Anda di halaman 1dari 36

Case report

HID Reponibilis
Deasy Nataliani, S.Ked
OUTLINE
1. Pendahuluan
2. Tinjauan Pustaka
3. Status pasien
4. Analisis kasus
5. Kesimpulan
I. PENDAHULUAN
• Kejadian hernia inguinalis mencapai 75% dari seluruh kejadian
hernia abdominalis
• Prevalensi kejadian hernia inguinalis pada orang dewasa
sekitar 2-4%
• Pada orang dewasa, hernia inguinalis paling banyak terjadi
pada usia lebih dari 40 tahun
• Prevalensi kejadian hernia inguinalis pada bayi sekitar 1-2%
• Perbandingan kejadian hernia inguinalis pada laki-laki dan
perempuan adalah 9:1
• Hernia inguinalis pada sisi kanan 60%, kiri 20-25%, dan
bilateral 15%
II. TINJAUAN PUSTAKA
Hernia inguinalis
merupakan suatu protusi
atau penonjolan dari isi
rongga abdomen atau
lemak preperitoneal melalui
suatu defek di daerah
inguinal, karena didapat
atau kongenital.
ANATOMI
Fruchaud Myopectineal Orifisium
Batas:
1. Superior: Conjoint
tendon
2. Inferior:
ligamentum
inguinal
3. Anterior:
aponeurosis otot
oblik eksterna dan
interna abdominis
4. Posterior: fascia
transversalis

Kanalis Inguinalis
Segitiga Hasselbach
ETIOLOGI dan FAKTOR RISIKO

Etiologi:
1. Prosesus vaginalis yang terbuka
2. Peninggian tekanan di dalam rongga perut
3. Kelemahan otot dinding perut
Desensus testis
Faktor risiko:
1. Batuk kronik, hipertrofi prostat, konstipasi
2. Merokok
3. Riwayat penyakit kolagen
4. Riwayat hernia dalam keluarga
5. Riwayat penyakit kolagen dalam keluarga
6. Usia tua
7. Pekerjaan mengangkat beban berat
KLASIFIKASI GROIN HERNIA
1. Berdasarkan sifat/ gejala klinisnya:
a. Hernia reponibel
b. Hernia irreponibel
c. Hernia inkarserata
d. Hernia strangulata
2. Berdasarkan arah penonjolannya:
a. Hernia inguinalis lateralis
b. Hernia inguinalis medialis
3. Hernia lain:
a. Sliding hernia
b. Hernia insipiens
c. Hernia Richter
d. Hernia Littre
e. Hernia Maydl
f. Hernia interparietal
g. Hernia Pantalon
h. Hernia Femoralis
DIAGNOSIS
No Pemeriksaan Sensitifitas dan spesifisitas

1 Anamnesis + pemeriksaan fisik 92-93%


2 USG 30-80%
3 CT Scan 83%
4 MRI 94%
5 Herniography 98%
• Pemeriksaan Fisik:
Pemeriksaan benjolan  inspeksi dan
palpasi
Reposisi isi kantong hernia
Nyeri tekan
Ziemen test
Finger test
• Anamnesis:
1. Benjolan: sejak kapan, lokasi, ukuran, dapat keluar masuk,
nyeri
2. Tanda-tanda obstruksi: mual muntah, flatus, BAB
3. Tanda-tanda inflamasi: demam, badan lemas, nyeri otot
4. Riwayat trauma
5. Riwayat pekerjaan
6. Riwayat penyakit dahulu: konstipasi, susah BAK, prostat,
PPOK, penyakit kolagen
7. Riwayat kebiasaan (merokok)
8. Riwayat keluarga: benjolan, hernia, penyakit kolagen
9. Riwayat pengobatan: riwayat operasi di daerah abdomen dan
inguinal
DIAGNOSIS
BANDING
TATALAKSANA
• Terapi definitif  pembedahan
• Tujuan operasi pada hernia:
1. Mengembalikan posisi isi kantong hernia ke dalam
rongga abdomen
2. Memperbaiki kelemahan otot dan jaringan yang
menyusun dinding abdomen
• Tindakan pembedahan hernia: hernioraphy  herniotomi
+ hernioplasty
• Herniotomi: pembebasan kantong hernia  kantong
dibuka dan isi dibebaskan  reposisi
• Hernioplasty: tindakan memperkecil anulus inguinalis
interna, menutup trigonum Hasselbach, dan memperkuat
dinding belakang kanalis inguinalis.
• Metode hernioplasty:
1. Non-mesh (konvensional):
a. Metode Bassini
b. Lotheissen-McVay
c. Shouldice
2. Mesh
a. Lichtenstein
b. Plug and patch
c. Sandwich
3. Secara endoskopik
a. TEP
b. TAPP
KOMPLIKASI
• Komplikasi post operasi hernia antara lain:
1. Komplikasi dini: hematoma, infeksi luka, bendungan
vena femoralis, fistel urin atau feses
2. Nyeri terus menerus hingga kronik post operasi atau
hilangnya respon sensoris akibat cedera saraf.
3. Cedera spematic cord atau buli-buli
4. Hernia residif
PROGNOSIS
• Tergantung usia pasien, letak hernia, dan teknik
hernioplasty
• Angka kekambuhan setelah perbaikan hernia inguinalis
indirek pada dewasa dilaporkan mencapai 0,6-3%.
• Penggunaan mesh pada perbaikan hernia menurunkan
risiko kekambuhan 50-75%.
• Mortality rate sangat kecil yaitu < 1%
III. STATUS PASIEN
A. IDENTITAS PASIEN
1. Nama : Habibi
2. Jenis kelamin : Laki-laki
3. Tanggal lahir/ usia: 08 Juni 1968/ 50 tahun
4. Alamat : Gunung Megang
5. Pekerjaan : Petani karet
6. Agama : Islam
7. Status perkawinan : Kawin
8. Tanggal MRS : 27 Maret 2018
9. Bangsal : Lematang 4
10. No. Rekmed : 230407
B. ANAMNESIS
1. Keluhan utama:
Benjolan di lipat paha kanan yang masih dapat keluar masuk rongga perut
2. Riwayat perjalanan penyakit (alloanamnesis):
• Benjolan di lipat paha kanan muncul sejak ± 5 bulan yang lalu
• Benjolan berbentuk lonjong mengikuti garis lipat paha
• Konsistensi lunak
• Tidak masuk sampai ke skrotum
• Awalnya benjolan menonjol saat pasien berdiri dan mengangkat benda
berat dan masuk kembali secara spontan ketika pasien berbaring
• Sejak ± 1 bulan sebelum ke rumah sakit, benjolan tidak dapat masuk
kembali secara spontan saat pasien berbaring, namun masih dapat
dimasukkan secara manual ke dalam rongga perut.
• Benjolan terkadang dirasakan nyeri.
• Demam (-), trauma di lipat paha (-), mual (-), muntah (-),
• BAB (+), flatus (+).
B. ANAMNESIS
3. Riwayat penyakit dahulu:
a. Riwayat PPOK (sesak dan batuk lama)
b. Riwayat sulit BAK dan sulit BAB disangkal
c. Riwayat operasi abdomen dan daerah lipat paha disangkal

4. Riwayat keluarga: riwayat benjolan dan hernia di keluarga di


sangkal.

5. Riwayat pengobatan: belum pernah melakukan pengobatan


terkait benjolan di lipat paha.

6. Riwayat kebiasaan: perokok aktif sejak SMP


C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum 2. Keadaan spesifik
• Kesadaran : • Kepala
• Mata
compos mentis
Konjungtiva anemis: -
• Tekanan darah : Sklera ikterik :-
130/80 mmHg Mata cekung :-
Kornea mata kiri semi opak
• Heart rate : corakan iris mata kiri tidak jelas
86 kali/menit Fungsi mata kiri (-)
Fungsi mata kanan baik
• Respiratory rate : • Mulut : mukosa bibir baik
22 kali/menit • Telinga :
• Temperature : Fungsi pendengaran menurun
36,1oC • Leher
Pembesaran KGB: -
• Thoraks : • Abdomen
Paru: barrel chest (+) Inspeksi: datar
Inspeksi: statis dan dinamis simetris
Palpasi: lemas
Perkusi: hipersonor +/+
Auskultasi: vesikuler +/+
Perkusi: timpani
Auskultasi: bising usus (+)
 Jantung • Genitalia dan anus: dalam
Inspeksi: ictus cordis tidak terlihat batas normal
Palpasi: ictus cordis tidak teraba • Ekstremitas: clubbing finger
Perkusi: batas jantung normal
Auskultasi: bunyi jantung normal
• Inguinal
Inspeksi :
Tumor inguinal dekstra setinggi simfisis pubis.
Ukuran ± 1x5 cm. Warna kulit sama dengan
sekitar. Dari posisi berdiri ke berbaring tumor tidak
masuk spontan ke rongga abdomen.
Palpasi :
Tumor dapat direposisi ke dalam rongga abdomen.
Nyeri (+). Suhu kulit sama dengan sekitar. Ziemen
test: tumor teraba oleh digiti II. Finger test: tumor
teraba di ujung digiti II.
• Diagnosis Banding
1. Hernia inguinalis reponibel
2. Hernia femoralis
3. Limfoma inguinal

• Diagnosis kerja:
Hernia Inguinalis Lateralis Reponibilis
Dextra
TATALAKSANA
1. Rencana operasi
2. Persiapan:
• Konsul PDL dan anestesi
• Rontgen thorax
• EKG
• Pemeriksaan lab dan darah rutin
3. Rawat inap di rumah sakit:
• IVFD
• Puasa pre op
4. Operasi: Hernioraphy terbuka dengan general
anestesi
5. Perawatan post op:
• Puasa hingga sadar penuh
• IVFD
• Antibiotik
• Analgetik
• Diet nasi biasa
• Mobilisasi duduk dan berjalan
• GV setiap 3 hari
• Lama perawatan post op maksimal 3-5 hari

6. Follow up rawat jalan


Evaluasi:
• Luka operasi
• Nyeri post operasi
PROGNOSIS

• Quo ad vitam : bonam


• Quo ad functionam : bonam
• Quo ad sanationam : dubia ad bonam
EDUKASI
• Aktivitas berat setelah operasi harus dibatasi terlebih
dahulu minimal sampai 3 minggu post op
• Berhenti merokok
• Lakukan pengobatan PPOK untuk mengurangi gejala
batuk
• Makan makanan tinggi protein untuk mempercepat
penyembuhan luka
IV. ANALISIS
KASUS
V. KESIMPULAN
Tn. Habibi usia 50 tahun mengalami hernia
inguinalis lateralis reponibilis dextra dan akan
diterapi secara bedah yaitu hernioraphy dengan
tujuan untuk mereposisi isi hernia ke dalam
kantong abdomen, memotong kantong hernia, dan
memperbaiki kekuatan otot dinding abdomen serta
meminimalkan kemungkinan terjadinya rekurensi.
REFERENSI
• Sjamsuhidayat, R. 2017. Buku Ajar Ilmu Bedah de Jong: Sistem Organ
dan Tindak Bedahnya (1) Ed. 4. Jakarta: EGC
• Urban dan Fischer. Sobotta: Atlas of Human Anatomy Ed. 15.
Terjemahan oleh: Klonisch, T. dan Hombach-Klonisch. Canada: Elsevier
• G, Michael, dan Franz. 2008. The Biology of Hernia. Surg Clin North
Am. 88(1): 1-7
• Aljubairy, Abdul M., dkk. 2017 Prevalence in Inguinal Hernia in
Relation to Various Risk Factor. EC Microbiology 9.5(2017): 182-192
• LeBlanc, Kim E., dkk. 2013. Inguinal Hernia: Diagnosis and
Management. American Family Physician. 87(12): 844-848
• Toms, Laurence, dkk. 2011. Expert Review: Examination of Groin
Hernia. The Journal of Clinical Examination. 2011(11): 32-43
• European Hernia Society. 2007. Treatment of Inguinal Hernia in Adult
Patient. http://www.herniaweb.org. Diakses 2 April 2018
• Krames Patient Education. Inguinal Hernia Surgery: Repairing Groin
Hernias. http://www.krames.com. Diakses 2 April 2018