Anda di halaman 1dari 25

OSTEOMYELITIS

DEFINISI
• osteo-berasal dari kata Yunani yaitu osteon, berarti
tulang, myelo artinya sumsum, dan-itis berarti peradangan.
• Keradangan pada tulang yang disebabkan oleh organisasi
piogenik.
• Infeksi dapat terbatas pada suatu bagian tulang atau beberapa
bagian tulang, seperti sumsum tulang, korteks, periosteum,
dan dan jaringan lunak sekitar.
EPIDEMIOLOGI
• Pada Amerika Serikat.
• Prevalensi keseluruhan adalah 1 kasus per 5.000 anak.
• Prevalensi neonatal adalah sekitar 1 kasus per 1.000.
• Insidens ini meningkat pada negara berkembang.
KLASIFIKASI
• Menurut durasi dari gejala
• Akut, sub akut, kronis
• Menurut faktor penyebab
• Eksogen : disebabkan oleh fraktur terbuka, pembedahan, infeksi
jaringan sekitar.
• Hematogen : berasal dari bakterimia
Osteomyelitis Hematogen Akut
(1)
• Merupakan kasus yang paling sering terjadi pada infeksi tulang
dan biasanya sering terjadi pada anak-anak .
• Pada anak, infeksi sering terjadi pada metafisis tulang panjang.
Osteomyelitis Hematogen Akut
(2)
• Patofisiologi
• Bakteri menyebabkan proses
keradangan yang menyebabkan
lokal iskemia dan nekrosis dari
tulang dan kemudian
membentuk abses.
• Seiring dengan membesarnya
abses menyebabkan tekanan
intrameduler meningkat yang
menyebabkan pus bergerak
menuju korteks melalui ruang
subperiosteal.
• Terbentuk abses subperiosteal
yang jika tidak ditangani akan
menyebabkan terbentuknya
squestra dan osteomyelitis
kronik.
Osteomyelitis Hematogen Akut
(3)
• Pada anak dibawah 2 tahun, banyak pembuluh darah
melewati daerah fisis dan dapat menyebabkan penyebaran
infeksi menuju epifisis.
• Oleh sebab itu, dapat terjadi pemendekan tulang atau
deformitas jika fisis atau epifisis terkena osteomyelitis.
Osteomyelitis Hematogen Akut
(4)
• Pada anak di atas 2 tahun, fisis lebih tebal dan berperan
sebagai barrier dari penyebaran dari abses metafisis.
• Pada orang dewasa, hal ini jarang terjadi karena fisis telah
tertutup, dan biasanya terjadi pada orang dengan
imunodefisiensi.
Osteomyelitis Hematogen Akut
(5)
• Bakteri penyebab :
• Staphylococcus aureus (pada remaja dan dewasa)
• Bakteri Gram-negative (sering pada osteomyelitis vertebral pada
dewasa)
• Pseudomonas
• Fungi
• Grup B streptococcus (pada infant)
• Haemophilus influenza (anak-anak umur 6 bulan – 4 tahun)
DIAGNOSIS (1)
• Anamnesa
• Pemeriksaan fisik :
• Demam dan kelemahan umum
• Nyeri dan lokal tenderness
• Edema
• Laboratorium :
• Leukosit dapat normal
• LED meningkat
• CRP meningkat ( merupakan penanda pada fase akut, dan
berguna sebagai monitoring perkebangan terapi)
DIAGNOSIS (2)
• Radiologi :
• X-ray biasanya negatif, tapi dapat menunjukkan edema soft-
tissue. Reaksi periosteal dan destruksi tulang, biasanya tidak
tampak pada foto polos hingga 10-12 hari setelah infeksi.
• MRI dapat menunjukkan perubahan keradangan awal pada
sumsum tulang dan jaringan lunak.
• Kultur darah untuk melihat bakteri penyebab.
• Aspirasi tulang dapat memberikan diagnosis bakterial secara
tepat.
TATALAKSANA (1)
• Tatalaksana yang tepat setelah onset dapat secara signifikan
menurunkan morbiditas.
• Antibiotik yang tepat berdasarkan aktivitas bakterisidal, paling
aman, dan paling hemat.
• Pembedahan merupakan terapi apabila tdk ada kemajuan
secara signifikan dengan obat-obatan (24 -48 jam).
TATALAKSANA (2)
• Nade (1983) 5 prinsip penanganan osteomyelitis
hematogen akut :
• Antibiotik yang tepat berguna sebelum terbentuknya formasi pus
• antibiotik tidak mensterilkan jaringan yang avaskuler atau abses,
daerah tersebut memerlukan tindakan pembedahan.
• Jika tindakan pembedahan sukses, antibiotik berfungsi untuk
mencegah abses berulang.
• Pembedahan jangan sampai merusak lebih lagi jaringan yang mati
dan jaringan lunak
• Antibiotik harus dilanjutkan setelah pembedahan.
OSTEOMYELITIS HEMATOGEN
SUBAKUT (1)
• Osteomyelitis yang telah terjadi lebih dari 2 minggu.
• Tanda dan gejala sistemik minimal, demam meningkat sedikit,
begitu juga nyerinya.
• Diduga disebabkan karena kombinasi antara organisme yang
virulensinya rendah dengan host respon yang kuat yang
menyebabkan keradangan menetap tanpa tanda dan gejala
yang signifikan.
OSTEOMYELITIS HEMATOGEN
SUBAKUT (2)
• Diagnosis banyak bergantung pada penemuan klinis dan
penemuan radiografi.
• Leukosit umumnya normal
• LED meningkat pada 50% pasien
• Kultur darah umumnya negatif
• X-ray dan bone scan menunjukkan umumnya positif.
OSTEOMYELITIS HEMATOGEN
SUBAKUT (3)
• Penyebab tersering S. Aureus dan Staphylococcus epidermidis.
• Ross and Cole  tatalaksana osteomyelitis hematogen
subakut dengan 48 jam antibiotik intravena dilanjutkan
dengan 6 minggu antibiotik oral.
• Open biopsi dan kuretase dilakukan jika lesi agresif dan tidak
berespon terhadap terapi antibiotik.
OSTEOMYELITIS HEMATOGEN
SUBAKUT (4)
• Klasifikasi
1. Central metaphyseal
lesion.
2. Eccentric metaphyseal
lesion with cortical
erosion.
3. Diaphyseal cortical lesion.
4. Diaphyseal lesion with
periosteal new bone
formation, but without
definite bony lesion.
5. Primary subacute
epiphyseal osteomyelitis.
6. Subacute osteomyelitis
crossing physis to involve
metaphysis and epiphysis.
Modified from Roberts JM Drummond DS, Breed AL, et al.
ABSES BRODIE (1)
• Adalah bentuk lokal dari osteomyelitis hematogen subakut
yang sering muncul pada tulang panjang pada ekstrimitas
bawah pada dewasa muda.
• Gejala :
• Nyeri intermiten dengan durasi yang lama
• Lokal tenderness pada area tersebut
ABSES BRODIE (2)
• Pada X-Ray tampak lesi litik dengan pinggiran tulang sklerotik.
• Penyebab tersering : Staphylococcus aureus
OSTEOMYELITIS KRONIK (1)
• Gejala sistemik sudah mulai menurun, tetapi pada tulang yang
terinfeksi tersebut dapat terdiri dari pus, jaringan granulasi
terinfeksi, dan sequestrum.
• Tanda dari osteomyelitis kronik adalah adanya tulang mati
terinfeksi dan diselimuti dengan jaringan lunak sekitarnya.
OSTEOMYELITIS KRONIK (2)
• Klasifikasi
DIAGNOSIS (1)
• Klinis
• Keadaan kulit dan jaringan sekitar
• Daerah tenderness
• Stabilitas tulang
• Status neurovaskular
• Laboratorium
• LED dan CRP meingkat pada kebanyakan pasien, tetapi leukosit
hanya pada 35% pasien
DIAGNOSIS (2)
• Radiologi
• Pada X-ray dapat tampak
tanda dari destruksi
korteks dan reaksi
periosteal.
• CT-scan dapat
memperlihatkan dengan
jelas korteks tulang dan
jaringan lunak, dan
sanghat berguna dalam
mengidentifikasi
sequestra.
• MRI lebih berguna untuk
mengevaluasi jaringan
lunak dibandingkan
dengan CT-scan.
TATALAKSANA (1)
• Antibiotik dan pembedahan.
• Pembedahan terdiri dari squesterektomi dan reseksi dari
tulang yang terinfeksi dan jaringan lunak. Tujuan pembedahan
dengan adalah eradikasi dari infeksi sampai tercipta
lingkungan yang viabel.
• Antibiotik intravena biasanya digunakan selama 6 minggu post
operasi/ selama 1 minggu secara intravena dilanjutkan 6
minggu secara per oral.