Anda di halaman 1dari 19

AUDITORY STEADY

STATE RESPONSE
Windarti Isminarsih
ASSR
◦ Respon ritmis dari otak yang berupa bangkitan potensial yang merupakan
hasil dari perangsangan bunyi secara bersamaan  bunyi klik, AM, FM,
bising, tone (nada)

◦ Respon elektrofisiologi sebagai hasil dari stimulus suara (bunyi) yang terjadi
bersamaan secara periodik

◦ Respon yang hampir sama dengan auditory brainstem response (ABR),


dimana ASSR mengevaluasi respon terhadap 4 frekuensi (500, 1000, 2000
dan 4000 Hz) paa kedua telinga secara bersamaan

◦ Katz 2015, Douglas 2009


◦ ASSR memiliki aplikasi yang bermanfaat pada sekrening pendengaran
dan audiologi diagnostik

◦ ASSR dapat menampilkan nilai ambang dengar yang terukur secara


statistik

◦ ASSR bertujuan untuk menghasilkan perkiraan hasil audiogram yang


valid secara statistik

◦ ASSR merupakan metode yang berguna untuk pemeriksaan ambang


pendengaran menggunakan frekuensi tertentu

Douglas, 2009
Katz, 2015
Neural generator
◦ Inner hair cell  transduksi sensori awal
◦ Stimulus  inner hair cell  membran basilaris bergetar 
stereocilia bergerak mengikuti stimulus  pergerakan stereocilia
yang simetris membentuk gambaran sinusoid
◦ Inner hair cell  transmisi Nervus VIII  glutamat  potensial aksi
 half wave rectification
◦ Half wave rectification  menyediakan energi pada frekuensi
modulasi  bangkitan ASSR
◦ N.VIII, nukeus koklearis, korteks auditorius primer sensitif terhadap
gelombang FM dan AM, generator pada ASSR
Katz, 2015
FAKTOR STIMULUS
◦ FREKUENSI PEMBAWA (Carrier Frequency)
Sistem pendengaran mempunyai variasi yang berbeda beda sebagai frekuensi pembawa
Fase delay penurunan CF sistematis fungsi tonotopic pada koklea
• AM
bentuk modulasi dimana sinyal informasi digabungkan dengan sinyal pembawa (carrier)
berdasarkan perubahan amplitudo
Jarak jangkau lebih panjang, sehingga dalam perjalanannya mengalami redaman
(fading) oleh udara

• FM
Bentuk modulasi dimana frekuensi sinyal pembawa divariasikan secara proporsional
berdasarkan amplitudo sinyal informasi
Amplitudo sinyal pembawa konstan, tidak dipengaruhi oleh udara
Katz, 2015, Dennis 1986
AM FM
◦ Dikenal sebagai gelombang ◦ Dikenal sebagai gelombang
pembawa, dimodulasi pada pembawa, dimodulasi pada
amplitudonya oleh sinyal frekuensinya oleh sinyal yang
yang akan ditransmisikan akan ditransmisikan
◦ Rentan terhadap noise ◦ Lebih tahan terhadap noise
karena jangkauan yang luas karena jangkauan tidak
◦ Bandwith sempit membatasi terlalu luas
kualitas yang dihasilkan ◦ Bandwith lebih banyak
sehingga kualitas suara yang
dihasilkan lebih baik

Dennis, 1986
• Penggunaan FM dan AM pada CF yang sama (mixed modulation/MM)
 respon dengan amplitudo yang lebih luas dibandingkan dengan
penggunaan AM saja

• Modulasi
bunyi klik, bising nada tinggi atau rendah menghasilkan amplitudo
yang luas/lebar dengan penurunan pengukuran ambang dengar
Penggunaan AM, FM, MM dan nada yang dimodulasi  menilai
ambang pendengaran pada frekuensi tinggi mapun rendah
Dewasa : 40±5 Hz
Anak : ≥80 Hz, ≤ 120 Hz

Katz, 2015
◦ Bunyi cetusan/kicauan (chirp)
Penggunaan cetusan (chirp) untuk memberikan stimulus yang
optimal pada koklea dan menghasilkan ASSR yang lebar
Chirp adalah stimulus AM dan FM yang didesain untuk
menciptakan gelombang koklea yang akan menghasilkan respon
yang sinkron bagian saraf pada frekuensi yang rendah, sedang
dan tinggi di koklea

Katz, 2015
Multipel modulasi dan frekuensi pembawa (CFs)

◦ Stimulus kompleks  multipel AM dan CFs bersamaan

◦ CFs = 0.5, 1.0, 2.0, dan 4.0 kHz dan 8 frekuensi modulasi yang
berbeda beda dengan modulasi frekuensi yang bervariasi
pada kedua telinga dan CF

◦ Pada telinga normal, tidak didapatkan perbedaan nilai ambang


ASSR pada penggunaan keempat CFs secara bersamaan
dibandingkan penggunaan yang bergantian
Katz, 2015
Faktor subyek
◦Usia
◦Bayi  penurunan ambang ASSR pada
masa bayi
◦Dewasa tidak ada kenaikan nilai ASSR

Katz, 2015
PROSES DAN VARIABEL
◦ SKREENING / FILTERING
 Proses yang penting pada perekaman bangkitan respon yang terjadi
dapat dilakukan secara online maupun offline, atau keduanya
 Skrening  SNR (sound to noise response) dengan menghindari aktivitas
yang tidak bermanfaat dan fokus terhadap frekuensi yang diberikan

• PEMAKAIAN ELEKTRODE
• Penggunaan elektrode pada kulit kepala (scalp)  magnitudo yang
bervariasi tergantung pada generator
• 80 Hz ASSR komponen batang otak secara vertikal
• 40 Hz ASSR  neural generator pada batang otak dan korteks auditori primer

Katz, 2015
◦ BISING (NOISE)
Penggunaan elektrode pada kulit kepala  sumber bising : elektrik dan
fisiologis
Bising elektrik dikurangi  memastikan kontak antara elektrode dan kulit
memiliki tegangan yang rendah (<5kΩ)
Bising fisiologis  muskulus  aktivitas tonus otot menhasilkan energi yang
mengganggu perekaman

◦ PENGUKURAN (AVERAGING)
ASSR  amplitudo dan fase yang stabil
ASSR dianalisis dengan algoritme berdasar pada SNR  sinyal ASSR lebih lebar
daripada bising pada saat pemeriksaan
ASSR yang mendekati nilai ambang – ampitudo rendah
Katz, 2015
APLIKASI KLINIS ASSR

 Mengetahui nilai ambang pendengaran pasien yang diduga


mengalami gangguan pendengaran berdasar pemeriksaan
audiometri (bayi, anak-anak, dewasa)

Menstimulus hantaran tulang  mengetahui ada tidaknya


gangguan konduksi

Evaluasi pemakaian ABD dan implan koklea


Katz, 2015
◦ASSR dan ABR, menghasilkan stimulus,
merangsang sistem pendengaran, merekam
respon bioelektrik sistem pendengaran melalui
elektroda, pasien tidak perlu memberikan respon
pada setiap stimulus

Douglas, 2009
ABR ASSR
◦ Menggunakan stimulus klik ◦ Menggunakan AM dan FM,
(click) atau letupan suara MM, secara cepat
(tone burst), satu suara pada merangsang sistem
satu telinga pendengaran dalam empat
◦ ABR tergantung pada analisis frekuensi pada kedua telinga
subjektif amplitudo daripada secara bersamaan
latensi (visualisasi ◦ ASSR berdasar pada analisis
gelombang) secara statistik
◦ Respon ABR diukur dalam (algoritme)terhadap respon
microvolt yang terjadi
◦ Respon diukur dalam
nanovolt
KESIMPULAN
◦ ASSR digunakan untuk mendeteksi gangguan pendengaran pada bayi dan
anak anak
◦ ASSR memberikan hasil yang baik pada pemeriksaan ambang pendengaran
dengan derajat sedang sampai berat pada gangguan pendengaran (250 –
8000 Hz)
• Interpretasi hasil ASSR bersifat obyektif karena dianalisis menggunakan
algoritma dan dapat digunakan untuk koreksi hasil pemeriksaan tes
pendengaran sebelumnya
• Setiap tes pendengaran tidak dapat berdiri sendiri begitu juga ASSR, ASSR
dapat digunakan untuk pemeriksaan lanjutan pada pemeriksaan fungsi
telinga tengah (timpanometri, reflek akustik), fungsi koklea (OAE), atau
pemeriksaan lain seperti ABR.
TERIMA KASIH
MOHON ASUPAN