Anda di halaman 1dari 71

TEKNIK PENGELASAN

OLEH :

SAHAT
Teknologi Pengelasan
Pengelasan : Proses penyambungan dua buah (atau Lebih) logam sejenis maupun
tidak sejenis dng mencairkan (memanaskan) logam tsb di atas atau di
bawah titik leburnya, disertai dng atau tanpa tekanan & disertai atau
tanpa logam pengisi.
Beberapa keuntungan penggunaan sambungan las (komersial & teknologi) :
- Pengelasan menghasilkan sambungan permanen.
- Sambungan lasan dpt lebih kuat dibandingkan material awal jika menggunakan
logam pengisi & teknik pengelasan yg tepat.
- Umumnya pengelasan adalah proses penyambungan yg paling ekonomis ditinjau
dari penggunaan material & biaya fabrikasi.
- Pengelasan tdk hanya terbatas di lingkungan pabrik, tetapi juga dpt digunakan di
lapangan.
Beberapa keterbatasan & kelemahan sambungan las :
- Umumnya pengelasan dilakukan secara manual & memerlukan biaya operator yg
mahal.
- Umumnya proses pengelasan membutuhkan energi besar yg cenderung
berbahaya.
- Lasan sulit dibongkar, sehingga jika dibutuhkan pembongkaran produk utk
perbaikan/ pemeliharaan, maka metode pengelasan tdk akan digunakan utk proses
penyambungan produk tersebut.
- Sambungan las dpt menyelubungi cacat shg tidak terlihat. Cacat tsb dpt
mengurangi kekuatan sambungan.
Pengelasan sebagai Kegiatan
Komersial :
Pengelasan dpt diaplikasikan di berbagai tempat dan di berbagai industri.
Sebagai sebuah teknologi penyambungan utk produk komersial, banyak proses
pengelasan dilakukan di pabrik-pabrik. Tetapi beberapa proses pengelasan tradisional
seperti Arc Welding (Las Listrik) & Oxyfuel Gas Welding (Las Oksigen) menggunakan
perlengkapan yg mudah dipindah-pindah shg pengerjaannya tdk terbatas di pabrik
saja, tetapi juga pengerjaan konstruksi di lapangan seperti : kapal laut, bengkel
perbaikan otomotif, dll.
Secara prinsip pengelasan digunakan utk :
1. Konstruksi (gedung, jembatan, dll).
2. Perpipaan, pressure vessels (ketel uap), boiler, tangki penampungan.
3. Bangunan kapal.
4. Pesawat udara & pesawat ruang angkasa.
5. Otomotif.
Umumnya pengelasan dilakukan oleh operator berpengalaman : Welder (Juru Las),
dibantu oleh Fitter (Pembantu Juru Las).
Welder bertugas secara manual mengendalikan proses pengelasan utk
menggabungkan komponen satu dengan komponen lainnya.
Fitter bertugas mempersiapkan komponen, peralatan las, pemegang komponen yg
akan dilas (welding fixture).
Tipe Lasan
Setiap bentuk sambungan dpt dibuat oleh pengelasan.
Beberapa tipe lasan berdasarkan bentuk geometri sambungan
& proses
pengelasannya :
- Pengisian Lasan (Fillet Weld) :
1. Pengisian tunggal di dalam utk corner joint
2. Pengisian tunggal di luar utk corner joint
3. Pengisian ganda utk lap joint
4. Pengisian ganda utk tee joint
- Alur/ kampuh las (Groove Weld) :
a. Lasan alur persegi, satu sisi d. Lasan alur U tunggal
b. Lasan alur tirus tunggal e. Lasan alur J tunggal
c. Lasan alur V tunggal f. Lasan alur V ganda
Jenis proses AW yg menggunakan
Consumable Electrodes :
1. Shielded Metal Arc Welding (SMAW/ Stick Welding)
Pd proses ini menggunakan elektoda (stick) dng panjang 9 – 18 inch
(230 – 460
mm) & diameter 3/32 – 3/8 inch (2,5 – 9,5 mm). Elektroda ini memiliki
selubung
mengandung fluks (flux) berupa serbuk cotton & kayu yg dicampur dng
serbuk
carbon & oksidanya serta kadangkala juga mengandung serbuk logam.
Fluks/ selubung berfungsi utk mencegah udara (atmosphere) dan
kotoran (slag)
terjebak dlm logam yg mencair saat proses pengelasan.
SMAW menggunakan arus 30 – 300 A dng voltage 15 – 45 V,
tergantung dari
jenis logam yang akan dilas, tipe elektroda & panjangnya, serta
kedalaman
penetrasi lasan yg diperlukan
Gas Metal Arc Welding (GMAW).
Menggunakan kawat elektroda berdiameter
1/32 – 1/4 inch (0,8 – 6,4 mm). Gas
yg digunakan sbg penyekat adalah argon &
helium (utk sambungan las paduan
Alumunium & Stainless steels), carbon
dioxide (utk baja karbon/ carbon steels).
Electrogas Welding (EGW)
Proses ini umumnya diaplikasikan utk sambungan Vertical Butt Joint.
EGW dapat berfungsi spt FCAW self shielded yaitu menggunakan elektroda
logam berisi fluks yg dpt mengumpan secara kontinu & tanpa gas penyekat,
tetapi juga dpt berfungsi spt GMAW yaitu menggunakan gas penyekat, hanya
saja EGW memiliki sepatu cetakan yg mengandung logam cair.
Sepatu cetakan (molding shoe) berpendingin air berfungsi utk mencegah gas
masuk lasan. Bersamaan dng bagian yg tersambung, di dlm sepatu
bertambah
logam cair (dari elektroda & material). Proses berlangsung automatically, dng
pergerakan kepala las (welding head) secara vertikal naik keatas utk mengisi
sepatu dng logam cair tsb dlm satu siklus.
EGW di aplikasikan utk pengelasan baja (karbon rendah & menengah, serta
stainless steel) konstruksi tangki penyimpanan besar & bangunan kapal.
Tebal elektroda 0,5 – 3,0 inch (12 – 75 mm).
Submerged Arc Welding (ASW)
Adalah proses yg menggunakan pengumpan
elektroda kontinu, arc shielding
(busur penyekat) yg dilengkapi tempat
butiran fluks (granular flux).
Blanket butiran fluks berfungsi mencegah
bunga api (spark), percikan api
(spatter), & radiasi, shg lebih aman bagi
operator dibanding proses arc welding
lainnya.
Jenis proses AW yg tdk menggunakan Consumable
Electrodes :
1. Gas Tungsten Arc Welding (GTAW)
Pengelasan yg sering diaplikasikan utk proses ini spt pengelasan TIG
(tungsten
inert gas). GTAW dpt digunakan dng atau tanpa logam pengisi.
Elektroda tungsten tidak ikut melebur, tungsten adalah material
elektroda yg baik
dng titik leburnya 3410 ºC.
Gas penyekat yg digunakan spt argon, helium, atau campuran
keduanya.
Proses GTAW umumnya lebih lambat dan lebih mahal dibandingkan
proses
consumable electroda arc welding, akan tetapi dpt diaplikasikan utk
material yg
sangat tipis serta kualitas lasan yg sangat tinggi.
Plasma Arc Welding (PAW)
Pengelasan ini adalah bentuk khusus dari GTAW.
Pd elektroda tungsten di pasangkan nozzle yg didesain khusus utk
menghasilkan aliran kecepatan tinggi gas inert (argon atau
campuran argon
hydrogen) yg terus menerus shg membentuk aliran plasma.
Temperatur PAW dpt mencapai 28000 ºC atau lebih shg dpt
meleburkan logam
apapun. Temperatur ini dpt di capai karena tingginya konsentrasi utk
memproduksi jet plasma dng diameter kecil & kepadatan energi yg
sangat tinggi.
Diaplikasikan utk perakitan mobil, lemari besi, rangka pintu &
jendela besi. Sulit
digunakan utk pengelasan perunggu (bronze), besi tuang, timah
hitam (lead), &
magnesium.
Stud Welding (SW)
Proses pengelasan busur (arc welding) yg
khusus utk menyambung stud atau
komponen yg sebentuk ke material dasar.
Contoh aplikasinya : baut utk pengikat
handle peralatan memasak, baut pemegang
pelindung radiasi panas mesin.
LAS BUSUR LISTRIK
 Las merupakan sebuah metode yang
digunakan untukmenyambung dua bagian
logam menjadi satu bagian yangkuat
dengan memanfaatkan energi panas
 Las busur listrik, panas diambil dari arus
listrik yang mengalir diantara dua logam.
Energi panas disalurkan pada ujung-ujung
bagian logam yang akan disambung
hingga bagian tersebut meleleh.
 Pada saat yang sama bahan tambah
(yang juga berada dalam kondisi meleleh)
ditambahkan ke dalam lelehan kedua
bagian logam yang akan disambung.
 Bahan tambah beserta kedua bagian
logam yang dilelehkan berpadu
membentuk ikatan metallurgi sehingga
setelah dingin membeku dan dihasilkan
ikatan sambungan yang kuat
 Las busur nyala listrik merupakan metode
pengelasan yang memanfaatkan tenaga
listrik sebagai sumber panas. Arus listrik
yang cukup tinggi dimanfaatkan untuk
menciptakan busur nyala listrik ( Arc )
sehingga dihasilkan suhu pengelasan yang
tinggi, mencapai 4000oC.
 Sumber arus listrik yang digunakan dapat
berupa listrik arus searah (direct current /
DC) maupun arus bolak-balik (alternating
current / AC).
 Klasifikasi Las Busur Nyala Listrik
Terdapat beberapa macam las busur nyala
listrik, yangdiklasifikasikan sebagai berikut :
1. Las busur listrik elektroda terbungkus (Shielded
Metal Arc Welding/SMAW )
2. Las busur listrik dengan pelindung gas ( TIG/
Wolfram, MIG, CO2 )
3. Las busur listrik dengan pelindung bukan gas
Gambar Pekerjaan Mengelas menggunakan las busur nyala listrik
Las busur listrik elektroda terbungkus (Shielded
Metal Arc Welding/SMAW )

Las busur nyala listrik dengan elektroda


terbungkus merupakan jenis pengelasan
yang banyak digunakan, sehingga
pembahasan lasbusur nyala listrik pada
buku ini dibatasi mengenai las busur nyala
listrikdengan Elektroda terbungkus (SMAW)
Prinsip Las Busur Nyala Listrik
Busur nyala listrik terjadi di antara benda
kerja yang akan disambung dan elektroda
(dapat berupa batang atau kabel). Pada
umumnya, elektroda selain berfungsi
sebagai penghantar arus listrik untuk
menghasilkan busur nyala listrik sekaligus
berfungsi sebagai bahan tambah.
Bersamaan dengan timbulnya busur nyala
listrik, elektroda meleleh dan mengisi celah
sambungan bagian logam yang akan
disambung
Gambar Skema dasar las busur nyala listrik
Skema dasar las busur nyala listrik dapat
dilihat pada gambar diatas. Sebuah mesin
las dengan sumber tegangan AC ataupun
DC, dihubungkan ke benda kerja
menggunakan kabel. Ujung kabel satunya
dihubungkan ke elektroda melalui kabel
elektroda dan pemegang elektroda
 Busur nyala listrik terjadi pada saat
elektroda menyentuh benda kerja,
kemudian secepat mungkin ditarik kembali
dan diberikan jarak tertentu dengan benda
kerja.
 Temperatur yang dihasilkan oleh
busur nyala listrik mencapai 4000 oC.
panas yang dihasilkan akan melelehkan
bagian benda kerja dan ujung elektroda,
menghasilkan kubangan logam cair yang
biasa disebut kawah lasan
Kawah lasan yang berupa paduan lelehan
benda kerja dan elektroda akan membeku
pada saat elektroda bergeser sepanjang
jalur sambungan yang akan dibuat,
sehingga dihasilkan sambungan las yang
kuat berupa paduan logam dari bahan
tambah dan benda kerja yang disambung
Pembentukan Busur Nyala Listrik
Sumber listrik dihubungkan ke benda kerja
sedemikian rupa sehingga kutup sumber
yang satu terhubung ke benda kerja
(berfungsi sebagai katoda), kutup yang lain
dihubungkan dengan elektroda (berfungsi
sebagai anoda). Pada saat elektroda
didekatkan /ditempelkan ke benda kerja,
akan terjadi hubungan singkat antara
kutup-kutup sumber listrik
Elektron mengalir dengan kecepatan tinggi
dari kutup katoda (benda kerja) ke kutup
anoda, (yang berupa elektroda) melompati
ruang udara diantara katoda dan anoda.
Aliran elektron menimbulkan aliran Ion
positif dari kutup anoda ke kutup katoda,
yang kita istilahkan sebagai aliran arus
listrik. Arus listrik yang melompat melalui
ruang udara kita lihat sebagai busur nyala
listrik. Semakin besar aliran arus listrik yang
terjadi, busur nyala listrik yang tercipta juga
semakin besar
Gambar Pembentukan busur nyala listrik
Gambar Peleburan butiran logam oleh busur nyala
listrik
Apabila arus listrik yang mengalir besar,
butir-butir logam akan menjadi halus. Tetapi
jika arus listriknya terlalu besar, butir-butir
logam tersebut akan terbakar sehingga
kampuh sambungan menjadi rapuh
Gambar Peleburan butiran logam elektroda
 Besar kecilnya butir-butir cairan logam
elektroda juga dipengaruhioleh komposisi
bahan fluks yang dipakai sebagai
pembungkus Elektroda.
 Selama pengelasan fluks akan mencair
membentuk terak dan menutup cairan
logam lasan. Selama proses pengelasan,
fluks yang tidak terbakar akan berubah
menjadi gas.
 Terak dan gas yang terjadi selama proses
pengelasan tersebut akan melindungi
cairan logam lasan dari pengaruh udara
luar (oksidasi) dan memantapkan busur
nyala listrik. Dengan adanya fluks,
pemindahan logam cair Elektroda las
Perlindungan Terhadap Busur Nyala
Listrik

Bagaimanapun, proses pengelasan busur


nyala listrik tidak hanya sekedar menggeser
elektroda sepanjang jalur sambungan. Pada
suhu tinggi, logam memiliki kecenderungan
mudah bereaksi terhadap zat-zat yang
terkandung dalam udara, terutama
terhadap oksigen dan nitrogen
 Pada saat pengelasan, apabila terjadi
kontak langsung antara kawah lasan
dengan udara bebas, oksid dan nitrid
akan terbentuk sehingga menurunkan
kekuatan dan keuletan sambungan.
 Perlindungan terhadap busur nyala listrik
akan mengurangi hubungan kawah lasan
dengan udara bebas sehingga melindungi
sambungan lasan dari proses oksidasi
yang akan merusak mutu lasan
Gambar Ilustrasi Perlindungan Terhadap Kawah
Lasan dan Sambungan Laspada las Busur Nyala
Listrik dengan Elektroda Terbungkus
 Gambar di atas menunjukkan ilustrasi
perlindungan busur nyala listrik dan
kawah lasan pada las busur nyala listrik
dengan Elektroda terbungkus. Fluks yang
digunakan untuk membungkus elektroda
berfungsi menghasilkan gas dan terak.
 Gas berfungsi sebagai pelindung kawah
lasan, sedangkan terak yang dihasilkan
berfungsi untuk melindungi sambungan
las dari oksidasi akibat terhubung dengan
udara luar
Parameter Pengelasan

1. Tegangan dan Arus Pengelasan


2. Kecepatan pengelasan
3. Polaritas Listrik
4. Dampak Bakar
5. Penyulutan Elektroda
Tegangan dan Arus Pengelasan
 Energi listrik pada las busur nyala listrik
diukur dalam tegangan (volt) dan arus
(ampere).
 Tegangan pengelasan ditentukan oleh
panjang busur nyala listrik.
 Panjang busur nyala
listrik bergantung pada ukuran dan jenis
elektroda yang digunakan.
 Panjang busur nyala listrik yang baik
kurang lebih setengah dari diameter
elektroda.
 Stabilitas busur nyala listrik dapat
 Arus listrik merupakan energi listrik yang
lebih praktis untuk diukur dalam
melaksanakan pengelasan busur nyala
listrik.
 Besar kecilnya arus yang digunakan
tergantung dari bahan benda kerja,
ukuran (ketebalan) benda kerja, bentuk
kampuh sambungan, posisi pengelasan,
jenis elektroda, dan diameter elektroda
Kecepatan pengelasan
 Kecepatan pengelasan tergantung dari
jenis elektroda, diameter Elektroda, bahan
benda kerja, bentuk sambungan, dan
ketelitian sambungan.
 Kecepatan pengelasan berbanding lurus
dengan besar arus. Kecepatan yang tinggi
memerlukan arus yang besar. Semakin
cepat langkah pengelasan semakin kecil
panas yang ditimbulkan sehingga
perubahan bentuk bahan dapat
dihindarkan
Hasil pengelasan terbaik akan didapatkan
dengan cara mengatur panjang busur nyala,
mengatur kecepatan pengelasan dan
pemakanan elektroda (feeding) secara
konstan sesuai dengan kecepatan lebur
elektroda
Polaritas Listrik
 Polaritas listrik ditentukan oleh bahan
fluks pada elektroda, ketahanan benda
kerja terhadap panas, kapasitas panas
pada sambungan, dan sebagainya.
 Polaritas besar cocok digunakan pada
pengelasan benda kerja yang mempunyai
titik cair tinggi dan kapasitas panas yang
besar, demikian pula sebaliknya
Dampak Bakar
 Dampak bakar merupakan tingkat
kedalaman penembusan (penetrasi) jalur
lasan terhadap bidang kerja yang
disambung.
 Kekuatan sambungan las ditentukan oleh
dampak bakar. Kedalaman dampak bakar
dipengaruhi oleh sifat-sifat bahan fluks,
polaritas listrik, besar kecilnya arus,
tegangan busur dan kecepatan
pengelasan
Penyulutan Elektroda
Penyulutan elektroda dilakukan dengan
mengadakan hubungan singkat pada ujung
Elektroda dengan logam benda kerja yang
kemudian secepat mungkin memisahkannya
dengan jarak tertentu (biasanya setengah
dari diameter elektroda)
Gambar Pengaruh kecepatan, arus
pengelasan terhadap hasil lasan
Pemeriksaan sambungan secara
visual

A. Pengenalan Cacat Las


Yang dimaksud dengan cacat las adalah
kerusakan hasil las yang pada
umumnya dapat diamati / dilihat secara
visual.
Pemeriksaan sambungan secara
visual
1.Retak (crack)
yaitu celah atau gap
yang memutuskan atau
memisahkan hasil las
yang dapat terjadi pada
jalur las atau pertemuan
jalur las atau pada
daerah pengaruh panas,
hal ini disebabkan oleh
pendinginan atau
tegangan, jenis elektroda
yang tidak sesuai dengan
logam dasar.
Pemeriksaan sambungan secara
visual
2. Terak terperangkap
( inlusion )
yaitu suatu benda
asing(bahan logam/
kotoran) yang
terperangkap dan berada
di antara logam las. Hal
ini dapat disebabkan
oleh persiapan yang
kurang baik atau teknik
pengelasan yang salah/
tidak sesuai ketentuan.
Pemeriksaan sambungan secara
visual
3. Lubang pada akhir
jalur las (crater)
yaitu suatu titik atau
beberapa titik lubang
yang biasanya terjadi
pada akhir jalur las, ini
akibat oksidasi dari
oksigen udara luar
terhadap cairan logam
atau sudut elektroda
yang salah pada ujung
jalur las.
Pemeriksaan sambungan secara
visual
4. Jalur las terlalu lebar.
yaitu kelebihan ukuran
lebar jalur pada
sambungan tumpul, ini
dapat terjadi apabila
gerakan/ayunan
elektroda terlalu jauh
atau tarikan elektroda
terlalu pelan atau arus
terlalu besar atau
gabungan dari hal-hal
diatas.
Pemeriksaan sambungan secara
visual
5. Ukuran kaki las tidak
sama
yaitu kelebihan dan/atau
kekurangan ukuran
salah satu atau kedua
kaki las pada
sambungan sudut, hal
ini di mungkinkan oleh
sudut pengelasan yang
tidak sesuai dengan
ketentuan.
Pemeriksaan sambungan secara
visual
6. Undercut
yaitu suatu alur yang
terjadi pada kaki las
(toe), hal ini dapat
terjadi antara lain
karena penggunaan
arus yang tidak sesuai
atau gerakan/ ayunan
elektroda yang terlalu
cepat.
Pemeriksaan sambungan secara
visual
7. Overlap
yaitu kelebihan logam las
pada bagian tepi yang
menempel logam dasar
dan tidak terjadi
perpaduan antara logam
las. Hal ini dapat terjadi
karena arus yang terlalu
rendah, sudut atau
ayunan/ gerakan
elektroda yang salah.
Pemeriksaan sambungan secara
visual
8. Cekungan pada akar las
(root concavity)
yaitu suatu alur yang terjadi
pada jalur penetrasi ( root )
sambungan tumpul yang
diakibatkan oleh
penggunaan jenis elektroda
yang kurang sesuai,
pengisian yang tidak
sempurna, sudut elektroda
yang salah atau karena arc
length yang terlalu jauh.
Pemeriksaan sambungan secara
visual
9. Pengisian jalur kurang.
yaitu suatu alur atau celah
panjang kontinyu atau
terputus-putus pada
sambungan tumpul yang
disebabkan terutama oleh
pengisian yang terlalu
cepat dan ayunan/
gerakan elektroda yang
salah.
Pemeriksaan sambungan secara
visual
10.Keropos (porosity)
yaitu satu atau beberapa
lubang udara yang
terdapat di antara logam
las. Hal ini dapat
disebabkan terutama oleh
faktor elektroda, a.l:
terlalu lembab, berkarat
atau tidak sesuai dengan
jenis bahan yang dilas..
Pemeriksaan sambungan secara
visual
11.Kurang penetrasi
yaitu tidak terjadinya
perpaduan di antara logam
yang disambung yang
terdapat pada dasar logam
yang disebabkan karena
arus pengelasan terlalu
rendah, persiapan kampuh
yang salah/ gap terlalu
kecil, arc length terlalu
jauh, atau karena gerakan
elektroda terlalu cepat.
Pemeriksaan sambungan secara
visual
12. Kelebihan penetrasi
yaitu akar las pada
sambungan tumpul yang
terlalu tinggi/menonjol
yang disebabkan oleh
arus pengelasan terlalu
tinggi, persiapan
kampuh yang salah/ gap
terlalu besar atau karena
gerakan elektroda terlalu
lambat.
Pemeriksaan sambungan secara
visual
13. Bentuk penguat/
jalur las tidak
simetris
yaitu sudut yang di
bentuk antara
permukaan benda
kerja dan garis
singgung pada sisi
penguat tidak sama,
hal ini dimungkinkan
karena sudut
elektroda tidak sama.
Pemeriksaan sambungan secara
visual
14. Kelebihan pengisian
yaitu jalur pengisian/
penguat pada
sambungan tumpul
terlalu tinggi. Hal ini
dapat disebabkan
karena arus
pengelasan agaK
rendah atau
pengelasan terlalu
lambat.
Pemeriksaan sambungan secara
visual

 Kerusakan lain yang tidak


berhubungan dengan logam las,
akan tetapi termasuk pada
kelompok cacat las adalah :
Pemeriksaan sambungan secara
visual
15. Bekas pukulan
yaitu kerusakan
permukaan benda
kerja di luar jalur las
yang disebabkan oleh
pukulan saat
membersihkan terak
atau saat persiapan.
Pemeriksaan sambungan secara
visual
16. Penyimpangan
sudut/distorsi
yaitu perubahan bentuk
pada dua bagian yang
disambung sehingga
membentuk sudut. Ini
disebabkan oleh disrorsi
yang tidak terkontrol
saat pengelasan atau
persiapan yang kurang
memperhitungkan
distorsi yang akan
terjadi.
Pemeriksaan sambungan secara
visual
17. Tidak segaris lurus
yaitu hasil pengelasan
di mana dua bagian
yang disambung tidak
satu bidang/level atau
seperti paralel. Hal ini
terutama disebabkan
oleh persiapan yang
salah atau distorsi
saat pengelasan.
Pemeriksaan Hasil Las Secara Visual

 Pemeriksaan hasil las bertujuan untuk


mengetahui kualitas suatu konstruksi.
Konstruksi dengan kualitas yang jelek
akan menyebabkan penambahan biaya
untuk mengerjakan ulang, kehilangan
kepuasan langganan dan beresiko
terhadap keselamatan.
Pemeriksaan Hasil Las Secara Visual

 Seluruh konstruksi harus sering


diperiksa selama proses pembuatan/
fabrikasi. Selanjutnya tergantung pada
penggunaan komponen tersebut dan
mungkin memerlukan tes khusus.
Misalnya bahan benda kerja dan hasil
las perlu dites baik secara merusak
maupun dengan tidak merusak.
Pemeriksaan Hasil Las Secara Visual

 Tujuan pemeriksaan adalah untuk


mengetahui apakah hasil pekerjaan
telah sesuai dengan standar yang
diakui.
Pemeriksaan Hasil Las Secara Visual

 Pemeriksaan hasil las secara visual (visual


inspection) adalah salah satu metode
untuk memeriksa hasil las dengan cara
tanpa merusak (non destructive)
 Dalam pemeriksaan secara visual ini,
operator atau petugas pemeriksa perlu
menggunakan alat-alat bantu sederhana,
yakni untuk melakukan pemeriksaan cacat
las, ukuran hasil las, bentuk rigi las, dll.
Pemeriksaan Hasil Las Secara Visual

Contoh pemeriksaan hasil las :


Pemeriksaan Hasil Las Secara Visual

Gambar : Pemeriksaan Tinggi Rigi Las (reinforcement)


Pemeriksaan Hasil Las Secara Visual

Gambar : Pemeriksaan Panjang Rigi Las


Pemeriksaan Hasil Las Secara Visual

Gambar : Pemeriksaan Tinggi Rigi Las

Anda mungkin juga menyukai