Anda di halaman 1dari 21

APA ITU POLIO?

Polio merupakan penyakit yang disebabkan virus polio yang tergolong


dalam Picornavirus. Suatu mikro organisme berukuran kecil, namun
dapat melumpuhkan tubuh.
Penyakit polio sering disebut ”poliomyelitis” merupakan penyakit
virus paling tua umurnya. Penderita penyakit ini sudah terekam pada
relief peninggalan zaman Mesir Kuno yang dipahat ribuan tahun sebelum
Masehi. Pada relief itu, tertulis seorang raja yang kakinya kecil sebelah,
sehingga para arkeolog dan kalangan medis menduga sang raja terkena
polio.
JENIS-JENIS POLIO ANTARA LAIN :
1. Non-Paralisis
Polio non-paralisis menyebabkan demam, muntah, saki perut, lesu dan sensitif.
Terjadi kram otot pada leher dan punggung, otot terasa lembek jika disentuh.

2.Polio Paralisis Spinal


Strain poliovirus ini menyerang saraf tulang belakang, menghancurkan
sel tanduk anterior yang mengontrol pergerakan pada batang tubuh dan otot
tungkai.
3.Polio Bulbar
Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga
batang otak ikut terserang.
Gejala meliputi demam, lemas, sakit kepala, muntah, sulit buang air besar, nyeri
pada kaki, tangan, kadang disertai diare.
BENTUK DAN STRUKTUR ANATOMI VIRUS POLIO

Virus polio adalah virus RNA cukup sederhana dari


keluarga Picornaviridae virus. Sebuah partikel virus
polio (virion) pada dasarnya merupakan untai RNA
dikelilingi oleh kapsid. Kapsid memiliki reseptor pada
permukaannya yang membantu virus mengenali dan
mengikat untuk menargetkan neuron motor dalam tubuh
inang. Struktur virus polio – pertama kali ditemukan
pada tahun 1985 – adalah salah satu struktur virus
pertama yang pernah ditemukan.
REFLIKASI
Tahap-tahap replikasi sebagai berikut :
1. Satu virus polio mendekati sebuah sel saraf melalui aliran darah
2. Reseptor-reseptor sel saraf menempel pada virus.
3. Capsid (kulit protein) dari virus pecah untuk melepaskan RNA (materi genetik)
ke dalam sel.
4. RNA polio bergerak menuju sebuah ribosom-stasiun perangkai protein pada sel.
5. RNA polio menduduki ribosom dan memaksanya untuk membuat lebih banyak
RNA dan capsid polio.
6. Capsid dan RNA polio yang baru bergabung untuk membentuk virus polio baru.
7. Sel inang membengkak dan meledak, melepaskan ribuan virus polio baru kembali
ke aliran darah.
8. Dari sel tidak diketahui dengan jelas hanya sebagian kecil dari partikel virus
baru yang disintesis merupakan virion yang matang dan infektif.
EPIDEMIOLOGI
• Polio tersebar di seluruh dunia terutama di Asia Selatan, Asia
Tenggara, dan Afrika. Kasus terakhir virus polio 3 terjadi di Sri
Lanka pada tahun 1993, virus polio 1 dan polio 3 di Jawa Tengah,
Indonesia pada tahun 1995, dan virus Polio 1 di Thailand pada
tahun 1997.
• India salah satu Negara endemic polio, juga menularkan penyakit
ini ke Cina dan Syria pada tahun 1999, ke Bulgaria pada tahun
2001, serta ke Lebanon pada 2003. Menurut penyelidikan WHO
dan Depkes RI, virus polio liar di Indonesia pada tahun 2005
berasal dari sudan atau Nigeria yang berada di Arab Saudi. Virus
tersebut ditularkan ke Negara lain melalui jamaah haji, jemaah
umroh, dan tenaga kerja lainnya.
DIAGNOSIS LABORATORIUM
Penyakit polio dapat didiagnosis dengan 3 cara yaitu :
1. ViralI solation
Poliovirus dapat dideteksi dari faring pada seseorang yang diduga terkena
penyakit polio.
2. Uji Serology
Uji serology dilakukan dengan mengambil sampel darah dari penderita.
Jika pada darah ditemukan zat antibody polio maka diagnosis bahwa orang
tersebut terkena polio adalah benar. Akan tetapi zat antibody tersebut tampak
netral dan dapat menjadi aktif pada saat pasien tersebut sakit.
3. Cerebrospinal Fluid (CSF)
CSF di dalam infeksi poliovirus pada umumnya terdapat peningkatan
jumlah sel darah putih yaitu 10-200 sel/mm3 terutama adalah sel limfositnya. Dan
kehilangan protein sebanyak 40-50 mg/100 ml
BAGAIMANA PENULARANNYA?

Penyebaran utamanya melalui kontak dengan


manusia. Pejamu (host) virus ini memang hanya
manusia. Di luar tubuh manusia, virus ini hanya
mampu bertahan hidup sebentar.
Virus ini disebarkan melalui rute orofecal (melalui
makanan dan minuman) dan melalui percikan
ludah. Kemudian virus berkembang biak di
tenggorokan dan usus dan kemudian menyebar ke
kelenjar getah bening, masuk ke dalam darah, serta
menyebar ke seluruh tubuh. Sasaran virus polio
terutama adalah sistem saraf yaitu ke otak, sumsum
tulang belakang dan simpul-simpul saraf.

PATOGENESIS
POLIO

• Imunisasi sebagai salah satu upaya preventif untuk mencegah


penyakit melalui pemberian kekebalan tubuh harus dilaksanakan secara
terus-menerus, meyeluruh dan dilaksanakan sesuai standar sehingga
mampu memberikan perlindungan kesehatan dan memutus mata
rantai penularan. Salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi adalah poliomielitis. Poliomielitis adalah penyakit pada
susunan saraf pusat yang disebabkan oleh satu dari 3 virus yang
berhubungan yaitu virus polio tipe 1, 2 atau 3. secara klinis penyakit
polio adalah anak dibawah umur 15 tahun yang menderita lumpuh layu
akut (acute flaccid paralysis = AFP).
IMUNISASI

• Depkes,2005
• imunisasi adalah suatu usaha untuk meningkatkan kekebalan
aktif seseorang terhadap suatu penyakit dengan memasukkan vaksin
dalamtubuh bayi atau anak. Imunisasi dasar adalah pemberian imunisasi
awaluntuk mencapai kadar kekebalan diatas ambang perlindungan.
Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari
imunisasi adalah untuk mengurangi angka
penderita suatu penyakit yang sangat
membahayakan kesehatan bahkan bisa
menyebabkan kematian pada penderitanya.
Beberapa penyakit yang dapat dihindari
dengan imunisasi yaitu seperti hepatitis B,
campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan,
gondongan, cacar air, tbc, dan lain
sebagainya.
Jadi tujuan utama imunisasi polio
adalah untuk menimbulkan kekebalan aktif
terhadap penyakit polimielitis. Oleh karena
itu sudah jelas bahwa manfaat imunisasi polio
MANFAAT IMUNISASI
POLIO ( MILLER. 2004 )
Adapun manfaat imunisasi polio adalah :
a. Untuk Anak
Mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan
kemungkinan cacat atau kematian.
b. Untuk Keluarga
Menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit.
Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa
anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman.
c. Untuk Negara
Memperbaiki tingkat kesehatan, mencipatakn bangsa yang kuat dan
berakal untuk melanjutkan pembentukan negara ( Marimbi, 2010 ).
JADWAL PEMBERIAN VAKSIN POLIO
(DEPKES , 2005 )

Waktu Pemberian Imunisasi


Imunisasi Polio I : Segera setelah bayi lahir
Imunisasi Polio II : Usia 2 bulan
Imunisasi Polio III : Usia 4 bulan
Imunisasi Polio IV : Usia 18 bulan – 2 tahun
Imunisasi Polio V : SD kelas I (usia 5 tahun)
C A R A P E M B E R I A N VA K S I N P O L I O (
DEPKES, 2005 )

Cara pemberian
vaksin polio adalah
:
Cara pemberian
imunisasi polio
bisa lewat suntikan
( Inactivated
Poliomyelitis
Vaccine/ IPV ), atau
lewat mulut ( Oral
Poliomyelitis
Vaccine/ OPV ). Di
CARA PEMBERIAN
VA K S I N P O L I O
TETES

OPV diberikan
dengan
meneteskan
vaksin polio
sebanyak dua
tetes langsung
kedalam mulut
anak atau dengan
menggunakan
sendok yang
dicampur dengan
EFEK SAMPING DAN
CARA MENGATASINYA
Efek samping dari imunisasi polio adalah :
Biasanya tidak terdapat efek samping yang
berati. Jarang sekali terjadi kelumpuhan akibat
vaksin polio ini dengan perbandingan 1 /
1.000.000 dosis
Sebagian kecil anak setelah mendapatkan vaksin
OPV akan mengalami gejala pusing, diare ringan,
nyeri otot.
Khusus pada vaksin polio IPV efek samping yang
bisa muncul berupa: Sedikit bengkak dan
Berikut adalah cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi efek samping dari
imunisasi ( Matondang. 2005 ) :
• Memberikan ASI sesering mungkin. Kandungan ASI memiliki zat yang
dapat menggurangi peningkatan suhu badan.
• Mendekap bayi, dengan memberikan dekapan dari anda dapat meningkatkan
zat antinyeri sehingga menurunkan rasa sakitnya.
• Jangan menggunakan bedong atau selimbut tebal, gunakan baju yang mudah
menyerap keringat.
• Memberikan kompresan air hangat untuk mengurangi pembengkakan pasca
suntikan. Kebanyakan bayi merasa nyeri ketika bekas suntikan tersentuh
sehingga membuat tidak nyaman.
• Gunakan selalu alat pengukur panas (termometer) untuk melihat
perkembangan peningkatan atau penurunan suhu tubuhnya.
• Bila panas tidak kunjung turun dan mempunyai riwayat kejang dan gejala
lainnya juga tidak berangsur membaik maka dapat berkonsultasi dengan
dokter untuk diberikan penangananya.
PENCEGAHAN

– Melakukan cakupan imunisasi yang tinggi dan menyeluruh


– Pemberian imunisasi polio yang sesuai dengan rekomendasi WHO adalah
diberikan sejak lahir sebanyak 4 kali dengan interval 6-8 minggu.
Kemudian diulang usia 1½ tahun, 5 tahun, dan usia 15 tahun
– Survailance Acute Flaccid Paralysis atau penemuan penderita yang
dicurigai lumpuh layuh pada usia di bawah 15 tahun harus diperiksa
tinjanya untuk memastikan karena polio atau bukan.
– Melakukan Mopping Up, artinya pemberian vaksinasi massal di daerah
yang ditemukan penderita polio terhadap anak di bawah 5 tahun tanpa
melihat status imunisasi polio sebelumnya.
KESIMPULAN
• Polio adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus polio yang
dapat mengakibatkan terjadinya kelumpuhan yang permanen, Jenis
polio ada 3 yaitu Polio Non-Paralisis, Polio Paralisis Spinal, Polio
Bulbar.
• Gejala polio meliputi demam, lemas, sakit kepala, muntah, sulit buang
air besar, nyeri pada kaki/tangan, kadang disertai diare. Kemudian
virus menyerang dan merusakkan jaringan syaraf, sehingga
menimbulkan kelumpuhan yang permanen.
• Pencegahan polio antara lain melakukan cakupan imunisasi yang
tinggi dan menyeluruh, Pekan Imunisasi Nasional yang telah
dilakukan Depkes tahun 1995, 1996, dan 1997, Survailance Acute
Flaccid Paralysis, melakukan Mopping Up