Anda di halaman 1dari 30

RHINITIS ALERGIKA

Pembimbing:
dr. Dominggus, Sp.THT-KL

Disusun oleh:
Dwirama Ivan / 1115062
Hendrik Sihombing / 1115115
Nisa Ulina / 1115157
Rafika Aninda / 1115177
I Putu Gede Darma Eka Putra / 1115236

Bagian Ilmu Penyakit THT


RS Immanuel
Bandung
2014
Anatomi
Definisi
Rhinitis adalah peradangan membran mukosa hidung dan
ditandai dengan dengan gejala:

Rinore
Post nasal drip
Kongesti nasal
Klasifikasi
Rhinitis Alergica
Merupakan peradangan mukosa hidung non infektif akibat
reaksi hipersensitivitas tipe I terhadap alergen.
Etiologi: Alergen
Klasifikasi
Klasifikasi ARIA
(Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma)
Intermiten Persisten
. < 4 hari/minggu . ≥ 4 hari/minggu
. ATAU < 4 minggu . DAN ≥ 4 minggu

Ringan (mild) Sedang-Berat


Tidak ada gangguan tidur (normal) (moderate-severe)
DAN
Satu atau lebih dari:
. Gangguan tidur
. Tidak ada gangguan aktivitas . Gangguan aktivitas harian,
harian, olah raga, dan bersantai olah raga, dan bersantai
. Tidak ada gangguan dalam . Gangguan dalam bekerja dan
bekerja dan bersekolah bersekolah
. Tidak ada gejala yang . Terdapat gejala-gejala yang
mengganggu mengganggu
Patofisiologi:
Reaksi Hipersensitivitas tipe I
Gejala Klinis
Bersin berulang
Rinore encer dan
banyak
Hidung tersumbat
Gangguan penciuman
Rasa gatal pada hidung,
mata, palatum
mata berair
Pemeriksaan Fisik
Allergic Shiner Allergic salute
Pasien tampak sering menggosok-gosok
Bayangan gelap di bawah mata hidung karena gatal.
karena stasis vena sekunder
akibat obstruksi hidung

Allergic crease
Timbul garis melintang di dorsum
nasi bagian sepertiga bawah akibat
kebiasaan menggosok-gosok
hidung
Fascies Adenoid
Akibat rhinitis yang
berkepanjangan.
Mulut sering terbuka dengan
lengkung langit-langit yang tinggi Cobblestone appearance
sehingga dapat menyebabkan Dinding posterior faring
gangguan pertumbuhan gigi.
tampak granuler dan edema

Geographic Tongue
Rhinoskopi anterior
• Mukosa edema, basah, pucat terdapat sekret encer yang banyak
dan konka tampak membengkak.
• Bila gejala persisten, mukosa inferior tampak hiperemis.
Pemeriksaan Penunjang
• Skin test
• In vitro:
• IgE total (prist-paper radio immunosorbent test)
• IgE spesifik (Radioalergosorben test/RAST; ELISA)
• Sitologi sekret hidung
• Bila diduga komplikasi  Foto Waters
Terapi
 Edukasi
 Non-Medikamentosa
 Medikamentosa
 Imunoterapi
 Bedah
Komunikasi
• Edukasi penyakit : penyakit ini disebabkan oleh terjadinya respon radang
pada hidung dikarenakan adanya kontak alergi dengan pasien
• Terapinya yaitu dengan menghindari pencetus alergi , pemberian obat
mencegah gejala, antiradang, maupun anti alergi dan apabila tidak berhasil
atau terus berulang dapat dipertimbangkan tindakan bedah
Penatalaksanaan
• Non Medikamentosa
- Edukasi : penyakit bersifat kronis, pengobatan lama, edukasi penggunaan
obat harus benar terutama kortikosteroid semprotan
- Menghindari allergen penyebab
Medikamentosa
 Antihistamin 1
 Antihistamin 1
 Generasi I: difenhidramin, klorfeniramin, prometasin
 Generasi II (nonsedatif, lebih selektif): loratadin, cetirizine, fexofenadine

Cetirizine Loratadine Fexofenadine


2-5 tahun : 2-5 tahun : 6-11 thn : 30
2,5mg/dosis/hari 2,5mg/dosis/hari mg/hari/2x sehari

>6thn: 5- >6thn: 5- >12 thn : 60mg


10mg/dosis/hari 10mg/dosis/hari /hari(2x) atau 180
mg /hari (4x)

 Dekongestan (agonis α adrenergik)


 Pseudoefedrin, fenilefrin
• Kortikosteroid
Contoh : Kortison, hidrokortison, prednisone,
• Antagonis reseptor Leukotrien
Contoh : Zafirlukast peroral
20mg/dosis 2x/24 jam
• Anti kolinergik
• Imunoterapi
• Terapi bedah
Komplikasi
• Sinusitis kronis (tersering)
• Poliposis nasal
• Sinusitis dengan trias asma (asma, sinusitis dengan poliposis nasal dan sensitive
terhadap aspirin)
• Asma
• Obstruksi tuba Eustachian dan efusi telingah bagian tengah
• Hipertyopi tonsil dan adenoid
• Gangguan kognitif
Prognosis
• Quo ad vitam : ad bonam
• Quo ad sanationam : dubia
• Quo ad functionam : ad bonam