Anda di halaman 1dari 20

CHRONIC KIDNEY DISEASE

 Paluvi Safitri (030.14.154)

 KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM


 RSUD KARDINAH TEGAL

 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS

TRISAKTI
 DEFINISI CKD

CKD merupakan kerusakan ginjal yang menyebabkan


ginjal tidak dapat membung racun dan produk sisa darah,
yang ditandai protein dalam urin dan penurunan LFG
yang berlangsung selama > 3 bulan.

Kamasita SE. pengaruh hemodialisa terhadap kinetik segmen ventrikel kiri. Nurseline journal. Jember : 2018;3(1)
EPIDEMIOLOGI CKD
ETIOLOGI
PENYEBAB UTAMA PENYAKIT GINJAL KRONIK DI AMERIKA SERIKAT

Penyebab Insiden
Diabetes melitus 44%
Tipe 1 (7%)
Tipe 2 (37%)
Hipertensi dan penyakit pembuluh darah 27%
besar
Glomerulonefritis 10%
Nefritis interstisialis 4%
Kista dan penyakit bawaan lain 3%
Penyakit sistemik (misal, lupus dan 2%
vaskulitis)
Neoplasma 2%
Penyakit lain 4% Setiati S. penyakit
Tidak diketahui 4% kronik. Dalam.
ginjal Buku ajar
penyakit dalam jilid
II, Ed 4.FKUI
Jakarta : 2014
ETIOLOGI. PENYEBAB GAGAL GINJAL YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI INDONESIA

Penyebab Insiden
Glomerulonefritis 46,39%

Diabetes melitus 18,65%

Obstruksi dan infeksi 12,85%

Hipertensi 8,46%

Sebab lain 13,65%

Setiati S. penyakit
ginjal kronik. Dalam.
Buku ajar penyakit
dalam jilid II, Ed 4.
FKU. Jakarta : 2014
KLASIFIKASI ATAS DASAR STADIUM CKD

Stadium Deskripsi GFR (mL/menit/1,73 m2)


1 Fungsi ginjal normal, tetapi emuan urin, ≥90
abnormalitas struktur atau ciri genetik
menunjukan adanya penyakit ginjal
2 Penurunan ringan fungsi ginjal dan temuan 60-89
lain (seperti pada stadium 1) menunjukan
adanya penyakit ginjal
3a Penurunan sedang fungsi ginjal 45-59
3b Penurunan sedang fungsi ginjal 30-44

4 Penurunan fungsi ginjal berat 15-29


5 Gagal ginjal ≤15 atau dialisis

The Renal Association, 2013


PATOFISIOLOGI

ETIOLOGI→ hiperfiltrasi diikuti


hipertrofi diperantarai molekul
oleh penambahan
(Proses Struktural dan vasoaktif (sitokin
tekanan kapiler dan
adaptasi)Penguran fungsional dan growth factor)
aliran glomerulus.
gan massa ginjal

berkonstribusi peningkatan
penurunan fungsi (Proses maladaptasi)
terjadinya hiperfiltrasi, aktivitas aksis
nefron yang berupa sklerosis
sklerosis dan renin-angiotensinal
progresif. nefron yang masih
progesifitas tersebut. dosteron intrarenal
tersisa

Hal berperan sbg Stadium dini CKD penurunan fungsi


progresifitas CKD: terjadi kehilangan nefron yang progresif
albuminuria, daya cadang ginjal ditandai dengan ↑
hipertensi, (renal reserve), LFG kadar urea dan
hiperglikemia, masih normal atau↑ kreatinin serum.
dislipidemia.

Setiati S penyakit ginjal kronik. Dalam. Buku ajar penyakit


dalam jilid II, Ed 4. FKUI. Jakarta : 2014; 2161-2167
PATOFISIOLOGI

Dipiro, Joseph T, Robert L et all.


Pharmacotherapy A Pathophysiologic
Approach Seventh Edition. United States
of American. 2011
DIAGNOSIS CKD
Gambaran klinis

a. Sesuai penyakit yang mendasari  DM, infeksi traktus urinarius, batu traktus
urinarius, hipertensi, hiperurikemi, Lupus Eritematosus Sistemik (LES)

b. Sindrom uremia ( lemah, letargi, anoreksia, mual, muntah, nokturia, kelebihan


volume cairan, neuropati perifer, pruritus, uremic frost, perikarditis, kejang
sampai koma

c. Gejala komplikasi ( hipertensi, anemia, osteodistorfi renal, payah jantung, asidosis


metabolik, gangguan keseimbangan elektrolit (sodium, kalium, khlorida)

Setiati S. penyakit ginjal kronik. Dalam.


Buku ajar penyakit dalam jilid II, Ed 4.
FKUI.Jakarta : 2014. 2161-2167
DIAGNOSIS CKD
Gambaran laboratoris

a. Sesuai penyakit yang mendasari (DM, hipertensi, )

b. Penurunan fungsi ginjal  Peningkatan kadar ureum kreatinin serum, penurunan


LFG

c. Kelainan biokimiawi darah ( penurunan Hb, peningkatan kadar asam urat,


hiper/hipokalemia, hiponatremia, hiper/hipokloremia, hiperfosfatemia,
hipokalsemia, asidosis metabolik

d. Kelainan urinalisis ( proteinuria, hematuria, leukosuria, cast, isostenuria )

 Setiati S. penyakit ginjal kronik. Dalam. Buku ajar penyakit dalam jilid II, Ed 4. FKUI. Jakarta : 2014. 2161-2167
DIAGNOSIS CKD
Gambaran radiologis

a. FPA → radio opak

b. Pielografi intravena ( jarang ) karena kontras sering tidak bisa melewati filter
glomerulus, khawatir pengaruh toksik oleh kontras terhadap ginjal yang sudah
mengalami kerusakan

c. Pielografi antegrad dan retrograd sesuai indikasi

d. USG ginjal, memperlihatkan ukuran ginjal yang mengecil, korteks menipis,


adanya hidronefrosis atau batu ginjal, kista, massa dan kalsifikasi

e. Pemeriksaan pemindaian ginjal atau renografi bila ada indikasi

 Setiati S. penyakit ginjal kronik. Dalam. Buku ajar penyakit dalam jilid II, Ed 4. FKUI jakarta : 2014. 2161-2167
DIAGNOSIS CKD

Biopsi dan Pemeriksaan Histopatologi


Ginjal

Dilakukan pada pasien dengan ukuran ginjal yg masih


mendekati normal, dimana diagnosis secara noninvasif tidak
bisa ditegakkan. Tujuannya mengetahui etiologi, terapi,
prognosis, dan mengevaluasi terapi yg diberikan.

 Setiati S. penyakit ginjal kronik. Dalam. Buku ajar penyakit dalam jilid II, Ed 4. FKUI. Jakarta :
2014. 2161-2167
TATALAKSANA CKD
Rencana terapi CKD berdasarkan derajatnya
Derajat LFG (ml/mnt/1,73 m2) Rencana tatalaksana
1 >90 Terapi penyakit dasar, kondisi komorbid,
evaluasi
pemburukan ( progression ) fungsi ginjal,
memperkecil risiko kardiovaskuler
2 60 – 89 menghambat pemburukan fungsi ginjal
3 30 – 59 Evaluasi dan terapi komplikasi
4 15 – 29 Persiapan untuk terapi pengganti ginjal
5 < 15 Terapi pengganti ginjal

Setiati S. penyakit ginjal kronik. Dalam. Buku ajar penyakit


dalam jilid II, Ed 4. FKUI Jakarta : 2014 2161-2167
TATALAKSANA
CKD

 Terapi spesifik terhadap penyakitnya  Pencegahan dan terapi terhadap kondisi


komorbid
• Waktu paling tepat  sebelum terjadi ↓
LFG sehingga pemburukan fungsi ginjal
tidak terjadi.  Perlu pencatatan kecepatan ↓ LFG, untuk
mengetahui kondisi komorbid. Faktor komorbid
• Pada ukuran ginjal masih normal secara antara lain  gangguan keseimbangan cairan,
USG  biopsi dan pemeriksaan HT tidak terkontrol, infeksi tract. urinarius,
histopatologi dapat menentukan indikasi obstruksi tract urinarius, obat-obatan
yang tepat terhadap terapi spesifik. nefrotoksik, bahan kontras atau peningkatan
penyakit dasarnya.
TERAPI FARMAKOLOGIS

b. Pada pasien DM, kontrol gula darah 


a. Kontrol tekanan darah : (< 140 mmHg/< 90 mmHg ) Target HbAIC untuk DM tipe 1 0,2 diatas
- ACEI atau antagonis reseptor angiotensin II  nilai normal tertinggi, untuk DM tipe 2
evaluasi kreatinin dan kalium serum, bila terdapat adalah 6%
peningkatan kreatinin > 35% atau timbul hiperkalemi
harus dihentikan
c. Koreksi asidosis metabolik dengan target
- Penghambat kalsium HCO3 20 – 22 mEq/l
- Diuretik
- anti platelet : untuk pencegahan sekunder d. Kontrol dislipidemia dengan target LDL <
100 mg/dl, dianjurkan golongan satin

Setiati S. penyakit ginjal kronik. Dalam. Buku ajar


penyakit dalam jilid II, Ed 4. FKUI jakarta : 2014. 2161-
2167
TERAPI NON FARMAKOLOGIS
a. Pembatasan protein :
-Pasien non dialisis 0,6 - 0,75 d. Pengaturan asupan KH : 50 -60% dari
gram /kg BB/hr sesuai CCT dan total kalor
toleransi pasien e. Garam NaCl : 2 -3 gr/hr
-Pasien hemodialisis 1-1,2 f. Kalsium : 1400-1600 mg/hr
gram/kgBB ideal/hari
g. Besi : 10 -18 mg/hr
-Pasien peritoneal dialisis 1,3
gram/kgBB/hr h. Magnesium : 200 –300 mg/hr
i. Asam folat pasien HD : 5 mg
b. Pengaturan asupan kalori : 35
j. Air : jumlah urin 24 jam + 500 ml (
kal/kgBB ideal/hr
insensible water loss )
c. Pengaturan asupan lemak : 30
- 40% dari kalori total dan
mengandung jumlah yang sama
antara asam lemak bebas
jenuh dan tak jenuh

Setiati S. penyakit ginjal kronik. Dalam. Buku ajar penyakit dalam jilid II, Ed 4. FKUI jakarta : 2014. 2161-2167
TERAPI PENGGANTI GINJAL

Hemodialisis

Hemodialisis  suatu proses yang digunakan pada pasien dalam keadaan sakit akut
dan memerlukan terapi dialisis jangka pendek (beberapa hari hingga beberapa
minggu) atau pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir atau end stage renal
disease (ESRD) yang memerlukan terapi jangka panjang atau permanen.

Hutagaol EV. Penigkatan kualitas hidup pada penderita gagal ginjal kronik yang
menjalani terapi hemodialisis melalui psychological intervention diunit hemodialisa
RS royal prima medan tahun 2016. Jurnal JUMANTIK.2017;2(1)
TRANSPLANTASI GINJAL
Pertimbangan program transplantasi ginjal, yaitu:
• Cangkok ginjal (kidney transplant) dapat mengambil alih seluruh (100%) faal ginjal, sedangkan
hemodialisis hanya mengambil alih 70-80% faal ginjal alamiah,
• Kualitas hidup normal kembali.
• Masa hidup (survival rate) lebih lama.
• Komplikasi (biasanya dapat diantisipasi) terutama berhubungan dengan obat imunosupresif
untuk mencegah reaksi penolakan.
• Biaya lebih murah dan dapat dibatasi.

Hutagaol EV. Penigkatan kualitas hidup pada


penderita gagal ginjal kronik yang menjalani terapi
hemodialisis melalui psychological intervention
diunit hemodialisa RS royal prima medan tahun
2016. Jurnal JUMANTIK.2017;2(1)
KOMPLIKASI

1. Kardiovaskuler

2. Hiperkalemia

3. Gangguan keseimbangan asam basa, cairan, dan elektrolit

4. Osteodistrofi renal

5. Anemia

Dipiro, Joseph T, Robert L et all. Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach Seventh Edition. United States of
American. 2011