Anda di halaman 1dari 33

Human ACQUIRED (Didapat/Bukan Keturunan)

Immunodeficiency IMMUNE (Sistem Kekebalan Tubuh)


Virus DEFICIENCY (Berkurang)
SYNDROME (Kumpulan Gejala)

Suatu Sindroma
Adalah suatu Virus
(Kumpulan Gejala Penyakit)
yang menyebabkan
Yang Timbul Akibat Menurunnya
menurunnya
Sistem Kekebalan Tubuh
kekebalan tubuh
Penyakit Infeksi yang diderita menjadi
manusia terhadap
berat karena lemahnya sistem kekebalan
infeksi
tubuh, seperti
Infeksi Bakteri (TBC)
Infeksi Parasit (Jamur)
Perbedaan pengidap HIV & AIDS

PENGIDAP HIV POSITIF PENGIDAP AIDS


Seseorang yg telah terinfeksi Seseorang yg
HIV, namun tampak sehat menunjukkan tanda-
dan tidak menunjukkan tanda dari sekumpulan
gejala penyakit apapun, gejala penyakit yg
tetapi dapat menularkan memerlukan
virus (HIV) nya jika pengobatan, setelah
melakukan hal berisiko sekian waktu terinfeksi
terjadinya penularan HIV

Tidak ada gejala (tampak sehat) Sudah memerlukan obat


Tanda-tanda HIV AID
HIV AIDS
• Tidak ada tanda2 yang • Berat badan menurun lebih dari 10% dalam
terlihat waktu singkat (± 6 bulan)
• Orang yang terinfeksi • Demam tinggi berkepanjangan (lebih dari 1
berpenampilan sehat & bulan)
merasa sehat • Diare berkepanjangan (lebih dari 1 bulan)
• Dia mungkin tidak
mengetahui bahwa dia Gejala Tambahan :
sendiri terinfeksi dan √ Batuk berkepanjangan (lebih dari 1 bulan)
bisa menularkannya √ Kelainan kulit & iritasi (gatal)
kepada yang lain √ Infeksi jamur pada mulut & kerongkongan
• Melakukan tes HIV √ Pembekakan kelenjar getah bening di
adalah cara satu- seluruh tubuh, seperti dibawah telinga, leher,
satunya untuk ketiak & lipatan paha)
mengetahuinya secara
pasti
PERKEMBANGAN DARI HIV MENJADI AIDS
Tertular

Periode
HIV + AIDS
Jendela

1-6 Bulan 3-10 Tahun 1-2 Tahun


HIV banyak terdapat di dalam: HIV berpindah dari
- Darah seseorang ke orang lain,
- Cairan Vagina melalui cairan tsb di atas,
- Cairan Mani/Sperma antara orang yang positif
- Air susu ibu HIV kepada orang lain

CARA PERTUKARAN CAIRAN TUBUH


(CARA PENULARAN HIV AIDS)
- Melalui Hubungan Seksual
- Melalui Jarum Suntik
- Melalui Donor Organ Tubuh (darah, jaringan)
- Dari Ibu ke Anak :
 dalam kandungan
 saat persalinan
 air susu ibu
Hubungan sehari-hari/kontak sosial tidak akan menyebabkan tertularnya HIV
- Penggunaan HP/TeleponBersama
- Berenang Bersama
- Berjabat tangan
- Gigitan nyamuk
- Penggunaan closet bersama
- Penggunaan alat makan bersama
- Bekerja bersama
- Berpelukan
Cara Pencegahan agar tidak terinfeksi HIV:
- Tidak berhubungan seks dengan lebih dari satu pasangan
- Menggunakan kondom apabila berhubungan seksual dengan
yang bukan pasangan
- Memakai alat suntik sekali pakai
Cara kerja virus HIV
Human Immunodeficiency Virus :golongan Retro virus.

- Virus yang dapat berkembang biak dalam darah manusia


dan memiliki kemampuan mengcopy cetak biru materi genetik
(DNA-RNA) mereka di dalam materi genetik sel-sel manusia
yang ditumpangi.
-HIV dapat mematikan sel-sel darah putih (khususnya limfosit
atau sel T-4 atau sel CD-4.
-HIV sangat kecil ukurannya, lebih kecil daripada seperseribu
penampang sehelai rambut.
Virus ini bentuknya seperti binatang bulu babi
(binatang laut) yang berbulu tegak dan tajam.

8
• HIV langsung menyerang sel darah putih.
• Enzim yang ada pada tonjolan bagian luar HIV menempel dan
merusak dinding sel darah putih dan akhirnya, virus tersebut
masuk ke dalamnya.
• RNA (Ribo Nucleic Acid) virus akan menempel pada DNA
(Deoksiribo Nucleic Acid) sel darah putih,
• Lalu sel darah putih akan pecah,
• Virus pun akan memecah diri lalu mencari sel darah putih
lainnya.
• Lambat laun jumlah sel darah putih yang sehat semakin
berkurang.
• Akhirnya sistem kekebalan menjadi lumpuh.
• Orang yang sel darah putihnya sudah terinveksi HIV, dapat
dipastikan sudah memiliki antibodi spesifik terhadap HIV dan ia
sudah digolongkan mengidap HIV.
Tahap dan Gejala AIDS
• Gejala-gejala AIDS baru bisa dilihat pada
seseorang yang tertular HIV sesudah masa
inkubasi.
• Masa inkubasi adalah satu periode waktu antara
masuknya virus HIV ke dalam darah (awal infeksi)
sampai dengan timbulnya gejala-gejala penyakit
AIDS.
• Masa inkubasi berkisar 3 sampai 10 tahun
setelah terinfeksi.
• Selama masa inkubasi jumlah HIV dalam darah
terus bertambah sedangkan jumlah sel darah
putih semakin berkurang.
• Kekebalan tubuhpun semakin rusak jika jumlah
sel darah putih kian sedikit.
Masa inkubasi terdiri dari beberapa tahap
Tahap Pertama
• Masa jendela atau window period yaitu tenggang
waktu pertama setelah HIV masuk ke dalam
aliran darah.
• Berlangsung hingga 6 bulan.
• Pada tahap ini test HIV menunjukkan hasil negatif.
• Hal ini karena tes yang mendeteksi antibodi HIV
belum dapat menemukannya, sehingga hasilnya
negatif.
• Biasa disebut negatif palsu karena orang yang
bersangkutan sebenarnya sudah terinfeksi.
• Pada kondisi ini penderita sudah dapat
menularkan HIV kepada orang lain.
Tahap Kedua
• Disebut kondisi asimptomatik,
• Suatu keadaan yang tidak menunjukkan
gejala-gejala walaupun sudah terinfeksi HIV.
• Kondisi ini dapat berlangsung 3-10 tahun
tergantung sistem kekebalan tubuh penderita.
• Pada tahap ini penderita bisa menularkan
kepada orang lain.
Tahap Ketiga

Disebut dengan penyakit yang terkait dengan HIV (HIV related illness),
Ditandai dengan gejala-gejala awal penyakit:
• pembesaran kelenjar limfe / kelenjar getah bening
• hilang selera makan
• berkeringat berlebihan pada malam hari
• timbul bercak-bercak di kulit
• diare terus menerus
• flu tidak sembuh-sembuh

Tahap ini dapat berlangsung sekitar 6 bulan sampai 2


tahun.
Tahap Keempat
• Disebut masa AIDS.
• Ditandai dengan jumlah sel darah putih
(limfosit / sel T-4) kurang dari 200 / mikroliter.
• Kondisi ini ditandai dengan munculnya
berbagai penyakit, terutama penyakit yang
disebabkan oleh infeksi oportunistik :
• TBC,
• Pneumonia,
• Gangguan syaraf,
• Herpes, dll
Penularan HIV
• Kondisi yang diperlukan untuk terjadi penularan virus HIV adalah
bahwa virus HIV harus masuk ke aliran darah.
• HIV sangat rapuh dan cepat mati di luar tubuh.
• Virus ini juga sensitif terhadap panas dan tidak tahan hidup pada
suhu di atas 60 0C.
• Untuk tertular harus ada konsentrasi HIV yang cukup tinggi.
• Di bawah konsentrasi tertentu, tubuh manusia cukup kebal HIV
sehingga tidak terjadi infeksi.
• HIV ada di hampir semua cairan tubuh manusia seperti keringat, air
ludah, air mata, darah, cairan sperma, cairan vagina.
• HIV dalam air ludah, air mata dan keringat konsentrasinya tidak
cukup tinggi untuk dapat menularkan HIV.
• Cairan yang dapat menularkan hanyalah darah, cairan sperma dan
cairan vagina yang mengandung HIV.
cara seksual.
• Hubungan seksual (homoseks atau heteroseks)
yang tidak aman dengan orang yang terinveksi
HIV.
cara parenteral
• Transfusi darah yang tercemar HIV
• Menggunakan jarum suntik,
• - tindik,
- tato atau alat lain yang dapat menimbulkan luka
yang telah tercemar HIV secara bersama-sama
dan tidak di sterilkan.
cara perinatal
• Dari ibu hamil yang terinfeksi HIV
kepada anak yang dikandungnya.
Mengurangi Risiko Penularan
• Bagi yang belum aktif melakukan kegiatan seksual (belum menikah):
- Tidak melakukan hubungan seks sama sekali.

• Bagi yang sudah aktif melakukan kegiatan seksual (sudah menikah)


– hubungan dengan mitra tunggal
– menggunakan alat kontrasepsi (misal kondom)
– jika memiliki Penyakit Menular Seksual (PMS), segera diobati.

• Hanya melakukan transfusi darah yang bebas HIV

• Mensterilkan alat-alat yang dapat menularkan


- jarum suntik
- tindik
- pisau cukur
- tatto, dll

• Ibu pengidap HIV , agar mempertimbangkan kembali jika ingin hamil


Blood Detection Tests

 Enzyme-Linked Immunosorbent Assay/Enzyme


Immunoassay (ELISA/EIA)
 Radio Immunoprecipitation Assay/Indirect
Fluorescent Antibody Assay (RIP/IFA)
 Polymerase Chain Reaction (PCR)
 Western Blot Confirmatory test
Urine Testing
 Urine Western Blot
Sama sensitifnya dengan
tes darah
Aman untuk pengetesan
HIV
Dapat menimbulkan hasil
positif palsu pada pasien
dengan resiko tinggi HIV
Pengobatan
• Hingga saat ini masih belum ditemukan obat –
obat yang dapat melawan virus HIV secara efektif.
• Beberapa obat mulai dikembangkan, cukup
membantu meskipun tidak dapat mengatasi
secara total.
• Farmakoterapi diberikan masih sebatas
membantu memperlambat rusaknya daya tahan
tubuh seseoarang dan memperlambat
perkembangan virus.
Antiretroviral Drugs

 Nucleoside Reverse Transcriptase inhibitors


 AZT (Zidovudine)
 Non-Nucleoside Transcriptase inhibitors
 Viramune (Nevirapine)
 Protease inhibitors
 Norvir (Ritonavir)
• Zidovudin (AZT)

• Didanosin (ddl)

• Zalsitabin (ddC)

• Stavudin (d4T)

• Lamivudin (3TC)

• Inhibitor HIV Protease :

• Saquinavir

• Ritonavir

• Indinavir
Zidovudin
Mekanisme kerja:
• Bentuk trifosfatnya sangat aktif sebagai inhibitor kompetitif reverse transcriptase
(RTI) dari HIV,
sel hospes tidak terpengaruh,
Farmakokinetik:
• Diserap lebih dari 50% pada pemberian oral
• Kadar puncak dalam plasma 30-90 menit
• Waktu paruh 1 jam
Efek samping:
• - granulositopenia
• - anemia timbul septelah 2-6 minggu pengobatan
• - nyeri kepala, mual, mialgia, dan insomnia.
Interaksi:
• Obat yang mengganggu sumsum tulang dan fungsi ginjal akan meningkatkan
toksisitas zidovudin seperti dapson, interferon, aspirin, probenesid, indometazin
Sediaan dan dosis:
• Kapsul 100 mg, diberikan 200 mg tiap 4 jam terus menerus, kecuali ada anemia.
Didanosin
• obat ini pada konsentrasi terapeutik, menyebabkan penghambatan
replikasi HIV.
• Hanya menunjukkan efek sedikit pada sel sumsum tulang manusia
• Setelah difusi ke dalam sel diubah menjadi dideoxyadenosine trifosfat
(ddATP), yang merupakan bentuk aktif biologis dari bahan aktif, bersaing
dengan substrat fisiologis trifosfat deoksiadenosin (dATP).)
• Dalam bentuk kapsul berlapis enterik yang tidak mengandung asam
lebih banyak, sehingga tidak menyebabkan gangguan lambung.
• Didanosin di kapsul keras sebelum lepas sebagai serbul, pada kisaran
pH yang lebih tinggi di usus halus.
• Karena penyerapan didanosin berkurang dengan adanya makanan,
maka berikan dengan kapsul pada saat perut kosong (gunakan sebelum
makan)
Efek samping:
• Efek samping yang paling umum gastrointestinal (diare di
lebih dari 10% pasien, mual dan muntah pada hingga 10%).
• Tergantung pada dosis , dapat menimbulkan pankreatitis
terjadi (1-7%), yang dapat berakibat fatal.
• Pemberian dengan obat lain, dapat menyebabkan
pankreatitis, karena itu harus dihindari (misalnya ribavirin ).
• Sakit kepala sering terjadi, dan gejala neurologis perifer
seperti neuropati pada (1-10%).
Interaksi :
• Karena interaksi dengan jangan diberikan bersama:
stavudin, tenofovir , allopurinol atau ribavirin
• Pemberian bersama makanan mengurangi ketersediaan
hayati
Zalsitabin
• Zalsitabin mempunyai potensi yang lebih rendah dibandingkan
nucleosida RTI yang lain
• Pemberian sehari 3 kali dapat menimbulkan efek samping serius.
• Untuk digunakan pada pengidap HIV , dikurangi pemakaiannya di
beberapa negara
Mekanisme kerja:
• Memposporilasi Tcel dan target HIV oleh bentuk aktif dalam bentuk
garamnya.
Farmakokinetik:
• Diabsorpsi 80%
• Waktu paruh 2 jam diekskresi melalui ginjal
Interaksi:
• Diinhibisi olek Tamivudin sehingga tidak boleh diberikan bersama-sama.
• Dengan probenesid akan meningkatkan t1/2 nya
Efek samping
• Neuropatic perifer, pankreatitis, hepatotoksik,
ulser, gagal jantung kongestif, dan reaksi
anafilaksis
Kontraindikasi:
• Pasien yang hipersensitif terhadap zalsitabin
Interaksi dengan obat lain:
• Bersama dengan zidofudin tidak memberikan
efek yang signifikan
• Bersama dengan lamivudin akan menghambat
phosforilasi zalsitabin.
• Dengan antasida absorpsi zalsitabin menurun
25%
Stavudin
Mekanisme Aksi
• Stavudin adalah analog thymidin, yang mempengaruhi viral DNA
HIV- yang bergantung Dpada DNA polimerase, menghambat
replikasi virus, nukleosida reverse transcriptase
Efek Samping
• Dibanding dengan lamivudin efek neuropathy stavudin lebih besar.
• > 10% Pada susunan saraf pusat : Sakit kepala, kulit-rash, saluran
pencernaan : mual, muntah, diare, hepar peningkatan transaminase,
sistem saraf dan kulit, neuropati perifer, macam-macam :
peningkatan amilase
• 1% - 10% Pada hati : Peningkatan bilirubin.
• Laporan kasus sesudah dipasarkan, sakit perut, alergi, anemia,
anoreksia, panas, hepatitis, hepatomegali, kerusakan hati, hepatic
steanosis, tidak dapat tidur, laktat asidosis, leukopenia, myalgia,
pancreatitis, redistribution fat, thrombositopenia
Stavudin
Farmakokinetik
• Bioavailability : 86,4%
• Metabolisme: mengalami fosforilasi
intraselular menjadi bentuk tidak aktif
• T½ eliminiasi : 1-1,6 jam
• Waktu puncak : 1 jam
• Ekskresi : melalui urin 40% sebagai obat yang
tidak berubah
Kontraindikasi
• Hipersensitif terhadap stavudin atau
komponen lain dalam sediaan
• Interaksi Dengan Obat Lain :
Terjadi peningkatan efek bila dikombinasi dengan:
• - hidroksi urea, pankreatitis dan hepatotoksik
• - zalcitabine, peningkatan neuropati perifer.

Pengurangan efek terjadi bila dikombinasi dengan:


• - zidovudin, menurangi foforilase intraseluler
• - doxorubisin, mengurangi fosforilasi intraseluler,
bisa digunakan dengan perhatian
• - ribavirin, mengurangi fosforilasi intraseluler, bisa
digunakan dengan perhatian.
Lamivudin
• Digunakan untuk mengobati HIV dengan
dikombinasikan dengan antiviral lain.
• Digunakan untuk hepatitis B kronis dengan bukti
kenyataan bahwa hepatitis B replikasi virus dan
inflamasi aktif hati.
Farmakokinetik
• Bioavailabilitas : 86,4%
• Metabolisme: mengalami perubahan menjadi
metabolit tidak aktif.
• Elminiasi T½ 1-1,6 jam
• Waktu puncak: 1 jam
• Ekskresi : 40% melalui urin menjadi obat yang
tidak berubah
Stabilitas Penyimpanan
• Sebagai kapsul dan puyer stabil disimpan di ruang
dengan temperatur kamar.
• Sesudah dicairkan stabil selama 30 hari bila
disimpan di lemari pendingin.
Kontraindikasi
• Hipersensitif terhadap lamivudin atau komponen
lain dalam sediaan.
Efek Samping
• Sakit perut, mual, muntah, diare, sakit kepala,
demam, ruam, alopecia, rasa malas, insomnia,
batuk, gangguan pada hidung, arthralgia, sakit
pada otot dan neuropathy perifer.
Interaksi Dengan Obat Lain :
Penggunaan bersama :
• -hidroksi urea akan meningkatkan efek
pankreatitis dan hepatotoksik.
• - zalcitabine, terjadi peningkatan neuropati
perifer.
• - zidovudin, mengurangi foforilase intraseluler
• - doxorubisin, mengurangi fosforilasi intraseluler,
bisa digunakan dengan perhatian
• - ribavirin, mengurangi fosorilasi intraseluler, bisa
digunakan dengan perhatian.