Anda di halaman 1dari 44

REFERAT

TUBERKULOSIS
Disusun oleh kelompok 1:
Dwi primayanti
Munah sri atningsih
Putri ardian

Pembimbing:
Dr. Erneti Aziz Sp. P

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR BAGIAN ILMU PARU


RSUD TENGKU RAFIAN SIAK SRI INDRAPURA
FAKULTAS KEDOKTERAN
2016
DEFINISI
 Suatu penyakit menular yang disebabkan oleh
kuman mycobacterium tuberculosis.
 Secara umum sifat kuman TB:
 Berbentuk batang dengan panjang 1-10 mikron,
lebar 0,2-0,6 mikron
 Tahan asam, kuman berwarna merah dalam
pemeriksaan di bawah mikroskop
 Tahan terhadap suhu rendah: 4 C sampai -70 C
 Sangat peka terhadap panas, sinar matahari dan
ultra violet  paparan langsung  kuman mati
 Kuman bisa dormant
CARA PENULARAN
 Melalui percikan dahak yang dikeluarkan
 Ps TB dg BTA (-) masih memiliki kemungkinan
menularkan penyakit TB
 Infeksi akan terjadi apabila orang lain
menghirup udara yang mengandung percik renik
dahak yang infeksius
PATOGENESIS
UPAYA PENGENDALIAN TB
 WHO dan IUATLD mengembangkan strategi
pengendalian TB yang dikenal sebagai strategi
DOTS (directly observed treatment short-course).
Terdiri dari 5 komponen kunci:
 Komitmen politis
 Penemuan kasus melalui pemeriksaan dahak
mikroskopis yang terjamin mutunya
 Pengobatan yang standar
 Sistem pengelolaan dan ketersidaan OAT yang
efektif
 Sistem monitoring
TATALAKSANA TB
 PENEMUAN PASIEN TB
 STRATEGI PENEMUAN
 Penemuan ps TB secara intensif  populasi terdampak TB
dan rentan
 Didukung dengan kegiatan promosi yang aktif 

ditemukan sejak dini


 Penjaringan terduga TB dilakukan di faskes + promosi
secara aktif
 Melibatkan semua fasilitas kesehatan
CONT..
 Penemuan secara aktif :
 Kelompok rentan atau berisiko tinggi TB  HIV,
DM, malnutrisi
 Kelompok rentan karena di lingkungan yang berisiko
tinggi penularan TB  lapas, penampungan
pengungsi, daerah kumuh, panti jompo
 Anak <5 tahun yang kontak dengan Ps TB
 Kontak erat dengan ps TB dan ps TB resisten obat
TAHAP AWAL PENJARINGAN DENGAN
MENJARING MEREKA YANG MEMILIKI
GEJALA KLINIS:
 Batuk > 2 minggu/lebih
 dahak bercampur darah

 Batuk darah

 Sesak nafas

 Badan lemas

 Nafsu makan menurun

 BB menurun

 Malaise

 Keringat malam hari tanpa kegiatan fisik

 Demam meriang > 1 bln


PEMERIKSAAN DAHAK
 Pemeriksaan dahak mikroskopis langsung
 Berfungsi u/ menegakkan diagnosis
 Dengan mengumpulkan 3 contoh uji dahak dalam 2
hari kunjungan, berupa:
 S (sewaktu) : dahak ditampung pada saat terduga TB
datang berkunjung pertama kali ke faskes. Pada saat
pulang, terduga TB membawa sebuah pot dahak untuk
menampung dahak pagi pada hari kedua
 P (pagi) : dahak ditampung di rumah pd pagi hari kedua,
segera setelah bangunt tidur  serahkan ke faskes
 S (sewaktu) :dahak ditampung di faskes pada hari kedua

saat menyerahkan dahak pagi.


CONT..
 Pemeriksaan biakan
 Untuk mengidentifikasi mycobacterium tuberculosis
u/ menegakkan diagnosis TB pada ps
 TB ekstra paru
 TB anak

 Ps TB dengan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis lsg

BTA (-)

Pemeriksaaan uji kepekaan obat


 u/ menentukan ada tidaknya resistensi M.tb thd
OAT
 Kemenkes RI  geneXpert
DIAGNOSIS TB PADA DEWASA
 Pemeriksaan bakteriologis  pem. Mikroskopis lsg 
BTA
 Pem. Mikroskopis lsg uji dahak SPS  ditetapkan
Tbjika satu dari pemeriksaan uji dahak SPS
hasilnya BTA (+)
 Hasil negatif lihat gejala kinis dan penunjang (foto
thoraks) yang sesuai dan ditetapkan o/ dokter yang
terlatih TB
 Pada sarana terbatas dx secara klinis setelah
terapi antibiotik spektrum luas (non OAT & non
kuinolon) tidak ada perbaikan
 Pemeriksaan serologis (X)
 Foto thoraks saja (X)
 Hanya pem. Uji tuberkulin saja (X)
KLASIFIKASI DAN TIPE PS TB
 ps TB berdasarkan hasil konfrimasi pemeriksaan
bakteriologis ps TB yang dikelompokkan
berdasarkan hasil biologinya dengan pem.
Mikroskopis lsg, biakan, atau tes diagnostik
cepat yang direkomendasikan o/ kemenkes RI.
Kelompok ini :
 TB paru BTA (+)
 TB paru, biakan M.tb (+)
 TB paru, geneXpert M.tb (+)
 TB ekstraparuterkonfirkasibakteriologis, baik
dengan BTA, baiakan, gewneXpert dari uji jaringan
yang terkena
 TB anak yang terdiagnosis dengan pem. bakteriologis
CONT..
 Ps TB terdiagnosis secara klinis  yang tidak
memenuhi kriteria terdiagnosis sedara bakteriologis
tetapi terdiagnosis sbg Ps Tbaktif oleh dokter,dan
diputuskan u/ diberikan pengobatan TB. Kelompok
ini :
 TB patu BTA (-), foto thoraks mendukung TB
 TB ekstra paru yang terdiagnosis scr klinis maupun
laboratoris dan histopatologis tanpa konfirmasi
bakteriologis
 TB anak yang terdiagnosis dengan skoring TB
KLASIFIKASI PS TB
 Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan
sebelumnya:
 Ps baru TB  belum pernah mendapatkan TB sebelumnya
atau sudah pernah menelan OAT < 1 bln (<28 dosis)
 Ps yang pernah diobati TB  sebelumnhya pernah
menelan OAT selama 1 bulan/lebih (>28 dosis)
 Ps kambuh  tb yang pernah dinyatakn sembuh/pengobatan
lengkap dan saat ini terdiagnosis TB berdasarkanhasil
pem.bakteriologis atau klinis
 Ps yang diobati kembali setelah gagal  ps TB yang pernah
diobati dan dinyatakan gagal pada pengobatan terakhir
 Ps yang diobati kembali setelah putus berobat  ps yang
pernah diobati dan dinyatakan lost to foloow
 Lain2  ps TB yang pernah diobati namun hasil akhir
pengobatan sebelumnya tidak diketahui
Pasien yang riwayat pengobatan sebelumnya tidak diketahui.
CONT..
 Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan uji
kepekaan obat
 Monoresisten  resisten thd salah satu jenis OAT lini
pertamasaja
 Poli resisten  resisten thd>1 jenis OAT lini pertama
selain isoniazid (H), dan Rifampisin (R) secara bersamaan
 Multi Drug Resisten  resisten thd Isoniazid, dan
rifampisisn secara bersamaan
 Extensive drug resisten  TB MDR yang sekaligus juga
resiste thd salah satu OAT gol fluorokuinolon dan minimal
salah satu OAT linimkedua jenis suntikan (kanamisin,
kapreomisindan amikasin)
 Reisten rifampisin  resisten thd rifampisin dengan atau
tanpa resisten thd OAT lain yang terdeteksi menggunakan
metode genotip (tes cepat)/ metode fenotip(konvensional)
KLASIFIKASI PS TB BERDASARKAN STATUS
HIV

 Ps TB dengan HIV (+) (pasien koinveksi TB/HIV)


 Tes HIV (+) sebelumnya atau sedang mendapatkan
ART,atau
 Tes HIV (+) pada saat terdiagnosis TB

 Ps TB dengan HIV (-)


 Tes HIV (-) sebelumnya, atau
 Tes HIV (-) saat terdiagnosis TB

 Ps TB dengan status HIV tidak diketahui


 Ps TB tanpa ada bukti pendukung hasil tes HIV saat
terdiagnosis TB ditetapkan
PENGOBATAN TB
 pengobatan yang adekuat harus memenuhi
prinsip:
 Engobatan diberikan dalam bentuk panduan OAAT
yang tepat mengandung minimal 4 macam obat u/
mencegah terjadinya resistensi
 Diberikan dalam dosis yang tepat
 Ditelan secara teratur dan diawasi oleh PMO sampai
selesai pengobatan
 Pengobatan diberikan dalam jangka waktu yang
cukup terbagi dalam tahap awal serta tahap lanjutan
untuk mencegah kekambuhan.
PANDUAN OAT YANG DIGUNAKAN DI
INDONESIA

 Kategoi 1 :2(HRZE)4(HR)3
 Kategori 2 : 2(HRZE)S(HRZE)/5(HR)3E3

 Kategorianak : 2(HRZ)/4(HR) atau


2HRZA(S)/4-10HR
 obat yang digunakan dalam tatalaksana pasien
TB resisten obat di indonesia terdiri dari OAT
lini ke-2 yaitu kanamisin, kapreomisin,
levofloksasin, etionamide, sikloserin,
moksifloksasin dan PAS serta OAT lini-1, yaitu
pirazinamid dan etambutol
CONT..
 Panduan OAT kategori 1 dan kategori 2 
bentuk obat kombinasi dosis paket tetap (oat-
kdt)  terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat
dalam satu tablet. Dosisnnya disesuaikan
dengan BB pasien
 Paket kombipak paket obat lepas yang terdiri
dari isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan
etambutol yang dikemas dalam bentuk blister
 Paduan OAT kategori anak  tersedia dalam
bentuk paket kombinasi dosis tetap
PEMANTAUAN KEMAJUAN DAN HASIL
PENGOBATAN TB
 Pemantauan kemajuan dan hasil pengobatan pada
orang dewasa  pem. Ulang dahak secara
mikroskopis
 Dilakukan 2 contoh uji dahak u/ memantau
kemajuan pengobatan
 Negatif bila 2 uji dahak negatif
 Positif bila kedua uji dahak positif atau salah satu uji
dahak positif
 Pada semua ps TB (+) , pemeriksaan ulang dahak
selanjutnya dilakukan pada bulan ke 5  jika
hasilnya negatif  pengobatan dilanjutkan hingga
seluruh dosis pengobatan selesai dan dilakukan
pemeriksaan ulang dahak kembali pada akhir
pengobatan.
SYARAT PMO (PENGAWAS MINUM OBAT)
 Seseorang yang dikenal
 Tinggal dekat dengan pasien

 Bersedia membantu dengan sukarela

 Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan


bersama-sama pasien

Siapa?
sebaiknya Petugas kesehatan, bidan di desa,
perawat dll.
 Kader kesehatan, guru, atau anggota keluarga
PENGOBATAN TB PADA KEADAAN KHUSUS
 Kehamilan
 Menurut WHO, OAT aman u/ kehamilan kecuali
gogolngan aminoglikosida (ateptomisisn dan
kanamisisn) dapat menimbulkan ototoksik pada
bayi.
 Piridoksin 50mg/hari dianjurkan yang mendapatkan
pengobatan TB
 Vit K 10mg/hari dianjurkan apabila rifampisin
digunakan pada trimester 3 menjelang partus
IBU MENYUSUI DAN BAYI
 Semua OAT aman u/ ibu menyusui
 Pengobatan pencegahan dengan INH diberiakn
kepada bayi sesuai dengan BB

TB PENGGUNA KONTRTASEPSI
 Rifamisin berinteraksi dg kontrasepsi hormonal
 menurunkan efektifitas kontrasepsi tsb
 Gani kontrasepsi non-hormonal
TB DENGAN KELAINAN HATI
 Tb dengan hepattitis akut
 Ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami
penyembuhan
 Ps dengan kondisi berikut dapat diberikan
panduan pengobatan OAT yg biasa digunakan
apabila tidak ada kondisi kronis:
 Pembawa virus hepatitis
 riw,. Penyakit hepatitis akut
 Saat ini asih pecandu alkohol
 Hepatitis kronis
 Pemeriksaaan fs hati harus dilakuakn sebelum
dilakukan pengobatan. Apabila fs hati >3xnormal
sebelum pengobatan
CONT..
 2 obat yang hepatotoksik
 2HRSE/6HR
 9HRE

 1 obat yang hepatotoksik


 2HES/10HE
 Tanpa obat yang hepatotoksik
 18-24SE + salah satu gol kuinolon (ciprofloxasin tdk
direkomendasikan karena potensinya sangat lemah)
TB DENGAN GGN FS GINJAL
 2HRZE/4HR
 Dosis Z dan E  ekskresi melalui ginjal

 dosis pemberian3x/mgg bagi Z: 25mg/kgbb dan E:


15mg/kgbb
 Piridoksin (vit.B6)  mencegah neuropati
perifer.
 Hindari streptomisin. Jika harus diberikan, dosis
: 15 mg/kgbb
TB DENGAN DM
 OAT = OAT tanpa DM dengan syarat KGD terkontrol
 KGD tidak terkontrol  dilanjutkan sampai 9 bln

Ps. TB YANG PERLU MENDAPAT TAMBAHAN


KORTIKOSTEROID
 Meningitis TB dg ggn kesadaran dan dampak
neurologis
 TB milier dengan atau tanpa meningitis

 Efusi pleura dg ggn pernafasan berat

 Laringitis dg obstruksi sal nafas bg atas

 Hipersensitivitas berat thd OAT

 IRIS (immune respone inflamatory syndrome)


DOSIS DAN LAMANYA EMBERIAN
KORTIKOSTEROID
 Prednisossolon oral
 Anak : 2mg/kgbb, 1x / hari (pagi)
 Dewasa : 30-60 mg/kgbb, 1x/hr (pagi)
 Apabila pengobatan diberikan sampai atau > 4 mgg, dosis
harus diturunkan bertahap.

INDIKAS OPERASI
 TB PARU
 batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara
konservatif
 Denagn fistula bronkopleura dan empiema yang tidak
dapat diatasi scr konservatif
 TB MDR dg kelainan paru yg terlokalisisr
 TB EKSTRAPARU
 Dengan komplikasi, misal : tb tulang disertai kelainan
neurologik
EFEK SAMPING OAT
MANAJEMEN TERPADU PENGENDALIAN
TUBERKULOSIS RESISTEN OBAT (MTPTRO)
MENCEGAH DAN PENGENDALIAN TB

 Prinsip pencegahan dan pengendalian infeksi


 Pengendalian manajerial  pimpinan fasilitas
elayanan kesehatan
 Pengendalian administratir  mencegah dan
megurangi pajanan kuman TB pada petugas
kesehatan
 Pengendalian lingkuangan  peningkatan dan
pengaturan aliran udara/ventilasi untuk mencegah
penyebaran dan menurunkan percik renik di udara
 Pengendalian dengan APD  menurunkan resiko
terpajan pada etugas kesehatan.
TERIMA KASIH 