)

Injeksi siliar (-) (-)

Injeksi episklera (-) (-)

Perdarahan subkonjungtiva (-) (-)


No Pemeriksaan OD OS

9 Kornea
Kejernihan Jernih Jernih
Edema (-) (-)
Ulkus (-) (-)
10 Sklera
Episkleritis (-) (-)
Skleritis (-) (-)
11 Bilik Mata Depan
Kedalaman normal normal
Kejernihan Jernih Jernih
Hifema dan Hipopion Tidak ada Tidak ada
12 Iris
Warna Hitam Hitam
Gambaran radien Jelas Jelas
Sinekia Anterior/Posterior (-) (-)
Iris Bombe (-) (-)
6 FEBRUARY 2019 16
No Pemeriksaan OD OS

13 Pupil

Bentuk Bulat Bulat

Besar ± 3 mm ± 3 mm

Isokor (+) (+)

Letak Sentral Sentral

Refleks cahaya langsung (+) (+)

14 Lensa
Keruh
Kejernihan Keruh Sebagian
Sebagian
Subluksasi Tidak ada Tidak ada

Dislokasi Tidak ada Tidak ada

Pseudofakia (-) (-)

Afakia (-) (-)


RESUME

Pasien datang ke poliklinik mata RSUD Banjar dengan keluhan penglihatan


kedua mata kabur seperti tertutup asap sejak ± 6 bulan yang lalu, awalnya pasien
masih dapat melihat jauh namun lama kelamaan pasien hanya dapat melihat dekat
dan memberat pada 3 bulan sebelum masuk rumah sakit. Pasien juga
mengeluhkan sering merasa silau jika terpapar sinar terang atau sinar matahari di
siang hari pada kedua mata sehingga pasien lebih nyaman ditempat yang sedikit
cahaya. Keluhan mata merah disangkal, nyeri disangkal, mata berair disangkal, gatal
disangkal, melihat pelangi disekitar sumber cahaya disangkal. Riwayat menggunakan
kacamata sebelumnya disangkal. Riwayat trauma pada mata pasien disangkal.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital dalam batas normal, Visus 6/30, PH :
6/20, visus OS 3/60. Lensa terlihat keruh sebagian dengan Shadow Test (+) pada
ODS.
PROBLEM LIST

Ny. i
62 thn
Subyektif Obyektif
- Visus :
OD : 6/30, PH : 6/20
OS : 3/60

- Penglihatan buram seperti Lensa :


OD : Keruh Sebagian
tertutup asap/kabut Shadow Test (+)
- Terasa silau OS : Keruh Sebagian
Shadow Test (+)
- BMD :
OD : Normal
OS : Normal
Diagnosa Kerja
 Katarak Senil Stadium Immatur ODS

Non Medika Mentosa


• Menjelaskan kepada pasien mengenai katarak dan menjelaskan
terapi terbaik dan satu-satunya pada katarak adalah dengan
operasi.
• Menganjurkan untuk dilakukan operasi pada mata sebelah
kanan dan kiri.
• Konsul Kacamata untuk membantu sementara penglihatan
pasien yang buram.

Non Medika Mentosa


RENCANA EKSTRAKSI KATARAK EKSTRA KAPSULAR (EKEK) ODS DAN
PEMASANGAN INTRA OCULAR LENS (IOL) ATAU FAKOEMULSIFIKASI
DENGAN PEMASANGAN INTRA OCULAR LENS (IOL .
Prognosis
 Qua ad vitam : Bonam
 Qua ad sanationem : Bonam
 Qua ad visum : Bonam
 Qua ad kosmeticum : Bonam
Analisa Kasus
Diagnosis kerja kasus ini ditegakkan berdasarkan
anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi.

Pada Anamnesis didapatkan :


Pasien wanita, berusia 62 tahun, penglihatan kedua
mata kabur seperti tertutup asap sejak ± 6 bulan yang
lalu, pasien juga mengeluhkan sering merasa silau jika
terpapar sinar terang atau sinar matahari di siang hari
pada kedua mata sehingga pasien lebih nyaman
ditempat yang sedikit cahaya mata tenang visus
turun perlahan
Kemungkinan diagnosis banding berupa :
- Katarak
- Glaukoma
- Kelainan refraksi
Pada pemeriksaan fisik didapatkan :
Pada pemeriksaan fisik didapatkan visus pasien kurang
dari 6/6, yaitu OD 6/30 dan OS 3/60 (visus menurun).

Pemeriksaan shadow test kedua mata  didapatkan


lensa yang keruh pada kedua mata  diagnosis
katarak.
Pasien tidak mengeluh sakit pada sekitar mata, pusing,
mual dan muntah. Namun belum dilakukan
pemeriksaaan tonometri untuk sementara diagnosis
glaukoma disingkirkan
Pada pemeriksaan fisik didapatkan :
Riwayat trauma pada mata (-)  katarak traumatik
disingkirkan
Riwayat diabetes melitus (-)  katarak diabetikum
disingkirkan
Usia pasien yaitu 62 tahun  Katarak Senilis
Pada pemeriksaan fisik
- Lensa keruh pada kedua mata sebagian
- Bilik Mata masih normal
- Shadow test positif  Katarak Imatur

Jadi, diagnosis untuk pasien ini adalah Katarak Senilis


Imatur OD
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI KATARAK

Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan pada lensa


yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan)
lensa, denaturasi protein lensa terjadi akibat kedua-
duanya.

Katarak senilis adalah semua kekeruhan lensa yang


terdapat pada usia lanjut, yaitu usia diatas 50 tahun
EPIDEMIOLOGI

 Diketahui kebutaan di Indonesia berkisar 1,5 % dari jumlah penduduk


Indonesia. Dari angka tersebut presentasi angka kebutaan utama ialah2 :
 Katarak 0,78 %
 Kelainan kornea 0,13 %
 Penyakit glaukoma 0,20 %
 Kelainan refraksi 0,14 %
 Kelainan retina 0,03 %
 Kelainan nutrisi 0,02 %
KLASIFIKASI
KLASIFIKASI BERDASARKAN MORFOLOGI

Nuklear/ Kortikal Subkapsular


Brunesen/ (anterior
dan
Nigra posterior)
KLASIFIKASI BERDASARKAN USIA

Katarak Katarak Katarak


Kongenital Juvenile Senile
• Usia < 1 • Usia > 1 • Usia > 50
tahun tahun tahun
• Gangguan • Gangguan • Degenerasi
perkembangan perkembangan lensa
lensa masa serat-serat
embrionik dan lensa
fetalis
KLASIFIKASI BERDASARKAN STAGING

Insipien
Kuneiformis dan Imatur
kupularis Lensa keruh, namun ada Matur
Kekeruhan lensa bagian yang Keruh pada Hipermatur
tidak teratur tidak keruh
seluruh bagian Lensa mengkerut 
Indeks refraksi pada Disebut juga katarak lensa
nucleus tenggelam 
setiap bagian lensa intumesen Katarak Morgagni
BMD jadi sempit  Ukuran lensa Shadow test
tidak sama
glaukoma fakolitik kembali normal pseudopositif
Shadow test (+)  BMD dalam Dapat menimbulkan
Shadow test (-)glaukoma fakolitik
GEJALA
 Penglihatan berawan, kabur atau berkabut
 Lebih nyaman saat melihat jarak dekat
 Perubahan persepsi warna
 Fotosensitif baik pada malam hari maupun siang hari
 Penglihatan ganda (double vision)
 Perubahan ukuran kacamata yang signifikan
Penglihatan Penglihatan
Normal Katarak
Patofisiologi
Faktor resiko katarak:
Perubahan struktur korteks
Usia (penuaan)
Paparan sinar UV
Infeksi intrauterine
Trauma
Metabolik (DM)
Kerusakan sel-sel korteks

Hidrasi sel-sel lensa

Kepadatan lensa berkurang

Sinar sejajar masuk


Lensa menjadi keruh

Tidak bisa difokuskan

Penurunan visus
penglihatan
 Tes visus: hasilnya dapat berkisar
antara 6/9 sampai PL (perception of light) Diagnosis
 Tes bayangan iris: ketika cahaya
diarahkan secara oblik ke pupil,
bayangan berbentuk bulan sabit dari  Pemeriksaan direct
tepi pupil dari iris akan terbentuk di ophthalmoscopy jauh: Sinar kuning
lensa yang opasitasnya keabu-abuan kemerahan dari funsu dapat terlihat
selama korteks masih jernih berada di bila tidak ada opasitas, pada katarak
antara opasitas. Ketika lensa seluruhnya parsial menunjukkan bayangan hitam
opak maka tidak akan terbentuk terhadap cahaya merah, dan pada
bayangan iris. Karenanya adanya katarak komplet maka tidak akan ada
bayangan iris menunjukkan katarak cahaya merah sama sekali.
imatur.
 Pemeriksaan slit-lamp: dilakukan
pada pupil yang dilatasi penuh.
Pemeriksaan ini menunjukkan
morfologi opasitas yang lengkap
(letak, ukuran, bentuk, corak warna,
dan kekerasan nucleus)
DIAGNOSA
Insipien Imatur Matur Hipermatur
Kekeruhan
Ringan Sebagian Komplit Masif
lensa
Bertambah (air Berkurang (air+masa
Cairan Lensa Normal Normal
masuk) lensa keluar)

Iris Normal Terdorong Normal Tremulans

Bilik Mata
Normal Dangkal Normal Dalam
Depan
Sudut Bilik
Normal Sempit Normal Terbuka
Mata

Shadow Test Negatif Positif Negatif Pseudopos

Visus (+) < << <<<


PENATALAKSANAAN

Tatalaksana
penyebab katarak

Terapi
Penundaan
bedah Terapi non perkembangan
bedah katarak

Usaha meningkatkan
visus pada katarak
insipien dan imatur
TERAPI OPERASI

• Penglihatan
Indikasi • Medis
• Kosmetik
Operasi

• Kondisi medis
Evaluasi Pre- •

Fungsi retina
Mencari sumber infeksi
Operatif • Periksa segmen mata anterior dan
TIO
INTRACAPSULAR CATARACT EXTRACTION
(ICCE)
 Mengeluarkan seluruh lensa
bersama kapsulnya
 Indikasi  zonula zinn yang telah
rapuh atau berdegenerasi dan
mudah putus
 Pada ekstraksi ini tidak akan terjadi
katarak sekunder.
 Kontraindikasi  usia < 40 tahun
yang masih mempunyai ligamen
hialoidea kapsular
 Penyulit  astigmat, glaukoma,
uveitis, endoftalmitis dan
perdarahan.
EXTRACAPSULAR CATARACT EXTRACTION
(ECCE)

 Pengeluaran isi lensa dengan


memecah atau merobek kapsul
lensa anterior sehingga masa lensa
dan korteks lensa dapat keluar
melalui robekan tersebut kapsul
posterior utuh, maka lensa
intraokuler  ke dalam kamera
posterior
 Indikasi  katarak imatur, kelainan
endotel, keratoplasti, implantasi
lensa intraokular posterior,
implantasi sekunder lensa
intraokular, kemungkinan dilakukan
bedah glaukoma, predisposisi
prolaps vitreous.
FAKOEMULSIFIKASI
 Menggunakan vibrator ultrasonik 
menghancurkan nukleaus 
diaspirasi melalui insisi 2,5 – 3 mm
 kemudian dimasukkan lensa
intraokular yang dapat dilipat.
 Keuntungan  pemulihan visus
lebih cepat, induksi astigmatis akibat
operasi minimal, komplikasi dan
inflamasi pasca bedah minimal.
 Penyulit  katarak sekunder
KOMPLIKASI

Jangka Pendek Jangka Panjang


 Infeksi pada mata  Fotosensitif
 Perdarahan pada kornea  Dislokasi IOL
(hifema)  Kekeruhan pada kapsul
 Edema papil lensa
 Edema kornea  Ablasio retina
 Rupture kapsul lensa  Astigmatisma
 Ablasio retina  Glaukoma
 Ptosis13
PROGNOSIS
 Prognosis penglihatan untuk pasien anak-anak yang memerlukan
pembedahan tidak sebaik prognosis untuk pasien katarak dewasa.
Adanya ambliopia dan kadang-kadang anomali saraf optikus atau retina
membatasi tingkat pencapaian penglihatan pada kelompok pasien ini.
Prognosis untuk perbaikan ketajaman penglihatan setelah operasi paling
buruk pada katarak kongenital unilateral dan paling baik pada katarak
kongenital bilateral inkomplit yang progresif lambat.
 Sedangkan pada katarak senilis jika katarak dapat dengan cepat
terdeteksi serta mendapatkan pengobatan dan pembedahan katarak
yang tepat maka 95 % penderita dapat melihat kembali dengan normal.
KESIMPULAN
 Katarak adalah kekeruhan yang terjadi pada lensa mata, yang
menghalangi sinar masuk ke dalam mata. Katarak masih merupakan
penyebab kebutaan paling banyak di Indonesia.
 Patofisiologi terjaidnya kekeruhan lensa pada katarak, secara garis besar
disebabkan oleh perubahan struktur korteks lensa yang mengakibatkan
perubahan komponen lensa dan pada akhirnya terjadi kekeruhan lensa.
 Satu-satunya terapi untuk katarak adalah dengan jalan operasi. Saat ini
dikenal 3 model operasi, yaitu ICCE, ECCE, dan fakoemulsifikasi. Katarak
yang didiagnosis dan ditangani dengan tepat dan segera akan
memberikan prognosis yang lebih baik bagi fungsi penglihatan
penderitanya.
DAFTAR PUSTAKA
 Ilyas Sidarta. Ilmu Penyakit Mata, edisi ke-3. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI, 2007. Hlm 172-3, 199, 200-13.
 Accessed on: 29 Dec 2015.
 Sitorus Rita. Buku Ajar Oftalmologi, edisi ke-1. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI, 2017. Hlm, 197.
 Hiller R, Sperduto RD, Ederer F. Epidemiologic Associations With
Cataract in The 1971-1972 National Health and Nutrition
Examination Survey. Am J Epidemiol 1983; 118 : 239-49.
 Berson, Frank G. Basic Ophtalmology for medical students and
Primary Care Residents. Sixth Edition. American Academy of
Ophtalmology. 1993.