Anda di halaman 1dari 28

TRANSKULTURAL PADA ASPEK

NYERI
GROUP 4
• Galuh Ayu Pravitasari
• Bunga Anggraini
• Niken Purbolaras
• Nafisah Amalia
• Thatit Sinubawardani
• Erisca Febriana
• Fitri Chandra
• Kristianto Dwi
• Pramudya Yopalika
• Fida Husain
• Intan Septiana
Transcultural Nursing
merupakan suatu area kajian ilmiah
yang berkaitan dengan perbedaan
maupun kesamaan nilai – nilai budaya
(nilai budaya yang berbeda, ras, yang
mempengaruhi pada seorang perawat
saat melakukan asuhan keperawatan
kepada klien / pasien). (Leininger,
1991).
DEFINISI NYERI

Nyeri merupakan sensasi yang


tidak menyenangkan baik secara sensori
maupun emosional yang berhubungan
dengan adanya suatu kerusakan jaringan atau
faktor lain, sehingga individu merasa tersiksa,
menderita yang akhirnya akan mengganggu
aktivitas sehari-hari. (Asmadi, 2008).
Berdasarkan Sifat

Berdasarkan Klasifikasi Berdasarkan


berat
Tempat ringannya
Nyeri

Berdasarkan waktu
lamanya serangan
Berdasarkan Tempat

•Pheriperal pain, yaitu nyeri yang terasa pada permukaan


tubuh, misal pada kulit, mukosa.
•Deep pain, yaitu nyeri yang terasa pada permukaan tubuh
yang lebih dalam, atau pada organ-organ tubuh visceral.
•refered pain, yaitu nyeri dalam yang disebabkan karena
penyakit organ/struktur dalam tubuh yang ditransmisikan ke
bagian tubuh di daerah yang berbeda, bukan daerah asal nyeri.
•central pain, yaitu nyeri yang terjadi karena perangsangan
pada sistem syaraf pusat, spinal cord, batang otak, talamus, dll.
Berdasarkan Sifat

•incidental pain, nyeri yang timbul sewaktu-waktu lalu


menghilang
•steady pain, nyeri yang timbul dan menetap serta dirasakan
dalam waktu lama.
•paroxymal pain, nyeri yang dirasakan berintensitas tinggi dan
kuat sekali. Nyeri tersebut biasanya menetap +- 10-15 menit,
lalu menghilang, kemudian timbul lagi.
Berdasarkan Berat Ringannya

•nyeri ringan, nyeri dengan intensitas


rendah
•nyeri sedang, nyeri yang menimbulkan
reaksi
•nyeri berat, nyeri dengan intensitas
tinggi
Berdasar waktu lamanya serangan

•nyeri akut, nyeri yang dirasakan dalam


waktu yang singkat dan berakhir dalam
waktu kurang dari enam bulan, sumber
dan daerah nyeri diketahui dengan jelas.
•nyeri kronis, nyeri yang dirasakan lebih
dari enam bulan, bahkan bertahun tahun.
PENGUKURAN NYERI

penggunaan skala intensitas nyeri adalah


metode yang mudah dan dapat dipercaya
dalam menentukan intensitas nyeri klien.
EKSPRESI NYERI

Tidak semua klien dapat mengerti atau


menghubungkan nyeri yang dirasakan ke skala
intensitas nyeri berdasarkan angka. Termasuk di
dalamnya adalah anak-anak yang tidak dapat
mengomunikasikan ketidaknyamanan secara verbal,
klien lansia yang, mengalami kerusakan kognitif atau
komunikasi, dan orang yang tidak dapat berbahasa
Inggris. Untuk klien tersebut, skala tingkat nyeri wajah
Wong-Baker mungkin lebih mudah digunakan (Pasero,
1997b).
Instruksi kata singkat: Tunjuk setiap wajah dan
gunakan kata-kata untik menggambarkan
intensitas nyeri. Minta anak untuk memilih
wajah yang paling menggambarkan rasa
nyerinya dan catat nomor yang sesuai.
PANDANGAN DAN PERILAKU TENTANG NYERI

Davitz dan davitz (1981), yang telah


mempelajari secara ekstensif sikap
keperawatan terhadap rasa nyeri,
ditemukan bahwa latar belakang etnis
klien merupakan faktor penentu penting
untuk inferensi penderitaan akibat
tekanan fisik dan psikologis oleh perawat
AS.
Selain itu, Davitz dan Davitz menemukan
bahwa perawat yang menyimpulkan nyeri
klien yang relatif besar cenderung untuk
melaporkan pengalaman mereka sendiri
sebagai lebih menyakitkan daripada perawat
yang menyimpulkan nyeri klien berkurang.
Secara umum, perawat AS dengan Eropa
timur, eropa selatan, atau latar belakang Afrika
cenderung menyimpulkan penderitaan yang
lebih besar daripada perawat dengan latar
belakang Eropa utara.
Dalam sebuah studi lain, Acheson (1988)
menemukan bahwa kesimpulan perawat
'penderitaan klien bervariasi oleh budaya klien.
Menggunakan sketsa yang menggambarkan
penduduk asli Amerika, Asia Tenggara, putih
Amerika, dan Meksiko-Amerika klien, perawat
diminta untuk menyimpulkan sakit fisik, tekanan
psikologis, dan pilihan intervensi. Perawat
cenderung menyimpulkan sakit fisik terbesar bagi
klien Asia Tenggara, diikuti oleh Meksiko-Amerika
klien. Kesimpulan dari nyeri untuk penduduk asli
klien dari Amerika dan kulit putih itu identik.
APLIKASI KONSEP TRANSKULTURAL
KEPERAWATAN PADA ORANG DENGAN NYERI

1. Membangun Kompetensi Perawat


Benoliel dan Crowley (1974)
menggambarkan pentingnya membangun
kompetensi perawat kepada klien. Klien
harus merasa nyaman baik dengan
keterampilan teknis dan interpersonal
perawat. Cara perawat menampilkan diri
dan perawatan mereka sangat
mempengaruhi penerimaan mereka
2. Menilai nyeri
Perawat mendapatkan hasil yang paling
berguna ketika mereka menganggap
penilaian nyeri bukan sebagai tugas tetapi
sebagai sebuah interaksi yang penting
dengan klien (Thiderman, 1989). Hal ini
penting bagi perawat untuk percaya pada
klien ketika mereka mengatakan mereka
sakit. Indikator tunggal yang paling bisa
diandalkan untuk menilai adanya nyeri dan
tingkat intensitas nyeri adalah laporan diri
(institude Kesehatan Nasional, 1987).
Perawat perlu mencoba untuk memahami
bagaimana klien mengalami nyeri dan
menyampaikan pemahaman tersebut untuk
klien. Karena kata rasa sakit memiliki
perbedaan arti yang begitu banyak dan
mengacu pada berbagai sensasi, menjelaskan
pengalaman klien tentang rasa sakit akan
membantu untuk kedua belah pihak baik
perawat dan klien.
Penilaian tingkat nyeri memiliki tiga tujuan
utama. Pertama, memungkinkan perawat
untuk memahami apa yang sedang klien
alami. Kedua, juga mengevaluasi efek
pengalaman nyeri yang dimiliki klien. Ketiga,
kadang-kadang memungkinkan untuk
penentuan sifat fisik fenomena yang
mengakibatkan rasa sakit (Fagerhaugh dan
Strauss, 1977).
3. Memahami Pengalaman
Klien yang mengalami sakit kronis dapat
menampilkan sedikit perilaku nonverbal intens
relatif terhadap rasa sakit yang mereka rasakan
dibandingkan dengan klien yang mengalami nyeri
akut. Tidak adanya perilaku nonverbal nyeri
seperti meringis dan menyipitkan mata, namun
tidak berarti tidak adanya nyeri (Teske, Daut, dan
Cleeland, 1993). Selain itu, perawat harus ingat
bahwa ekspresi nyeri akan bervariasi antara klien
dan bahkan dengan klien yang sama dalam situasi
yang berbeda. Variasi juga harus diakui dalam
budaya.
4. Mengevaluasi Efek
Seringkali aspek yang paling sulit
dari penilaian nyeri adalah ketika
mengevaluasi dampak pengalaman yang
dialami klien: Pada tingkat yang paling
mendasar, perawat harus menghindari
mendikte klien apa efek sakit "harus"
terjadi pada mereka. Sebaliknya, makna
dari pengalaman harus datang dari klien.
Pengkajian respon aktual terhadap nyeri harus
mencakup pengumpulan data tentang perilaku
tertentu berarti apa. Sebagai contoh, meskipun
perempuan Meksiko-Amerika yang mengalami nyeri
dapat mengerang, dan diiringi dengan rasa sakit
belum tentu menunjukkan bahwa ia sakit parah,
bahwa wanita itu keluar dari kendali, atau bahwa
perawat harus campur tangan. Sebaliknya, hal itu
dapat digunakan untuk mengekspresikan dan
meringankan ketidaknyamanan (Calvillo dan
Flaskerud, 1991).
5. Klarifikasi Tanggung Jawab
Tanggung jawab dalam nyeri harus
selalu diklarifikasi dengan klien
sehingga mereka tahu apa yang
bisa mereka lakukan untuk
mencapai lega. Sebagai contoh,
anggota dari kelompok budaya
tertentu mungkin menganggapnya
tidak pantas untuk mengeluh sakit.
Kolaborasi perawat-klien sangat penting dalam
manajemen nyeri. Keseringan perawat mendekati
situasi seolah-olah mereka memiliki semua jawaban.
Jelas, sikap ini tidak membantu. Sebaliknya, klien
harus terlibat, secara aktif dalam mencapai tujuan.
Klien tidak boleh dibiarkan sendirian untuk
mengelola situasi. Demikian pula, klien tidak harus
dikelola oleh tim kesehatan tanpanya atau tanpa
masukannya. Justru tenaga kesehatan profesional
dan klien harus bekerja sama untuk memenuhi
tantangan rasa sakit.
PRAKTIK-PRAKTIK ALTERNATIF

1. Ritual / Kebiasaan Keagamaan


Dari kesepakatan perawat seluruh dunia, terdapat
banyak variasi ritual keagamaan yang berhubungan
dengan kesehatan. Contohnya dalam agama
tertentu jika orang tersebut akan datang ke
Ustadnya ada juga yang datang ke dukun. Dalam
hal ini, nyeri dipandang sebagai gangguan dari
manusia yang melibatkan seluruh bagian dari
tubuh manusia. Dukun disini fokus dipenguatan
atau merangsang kekuatan klien sendiri sehingga
menimbulkan penyembuhan yang alami.
2. Biofeedback
Biofeedback terdiri dari berbagai teknik
dengan menggunakan instrumen untuk
memberikan informasi pada klien tentang
perubahan fungsi tubuh. Klien diajarkan
untuk mengira-ngira dan mengendalikan
tingkat relaksasi mereka dan ketegangan
dengan cara pelatihan biofeedback
menggunakan electroencephalography
(EEG) atau electromyograph potensial
muscel (EMG).
3. Akupuntur/Akupresur
Akupuntur telah digunakan setidaknya sudah 3000
tahun yang lalu, ini adalah metode pencegahan,
diagnosa dan mengobati nyeri dan penyakit
dengan penusukkan jarum secara terampil
kedalam tubuh manusia di lokasi yang ditunjuk di
kedalaman berbagai sudut. Akupuntur telah
digunakan sebagai alternatif untuk bentuk-bentuk
lain dari analgesia untuk banyak prosedur
pembedahan kecil di Cina. Itu juga telah digunakan
di pengobatan dari nyeri di berbagai negara lain.
THE END, ANY
QUESTION?