Anda di halaman 1dari 35

Analisa Pelengkap

Langkah keenam dalam membandingkan


alternatif-alternatif investasi adalah
melakukan analisa pelengkap. Yang
termasuk dalam analisa pelengkap
diantaranya adalah analisa BEP (Break
Event Ponit / Titik Pulang Pokok), Analisa
Sensitivitas dan Analisa Resiko.
ANALISA TITIK IMPAS, ANALISA
SENSITIVITAS DAN ANALISA
RESIKO
Pada pembahasan terdahulu selalu diasumsikan
bahwa nilai parameter dari model ekonomi teknik
diketahui dengan pasti. Pada kenyataannya
berbagai parameter seperti horizon perencanaan,
MARR, aliran kas dsb masih merupakan estimasi
yang masih mengandung ketidakpastian.
Berbagai konsekwensi yang akan timbul apabila
estimasi parameter ternyata tidak benar.
2
Sekurangnya terdapat 4 (empat) faktor yang
dianggap menjadi sumber ketidakpastian dalam
studi ekonomi teknik, yaitu:
1. Kemungkinan estimasi yang tidak akurat digunakan
dalam analisa. Misalnya kurangnya informasi faktual
tentang arus kas masuk dan keluar
2. Tipe bisnis dan kondisi ekonomi masa depan.
Beberapa tipe bisnis memiliki ketidak pastian lebih
tinggi dibanding yang lain. Misalkan bisnis hiburan
relatif memiliki ketidakpastian lebih tinggi
dibandingkan perusahaan grosir. Ketidakpastian ini
akan lebih tinggi bila tidak tersedia data historis yang
memadai dan perubahan ekonomi mendatang yang
drastis disebabkan keadaan bisnis yang sulit
dikendalikan. 3
3. Tipe pabrik dan peralatan yang digunakan. Fasilitas
produksi yang dirancang untuk fungsi khusus relatif
lebih tinggi resikonya dibandingkan dengan fasilitas
untuk fungsi umum. Cara mengestimasikan aliran kas
masuk maupun keluar dari kedua tipe ini juga
berbeda.
4. Panjang periode studi (horizon perencanaan) yang
dipakai. Semakin panjang periode studi maka
ketidakpastian akan semakin besar juga.

4
Ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk menangani
ketidakpastian yang diakibatkan oleh empat faktor diatas.
Diantaranya adalah:

1. Analisa Titik Impas (Break Even Point). Analisa ini digunakan apabila
pemilihan alternatif sangat dipengaruhi oleh satu faktor tunggal yang tidak
pasti. Dengan mengetahui titik impas maka akan bisa ditentukan alternatif
yang lebih baik dari faktor yang tidak pasti tersebut.
2. Analisa Sensitivitas. Analisa ini cocok diaplikasikan pada
permasalahan yang mengandung satu atau lebih faktor ketidakpastian.
Persoalan utama yang perlu dijawab pada analisa sensitivitas adalah;

a. Bagaimana pengaruh yang timbul pada hasil (NPW misalnya) bila suatu
faktor individual berubah pada selang ± X%.
b. Berapakah besarnya perubahan nilai suatu faktor sehingga mengakibat-
kan keputusan pemilihan suatu alternatif bisa berubah.

3. Analisa Resiko. Apabila nilai suatu faktor mengikuti suatu distribusi


probabilitas dari fungsi variable random maka perlu dilakukan analisa resiko.
5
Analisa Titik Impas

Melalui analisa titik impas seseorang akan bisa


mendapatkan nilai dari parameter tersebut yang
menyebabkan dua atau lebih alternatif dianggap sama
baiknya, oleh karena itu dapat dipilih salah satu
diantaranya. Nilai suatu parameter yang menyebabkan
dua atau lebih alternatif sama baiknya disebut nilai titik
impas (break even point, disingkat BEP). Apabila
pengambil keputusan dapat mengestimasi besarnya nilai
aktual dari variabel yang bersangkutan (lebih besar atau
lebih kecil dari nilai BEP) maka akan bisa ditentukan
alternatif mana yang lebih baik.
6
Metode titik impas ini dapat digunakan untuk melakukan
analisis pada berbagai macam permasalahan,
diantaranya adalah:
1. Menentukan nilai ROR dimana dua alternatif proyek yg sama
baiknya.
2. Menentukan tingkat produksi dari dua atau lebih fasilitas
produksi yang memiliki konfigurasi ongkos berbeda dimana
pada tingkat tertentu adalah sama antara fasilitas yang satu
dengan yang lainnya.
3. Melakukan analisa buat-beli. Pada tingkat produksi tertentu,
biaya2 yang terjadi akan sama antara membeli suatu
komponen atau membuatnya sendiri.
4. Menentukan berapa tahun yang dibutuhkan agar perusahaan
berada pada titik impas, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan
sama persis dengan pendapatan2 yang diperoleh.
7
Analisa Titik Impas pada Permasalahan Produksi

Analisa ini digunakan untuk menentukan tingkat produksi yang


dapat mengakibatkan perusahaan pada kondisi impas. Untuk
mendapatkan titik impas maka dicari fungsi biaya maupun
pendapatannya. Pada saat kedua fungsi tsb bertemu maka fungsi
biaya sama dengan fungsi pendapatan. Dalam analisa titik impas
maka sering fungsi biaya maupun fungsi pendapatan diasumsikan
linier terhadap volume produksi.
Ada 3 komponen biaya yang dipertimbangkan dalam analisa ini,
yaitu:
Biaya–biaya tetap (fixed cost) yaitu biaya2 yang besarnya
tidak dipengaruhi oleh volume produksi, seperti; biaya tanah,
mesin & peralatan.
Biaya-biaya variabel (variable cost) yaitu biaya2 yang
besarnya tergantung oleh volume produksi, seperti; bahan baku &
biaya tenaga kerja langsung.
Biaya total adalah jumlah dari biaya tetap & biaya variabel. 8
ongkos ongkos

VC

FC

vol. produksi
vol. produksi

ongkos
TC=FC+VC

VC
FC

vol. produksi

Gambar Grafik ongkos produksi;


(a). ongkos tetap (FC), (b). ongkos variabel (VC), (c). ongkos total (TC).
9
Misalkan X adalah volume produk, dan c adalah ongkos variabel
dalam pembuatan satu buah produk, maka ongkos variabel untuk
membuat X buah produk adalah:
VC = cX
Ongkos total adalah;
TC = FC + VC
= FC + cX
Dalam analisa titik impas diasumsikan bahwa total pendapatan
(total revenue) diperoleh dari penjualan semua produk yang
diproduksi.
Bila harga satu buah produk adalah p maka harga X produk akan
menjadi total pendapatan;
TR = pX

Dimana; TR = total pendapatan dari penjualan X buah produk


p = harga jual per satuan produk
10
Dalam bentuk lain :
pX = FC + cX
X = FC/ (p-c)
Dimana X adalah volume produksi yang menyebabkan perusahaan
berada pada titik impas (BEP). Tentu saja perusahaan akan
mendapat untung bila bisa berproduksi diatas X (melampaui titik
impas). Hal ini dapat dinyatakan dalam gambar berikut :

ongkos TC daerah untung

daerah rugi TR

vol. produksi

Gambar Diagram titik impas pada permasalahan produksi


11
Contoh 1:
PT ABC Indonesia sedang membuat sejenis sabun mandi untuk
kelas menengah. Ongkos total untuk pembuatan 10.000 buah
sabun per bulan adalah Rp 25 juta dan ongkos total untuk
pembuatan 15.000 buah sabun per bulan adalah Rp 30 juta.
Asumsikan bahwa ongkos2 variabel berhubungan secara
proporsional dengan jumlah sabun yang diproduksi.

Hitunglah:

a. Ongkos variabel dan ongkos tetapnya.


b. Bila perusahaan tsb menjual sabun dengan harga Rp 6.000 per
unit, berapakah produksi perbulan agar perusahaan tsb berada
pada kondisi impas?
c. Bila perusahaan memproduksi 12.000 buah sabun per bulan,
apakah perusahaan untung atau rugi? Dan berapa keuntungan
atau kerugiannya. 12
Solusi:
a. Ongkos variabel per unit adalah :

C=(30jt-25jt)/(15.000-10.000) = Rp 1.000/unit

Sedangkan ongkos tetapnya dapat dihitung:

Untuk  X = 10.000 unit

TC = FC + cX
25 jt = FC + RP 1.000/unit x 10.000 unit

FC = Rp 15 juta

Untuk  X = 15.000 unit, diperoleh;

TC = FC + cX
30 jt = FC + Rp 1.000/unit x 15.000 unit

FC = Rp 15 juta
13
b. Bila p = Rp 6.000/unit maka jumlah yang harus diproduksi per
bulan agar mencapai titik impas adalah;

X = FC/(p-c)
X = 15 jt/(6.000-1.000)
X = 3.000 unit per bulan

Jadi, produksi sebesar 3.000 unit menyebabkan perusahaan


berada pada titik impas.

14
c. Bila X = 12.000 unit per bulan maka total penjualan adalah;
TR = pX
= Rp 6.000/unit x 12.000 unit
= Rp 72 juta per bulan

Dan total ongkos yang terjadi adalah;


TC = FC + cX
= Rp 15 juta + Rp 1.000/unit x 12.000 unit
= Rp 27 juta per bulan.

Jadi perusahaan dalam kondisi untung dengan memproduksi


12.000 unit/bln karena total penjualan lebih tinggi dari ongkos.
Besarnya keuntungan adalah Rp72 juta - Rp27 juta = Rp 45 juta
per bulan.

15
Contoh 2:

Misalkan PT ABC Indonesia merencanakan memproduksi


produk baru dengan ongkos awal Rp 150 juta dan
ongkos2 operasional & perawatan sebesar Rp
35.000/jam. Disamping itu perusahaan harus membayar
ongkos lain sebesar Rp 75 juta/tahun. Kapasitas
produksi adalah 1.000 unit diperlukan waktu 150 jam.
Diestimasikan harga produk adalah Rp 15.000/unit,
investasi diasumsikan berumur 10 tahun dengan nilai
sisa nol. Dengan MARR 20%, hitunglah berapa unit yang
harus diproduksi agar perusahaan ini berada pada
kondisi impas.

16
Solusi :
Misalkan X adalah jumlah produk (unit) yang harus diproduksi
dalam setahun agar mencapai titik impas. Dengan menggunakan
ongkos2 tahunan (AC= annual cost) dan penjualan tahunan
(AR=annual revenue) maka kondisi impas akan diperoleh bila:

AC = AR
Dimana:
AC = 150 jt (A/P,20,10) + 75 jt + 0,150 (35.000) X
= 150 jt (0,2385) + 75 jt + 5,25 X
= 110,778 jt + 5,25 X
Sedangkan AR = 15.000 X
Jadi  110,778 jt + 5,25 X = 15.000 X
X = 11.362 unit/tahun

Jadi perusahaan harus berproduksi 11.362 unit/tahun agar


mencapai titik impas dan harus berproduksi lebih besar agar
dapat keuntungan. 17
Analisa Titik Impas
pada Pemilihan Alternatif Investasi

Pemilihan alternatif2 investasi sering kali mengakibatkan


keputusan berbeda apabila tingkat produksi atau tingkat utilisasi
dari investasi tsb berbeda. Dalam pemilihan fasilitas produksi
misalnya, perusahaan akan cenderung membeli mesin yang
harganya lebih murah (walaupun ongkos variabelnya lebih tinggi)
bila tingkat produksi yang dilakukan adalah rendah. Sebaliknya
bila tingkat produksinya tinggi maka perusahaan lebih baik
membeli fasilitas2 yang berteknologi tinggi dengan ongkos
investasi lebih tinggi namun ongkos variabelnya rendah. Untuk
mendapatkan keputusan yang baik dari persoalan seperti ini maka
harus dicari suatu titik yang menyatakan tingkat produksi dimana
suatu alternatif A akan impas (sama baiknya) dengan alternatif B
misalnya, dan kapan alternatf A lebih baik / lebih jelek dari
alternatif B. 18
ongkos total BEP
B

unit produksi
X
Gambar : Ilustrasi analisa BEP pada pemilihan alternatif investasi

Sebagai contoh perhatikan gambar diatas, yang menyatakan


perilaku ongkos dua alternatif (A dan B). Aletrnatif A memiliki
ongkos awal (FC) lebih tinggi namun ongkos variabelnya rendah.
Sebaliknya alternatif B memiliki ongkos awal (FC) yang lebih
rendah tetapi ongkos variabelnya lebih tinggi. Kedua alternatif ini
akan sama baiknya (impas) bila unit variabelnya adalah sama
dengan X. Bila unit variabelnya kurang dari X maka aletrnatif B
yang lebih baik, dan bila unit variabelnya lebih dari X maka
alternatif A yang lebih baik. 19
Analisa titik impas pada permasalahan seperti ini biasanya
diselesaikan dengan menggunakan alat bantu analisa EUAC
(equivalent uniform annual cost / ongkos ekivalen tahunan) atau
nilai sekarang (PW). Langkah berikut ini dapat diikuti dalam
menentukan alternatif2 berdasarkan analisa titik impas.

1. Definisikan secara jelas variabel yang akan dicari dan tentukan


satuan/unit dimensinya.
2. Definisikan analisa EUAC atau analisa nilai sekarang (PW) untuk
menyatakan total ongkos pada setiap alternatif sebagai fungsi
variabel yang didefinisikan.
3. Ekivalenkan persamaan2 ongkos tsb dan carilah nilai impas dari
variabel yang didefinisikan.
4. Bila tingkat utilitas yang diinginkan lebih kecil dari nilai impas,
pilih alternatif yang memiliki ongkos variabel yang lebih tinggi
(gradiennya lebih besar) dan bila tingkat utilitas yang
diinginkan diatas nilai titik impas, pilih alternatif yang memiliki
ongkos variabel lebih rendah (gradiennya lebih kecil).
20
Contoh 1:
Sebuah perusahaan pelat baja sedang mempertimbangkan 2 buah
alternatif mesin pemotong pelat yang dipakai dalam produksinya.
Alternatif pertama adalah mesin otomatis dng harga awal Rp 23
juta dan nilai jual lagi Rp 4 juta setelah 10 tahun. Biaya operator
Rp 12.000/jam dan output mesin adalah 8 ton/jam. Ongkos
operasi dan perawatan tahunan diperkirakan Rp 3,5 juta.
Alternatif kedua adalah mesin semi otomatis dng harga awal Rp 8
juta dengan masa pakai ekonomis 5 tahun dan tanpa nilai sisa.
Ongkos tenaga kerja adalah Rp 24.000 dan ongkos2 operasional
dan perawatannya Rp 1,5 juta/thn. Perkiraan output adalah 6
ton/jam. MARR yg dipakai analisa adalah 10%.

a. Berapakah lembaran logam yang harus diproduksi tiap tahun


agar mesin otomatis lebih ekonomis dibanding mesin semi
otomatis?
b. Apabila tingkat manajemen menetapkan tingkat produksi 2000
ton/thn, mesin mana yang sebaiknya dipilih. 21
Solusi:
a. Penyelesaian dilakukan dengan mengikuti langkah2 diatas.

1. Misalkan X adalah jumlah lembaran logam (ton) yg diProduk


si per tahun.
2. Ongkos2 variabel tahunan untuk mesin otomatis adalah:
AC1 = Rp 12 000/jam . 1 jam/8 ton . X ton/thn
= Rp 12.000/8 . X

Sehingga ongkos ekivalen tahunan nya adalah:


EUAC1 = 23 jt (A/P,10,10) – 4 jt (A/F,10,10) + 3,5 jt +
12.000 X/8
= 23 jt (0.16275) – 4 jt (0.06275) + 3,5 jt +
12.000 X/8
= 6,992 juta + 1.500 X

22
Dengan cara yg sama ini akan diperoleh ongkos variabel tahu-
nan untuk mesin semiotomatis adalah :

AC2 = Rp 24.000/jam x 1 jam/6 ton x X ton/thn


= Rp 4.000 . X

Sehingga ongkos ekivalen tahunan nya adalah :

EUAC2 = 8 jt (A/P,10,5) + 1,5 jt + 4.000X


= 8 jt (0.2638) + 1,5 jt + 4.000 X
= 3,61 juta + 4.000 X

23
3. Kedua persamaan EUAC tadi diekivalenkan sehingga diperoleh :

EUAC1 = EUAC2

6,992 juta + 1.500 X = 3,61 juta + 4.000 X


3,382 juta = 2.500 X

X = 1.352,8 ton/thn

Jadi mesin otomatis akan lebih ekonomis dibandingkan mesin


semi otomatis apabila produksinya melebihi 1.352,8 ton/thn

b). Apabila manajemen memutuskan tingkat produksi sebesar


2.000 ton / thn, maka mesin otomatis yang harus dipilih (kare-
na lebih besar dari titik impas)
24
Contoh 2:
Asumsikan ada 3 alternatif proyek dengan data2 sbb:

alternatif A B C

Biaya awal (juta) 100 150 250


Nilai sisa (juta) 0 25 25
Biaya tahunan (juta) 20 16 5
Umur proyek (tahun) 10 10 10
Ongkos/unit produk 200 150 100

Bila MARR adalah 10%, pada interval tingkat produksi


per tahun berapa, alternatif B menjadi paling ekonomis ?
25
Solusi :

Misalkan X adalah jumah produk yang dibuat per tahun,


maka :

EUACA = 100 jt (A/P,10,10) + 20 juta + 200X


= 100 jt (0,16275) + 20 jt + 200X
= 36,275 jt + 200X
EUACB = 150 jt (A/P,10,10) + 16 jt -25 jt (A/F,10,10) + 150X
= 150 jt (0,16275) + 16 jt – 25 jt (0,06275) + 150X
= 38,844 jt + 150X
EUACC = 250 jt (A/P,10,10) + 5 jt – 25 (A/F,10,10) + 100X
= 250 jt (0,1625) + 5 jt – 25 jt (0,06275) + 100X
= 44,119 juta + 100X 26
Bila digambarkan, diagram ketiga alternatif tsb tampak
seperti pada gambar berikut.

ongkos (Rp juta) A


B C
44,119

38,844

36,275

X1 X2 X3 volume (X)

Gambar :Ilustrasi grafis dari ongkos2 dari alternatif investasi

Dari gambar diatas tampak bahwa alternatif B akan ekonomis


apabila berproduksi pada volume per tahun antara X1 dan X3. Bila
produksi lebih dari X3 alternatif C paling ekonomis. Dan bila
produksi lebih kecil dari X1 maka alternatif A paling ekonomis.
27
Untuk menghtung X1 dan X2 digunakan persamaan sbb;

 X1 didapat dengan memotongkan garis A dan B

36,275 jt + 200X = 38,844 jt + 150X


X = 51.380 unit
Jadi, X1 adalah 51.380 unit / tahun

 X3 didapat dengan memotongkan garis B dan C, sehingga :

38,844 jt + 150 X = 44,119 jt + 100 X


X = 105.500 unit
Jadi, X3 adalah 105.500 unit / tahun

Dengan demikian sebaiknya perusahaan memilih


alternatif B dengan produksi per tahun antara 51.380
sampai 105.500 unit.
28
Analisa Titik Impas pada Keputusan Buat-Beli
Keputusan untuk membuat atau membeli sebuah
komponen sering didahului dengan analisa titik impas
dari kedua alternatif tsb. Pada umumnya bila
perusahaan membutuhkan suatu produk dalam jumlah
besar maka akan lebih efisien bila dibuat sendiri. Tetapi
apabila jumlahnya sedikit maka lebih baik membeli dari
pada harus membuat sendiri dengan menanggung
ongkos2 produksi sehingga tidak ekonomis.
Biaya2 tetap tidak berarti hilang bila perusahaan
membeli produk dari luar. Biaya pemesanan termasuk
biaya tetap. Namun biaya tetap pada alternatif membeli
akan lebih rendah dibandingkan dng alternatif membuat
sendiri.
29
Contoh :

Seorang insinyur diserahi tugas untuk melakukan analisa buat-beli


pada 2 buah komponen yang akan digunakan untuk melakukan
inovasi pada produk tertentu yang menjadi andalan perusahaan.
Setelah melakukan studi dengan data2 teknis maupun ekonomis
maka diperoleh ringkasan sbb:

A B

ongkos awal (Rp) 200 juta 350 juta


ongkos tenaga kerja/unit (Rp) 2.000 2.500
ongkos bahan baku/unit (Rp) 3.000 2.500
nilai sisa 10 juta 15 juta
umur fasilitas 5 tahun 7 tahun

30
Disamping itu ada biaya overhead sebesar Rp 18 juta/thn untuk
komponen A dan Rp 15 juta untuk komponen B.
Disisi lain perusahaan menerima tawaran dari suatu perusahaan
untuk membeli komponen A dan B masing2 dengan harga Rp
10.000 dan Rp 15.000/ unit. Diasumsikan tdk ada biaya2 lain
yang terlibat dlm proses pembelian. Tingkat bunga i=15% maka
tentukanlah :

a. Pada kebutuhan berapa komponen per tahun sebaiknya


perusahaan membuat sendiri komponen tsb ?
b. Bila kebutuhan masing2 komponen adalah 2.000 unit/thn,
keputusan apa yang harus diambil perusahaan, berkaitan dng
masalah tsb ?

Asumsikan bahwa produksi komponen A independen terhadap


produksi komponen B dan tidak ada diskon untuk pembelian
31
partai.
Solusi:
a). Misalkan XA adalah kebutuhan komponen A dalam setahun dan
XB adalah kebutuhan komponen B dalam setahun.

Untuk komponen A:

Biaya per tahun untuk alternatif membeli adalah kebutuhan per


tahun dengan harga per unit, yaitu;

EUAC beli = 10.000 XA


Biaya per tahun alternatif membuat sendiri adalah:
EUAC buat = 200 jt (A/P,15,5) + 18 jt + (3.000+2.000)XA – 10 jt
(A/F,15,5)
= 200 jt (0,29832) + 18 jt + 5.000 XA – 10 jt (0,14832)
= 76,17991 jt + 5.000 XA 32
Untuk mencapai titik impas antara alternatif membuat dan
membeli maka harus dipenuhi :

EUAC beli = EUAC buat


10.000 XA = 76,17991 juta + 5.000 XA

XA = 15.236 komponen

Jadi, alternatif membuat akan sama ekonomisnya dengan


alternatif membeli komponen A pada kebutuhan sebesar 15.236
komponen/tahun.

Untuk komponen B :

Biaya per tahun untuk alternatif membeli adalah ;

EUAC beli = 15.000 XB


33
Biaya per tahun untuk alternatif membuat sendiri adalah :

EUAC buat = 350 jt (A/P,15,7) + (2.500+2.500)XB – 15 jt


(A/F,15,7) + 15 jt
= 350 (0,24036) + 5.000 XB – 15 jt (0,09036) + 15 jt
= 97,7706 juta + 5.000 XB
Kedua alternatif akan sama ekonomisnya bila :

EUAC beli = EUAC buat


15.000 XB = 97,7706 juta + 5.000 XB
XB = 9.777 komponen

Jadi, alternetif membeli atau membuat komponen B akan sama


ekonomisnya bila permintaan per tahun adalah 9.777 komponen.
b). Bila kebutuhan masing2 komponen adalah 2.000 unit/tahun
maka perusahaan lebih baik membeli komponen A maupun
komponen B. 34
Memilih Alternatif Terbaik

Langkah terakhir adalah membandingkan


alternatif2 investasi untuk memilih investasi
terbaik. Yang dimaksud terbaik bukan selalu
menurut pertimbangan ekonomi seperti yang
telah kita bahas. Pengambil keputusan sering kali
harus mempertimbangkan kriteria majemuk
termasuk diantaranya pertimbangan resiko dan
ketidak pastian dimasa mendatang. Beberapa
teknik untuk mengambil keputusan dng tujuan
majemuk diantaranya adalah Goal Programming.