Anda di halaman 1dari 31

RENCANA PENGELOLAAN PERIKANAN

(RPP) IKAN TERI (Stolephorus spp.)


DI WPP-NRI
MANAJEMEN SUMBERDAYA PERIKANAN
KELOMPOK 4
NENENG RISKA R 230110150015
FAJAR PADLI 230110150120
ARIL PRANATA 230110150156
VADHILAH SAVETRI 230110150181
DHEA ZERIA S 230110150213
Peta Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP)
717 & 714
Ikan Teri (Stolephorus spp.)
PELAGIS KECIL

Kepmen KP No. 81/KEPMEN-KP/2016


Kepmen KP No. 84/KEPMEN-KP/2016
Peta Wilayah Pengelolaan Perikanan
(WPP) 571 & 572
Ikan Teri (Stolephorus spp.)
PELAGIS KECIL

Kepmen KP No. 75/KEPMEN-KP/2016


Kepmen KP No. 76/KEPMEN-KP/2016
Mengapa ikan teri
prioritas?
Harga jual yang cukup tinggi, dengan operasi penangkapan,
pengolahan dan penjualan yang relatif mudah.

Lubis (1987) mengatakan ikan teri sebagai bahan pangan


ikan teri adalah salah satu jenis ikan yang paling populer di mempunyai nilai gizi yang tinggi dengan kandungan mineral,
kalangan penduduk Indonesia. vitamin, lemak tak jenuh dan protein yang tersusun dalam
asam-asam amino esensial yang di butuhkan untuk
pertumbuhan tubuh kecerdasan manusia.
Salah satu produksi perikanan laut yang meningkat cukup tajam
adalah ikan teri, dalam periode 2000-2010 peningkatannya
hingga sekitar 11,89% (KKP 2010). Berdasarkan hasil pemeriksaan ahli gizi ikan teri kering
mengandung kalori, protein dan lemak yang lebih banyak
daripada ikan kakap (Evy dkk 2001).
Sumberdaya ikan pelagis merupakan salah satu sumberdaya
ikan yang paling melimpah di perairan Indonesia dengan
estimasi sekitar 75% dari total stok ikan.
Rantai nilai perikanan teri

Penangkapan Pengumpulan Pengolahan Pemasaran


penangkapan dilakukan ikan teri yang sudah Pencucian, perebusan, Domestik dan luar negeri.
oleh nelayan, nelayan ditangkap dikumpulkan penirisan, penjemuran Luar Negeri yaitu Singapore,
biasanya menggunakan ke pengumpul untuk Malaysia, Thailand, Jepang,
bagan apung, bagan didistribusikan ke Philipina, Cina, Hongkong,
perahu dan purse seine. konsumen ataupun Taiwan dan Amerika.
tempat pengolahan.
Produksi teri berdasarkan statistik

Tabel tersebut menunjukkan bahwa produksi ikan teri di perairan pantai Tegal secara umum dalam kurun waktu tiga belas
tahun terakhir, menunjukkan trend kenaikan rata-rata sebesar 0,95% setiap tahunnya sejalan dengan pertambahan jumlah unit
usaha dan upaya pemanfaatannya. Produksi terendah dicapai pada tahun 2004 sebesar 265,36 ton.
Produksi teri berdasarkan
statistik

Hasil tangkapan ikan teri yang


didaratkan di Perairan Sibolga ditangkap
dengan menggunakan alat tangkap bagan
apung dan pukat tarik. Jumlah produksi
ikan teri selama 5 tahun lebih didominan
ditangkap dengan bagan apung. Setiap
triwulannya jumlah produksi ikan teri
berfluktuasi setiap tahunnya. Pada Tabel
tersebut terlihat bahwa jumlah produksi
ikan teri tertinggi pada triwulan I.
Isu Pengelolaan Perikanan Teri
di WPPNRI
• Potensi dari produksi kelautan Indonesia sebagai negara kepulauan
terbesar di dunia diperlihatkan dengan posisinya sebagai negara lima
besar yang memproduksi komoditas perikanan tangkap dan
akuakultur.
• Persilangan ini merupakan pertemuan beberapa komoditas kelautan
utama: tuna (cakalang, yellow fin, albacore, dan big eye), salmon
(salmon Atlantis, salmon Pasifik, trout), krustasea (udang, lobster,
kepiting, dan krill), pelagis (sarden, teri, makarel, dan ikan todak),
makanan ikan, dan minyak ikan (Suman, 2014).
• Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.01/MEN/2009 tentang
Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia telah menetapkan
pembagian WPP menjadi 11 WPP ialah

Gambar Klasifikasi Area Produksi Perikanan Tangkap berdasarkan WPPNRI (Kementerian Kelautan dan
Perikanan, 2014)
Gambar Komposisi jenis ikan pelagis kecil di WPP 714 (Kepmen WPPNRI 717, 2009)
• Ikan pelagis kecil diperoloeh dari sebelas WPPNRI namun ikan teri
diperoleh terbanyak dari WPPNRI 714 dan 717.
• Jenis ikan pelagis kecil yang tertangkap di WPP 714 umumnya di
daerah pantai dekat dengan pulau yang berada di selat Obi dan laut
Banda yang meliputi Kepulauan Lease, Pulau Wowoni, Pulau Saponda,
Pulau Menui sampai pulau Umbele didominasi oleh jenis ikan banyar,
layang/malalugis, tembang dan selar dengan persentase komposisi
68% yang tertangkap dengan alat tangkap pukat cincin.
Gambar Komposisi jenis ikan pelagis kecil di WPP 717 (Kepmen WPPNRI 717, 2009)
• Sementara pada WPPNRI 717 komposisi jenis ikan pelagis kecil di WPP
Samudera Pasifik didominasi oleh ikan kembung, diikuti oleh layang,
teri, tembang, selar, belanak, daun bambu, lemuru, julung-julung dan
sunglir.
• Khusus ikan terbang (Cypsilurus spp.) banyak tertangkap di perairan
utara Biak, utara Manokwari dan sebelah timur pulau Yapen.
Sementara ikan teri banyak tertangkap di perairan Teluk sekitar pulau
Waigeo, sebelah selatan Yapen dan utara Nabire (Suman, 2014).
Tantangan Industri Pengelolaan
Ikan Teri
• Meskipun memiliki potensi produksi dan konsumsi ikan yang tinggi
dalam negeri, Indonesia masih memiliki masalah besar di sektor
perikanan dan maritim, contohnya:
• (i) persebaran area produksi dan konsumsi yang sangat luas,
• (ii) aktivitas nelayan ilegal, tidak terlaporkan, dan tidak teratur,
• (iii) armada nelayan yang didominasi oleh kapal skala kecil,
• (iv) fasilitas dan infrastruktur yang terbatas, dan
• (v) sistem produksi yang tidak terintegrasi secara baik dari hulu dan
hilir (Supply Chain Indonesia, 2015).
• Sementara itu, produksi ikan teri segar sebagai bahan baku teri asin juga semakin
terpangkas akibat pencemaran laut di Teluk Lampung yang semakin berat.
Sebenarnya, Pulau Pasaran memiliki potensi yang sangat baik untuk dikembangkan
sebagai wisata bahari dengan pemandangan alamnya yang eksotis (AFN, 2018).
• Selain itu, tantangan untuk industri pengolahan ikan di Indonesia adalah
persaingan yang sangat ketat dalam
1. Mendapatkan bahan baku ikan segar,
2. Negara pesaing telah menerapkan integrated technology yang memungkinkan
pengolahan di laut yang belum diterapkan oleh industri pengolahan ikan dalam
negeri,
3. Persyaratan ekspor semakin ketat, masih adanya illegal fishing dan transhipment
ikan dilaut,
4. Kenaikan harga bahan bakar minyak dan masih adanya persepsi negatif pada
perdagangan internasional seperti adanya zat pengawet (mercury issue) dan ikan
yang tidak segar dari Indonesia (Junianto, 2018).
Upaya Pengelolaan Ikan Teri
Berkelanjutan di Wilayah Indonesia
PRODUKSI IKAN TERI
Mengapa Produksi Ikan Teri Mengalami Penurunan ?

ME
SELECT
Mutu
Mutu Dan
Dan Keamanan
Keamanan Pangan,
Pangan, karena
karena
ikan teri mudah rusak (perishable
ikan teri mudah rusak (perishable
commodity)
commodity)

1 Kesempatan para importir


Peraturan
Peraturan Menteri
Menteri Perdagangan
Perdagangan (Permendag)
(Permendag)
Nomor
Nomor 87
87 tahun
tahun 2015
2015 tentang
tentang Produk
Produk Impor
Impor untuk menjual produk impor jadi di
pasar dalam negeri.

2
Instruksi
Instruksi Presiden
Presiden No.
No. 77 tahun
tahun 2016
2016 tentang
tentang
Percepatan Pembangunan Industri Perikanan
Percepatan Pembangunan Industri Perikanan
Nasional
Nasional
Upaya Pengelolan Perikanan
Berdasarkan Instruksi Presiden No. 7 tahun 2016 , Studi kasus Pulau ikan asin - Pulau
Pasaran, pulau kecil yang terletak di pesisir Teluk Betung, Bandar Lampung.
How it works: KUR

Pemasaran

Kuliner dan
wisata

1 Jangka pendek, 2 Jangka menengah (optimalkan industri perikanan) 3 Jangka Panjang, terkoordinasi
budi daya dan terintegrasi sesuai tugas,
penyebaran benih fungsi, dan kewenangan dari hulu
sejumlah komoditas •Industri perikanan skala menengah sekitar 36,1%, – hilir untuk melakukan
kelautan dan percepatan pembangunan
perikanan •Skala UMKM mencapai 62%, industri perikanan nasional,
•Tingkatkan suplai bahan baku ikan,

•Tingkatkan sarana dan prasarana penangkapan ikan,

•Tingkatkan gudang pendingin ikan.


Lokasi Pulau Pasaran
Lokasi Pulau Pasaran
(PulauIkan
(Pulau IkanAsin)
Asin)
Pengelolaan Ikan Teri
Berkelanjutan
1 Pengaturan Musim Penangkapan
Ekologi dan
Ikan (MPI)
Lingkungan
2 Penutupan Daerah Penangkapan Ikan

3 Selektifitas Alat Tangkap


kapasitas
Ekono daya
dukung Biologi
4 Pelarangan Alat Tangkap mi
(carrying
capacity)
5 Kuota Penangkapan Ikan

Pengendalian Upaya Penangkapan


6 Ikan
Sosbud dan
lembaga
Penentuan Wilayah dan Musim
Penangkapan
Sebaran klorofil-a di laut barvariasi
Makanan ikan teri adalah
krustasea dan plankton-
plankton Geografis dan kedalaman

Sebaran daerah penangkapan sebaran klorofil-a = indikasi


. Variasi tersebut diakibatkan
ikan kandungan produktivitas primer
oleh perbedaan intensitas
cahaya matahari, dan
Produktivitas primer adalah konsentrasi nutrien yang
laju pembentukan senyawa- terdapat di dalam suatu
senyawa organik yang kaya perairan
energi dari senyawa anorganik
(Nybakken 1992).
Penentuan Wilayah dan Musim
Penangkapan
Nontji (1993) mengatakan bahwa rata-
rata konsentrasi klorofil-a di perairan
Indonesia kira-kira 0,19 mg/m3 dan 0,16 Upwelling dan Angin Muson
mg/m3 selama musim barat sedangkan
0,24 mg/m3 selama musim timur.

Menurut Gower (1972) diacu dalam Widodo (1999) mengelompokkan


Daerah penangkapan daerah potensial berdasarkan pada pertimbangan konsentrasi klorofil-
ditentukan dari dominansi hasil a di atas 0,2 mg/m3 menunjukkan bahwa adanya kehidupan
tangkapan fitoplankton sehingga dapat mempertahankan kelangsungan
perkembangan perikanan.

Sumber : SURBAKTI, CHRISTIN NOVARIA. 2012. ANALISIS MUSIM DAN DAERAH PENANGKAPAN
IKAN TERI (Stolephorus spp.) BERDASARKAN KANDUNGAN KLOROFIL- A DI PERAIRAN SIBOLGA,
SUMATERA UTARA.
Potensi Lestari, JTB, Effort Optimal dan
Tingkat Pemanfaatan Ikan pelagis kecil di
WPP 571
Armada pukat cincin sebagian besar beroperasi di perairan Selat
Penyebaran/Daerah Malaka bagian utara terutama diantara perairan Lhokseumawe
Penangkapan sampai Langsa dan perairan antara Pidie dan sekitar barat daya
Pulau Beras (Pulau Weh).

Sumber daya ikan pelagis kecil di Selat Malaka dieksploitasi


menggunakan berbagai alat tangkap seperti jaring insang, bagan
dan yang paling utama adalah pukat cincin (purse seine).
Berdasarkan kelompok ukuran (GT) terdapat tiga jenis armada
pukat cincin yang beroperasi di Selat Malaka, yakni pukat cincin
mini (≤10 GT), sedang (10-49GT) dan besar (≥50 GT) (Hariati et
al., 2000).
Potensi Lestari, JTB, Effort Optimal dan
Tingkat Pemanfaatan Ikan pelagis kecil di
WPP 571
Aplikasi Model Produksi Surplus melalui model linier dari
Schaeffer (1957) terhadap data catch dan effort tahun 2000-
2011 pada sumberdaya perikanan pelagis kecil di WPP-RI 571
Selat Malaka dan Laut Andaman diperoleh nilai dugaan potensi
lestari (Maximum Sustainable Yield) sebesar 116.568 ton
dengan upaya optimal (fopt.) sebesar 2.286 unit setara purse
seine (Gambar). Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB)
sebesar 80% dari potensi lestarinya atau sebesar 93.255 ton.
Berdasarkan data Statistik Perikanan, pada tahun 2011
diperoleh jumlah alat tangkap purse seine sebesar 2.648 unit
dan produksi ikan pelagis kecil sebesar 180.215 ton. Tingkat
pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis kecil di WPP-RI 571 pada
tahun 2011 sebesar 1,20 (indikator warna merah), atau sudah
melebihi potensi lestarinya.
Potensi Lestari, JTB, Effort Optimal dan Tingkat
Pemanfaatan Ikan pelagis kecil di WPP 572
Daerah penangkapan ikan pelagis kecil di wilayah perairan
sebelah Barat Aceh meliputi perairan sekitar Kepulauan
Banyak, Singkil sampai Pulau Simelue, sedangkan di perairan
pantai Tapanuli Tengah meliputi Sorkam, Barus, dan
sekitarnya. Pada perairan sebelah barat Sibolga meliputi
Teluk Tapanuli, Pulau Mursala, dan sekitarnya. Perairan
Tapanuli Selatan; Natal, Sikara-kara, Pulau Ilik, dan
sekitarnya. Perairan Tapanuli Tengah yang berbatasan
dengan wilayah Sumatera Barat; Pulau Pini, Kepulauan Batu,
Pulau Telo dan sekitarnya. Selain itu juga terdapat di
perairan Bengkulu sampai Manna.
Potensi Lestari, JTB, Effort Optimal dan Tingkat
Pemanfaatan Ikan pelagis kecil di WPP 572

Sumber daya ikan pelagis kecil di WPP ini dieksploitasi terutama oleh armada pukat cincin (purse
seine), disamping berbagai alat tangkap skala kecil lainnya yang memiliki produktivitas jauh lebih
rendah. Dengan Model Produksi Surplus melalui model linier dari Schaeffer (1957) terhadap data
catch dan effort perikanan pelagis kecil tahun 2000-2011 di WPP-RI 572 diperoleh nilai dugaan
potensi lestari (Maximum Sustainable Yield) sebesar 240.927 ton dengan upaya optimum (f Opt .)
sebesar 4.021 unit setara purse seine. Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 80% dari
potensi lestarinya atau sebesar 192.741 ton. Berdasarkan data Statistik Perikanan Tangkap tahun
2011, jumlah alat tangkap setara purse seine sebesar 2.465 unit dengan produksi ikan pelagis kecil
sebesar 197.410 ton.
Potensi Lestari, JTB, Effort Optimal dan Tingkat
Pemanfaatan Ikan pelagis kecil di WPP 572

Dugaan potensi lestari (Maximum Sustainable


Yield) sebesar 240.927 ton dengan upaya optimum
(f Opt .) sebesar 4.021 unit setara purse seine.
Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB)
sebesar 80% dari potensi lestarinya atau sebesar
192.741 ton. Berdasarkan data Statistik Perikanan
Tangkap tahun 2011, jumlah alat tangkap setara
purse seine sebesar 2.465 unit dengan produksi
ikan pelagis kecil sebesar 197.410 ton. Maka
tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis kecil
di WPP-RI 572 pada tahun 2011 sebesar 0,6, hal ini
menunjukkan indikasi belum melebihi potensi
lestarinya.
Inisiatif Daerah
• Perlu adanya pengalokasian kapal penangkapan secara merata di
setiap wilayah WPP-RI
• Pengalokasian kapal sesuai dengan alat tangkap dan target tangkapan
• Perlu adanya jeda penangkapan agar ikan dapat berkembang biak dan
lestari
• Bila pada data model pendugaan potensi stok di suatu WPP sudah
melewati titik MSY ada baiknya armada di alokasikan ke WPP lain.
TERIMA KASIH