Anda di halaman 1dari 17

ASMA

Chorirulis Silvi Narulita P17220173011


Arum Putri Febiliani P17220173012
Vira Agustin P17220173031
Rizka Dewi Suhartini P17220173037
DEFINISI ETIOLOGI

TANDA DAN GEJALA KLASIFIKASI

PENATALAKSANAAN ASMA
1. Asma adalah kelainan berupa inflamasi kronik saluran napas yang
menyebabkan hipereaktivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan yang
dapat menimbulkan gejala mengi, batuk, sesak napas dan dada terasa
berat terutama pada malam dan atau dini hari yang umumnya bersifat
reversible baik dengan atau tanpa pengobatan (Depkes RI, 2009).
2. Asma adalah penyakit inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan
sel dan elemennya, di mana dapat menyebabkan peningkatan
hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang
berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama
malam dan atau dini hari. Gejala tersebut berhubungan dengan obstruksi
jalan napas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan
atau tanpa pengobatan (PDPI, 2003).
Sensitisasi

inflamasi

Serangan asma
alergi

Obat- Pencetus Infeksi


obatan dan
polusi serangan saluran
asma pernafasan
udara

Tekanan
jiwa
Berupa batuk, sesak napas, mengi, rasa berat di dada. Gejala biasanya timbul
atau memburuk terutama malam atau dini hari (PDPI, 2003). Setelah pasien
asma terpajan alergen penyebab maka akan timbul dispnea, pasien merasa
seperti tercekik dan harus berdiri atau duduk dan berusaha mengerahkan tenaga
lebih kuat untuk bernapas.

Gejala asma bersifat Kesulitan utama terletak saat ekspirasi, percabangan trakeobronkial melebar
episodik dan memanjang selama inspirasi namun sulit untuk memaksa udara keluar dari
bronkiolus yang sempit karena mengalami edema dan terisi mukus.

Tanda selanjutnya dapat berupa sianosis sekunder terhadap hipoksia hebat


dan gejala-gejala retensi karbon dioksida (berkeringat, takikardi dan pelebaran
tekanan nadi). Pada pasien asma kadang terjadi reaksi kontinu yang lebih berat
dan mengancam nyawa, dikenal dengan istilah “status asmatikus”.
ASMA
IDIOPATIK

ASMA ASMA
ALERGIK GABUNGAN

Terdapat jenis-
jenis asma
menurut
Smeltzer & Bare
(2002) yaitu
ASMA ALERGIK

Dapat disebabkan oleh alergen, misal serbuk sari, binatang, makanan dan jamur. Kebanyakan
alergen terdapat di udara dan bersifat musiman, biasanya pasien juga memiliki riwayat keluarga
yang alergik dan riwayat medis eczema atau rhinitis alergik. Pajanan terhadap alergen
mencetuskan asma. Anak-anak dengan asma alergik sering dapat mengatasi kondisi sampai masa
remaja.
ASMA IDIOPATIK

Jenis asma ini tidak berhubungan dengan alergen spesifik. Faktor seperti common
cold, infeksi traktus respiratorius, latihan, emosi dan polutan lingkungan dapat
mencetuskan serangan. Selain itu beberapa agen farmakologi juga dapat menjadi
faktor seperti aspirin dan agen antiinflamasi nonsteroid lain, pewarna rambut,
antagonis beta-adrenergik dan pengawet makanan. Serangan pada asma ini
menjadi lebih berat dan sering, kemudian dapat berkembang menjadi bronkitis
kronis dan emfisema.
ASMA GABUNGAN

Merupakan bentuk asma yang paling umum. Asma ini memiliki karakteristik dari bentuk
alergik maupun idiopatik/nonalergik.
1. Penatalaksanaan
umum/Nonfarmakoterapi

2. Farmakoterapi

3. Penatalaksaan khusus
Penyuluhan pada penderita
dan keluarga mengenai Hindari faktor pencetus
Penatalaksanaan
penyakit asma,faktor (diet,obat,kebiasaan
umum/Nonfarmakoterapi
penyebab serta cara hidup,alergen)
menghindarinya.

Fisioterapi napas,vibrasi
dan/atau perkusi Imunoterapi
toraks,batuk yang efisien
FARMAKOTERAPI

• A1 Kortikosteroid (oral,suntikan, air rosol


ANTI berupa metered-dose inhaler/MDI)
• A2 Kromolin (sodium cromoglycate),
INFLAMASI nedokromil dan lainnya

• Beta2 agonis (oral,suntikan,inhalasi/MDI,


nebulisasi).
Bronkodilator • b.2. Metilsantin (oral,supusitoria,suntikan).
• b.3 Antikolinergik
Penatalaksaan khusus

keluhan sesak atau 1. Beta-2 agonis : 2


ASMA RINGAN

BATASAN

PENGOBATAN
batuk timbul kurang dari semprotan, dapat
dua kali seminggu,diluar diulangi tiap 3-4 jam.
seranagan penderitanya 2. Kromolin: dapat
asimtomatik. Pada ditambahkan; sebelum
aktivitas fisik dapat paparan dengan
terjadi serangan sesak alergen, aktivitas fisik
atau batuk yang jangka atau paparan lainnya.
waktunya pendek (<1/2
jam). Serangan asma
malam hari jarang
timbul (<2 kali dalam
sebulan).
Asma sedang
Batasan :
Keluhan lebih sering timbul (>1-2 kali seminggu), yang mempengaruhi aktivitas dan tidur penderita. Serangan
dapat berlangsung beberapa hari. Kadang-kadang diperlukan penanganan darurat.

Pengobatan :
Kortikosteroid inhalasi 2 kali sehari (400-800 ug/hari) atau kromolin 2 kali sehari semprotan. Ditambah dengan
beta 2 agonis inhalasi dengan dosis sesuai kebutuhan sampai 4 kali sehari. Apalagi sehari melebihi 4 dosis,
perlu ditambah obat lainnya.
Apabila masih tetap timbul sesak,dosis kortikosteroid inhalasi dapat dinaikkan (bisa sampai 2000 ug/hari;dosis
1000 ug perlu pengawasan ketat dan/atau diberi teofilin peroral (lepas lambat) dan/atau ditambah dengan
beta-2 agonis peroral
Kadang-kadang diperlukan kortikosteroid oral (Prednison) selama beberapa hari (40 mg/hari dalam dosis
tunggal atau terbagi 2-4 dosis) dalam seminggu,kemudian dosis diturunkan dalam 1 minggu berikutnya.
Asma Berat
Batasan :
Keluhan berlanjut terus setiap saat dengan aktivitas sehari-hari yang terbatas. Sering kumat dan sering
timbul asma malam. Kadang-kadang sampai memerlukan penanganan di gawat darurat atau rawat inap.
Faal paru sehari-hari kurang dari 60%, pada serangan dapat menurun sampai 50% .

Pengobatan:
Kortikosteroid inhalasi 2-4 kali sehari 2-6 semprotan ( umumnya > 1000 ug/hari) dengan atau tanpa
Kromolin 4 kali 2 semprotan dan ditambah dengan beta-2 agonis.
Beta-2 agonis inhalasi, dosisnya sama dengan pada asma kronik sedang. Dapat diberi ekstra tambahan 2-4
semprot dalam sehari bila diperlukan atau diberikan secara nebulisasi.
Untuk mencegah asma malam ditambah dengan oral teofilin ( lepas lambat ) dan / atau beta-2 agonis
peroral.
Kortikosteroid oral (Prednison) dapat ditambahkan dengan dosis dan cara seperti pada asma kronik sedang.
Dapat dipertimbangkan pemberian secara kontinyu dengan dosis minimal yang memberi efek perbaikan
secara tunggul pagi hari tiap 24/48 jam.
Asma dan kehamilan

Asma yang tidak terkontrol pengobatannya dapat membahayakan, kesehatan ibu dan janin. Komplikasi
akan menjadi lebih berat.

Pengobatan:
Harus diberikan optimal dan sebaiknya per inhalasi.
Steroid suntikan dapat diberikan, bila perlu.
( resiko pada janin dapat diabaikan ).