Anda di halaman 1dari 17

 Seorang laki – laki berusia 45 tahun datang ke UGD RS dengan keluhan

nyeri perut hebat yang hilang timbul disertai mual muntah sejak 12 jam
yang lalu. Selain itu, pasien tersebut juga mengeluh tentang adanya
benjolan pada lipat pahanya yang bersifat hilang timbul sejak 1 tahun
yang lalu. Pada pemeriksaan fisik, pasien tampak kesakitan, tekanan
darah 130/80 mmHg, nadi 92x/menit, frekuensi nafas 24x/menit, suhu
36,5°C. Pada pemeriksaan fisik abdomen, tampak distensi abdomen.
Tampak massa pada regio inguinal sinistra dengan ukuran 2 x 2 cm,
konsistensi kenyal, tidak melekat pada jaringan sekitar.
Data yang dibutuhkan :
○ Identitas pasien
○ Riwayat penyakit sekarang
Sejak kapan mulai sadar akan adanya benjolan?
Sebesar apa benjolan?
Kapan saja timbul benjolan itu?
Ada benjolan lain tidak di sekitar benjolan tersebut?
Ada benjolan yang sama atau tidak di daerah lain?
○ Riwayat penyakit dahulu
○ Riwayat kesehatan keluarga
○ Riwayat pribadi, sosial-ekonomi-budaya
 Periksa TTV :
 TD : 130/80 mmHg
 RR : 24x/permenit
 Nadi : 92x/menit
 Suhu : 36,5°C
 Inspeksi: Massa pada regio inguinal sinistra ukuran
2x2 cm, distensi abdomen
 Palpasi : nyeri tekan (+)
 Perkusi
 Auskultasi : bising usus (+)
 Pemeriksaan laboratorium tidak mempunyai ciri-ciri khusus.

 Foto polos abdomen sangat bernilai dalam menegakkan diagnose


ileus obstruksi.

 Posisi datar perlu untuk melihat distribusi gas, sedangkan sikap


tegak untuk melihat batas udara dan air serta letak obstruksi.
Secara normal lambung dan kolon terisi sejumlah kecil gas tetapi
pada usus halus biasanya tidak tampak.

 Gambaran radiologi dari ileus berupa distensi usus dengan


multiple air fluid level,distensi usus bagian proksimal, absen dari
udara kolon pada obstruksi usus halus.
 Ileus Obstruktif e.c Hernia Inguinalis Inceserata
 Gejala utama dari ileus obstruksi antara lain nyeri kolik abdomen,
mual, muntah, perut distensi dan tidak bisa buang air besar
(obstipasi). Mual muntah umumnya terjadi pada obstruksi letak
tinggi.
 Pemeriksaan dengan meraba dinding perut bertujuan untuk
mencari adanya nyeri tumpul dan pembengkakan atau massa
yang abnormal.
 Dengan stetoskop, diperiksa suara normal dari usus yang
berfungsi (bising usus). Pada penyakit ini, bising usus mungkin
terdengar sangat keras dan bernada tinggi, atau tidak terdengar
sama sekali.
 Ileus obstruktif dapat disebabkan oleh :

 Hernia inkarserata : Usus masuk dan terjepit di


dalam pintu hernia. Pada anak dapat dikelola
secara konservatif dengan posisi tidur Trendelenburg.
Namun, jika percobaan reduksi gaya berat ini tidak
berhasil dalam waktu 8 jam, harus diadakan
herniotomi segera.
 Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana
merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu
jalannya isi usus.
 Setiap tahunnya 1 dari 1000 penduduk dari segala usia didiagnosa ileus.
Di Amerika diperkirakan sekitar 300.000-400.000 menderita ileus setiap
tahunnya.
 Di Indonesia tercatat ada 7.059 kasus ileus paralitik dan obstruktif tanpa
hernia yang dirawat inap dan 7.024 pasien rawat jalan pada tahun 2004
menurut Bank data Departemen Kesehatan Indonesia.
 Terapi ileus obstruksi biasanya melibatkan intervensi bedah. Penentuan
waktu kritis serta tergantung atas jenis dan lama proses ileus
obstruktif. Operasi dilakukan secepat yang layak dilakukan dengan
memperhatikan keadaan keseluruhan pasien.
Peristiwa patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama,
tanpa memandang apakah obstruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab
mekanik maupun fungsional.

Perbedaan utama adalah pada obstruksi mekanik (ileus obstruksi) yaitu


peristaltik mula-mula kuat kemudian intermittent dan kemudian menghilang.
Sedangkan pada ileus paralitik, peristaltik dari awal sudah tidak ada

Patofisiologik obstruksi mekanik pada usus berhubungan dengan perubahan


fungsi dari usus, dimana terjadi peningkatan tekanan intraluminal. Bila terjadi
obstruksi maka bagian proksimal dari usus mengalami distensi dan berisi gas,
cairan dan elektrolit.
 Pada obstruksi mekanik sederhana, hambatan pasase muncul
tanpa disertai gangguan vaskuler dan neurologik. Makanan dan
cairan yang tertelan, sekresi usus dan udara akan berkumpul
dalam jumlah yang banyak jika obstruksinya komplit.
 Bagian proksimal dari usus mengalami distensi dan bagian
distalnya kolaps. Fungsi sekresi dan absorpsi membran mukosa
usus menurun dan dinding usus menjadi edema dan kongesti.
 Distensi intestinal yang berat dengan sendirinya secara terus-
menerus dan progresif akan mengacaukan peristaltik dan fungsi
sekresi mukosa serta meningkatkan risiko terjadinya dehidrasi,
iskemik, nekrosis, perforasi, peritonitis dan kematian.
 Pada ileus paralitik nyeri yang timbul lebih ringan tetapi
konstan dan difus, dan terjadi distensi abdomen.

 Ileus paralitik, bising usus tidak terdengar dan tidak terjadi


ketegangan dinding perut.

 Bila ileus disebabkan oleh proses inflamasi akut, akan ada


tanda dan gejala dari penyebab primer tersebut.

 Gastroenteritis akut, apendisitis akut, dan pankreatitis akut


juga dapat menyerupai obstruksi usus sederhana.
 Hernia inguinalis sinistra stanggulata
 Suplai darah untuk isi hernia terputus. Terdapat oklusi vena dan limfe;
akumulasi cairan jaringan (edema) menyebabkan pembengkakan
lebih lanjut ; dan sebagai konsekuensinya peningkatan tekanan vena.

 Jaringannya mengalami iskemi dan nekrosis. Mukosa usus terlibat dan


dinding usus menjadi permeabel terhadap bakteri, yang
bertranslokasi dan masuk ke dalam kantong dan dari sana menuju
pembuluh darah.

 Usus yang infark dan rentan, mengalami perforasi (biasanya pada


leher pada kantong hernia) dan cairan lumen yang mengandung
bakteri keluar menuju rongga peritonial menyebabkan peritonitis.
 Tujuan utama penatalaksanaan adalah dekompresi bagian
yang mengalami obstruksi untuk mencegah perforasi

 Tindakan operasi biasanya selalu diperlukan.

 Kadang-kadang suatu penyumbatan sembuh dengan


sendirinya tanpa pengobatan, terutama jika disebabkan oleh
perlengketan.

 Penderita penyumbatan usus harus di rawat di rumah sakit.


1. Persiapan
 Pipa lambung harus dipasang untuk mengurangi muntah, mencegah
aspirasi dan mengurangi distensi abdomen (dekompresi).
 Pasien dipuasakan, kemudian dilakukan juga resusitasi cairan dan
elektrolit untuk perbaikan keadaan umum.
 Setelah keadaan optimum tercapai barulah dilakukan laparatomi. Pada
obstruksi parsial atau karsinomatosis abdomen dengan pemantauan dan
konservatif.
2. Operasi
 Operasi dapat dilakukan bila sudah tercapai rehidrasi dan organ-organ
vital berfungsi secara memuaskan.
 Pada obstruksi kolon dapat terjadi dilatasi progresif pada
sekum yang berakhir dengan perforasi sekum sehingga
terjadi pencemaran rongga perut dengan akibat peritonitis
umum.
 Mortalitas ileus obstruktif ini dipengaruhi banyak faktor seperti umur,
etiologi, tempat dan lamanya obstruksi. Jika umur penderita sangat
muda ataupun tua maka toleransinya terhadap penyakit maupun
tindakan operatif yang dilakukan sangat rendah sehingga meningkatkan
mortalitas. Pada obstruksi kolon mortalitasnya lebih tinggi dibandingkan
obstruksi usus halus.
 Obstruksi usus halus dapat disebabkan oleh adhesi, hernia inkarserata,
neoplasma, intususepsi, volvulus, benda asing, kumpulan cacing askaris,
sedangkan obstruksi usus besar penyebabnya adalah karsinoma,
volvulus, divertikulum Meckel, penyakit Hirschsprung, inflamasi, tumor
jinak, impaksi fekal.

 Gejala penyumbatan usus meliputi nyeri kram pada perut, disertai


kembung. Bising usus yang meningkat dan “metallic sound” dapat
didengar sesuai dengan timbulnya nyeri pada obstruksi di daerah distal.

 Gejala umum berupa syok, oliguri dan gangguan elektrolit.