Anda di halaman 1dari 49

RANGKUMAN

Peraturan Pembebanan Indonesia
untuk Gedung - 1983
• POMBINASI PEMBEBANAN:
• Pembebanan Tetap :M+H
• Pembebanan Sementara :M+H+A
• :M+H+G
• Pembebanan Khusus :M+H+G
• :M+H+A+K
• :M+H+G+K

Dimana:
• M = Beban Mati, DL (Dead Load)
• H = Beban Hidup, LL (Live Load)
• A = Beban Angin, WL (Wind Load)
• G = Beban Hidup, E (Earthquake)
• K = Beban Khusus

Beban Khusus, beban akibat selisih suhu, pengangkatan dan
pemasangan, penurunan pondasi, susut, gaya rem dari keran, gaya
sentrifugal, getaran mesin.

Perencanaan komponen struktural gedung direncanakan dengan
kekuatan batas (ULS), maka beban tersebut perlu dikalikan
dengan faktor beban
Pada peninjauan beban kerja pada tanah dan pondasi,
perhitungan Daya Dukung Tanah (DDT) izin dapat dinaikkan
(lihat tabel).
Pembebanan Pembebanan
Jenis Tanah
Tetap Sementara
Pondasi
DDT izin kenaikan DDT
izin
(kg/cm2) (%)
Keras ≥ 5,0 50
Sedang 2,0 – 5,0 30
Lunak 0,5 – 2,0 0 - 30
Amat Lunak 0,0 - 0,5 0
* Catatan 1 kg/cm2 = 98,0665 kPa (kN/m2)
Faktor keamanan (SF ≥ 1,5) tinjauan terhadap guling, gelincir dll.

Beban Mati, berat sendiri bahan bangunan komponen gedung
BAHAN BANGUNAN

Baja 7.850 kg/m3
Batu Alam 2.600 kg/m3
Batu belah, batu bulat, batu gunung (berat tumpuk) 1.500 kg/m3
Batu karang (berat tumpuk) 700 kg/m3
Batu pecah 1.450 kg/m3
Besi tuang 7.250 kg/m3
Beton (1) 2.200 kg/m3
Beton bertulang (2) 2.400 kg/m3
Kayu (Kelas I) (3) 1.000 kg/m3
Kerikil, koral (kering udara sampai lembap, tanpa diayak) 1.650 kg/m3
Pasangan bata merah 1.700 kg/m3
Pasangan batu belah, batu belat, batu gunung 2.200 kg/m3
Pasangan batu cetak 2.200 kg/m3
Pasangan batu karang 1.450 kg/m3
Pasir (kering udara sampai lembap) 1.600 kg/m3
Pasir (jenuh air) 1.800 kg/m3
Pasir kerikil, koral (kering udara sampai lembap) 1.850 kg/m3
Tanah, lempung dan lanau (kering udara sampai lembap) 1.700 kg/m3
Tanah, lempung dan lanau (basah) 2.000 kg/m3
Tanah hitam 11.400 kg/m3

dari kapur. kg/m2 dengan tebal maksimum 4 mm 11 . termasuk bahan-bahan mineral tambahan.setengah batu 250 kg/m2 Dinding pasangan batako : Berlubang : 200 kg/m2 . 200 kg/m2 tanpa penggantung langit-langit atau pengaku).dari semen 21 kg/m2 .KOMPONEN GEDUNG Adukan. terdiri dari : -semen asbes (eternit dan bahan lain sejenis). per cm tebal : . semen merah atau tras 17 kg/m2 Aspal.tebal dinding 20 cm (HB 20) . Bata merah : 450 kg/m2 .tebal dinding 10 cm (HB 10) 120 kg/m2 Tanpa lubang 300 kg/m2 .tebal dinding 10 cm 200 kg/m2 Langit-langit dan dinding (termasuk rusuk-rusuknya.tebal dinding 15 cm . per cm tebal 14 kg/m2 Dinding Pas.satu batu .

beton kejut. . berat sendirinya harus ditentukan sendiri. 40 kg/m2 langit dengan bentang maksimum 5 m dan untuk beban 7 kg/m2 hidup maksimum 200 kg/m2 Penggantung langit-langit (dari kayu). 24 kg/m2 tanpa adukan.s minimum 0. (3) Nilai ini adalah nilai rata-rata. per cm tebal 11 kg/m2 Semen asbes gelombang (tebal 5 mm) Catatan : (1) Nilai ini tidak berlaku untuk beton pengisi (2) Untuk beton getar. beton mampat dan beton padat lain sejenis. tanpa langit.kaca.k. teraso dan beton.8 m 50 kg/m2 Penutup atap genting dengan reng dan usuk/kaso per m2 bidang atap 40 kg/m2 Penutup atap sirap dengan reng dan usuk/kaso per m2 bidang atap 10 kg/m2 Penutup atap seng gelombang (BWG 24) tanpa gordeng Penutup lantai dari ubin semen portland. dengan tebal 3 – 4 mm 10 kg/m2 Lantai kayu sederhana dengan balok kayu. untuk jenis kayu tertentu lihat Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia . dengan bentang maksimum 5 m dan jarak s.

Lantai ruang dansa 500 kg/m2 . toserba. kecuali yang disebut dalam b. kantor.hotel. Lantai ruang olah raga 400 kg/m2 e. Beban berat dari lemari arsip. Lantai dan tangga rumah tinggal. alat dan mesin harus ditentukan tersendiri Beban Hidup Pada Lantai Bangunan a. 250 kg/m2 restoran. asrama dan rumah sakit.Beban Hidup pada lantai gedung. Lantai sekolah. c. Lantai dan tangga rumah sederhana dan gudang-gudang 150 kg/m2 tidak penting yang bukan untuk toko. sudah termasuk perlengkapan ruang sesuai dengan kegunaan dan juga dinding pemisah ringan (q ≤ 100 kg/m'). toko. pabrik atau bengkel. ruang kuliah. d. 200 kg/m2 b.

Lantai dan balkon dalam dari ruang-ruang untuk pertemuan yang lain dari 400 kg/m2 pada yang disebut dalam a s/d e. Tangga. bordes tangga dan gang dari yang disebut dalam c. e. toko buku. f dan 500 kg/m2 g. dengan minimum * Catatan 100 kg/m2 = 0. 300 kg/m2 i. e. ruang rapat. Lantai untuk: pabrik. 250 kg/m2 k. bioskop dan panggung penonton g. j. f dan g. gudang. ruang alat-alat dan ruang mesin. Panggung penonton dengan tempat duduk tidak tetap atau untuk penonton 500 kg/m2 yang berdiri. d. Lantai gedung parkir bertingkat: . bengkel. h.untuk lantai bawah 800 kg/m2 . perpustakaan.980665 kN/m2 . Lantai ruang pelengkap dari yang disebut dalam c. ruang arsip.untuk lantai tingkat lainnya 400 kg/m2 m Balkon-balkon yang menjorok bebas keluar harus direncanakan terhadap beban 300 kg/m2 hidup dari lantai ruang yang berbatasan. Tangga. bordes tangga dan gang dari yang disebut dalam d.f. denganminimum l. harus direncanakan terhadap beban hidup yang ditentukan tersendiri. seperti masjid. ruang pagelaran.gereja. 400 kg/m2 toko besi.

Beban Hidup pada atap gedung. α = sudut kemiringan atap. yang dapat dicapai dan dibebani oleh orang. harus diambil minimum sebesar 100 kg/m2 bidang datar. Atap dan/atau bagian atap yang tidak dapat dicapai dan dibebani oleh orang. Wah = beban air hujan.0. derajat ( jika α > 50o dapat diabaikan). harus diambil yang menentukan (terbesar) dari: Beban terbagi rata air hujan  Wah = 40 .8 α dengan. kg/m2 (min. Balok tepi atau gordeng tepi dari atap yang tidak cukup ditunjang oleh dinding atau penunjang lainnya dan pada kantilever harus ditinjau kemungkinan adanya beban hidup terpusat sebesar minimum 200 kg. . Wah atau 20 kg/m2)  Beban terpusat berasal dari seorang pekerja atau seorang pemadam kebakaran dengan peralatannya sebesar minimum 100 kg.

ruang dansa. pasar 0. ruang pagelaran 0.pendidikan. bengkel 1.80 INDUSTRI Pabrik.80 PENYIMPANAN Gudang. bioskop.0 0.50 PERKANTORAN Kantor.30 PENDIDIKAN Sekolah. bank 0. dapat dikalikan dengan faktor reduksi. kantor 0. hotel. rumah sakit 0. KOEFISIENREDUKSIBEBANHIDUP Koefisien Reduksi beban Hidup Penggunaan Gedung Peninjauan Peninjauan Beban Beban Gravitasi Gempa PERUMAHAN/HUNIAN Rumah tinggal. perdagangan.90 0.30 .90 0. Reduksi Beban Hidup pada perencanaan balok induk dan portal (beban horisontal/gempa dan angin).75 0. gereja. industri.60 0.80 0.80 0. gedung parkir 0.50 .50 PERTEMUAN UMUM Masjid.perumahan/hunian 0. penyimpanan.50 GANG DAN TANGGA .30 PERDAGANGAN Toko. tempat 0.75 0. asrama. ruang kuliah 0.90 0.pertemuan umum. toserba.90 0. restoran.90 TEMPAT KENDARAAN Garasi.75 0. perpustakaan.50 kendaraan . ruang arsip 0.

0 2 1.7 6 0. lantai ruang yang memikul beban berat tertentu yang bersifat tetap.0 3 0.5 n≥8 0. diambil penuh tanpa dikalikan koefisien reduksi. Kecuali untuk kegunaan lantai bangunan: lantai gudang. KOEFISIENREDUKSIBEBANHIDUPKUMULATIF Jumlah lantai yang dipikul Koefisien reduksi yang dikalikan (n) kepada beban hidup kumulatif 1 1.8 5 0. Beban Hidup pada lantai yang menumpu di atas tanah harus turut ditinjau. dinding dan pondasi).6 7 0.Reduksi Beban Hidup pada perencanaan elemen vertikal struktur (kolom. perpustakaan dan ruang penyimpanan sejenis.4 .9 4 0. seperti alat dan mesin. ruang arsip. dapat dikalikan dengan faktor reduksi. Pada perencanaan pondasi.

Tekanan Tiup: ● daerah jauh dari tepi laut. ● di laut dan tepi laut sampai sejauh 5 km dari pantai. V = kecepatan angin. menganggap adanya tekanan positif (pressure) dan tekanan negatif/isapan(suction) bekerja tegak lurus bidang yang ditinjau. Beban Angin. diambil minimum 25 kg/m2. m/det (ditentukan instansi terkait) . diambil minimum 40 kg/m2 atau diambil dari rumus pendekatan dengan.

kecuali untuk struktur bangunan yang ditentukan dalam Pasal 1.2. STANDAR PERENCANAAN KETAHANAN GEMPA UNTUK STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG SNI – 1726 . .2002 Standar ini dimaksudkan sebagai pengganti Standar Nasional Indonesia SNI 03-1726-1989 dan untuk selanjutnya menjadi persyaratan minimum perencanaan ketahanan gempa untuk struktur gedung.

Syarat-syarat perencanaan struktur gedung tahan gempa yang ditetapkan dalam Standar ini tidak berlaku untuk bangunan sebagai berikut : -Gedung dengan sistem struktur yang tidak umum atau yang masih memerlukan pembuktian tentang kelayakannya. dinding dan dermaga pelabuhan. Rumah tinggal satu tingkat dan gedung-gedung non-teknis lainnya. -Gedung dengan sistem isolasi landasan (base isolation) untuk meredam pengaruh gempa terhadap struktur atas. Bangunan Teknik Sipil seperti jembatan. anjungan lepas pantai dan bangunan non-gedung lainnya. . . . bangunan air.

membatasi ketidaknyamanan penghunian bagi penghuni gedung ketika terjadi gempa ringan sampai sedang. . .membatasi kerusakan gedung akibat gempa ringan sampai sedang. sehingga masih dapat diperbaiki.mempertahankan setiap saat layanan vital dari fungsi gedung. .menghindari terjadinya korban jiwa manusia oleh runtuhnya gedung akibat gempa yang kuat. .Standar ini bertujuan agar struktur gedung yang ketahanan gempanya direncanakan menurut Standar ini dapat berfungsi : .

Ditjen Cipta Karya. 1997 Edition. 1997 −National Earthquake Hazards Reduction Program (NEHERP) Recommended Provisions for Seismic Regulation for New Buildings and Other Structures. Part 1 – Provisions.Acuan Standar ini menggunakan acuan dokumen: −SNI 03-1726-1989. Kantor Menteri Negara Pekerjaan Umum.3 No. Volume 2. Dit. Part 2 – Commentary. Feb. Structural Engineering Design Provisions. International Conference of Building Officials. “Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Rumah Dan Gedung”. April 1997 . FEMA 302. 1998 −Uniform Building Code (UBC). 1997 Edition. Bintek.

.DAKTILITAS kemampuan suatu struktur gedung untuk mengalami simpangan pasca-elastik yang besarsecara berulang kali dan bolak-balik akibat beban gempa di atas beban gempa yang menyebabkan terjadinya pelelehan pertama. sehingga struktur gedung tersebut tetap berdiri. sambil mempertahankan kekuatan dan kekakuan yang cukup. walaupun sudah berada dalam kondisi di ambang keruntuhan. FAKTOR dAKTILITAS rasio antara simpangan maksimum struktur gedung pada saat mencapai kondisi di ambang keruntuhan dan simpangan struktur gedung pada saat terjadinya pelelehan pertama di dalam struktur gedung.

0 dan untuk struktur gedung yang daktail penuh sebesar 5. DAKTAIL PARSIAL seluruh tingkat daktilitas struktur gedung dengan nilai faktor daktilitas di antara untuk struktur gedung yang elastik penuh sebesar 1. di mana strukturnya mampu mengalami simpangan pasca-elastik pada saat mencapai kondisi di ambang keruntuhan yang paling besar. .3.DAKTAIL PENUH suatu tingkat daktilitas struktur gedung. yaitu dengan mencapai nilai faktor daktilitas sebesar 5.3.

Akibat pengaruh Gempa Rencana. . walaupun sudah berada dalam kondisi di ambang keruntuhan. struktur gedung secara keseluruhan harus masih berdiri. Gempa Rencana ditetapkan mempunyai perioda ulang 500 tahun.Ketentuan umum Gempa rencana dan kategori gedung Standar ini menentukan pengaruh Gempa Rencana yang harus ditinjau dalam perencanaan struktur gedung serta berbagai bagian dan peralatannya secara umum. agar probabilitas terjadinya terbatas pada 10% selama umur gedung 50 tahun.

. Faktor-faktor Keutamaan I1.Pengaruh Gempa Rencana terhadapnya harus dikalikan dengan suatu Faktor Keutamaan I menurut persamaan : I=I1 I2 di mana I1 adalah Faktor Keutamaan untuk menyesuaikan perioda ulang gempa berkaitan dengan penyesuaian probabilitas terjadinya gempa itu selama umur gedung. I2 dan I ditetapkan menurut Tabel 1. sedangkan I2 adalah Faktor Keutamaan untuk menyesuaikan perioda ulang gempa berkaitan dengan penyesuaian umur gedung tersebut.

pusat penyelamatan dalam keadaan darurat. asam.5 1.6 Gedung penting pasca gempa seperti rumah 1. I.4 1. Cerobong. 1.0 1.6 1. Tabel 1Faktor Keutamaan I untuk berbagai kategori gedung dan bangunan Kategori gedung Faktor Keutamaan I1 I2 I Gedung umum seperti untuk penghunian.0 1. produk minyak bumi.6 seperti gas.4 sakit.0 perniagaan dan perkantoran Monumen dan bangunan monumental 1.0 1.0 1. Gedung untuk menyimpan bahan berbahaya 1. fasilitas radio dan televisi. instalasi air bersih. dapat dikalikan 80%. pembangkit tenaga listrik.6 1.0 1. bahan beracun.0 1. tangki di atas menara 1.5 Catatan : Untuk semua struktur bangunan gedung yang ijin penggunaannya diterbitkan sebelum berlakunya Standar ini maka Faktor Keutamaam. .

artinya ketika struktur gedung memikul pengaruh Gempa Rencana. yang nilai rata-ratanya untuk setiap Wilayah Gempa ditetapkan dalam Gambar 1 dan Tabel 5. di mana Wilayah Gempa 1 adalah wilayah dengan kegempaan paling rendah dan Wilayah Gempa 6 dengan kegempaan paling tinggi. didasarkan atas percepatan puncak batuan dasar akibat pengaruh Gempa Rencana dengan perioda ulang 500 tahun. Implementasi persyaratan ini di dalam perencanaan struktur beton dan struktur baja ditetapkan dalam standar beton dan standar baja yang berlaku. .Perencanaan kapasitas Struktur gedung harus memenuhi persyaratan “kolom kuat balok lemah”. Pembagian Wilayah Gempa ini. Wilayah gempa dan spektrum respons Indonesia ditetapkan terbagi dalam 6 Wilayah Gempa seperti ditunjukkan dalam Gambar 1. sendi-sendi plastis di dalam struktur gedung tersebut hanya boleh terjadi pada ujung-ujung balok dan pada kaki kolom dan kaki dinding geser saja.

.

.

Antara pusat massa dan pusat rotasi lantai tingkat harus ditinjau suatu eksentrisitas rencana ed.Pusat rotasi lantai tingkat suatu struktur gedung adalah suatu titik pada lantai tingkat itu yang bila suatu beban horisontal bekerja padanya. dinyatakan dengan b. tetapi hanya bertranslasi. lantai tingkat tersebut tidak berotasi. diukur tegak lurus pada arah pembebanan gempa. sedangkan lantai-lantai tingkat lainnya yang tidak mengalami beban horisontal semuanya berotasi dan bertranslasi.maka eksentrisitas rencana ed harus ditentukan sebagai berikut : . Apabila ukuran horisontal terbesar denah struktur gedung pada lantai tingkat itu.

33 e + 0.5 e + 0.05 b dan dipilih di antara keduanya yang pengaruhnya paling menentukan untuk unsur atau subsistem struktur gedung yang ditinjau. .3 b : ed = 1.17 e .05 b Atau ed = e .1 b dan dipilih di antara keduanya yang pengaruhnya paling menentukan untuk unsur atau subsistem struktur gedung yang ditinjau. .1 b Atau ed = 1.untuk e > 0.0.3 b : ed = 1. . untuk 0 < e < 0.0.

Dalam perencanaan struktur gedung terhadap pengaruh Gempa Rencana.3. eksentrisitas rencana ed antara pusat massa dan pusat rotasi lantai tingkat menurut Pasal 5. maupun dalam analisis dinamik 3 dimensi. Pembatasan waktu getar alami fundamental Untuk mencegah penggunaan struktur gedung yang terlalu fleksibel. bergantung pada koefisien ζ untuk Wilayah Gempa tempat struktur gedung berada dan jumlah tingkatnya n menurut persamaan T1 < ζ n . nilai waktu getar alami fundamental T1 dari struktur gedung harus dibatasi.4. harus ditinjau baik dalam analisis statik.

Tabel koefisien waktu getar alami Wilayah Gempa ζ 1 0.20 2 0.17 5 0. . di mana simpangan ke samping yang besar akibat beban gempa lateral menimbulkan beban lateral tambahan akibat momen guling yang terjadi oleh beban gravitasi yang titik tangkapnya menyimpang ke samping. yaitu suatu gejala yang terjadi pada struktur gedung yang fleksibel. harus diperhitungkan terhadap Pengaruh P-Delta.18 4 0.16 6 0.15 Pengaruh P-Delta Struktur gedung yang tingginya diukur dari taraf penjepitan lateral adalah lebih dari 10 tingkat atau 40 m.19 3 0.

Arah pembebanan gempa 5. arah utama pengaruh Gempa Rencana harus ditentukan sedemikian rupa.1 harus dianggap efektif 100% dan harus dianggap terjadi bersamaan dengan pengaruh pembebanan gempa dalam arah tegak lurus pada arah utama pembebanan tadi.8. sehingga memberi pengaruh terbesar terhadap unsur-unsur subsistem dan sistem struktur gedung secara keseluruhan. tetapi dengan efektifitas hanya 30%. pengaruh pembebanan gempa dalam arah utama yang ditentukan menurut Pasal 5.8. Untuk mensimulasikan arah pengaruh Gempa Rencana yang sembarang terhadap struktur gedung.1 Dalam perencanaan struktur gedung. .

pengaruh pembebanan gempa dalam arah utama yang ditentukan menurut Pasal 5.8. Perencanaan struktur gedung beraturan Beban gempa nominal statik ekuivalen Struktur gedung beraturan dapat direncanakan terhadap pembebanan gempa nominal akibat pengaruh Gempa Rencana dalam arah masing- masing sumbu utama denah struktur tersebut.1 harus dianggap efektif 100% dan harus dianggap terjadi bersamaan dengan pengaruh pembebanan gempa dalam arah tegak lurus pada arah utama pembebanan tadi. berupa beban gempa nominal statik ekuivalen. . yang ditetapkan lebih lanjut dalam pasal-pasal berikut.Untuk mensimulasikan arah pengaruh Gempa Rencana yang sembarang terhadap struktur gedung. tetapi dengan efektifitas hanya 30%.

maka beban geser dasar nominal statik ekuivalen V yang terjadi di tingkat dasar dapat dihitung menurut persamaan : Dimana: V = Beban gempa horizontal C = Koefisien gempa I = Faktor keutamaan gedung Wt = Berat total bangunan R = Faktor reduksi .Apabila kategori gedung memiliki Faktor Keutamaan I dan strukturnya untuk suatu arah sumbu utama denah struktur dan sekaligus arah pembebanan Gempa Rencana memiliki faktor reduksi gempa R dan waktu getar alami fundamental T1.

i hi = Tinggi lantai ke-i V = Beban geser dasar akibat beban gempa Rencana .1.2 harus dibagikan sepanjang tinggi struktur gedung menjadi beban-beban gempa nominal statik ekuivalen Fi yang menangkap pada pusat massa lantai tingkat ke-i menurut persamaan : Dimana: Fi = Beban gempa horizontal pada lantai ke-i Wi = Berat lantai ke.Beban geser dasar nominal V menurut Pasal 6.

sedangkan 0. maka 0.3.1. Waktu getar alami fundamental Waktu getar alami fundamental struktur gedung beraturan dalam arah masing.masing sumbu utama dapat ditentukan dengan rumus Rayleigh sebagai berikut : .9 V sisanya harus dibagikan sepanjang tinggi struktur gedung menjadi beban.1 V harus dianggap sebagai beban horisontal terpusat yang menangkap pada pusat massa lantai tingkat paling atas.beban gempa nominal statik ekuivalen menurut Pasal 6.Apabila rasio antara tinggi struktur gedung dan ukuran denahnya dalam arah pembebanan gempa sama dengan atau melebihi 3.

2. nilainya tidak boleh menyimpang lebih dari 20% dari nilai yang dihitung menurut Pasal 6.2 ditentukan dengan rumus-rumus empirik atau didapat dari hasil analisis vibrasi bebas 3 dimensi.di mana Wi dan Fi mempunyai arti yang sama seperti yang disebut dalam Pasal 6. Apabila waktu getar alami fundamental T1 struktur gedung untuk penentuan Faktor Respons Gempa C1 menurut Pasal 6.1.1.3. . di adalah simpangan horisontal lantai tingkat ke-i dinyatakan dalam mm dan ‘g’ adalah percepatan gravitasi yang ditetapkan sebesar 9810 mm/det2.1.

8 V1 di mana V1 adalah gaya geser dasar nominal sebagai respons ragam yang pertama terhadap pengaruh Gempa Rencana menurut persamaan : . tidak boleh diambil kurang dari 80% nilai respons ragam yang pertama.Perencanaan struktur gedung tidak beraturan Ketentuan untuk analisis respons dinamik Nilai akhir respons dinamik struktur gedung terhadap pembebanan gempa nominal akibat pengaruh Gempa Rencana dalam suatu arah tertentu. Bila respons dinamik struktur gedung dinyatakan dalam gaya geser dasar nominal V. maka persyaratan tersebut dapat dinyatakan menurut persamaan berikut : V > 0.

di mana I adalah Faktor Keutamaan menurut Tabel 1. Dalam hal ini. sehingga partisipasi massa dalam menghasilkan respons total harus mencapai sekurang-kurangnya 90%. dapat dilakukan dengan metoda analisis ragam spektrum respons dengan memakai Spektrum Respons Gempa Rencana menurut Gambar 2 yang nilai ordinatnya dikalikan faktor koreksi I/R. sedangkan R adalah faktor reduksi gempa representatif dari struktur gedung yang bersangkutan.Perhitungan respons dinamik Struktur gedung tidak beraturan terhadap pembebanan gempa nominal akibat pengaruh Gempa Rencana. . jumlah ragam vibrasi yang ditinjau dalam penjumlahan respons ragam menurut metoda ini harus sedemikian rupa.

harus dilakukan dengan metoda yang dikenal dengan Kombinasi Kuadratik Lengkap (Complete Quadratic Combination atau CQC).1 untuk struktur gedung tidak beraturan yang memiliki waktu-waktu getar alami yang berdekatan.Penjumlahan respons ragam yang disebut dalam Pasal 7. penjumlahan respons ragam tersebut dapat dilakukan dengan metoda yang dikenal dengan Akar Jumlah Kuadrat (Square Root of the Sum of Squares atau SRSS). Untuk struktur gedung tidak beraturan yang memiliki waktu getar alami yang berjauhan. apabila selisih nilainya kurang dari 15%. .2. Waktu getar alami harus dianggap berdekatan.

bergantung yang mana yang nilainya terkecil. Simpangan antar- tingkat ini harus dihitung dari simpangan struktur gedung tersebut akibat pengaruh Gempa Nominal yang telah dibagi Faktor Skala. Untuk memenuhi persyaratan kinerja batas layan struktur gedung. .1 tidak boleh melampaui kali tinggi tingkat yang bersangkutan atau 30 mm. di samping untuk mencegah kerusakan non-struktur dan ketidaknyamanan penghuni. dalam segala hal simpangan antar-tingkat yang dihitung dari simpangan struktur gedung menurut Pasal 8. Kinerja batas layan struktur gedung ditentukan oleh simpangan antar-tingkat akibat pengaruh Gempa Rencana. 2.Kinerja Struktur Gedung Kinerja Batas Layan 1.1. yaitu untuk membatasi terjadinya pelelehan baja dan peretakan beton yang berlebihan.

dikalikan dengan suatu faktor pengali ξ sebagai berikut : .3.3 simpangan dan simpangan antar-tingkat ini harus dihitung dari simpangan struktur gedung akibat pembebanan gempa nominal. Kinerja batas ultimit struktur gedung ditentukan oleh simpangan dan simpangan antar-tingkat maksimum struktur gedung akibat pengaruh Gempa Rencana dalam kondisi struktur gedung di ambang keruntuhan.Kinerja batas ultimit 1. yaitu untuk membatasi kemungkinan terjadinya keruntuhan struktur gedung yang dapat menimbulkan korban jiwa manusia dan untuk mencegah benturan berbahaya antar-gedung atau antar bagian struktur gedung yang dipisah dengan sela pemisah (sela delatasi). Sesuai Pasal 4.

. .Untuk Struktur tidak gedung beraturan : di mana R adalah faktor reduksi gempa struktur gedung tersebut dan Faktor Skala adalah seperti yang ditetapkan dalam Pasal 7.Untuk Struktur gedung beraturan : .3.2.

dalam segala hal simpangan antar-tingkat yang dihitung dari simpangan struktur gedung menurut Pasal 8.2. .2. Untuk memenuhi persyaratan kinerja batas ultimit struktur gedung.02 kali tinggi tingkat yang bersangkutan.1 tidak boleh melampaui 0.

Secara ideal. Karena itu. mekanisme keruntuhan suatu struktur gedung adalah seperti ditunjukkan dalam Gambar P. Hal ini berarti.Perencanaan Kapasitas Faktor daktilitas suatu struktur gedung merupakan dasar bagi penentuan beban gempa yang bekerja pada struktur gedung. Hal ini dapat tercapai dengan menetapkan suatu persyaratan yang disebut “kolom kuat balok lemah” seperti ditetapkan dalam pasal ini. sendi-sendi plastis di dalam struktur gedung hanya boleh terjadi pada ujung-ujung balok dan pada kaki kolom dan kaki dinding geser saja. bahwa akibat pengaruh Gempa Rencana. tercapainya tingkat daktilitas yang diharapkan harus terjamin dengan baik.3. .

.

.

.

Contoh kerusakan gedung akibat gempa yang dimungkinkan karena tidak mengikuti konsep desain kapasitas .