Anda di halaman 1dari 60

ANATOMI, FISIOLOGI,

GANGGUAN FISIOLOGI DAN


PEMERIKSAAN TELINGA

Oleh: Karel Respati (2011730144)

Pembimbing: Dr. Hj. Fitriah Shebubakar, Sp. THT

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN TELINGA


HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA LEHER
RSIJ PONDOK KOPI
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN TELINGA
HIDUNG TENGGOROKAN KEPALA LEHER
RSIJ TIMUR PONDOK KOPI
2018
ANATOMI TELINGA
Klasifikasi :
• Telinga luar / auris externa
• Telinga tengah / auris media
• Telinga dalam / auris interna
TELINGA LUAR
1. Auricula
• Kerangka tulang rawan elastin yang tertutup
kulit.
• Untuk mengumpulkan suara dan lokalisasi
suara.
2. Meatus acusticus externus
• Tulang rawan elastin 1/3 luar dan tulang
keras 2/3 dalam.
• Terdapat kulit, rambut, kelenjar sebasea,
kelenjar seruminosa.
• Panjang 2,5-3 cm.
TELINGA TENGAH
1.Membrana tympanica
• Bentuk oval, posisi miring (obliq).
• Lapisan : cuticular, fibrous, mucosa.
• Perdarahan : a.maxillaries, a.auricularis
posterior.
• Persarafan : n.auriculotemporalis, n.vagus,
n.tympanicus.
• Diameter dewasa normal 10-11mm
I. Antero-Superior
II. Antero-Inferior
III. Postero-Inferior
IV. Postero-Superior
TELINGA TENGAH
2. Cavum tympani :
• Bentuk kubus ireguler.
• Berhubungan dgn nasofaring melalui tuba
auditiva.
• Berhubungan dgn antrum mastoid melalui aditus
ad antrum.
• Berisi :
– Ossicula auditiva : maleus, incus, stapes.
– Ligamentum : malei lateral, malei superior,
incudis post.
– Tendo : m.tensor timpani, m.stapedius.
– Saraf : chorda tympani, n. stapedius.
TELINGA TENGAH
3. Ossicula auditiva
• Malleus : terletak paling lateral dan melalui
manubriumnya menempel pada permukaan
dalam membran tympani, ujungnya yang
paling menonjol ke lateral disebut umbo.
• Incus : terletak sebelah medial malleus.
• Stapes : terletak paling medial dan melalui
basisnya menutup fenestra vestibulae
(foramen ovale).
TELINGA TENGAH
4. Tuba eustacius
• Menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga
tengah.
• Terdiri dari :
- pars osseus: 1/3 bag. lateral (± 12 mm).
- Parscartilaginosa/membranasea: 2/3 bag
medial (± 24 mm) dan selalu tertutup.
• Fungsi :
- Mengatur tekanan di telinga tengah.
- Drainage cairan dari telinga tengah.
- Proteksi kuman dari nasofaring ke telinga
tengah.
TELINGA TENGAH
4. Mastoid
• Melekat : m.sternokleidomastoideus dan
m. digastrikus venter posterior.
• Antrum merupakan penghubung os
mastoid dengan cavum timpani.
TELINGA DALAM
1. Labirin oseosa
• Cochlea
- Berbentuk konus (seperti rumah keong).
- Modiolus adalah tulang pusat, sebagai sumbu
dimana cochlea melingkar seperti spiralis.
- Membrane basilaris membagi saluran didalam
cochlea menjadi dua (scala timpani dan scala
vestibuli).
- Penampang melintang koklea terdiri atas tiga
bagian yaitu : skala vestibuli, duktus
koklearis, skala timpani.
Skala vestibuli
(perilimf)

Skala Media
(endolimf)

Skala Timpani
(perilimf)
TELINGA DALAM
1. Labirin oseosa
• Vestibulum
- Letaknya diantara cochlea (depan) dan
canalis semicircularis (belakang).
- Terdiri dari :
- Sacculus  bereaksi terhadap
gerakan vertikal /linier vertikal.
- Utriculus  bereaksi terhadap
gerak horizontal /linier horisontal.
TELINGA DALAM
1. Labirin oseosa
• Canalis semisirkularis
- Terdiri dari : canalis anterior,
posterior, lateral.
- Mendeteksi akselerasi (percepatan)
atau deselerasi (perlambatan) anguler
kepala, misalnya ketika memulai atau
berhenti berputar, jungkir balik, atau
memutar kepala.
TELINGA DALAM
2. Labirin membranosa
• Duktus semicircularis
• Utriculus dan sacculus : terdapat
makula (sel reseptor, sel penyokong,
neuroepitel) yang dipersarafi oleh
cabang nervus vestibularis.
• Duktus koklearis
• Meatus acusticus internus
FISIOLOGI TELINGA
FISIOLOGI MENDENGAR
Gelombang suara

Getaran membran timpani

Getaran tulang-tulang telinga tengah

Getaran jendela oval

Gerakan cairan di dalam koklea

Getaran membran basilaris

FISIOLOGI MENDENGAR
Perubahan posisi rambut-rambut tersebut dalam kaitannya dengan
membran tektorial di atasnya tempat rambut-rambut tersebut
terbenam

Perubahan potensial berjenjang di sel-sel resptor

Perubahan kecepatan pembentukan potensial aksi yang terbentuk di
saraf auditorius

Perambatan potensial aksi ke korteks auditorius di lobus temporalis
otak untuk persepsi suara
GANGGUAN FISIOLOGI
TELINGA
Definisi
• Gangguan pendengaran adalah
ketidakmampuan secara parsial atau total
untuk mendengarkan suara pada salah
satu atau kedua telinga.
Jenis ketulian
• Tuli konduktif
Disebabkan oleh kondisi patologis pada kanal telinga
eksterna, membran timpani, atau telinga tengah.
• Tuli sensorineural
Disebabkan oleh malfungsi koklea, saraf
pendengaran, batang otak, dan kelainan otak lainnya.
• Tuli campur
Bila gangguan pendengaran atau tuli konduktif dan
sensorineural terjadi bersamaan.
Etiologi

Tuli konduktif
Kelainan pada telinga luar :
• Microtia dan Atresia telinga
• Sumbatan oleh serumen
• Otitis eksterna
• Osteoma liang telinga
Etiologi

Kelainan pada Telinga tengah :


• Sumbatan tuba
• Otitis media
• Otosklerosis
• Timpanosklerosis
• Hemotimpanum
• Kelainan tulang pendengaran
Etiologi

Tuli sensorineural koklea :


• Aplasia
• Labirinitis
• Intoksikasi obat( streptomisi, kanamisin, garamisin,
neomisin, kina, asetosal, atau alkohol)
• Sudden deafness
• Trauma akustik
• Pajanan bising
Etiologi
2. Tuli sensurineural retrokoklea :
• Neuroma akustik
• Tumor sudut pons
• Mielomo multiple
• Cedera otak
• Perdarahan otak
• Dan kelainan otak lainnya
FISIOLOGI MENDENGAR
Perubahan posisi rambut-rambut tersebut dalam kaitannya dengan
membran tektorial di atasnya tempat rambut-rambut tersebut
terbenam

Perubahan potensial berjenjang di sel-sel resptor

Perubahan kecepatan pembentukan potensial aksi yang terbentuk di
saraf auditorius

Perambatan potensial aksi ke korteks auditorius di lobus temporalis
otak untuk persepsi suara
FISIOLOGI KESEIMBANGAN
• Aparatus vestibular : utrikulus, sakulus dan
duktus semisirkularis.
• Fungsi : sensasi posisi ruang dan selama
gerakan.
• Gerakan akselerasi atau deselerasi linier
kepala (jalan)  bagian atas membran otolit
tertinggal  sel rambut menekuk ke
belakang  jika kecepatan berjalan
dipertahankan  lapisan gelatinosa segera
menyusul  rambut-rambut tidak lagi
menekuk  ketika orang tersebut berhenti
berjalan.
FISIOLOGI KESEIMBANGAN
• Gerakan akselerasi dan deselerasi anguler
atau rotational kepala  endolimf duktus
semisirkular bergerak  kupula bergerak
sesuai gerakan kepala stereosilia sel
rambut bergerak  nervus vestibular 
nervus vestibulokoklear  impuls ke
otak.
PEMERIKSAAN
TELINGA
ANAMNESA TELINGA
• Keluhan utama :
1. Gangguan pendengaran/pekak (tuli)
2. Suara berdenging/berdengung (tinitus)
3. Rasa pusing yang berputar (vertigo)
4. Rasa nyeri di dalam telinga (otalgia)
5. Keluar cairan dari telinga (otore)
GANGGUAN PENDENGARAN
(TULI)
• Satu telinga/dua telinga ?
• Timbul tiba-tiba/bertambah berat secara
bertahap dan sudah lama diderita ?
• Riwayat trauma kepala, telinga
tertampar, trauma akustik, terpajan
bising ?
• Obat ototoksik/Infeksi virus ?
• Gangguan pendengaran sejak bayi ?
TELINGA BERBUNYI (TINITUS)
• Suara berdengung /berdenging ?
• Dirasakan di kepala atau di telinga ?
• Disertai gangguan pendengaran ?
• Pusing berputar ?
RASA PUSING BERPUTAR
(VERTIGO)
• Gangguan keseimbangan dan rasa ingin
jatuh ?
• Rasa mual ?
• Muntah ?
• Rasa penuh di telinga ?
• Telinga berdenging ?
• Posisi kepala ?
NYERI DALAM TELINGA
(OTALGIA)
• Satu / dua telinga ?
• Sudah berapa lama ?
• Nyeri alih ke telinga ?
KELUAR CAIRAN DARI TELINGA
(OTORE)
• Apakah sekret keluar dari satu / dua
telinga ?
• Disertai rasa nyeri atau tidak ?
• Sudah berapa lama ?
• Sekret sedikit / banyak ?
• Baunya seperti apa ?
• Barcampur darah ?
• Cairan seperti air jernih ?
PEMERIKSAAN TELINGA
• Alat yang digunakan :
– Headlamp
– Corong telinga
– Otoskop
– Aplikator kapas
– Alat pengait serumen
– Suction
– Garpu tala
CAKUPAN PEMERIKSAAN
• Pemeriksaan luar
• Pemeriksaan otoskop
• Pemeriksaan garpu tala
PEMERIKSAAN LUAR
• Inspeksi pada pina:
– Melihat ukuran dan bentuk pina.
– Melihat deformitas, nodul, peradangan,
tofi atau lesi.
– Melihat adanya pengeluaran cairan.
• Palpasi pada pina : melihat adanya nyeri
tekan, pembengkakan, atau nodulus.
PEMERIKSAAN OTOSKOP
• Untuk melihat kanalis eksternus dan
membran timpani.
• Cara pemeriksaan :
– Kanal diluruskan dengan menarik daun
telinga ke atas,luar, dan belakang.
PEMERIKSAAN OTOSKOP
• Menilai kanalis eksternal
– Cairan (discharge) atau serumen.
• Menilai membran timpani
– Perforasi  deskripsikan lokasi, ukuran
dari perforasi tersebut dan gambarannya
pada telinga tengah.
• Refleks cahaya
TES RINNE
- Untuk membandingkan hantaran melalui
udara dan tulang pada telinga yang
diperiksa.
- Cara : garpu tala digetarkan, tangkainya
diletakkan di prosesus mastoideus, setelah
tidak terdengar garpu tala dipegang
didepan telinga.
- Hasil : bila masih terdengar disebut Rinne
(+), bila tidak terdengar disebut Rinne (-).
TES WEBBER
– Untuk membandingkan hantaran tulang telinga
kiri dengan telinga kanan.
– Cara: garpu tala digetarkan, tangkai garpu tala
diletakan digaris tengah kepala dan tanyakan
pada pasien sisi mana yang mendengarkan suara
lebih keras.
– Hasil:
• weber lateralisasi  bunyi terdengar lebih
keras pada salah satu telinga.
• weber tidak ada lateralisasi  bunyi tidak
dapat dibedakan kearah telinga mana
terdengar.
TES SCHWABACH
– Untuk membandingkan hantaran tulang orang yang
diperiksa dengan pemeriksa yang pendengarannya
normal.
– Cara: garpu tala digetarkan, tangkai garpu tala
diletakkan pada prosesus mastoideus sampai tidak
terdengar bunyi, kemudian tangkai pelana segera
dipindahkan pada prosesus mastoideus pemeriksa yang
pendengarannya normal.
– Hasil:
• Schwabach memendek  bila pemeriksa masih
mendengar bunyi.
• Schwabach memanjang  bila pasien masih
mendengar bunyi.
• Schwabach sama dengan pemeriksa  bila pasien
dan pemeriksa sama-sama mendengar bunyi.
TERIMA KASIH
Daftar Pustaka
• Adam,Boies, Higler, Boies Buku Ajar Penyakit THT edisi 6, EGC,
Jakarta,1997
• Guyton,AC, Hall,JE, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, 1997, editor:
irawati setiawan, ed. 9, 1997, Jakarta: EGC
• Moore, Keith. Anatomi Klinis Dasar. Edisi Pertama. Jakarta. 2002
• Pearce, Evelyn C, Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis.
Gramedia, Jakarta,2004
• Spanner, Spalteholz, Atlas Anatomi Manusia, Bagian ke II, edisi 16,
Hipokrates, Jakarta,1994.
• Soepardi, Efiaty Arsyad dkk, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala Leher edisi 5, FK UI, 2011.