Anda di halaman 1dari 25

Apa itu polio?

Polio merupakan penyakit yang disebabkan virus polio yang tergolong


dalam Picornavirus. Suatu mikro organisme berukuran kecil, namun
dapat melumpuhkan tubuh.
Penyakit polio sering disebut ”poliomyelitis” merupakan penyakit
virus paling tua umurnya. Penderita penyakit ini sudah terekam pada
relief peninggalan zaman Mesir Kuno yang dipahat ribuan tahun sebelum
Masehi. Pada relief itu, tertulis seorang raja yang kakinya kecil sebelah,
sehingga para arkeolog dan kalangan medis menduga sang raja terkena
polio.
Latar belakang
• Polio adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus polio
yang dapat mengakibatkan terjadinya kelumpuhan yang
permanen. Penyakit ini dapat menyerang pada semua
kelompok umur, namun yang paling rentan adalah kelompok
umur kurang dari 3 tahun. Gejala meliputi demam, lemas,
sakit kepala, muntah, sulit buang air besar, nyeri pada kaki,
tangan, kadang disertai diare. Kemudian virus menyerang
dan merusak jaringan syaraf, sehingga menimbulkan
kelumpuhan yang permanen.
• Penyakit polio pertama terjadi di Eropa pada abad ke-18,
dan menyebar ke Amerika Serikat beberapa tahun
kemudian. Penyakit polio menjadi terus meningkat dan rata-
rata orang yang menderita penyakit polio meninggal,
sehingga jumlah kematian meningkat akibat penyakit ini.
Penyakit polio menyebar luas di Amerika Serikat sampai ke
negara Indonesia .
JENIS-JENIS POLIO ANTARA LAIN :
1. Non-Paralisis
Polio non-paralisis menyebabkan demam, muntah, saki perut, lesu
dan sensitif. Terjadi kram otot pada leher dan punggung, otot
terasa lembek jika disentuh.

2.Polio Paralisis Spinal


Strain poliovirus ini menyerang saraf tulang belakang,
menghancurkan sel tanduk anterior yang mengontrol pergerakan
pada batang tubuh dan otot tungkai.
3.Polio Bulbar
Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya
kekebalan alami sehingga batang otak ikut terserang.
Gejala meliputi demam, lemas, sakit kepala, muntah,
sulit buang air besar, nyeri pada kaki, tangan, kadang
disertai diare. Kemudian virus menyerang dan
merusakkan jaringan syaraf , sehingga menimbulkan
kelumpuhan yang permanen. Penyakit polio pertama
terjadi di Eropa pada abad ke-18, dan menyebar ke
Amerika Serikat beberapa tahun kemudian. Penyakit
polio juga menyebar ke negara maju belahan bumi utara
yang bermusim panas. Penyakit polio menjadi terus
meningkat dan rata-rata orang yang menderita penyakit
polio meninggal, sehingga jumlah kematian meningkat
akibat penyakit ini. Penyakit polio menyebar luas di
Amerika Serikat tahun 1952, dengan penderita 20,000
orang yang terkena penyakit ini ( Miller,N.Z, 2004 ).
Bentuk dan Struktur Anatomi Virus Polio

Virus polio adalah virus RNA cukup sederhana dari


keluarga Picornaviridae virus. Sebuah partikel virus
polio (virion) pada dasarnya merupakan untai RNA
dikelilingi oleh kapsid. Kapsid memiliki reseptor pada
permukaannya yang membantu virus mengenali dan
mengikat untuk menargetkan neuron motor dalam tubuh
inang. Struktur virus polio – pertama kali ditemukan
pada tahun 1985 – adalah salah satu struktur virus
pertama yang pernah ditemukan.
REFLIKASI
Tahap-tahap replikasi sebagai berikut :
1. Satu virus polio mendekati sebuah sel saraf melalui
aliran darah
2. Reseptor-reseptor sel saraf menempel pada virus.
3. Capsid (kulit protein) dari virus pecah untuk melepaskan
RNA (materi genetik) ke dalam sel.
4. RNA polio bergerak menuju sebuah ribosom-stasiun
perangkai protein pada sel.
5. RNA polio menduduki ribosom dan memaksanya untuk
membuat lebih banyak RNA dan capsid polio.
6. Capsid dan RNA polio yang baru bergabung untuk
membentuk virus polio baru.
Epidemiologi

• Polio tersebar di seluruh dunia terutama di Asia


Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika. Kasus terakhir
virus polio 3 terjadi di Sri Lanka pada tahun 1993,
virus polio 1 dan polio 3 di Jawa Tengah, Indonesia
pada tahun 1995, dan virus Polio 1 di Thailand pada
tahun 1997.
• India salah satu Negara endemic polio, juga
menularkan penyakit ini ke Cina dan Syria pada tahun
1999, ke Bulgaria pada tahun 2001, serta ke Lebanon
pada 2003. Menurut penyelidikan WHO dan Depkes
RI, virus polio liar di Indonesia pada tahun 2005
berasal dari sudan atau Nigeria yang berada di Arab
Saudi. Virus tersebut ditularkan ke Negara lain
melalui jamaah haji, jemaah umroh, dan tenaga kerja
lainnya.
DIAGNOSIS LABORATORIUM
Penyakit polio dapat didiagnosis dengan 3 cara yaitu :
1. ViralI solation
Poliovirus dapat dideteksi dari faring pada seseorang yang diduga
terkena penyakit polio. Pengisolasian virus diambil dari cairan cerebrospinal
adalah diagnostik yang jarang mendapatkan hasil yang akurat. Jika poliovirus
terisolasi dari seseorang dengan kelumpuhan yang akut, orang tersebut harus
diuji lebih lanjut menggunakan uji oligonucleotide atau pemetaan genomic untuk
menentukan apakah virus polio tersebut bersifat ganas atau lemah.
2. Uji Serology
Uji serology dilakukan dengan mengambil sampel darah dari penderita.
Jika pada darah ditemukan zat antibody polio maka diagnosis bahwa orang
tersebut terkena polio adalah benar. Akan tetapi zat antibody tersebut tampak
netral dan dapat menjadi aktif pada saat pasien tersebut sakit.
3. Cerebrospinal Fluid (CSF)
CSF di dalam infeksi poliovirus pada umumnya terdapat peningkatan
jumlah sel darah putih yaitu 10-200 sel/mm3 terutama adalah sel limfositnya. Dan
kehilangan protein sebanyak 40-50 mg/100 ml
Bagaimana penularannya?

Penyebaran utamanya melalui kontak dengan


manusia. Pejamu (host) virus ini memang hanya
manusia. Di luar tubuh manusia, virus ini hanya
mampu bertahan hidup sebentar.
Virus ini disebarkan melalui rute orofecal (melalui
makanan dan minuman) dan melalui percikan
ludah. Kemudian virus berkembang biak di
tenggorokan dan usus dan kemudian menyebar ke
kelenjar getah bening, masuk ke dalam darah, serta
menyebar ke seluruh tubuh. Sasaran virus polio
terutama adalah sistem saraf yaitu ke otak, sumsum
tulang belakang dan simpul-simpul saraf.

PATOGENESIS
Lanjutan…..
Dalam sistem saraf virus polio menyerang dan merusak
simpul-simpul saraf sehingga tidak berfungsi. Biasanya yang
diserang saraf penggerak otot tungkai/kaki dan kadang-kadang
tangan. Inilah yang kemudian menyebabkan kelumpuhan dengan
mengecilnya tungkai, sehingga jalan menjadi tidak sempurna.

Namun, virus ini dapat pula menyerang saraf otot lengan dan
tangan. Ia bahkan bisa menyerang bagian otak sehingga susah
menelan waktu makan, mengalami kesulitan bernapas, dan
akhirnya menimbulkan kematian.
POLIO

• Imunisasi sebagai salah satu upaya preventif untuk


mencegah penyakit melalui pemberian kekebalan tubuh
harus dilaksanakan secara terus-menerus, meyeluruh dan
dilaksanakan sesuai standar sehingga mampu
memberikan perlindungan kesehatan dan memutus mata
rantai penularan. Salah satu penyakit yang dapat dicegah
dengan imunisasi adalah poliomielitis. Poliomielitis adalah
penyakit pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh
satu dari 3 virus yang berhubungan yaitu virus polio tipe
1, 2 atau 3. secara klinis penyakit polio adalah anak
dibawah umur 15 tahun yang menderita lumpuh layu akut
(acute flaccid paralysis = AFP).
IMUNISASI
• 1. Depkes,2005
• imunisasi adalah suatu usaha untuk meningkatkan kekebalan
aktif seseorang terhadap suatu penyakit dengan memasukkan
vaksin dalamtubuh bayi atau anak. Imunisasi dasar adalah
pemberian imunisasi awaluntuk mencapai kadar kekebalan
diatas ambang perlindungan.
• 2. Ranuh dkk,2007
• Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kesehatan
seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila
kelak iaterpapar antigen yang serupa tidak pernah terjadi
penyakit.
• 3. Menurut keputusan Menkes RI 2014
• Imunisasi adalah suatu upaya untuk
menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif
terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpajan
dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya
mengalami sakit ringan.
Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari
imunisasi adalah untuk mengurangi angka
penderita suatu penyakit yang sangat
membahayakan kesehatan bahkan bisa
menyebabkan kematian pada penderitanya.
Beberapa penyakit yang dapat dihindari
dengan imunisasi yaitu seperti hepatitis B,
campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan,
gondongan, cacar air, tbc, dan lain
sebagainya.
Jadi tujuan utama imunisasi polio
adalah untuk menimbulkan kekebalan aktif
terhadap penyakit polimielitis. Oleh karena
itu sudah jelas bahwa manfaat imunisasi polio
adalah mencegah penyakit polio atau lumpuh
layu. Baik perindividu maupun secara luas
MANFAAT IMUNISASI POLIO (
Miller. 2004 )

Adapun manfaat imunisasi polio adalah :


a. Untuk Anak
Mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan
kemungkinan cacat atau kematian.
b. Untuk Keluarga
Menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit.
Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa
anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman.
c. Untuk Negara
Memperbaiki tingkat kesehatan, mencipatakn bangsa yang kuat dan
berakal untuk melanjutkan pembentukan negara ( Marimbi, 2010 ).
JADWAL PEMBERIAN VAKSIN POLIO
(Depkes , 2005 )

Waktu Pemberian Imunisasi


Imunisasi Polio I : Segera setelah bayi lahir
Imunisasi Polio II : Usia 2 bulan
Imunisasi Polio III : Usia 4 bulan
Imunisasi Polio IV : Usia 18 bulan – 2 tahun
Imunisasi Polio V : SD kelas I (usia 5 tahun)
CARA PEMBERIAN VAKSIN POLIO ( Depkes, 2005 )

Cara pemberian
vaksin polio adalah
:
Cara pemberian
imunisasi polio
bisa lewat suntikan
( Inactivated
Poliomyelitis
Vaccine/ IPV ), atau
lewat mulut ( Oral
Poliomyelitis
Vaccine/ OPV ). Di
Indonesia yang
digunakan adalah
CARA PEMBERIAN
VAKSIN POLIO
TETES

OPV diberikan
dengan
meneteskan
vaksin polio
sebanyak dua
tetes langsung
kedalam mulut
anak atau dengan
menggunakan
sendok yang
dicampur dengan
gula manis.
Imunisasi ini
EFEK SAMPING DAN CARA
MENGATASINYA
Efek samping dari imunisasi polio adalah :
Biasanya tidak terdapat efek samping yang
berati. Jarang sekali terjadi kelumpuhan akibat
vaksin polio ini dengan perbandingan 1 /
1.000.000 dosis
Sebagian kecil anak setelah mendapatkan vaksin
OPV akan mengalami gejala pusing, diare ringan,
nyeri otot.
Khusus pada vaksin polio IPV efek samping yang
bisa muncul berupa: Sedikit bengkak dan
kemerahan di tempat suntikan. Pengerasan kulit
pada tempat suntikan, yang biasanya cepat
Berikut adalah cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi efek
samping dari imunisasi ( Matondang. 2005 ) :
• Memberikan ASI sesering mungkin. Kandungan ASI memiliki
zat yang dapat menggurangi peningkatan suhu badan.
• Mendekap bayi, dengan memberikan dekapan dari anda dapat
meningkatkan zat antinyeri sehingga menurunkan rasa sakitnya.
• Jangan menggunakan bedong atau selimbut tebal, gunakan baju
yang mudah menyerap keringat.
• Memberikan kompresan air hangat untuk mengurangi
pembengkakan pasca suntikan. Kebanyakan bayi merasa nyeri
ketika bekas suntikan tersentuh sehingga membuat tidak
nyaman.
• Gunakan selalu alat pengukur panas (termometer) untuk
melihat perkembangan peningkatan atau penurunan suhu
tubuhnya.
• Bila panas tidak kunjung turun dan mempunyai riwayat kejang
dan gejala lainnya juga tidak berangsur membaik maka dapat
berkonsultasi dengan dokter untuk diberikan penangananya.
PENCEGAHAN

• Melakukan cakupan imunisasi yang tinggi dan menyeluruh


• Pemberian imunisasi polio yang sesuai dengan rekomendasi
WHO adalah diberikan sejak lahir sebanyak 4 kali dengan
interval 6-8 minggu. Kemudian diulang usia 1½ tahun, 5
tahun, dan usia 15 tahun
• Survailance Acute Flaccid Paralysis atau penemuan
penderita yang dicurigai lumpuh layuh pada usia di bawah
15 tahun harus diperiksa tinjanya untuk memastikan karena
polio atau bukan.
• Melakukan Mopping Up, artinya pemberian vaksinasi
massal di daerah yang ditemukan penderita polio terhadap
anak di bawah 5 tahun tanpa melihat status imunisasi polio
sebelumnya.
KESIMPULAN
• Polio adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus
polio yang dapat mengakibatkan terjadinya kelumpuhan
yang permanen, Jenis polio ada 3 yaitu Polio Non-
Paralisis, Polio Paralisis Spinal, Polio Bulbar.
• Gejala polio meliputi demam, lemas, sakit kepala, muntah,
sulit buang air besar, nyeri pada kaki/tangan, kadang
disertai diare. Kemudian virus menyerang dan merusakkan
jaringan syaraf, sehingga menimbulkan kelumpuhan yang
permanen.
• Pencegahan polio antara lain melakukan cakupan
imunisasi yang tinggi dan menyeluruh, Pekan Imunisasi
Nasional yang telah dilakukan Depkes tahun 1995, 1996,
dan 1997, Survailance Acute Flaccid Paralysis, melakukan
Mopping Up