Anda di halaman 1dari 23

SKIZOFRENIA DAN GANGGUAN

PSIKOTIK LAINNYA

Luana N.A.
Skizofrenia

Sindrom klinis dengan variasi psikopatologi, biasanya berat, lama.

Pikiran
Penyimpangan
Persepsi

Emosi
Epidemiologi
 Prevalensi dunia : 1%-1.5%
 Insidens : 1/10.000 per tahun
 Litbangkes 1995 : 1%-3%
 Onset ♂ : 15 th – 25 th ( prognosis buruk)
♀ : 25 th – 35 th
 80% penyakit fisik dan 50% nya tidak terdiagnosis.
 Bunuh diri 50 % 1 X, 10% berhasil
 Resiko  : Pada usia muda, depresif, premorbid ↑.
Epidemiologi

 Komorbiditas : Alkohol, kanabis, Kokain.


→ Prog. Buruk ( efektifitas ↓, Kepatuhan ↓)

 Adiksi Nikotin 3X populasi umum


→ Kecepatan metabolisme ↑ ( perlu dosis ↑)
Parkinsonisme ↓.

 Tidak Menikah > menikah.


Etiologi

 Model diatesis – stress


 Faktor Psikososial + lingkungan
 Rentan

 Faktor Biologi
1. Komplikasi / trauma kelahiran → hipoksia
perinatal
2. Infeksi
a. Perubahan anatomi SSP
b. Trimester ke 2
3. Hipotesis Dopamin
4. Hipotesis Serotonin
Etiologi
5. Struktur Otak
 Sistem Limbik dan ganglia basalis
 Ventrikel III / lateral melebar
 Atrofi lobus temporalis med, hipokampus, parahipokampus,
amygdala
 Tidak ada sel glia
 Genetika
 diturunkan,
 1% dari populasi umum
 10% derajat pertama
 Kembar monozigot > dizigot
 kedua orang tua yang skizofrenia 40%, satu orang tua 12%
Gambaran klinis

 Fase prodromal.
1. Gejala Non Spesifik → Minggu
→ Bulan Onset Psikotik jelas
→Tahun
Hendanya : Fungsi pekerjaan, sosial, penggunaan waktu
luang dan perawatan diri

2. Semakin lama → Prog buruk


Gambaran klinis

 Fase aktif.
1. Gejala psikotik / positif jelas

TL Katatonik
Inkohorensi
Waham
Halusinasi
Gang Afek
2. Hilang spontan → eksaserbasi →bertahan terus
3. Datang berobat

 Fase residual.
1. Sama dengan Prodromal
2. Gejala Positif / Psikotik menurun
Pedoman Diagnostik PPDGJ-III

 1 gejala jelas / 2 gejala tidak jelas


a. thought echo
thought insertion or withdrawal
thought broadcasting
b. delusion of control
delusion of passivitiy
delusional perception
c. Halusinasi auditorik
d. Waham lainnya.
Pedoman Diagnostik PPDGJ-III

 2 gejala harus jelas:


e. Halusinasi yang lain
f. Inkoherensi
g. Perilaku katatonik.
h. Gejala negatif

 Waktu 1 bulan / >

 Perubahan perilaku konsisten


Prognosis

1. 25% individu sembuh sempurna.


2. 40% mengalami kekambuhan.
3. 35% mengalami perburukan.
Prognosis

NO Prognosis Baik Prognosis Buruk


1. Usia Tua Usia Muda
2. Faktor pencetus jelas Tidak ada
3. Onset akut Tidak jelas
4. Riw. Sosial/pekerjaan baik Buruk
5. Menikah Tidak menikah
6. Sistem pendukung baik Buruk
7. Gejala positif Negatif
Terapi / Tatalaksana

I. Psikofarmaka
1. Pemilihan obat
 Semua obat AP punya efek primer / klinis yang
sama
→perbedaan pada efek sekunder / efek
samping (sedasi, aonomik, ekstrapiramidal)
 Gejala psikosis dominan dan ES
 Sesuai dosis ekivalen
 Dosis optimal, jangka waktu tepat →ganti AP lain
gol. tidak sama ~ dosis ekivalen
 Bila ada riwayat pengguna AP sebelumnya dan
terbukti efektif dan ES dapat di tolerir → pilih lagi
Terapi / Tatalaksana

 Gejala negatif > positif → AP Atipikal


Gejala positif > negatif → AP Tipikal
Gejala EP → Atipikal
 Anti Psikotik
– APG I / Tipical (DRA)
- Blok reseptor D2 di mesolimbik, mesokortikal,
nigostriatal, dan tuberoinfundibular
- Gejala positif menurun
- ES : Gangguan EP, tardive diskinesia, kadar
prolaktin ↑ (disf seksual, BB ↑, gejala negatif ↑,
gang kog), Efek antikolinergik (mulut kering,
kabur, gang.miksi, defekasi dan hipotensi)
Terapi / Tatalaksana

- Potensi tinggi (≤ 10 mg) : Trifluoperazine,


Fluphenazine, Haloperidol, Pimozide
→ Apatis, menarik diri, hipoaktif, waham,
halusinasi
- Potensi rendah ( >50 mg) : Chlorpromazine,
Thioridazine
→ Gaduh gelisah, hiperaktif, sulit tidur.
– APG II / Atipical / Serotonin – Dopamin Antagonis
(SDA)
- Bekerja melalui interaksi serotonin dan dopamin
di ke 4 jalur dopamin
- ES : EP ↓
- Gejala negatif
- Clozapine, Olanzapine, Quetiapine, Risperidon
Terapi / Tatalaksana

2. Pengaturan Dosis :
 Onset efek primer (klinis) : 2 – 4 mg
Onset efek sekunder (ES) : 2 – 6 jam
 Waktu paruh : 12 – 24 jam (1 – 2x/hari)
 Dosis pagi / malam dapat berbeda (Pagi kecil, malam besar)
→ tidak mengganggu kualitas hidup
 Long Acting :
Fluphenazine decanoate 25 mg/cc / ±m (2-4 mg)
Haloperidol decanoate 50 mg/cc / ± (2-4 mg)
→ Sulit / tidak mau minum obat
Pemeliharaan
Terapi / Tatalaksana

3. Cara / lama pemberian :


 Dosis awal sesuai anjuran → naikkan tiap 2-3 hari sampai dos
efektif (sindrom psikosis reda)
 Evakuasi tiap 2 mg bila perlu naikan sampai dosis optimal
 Pertahankan 8-12 mg (stabilisasi)
 Turunkan tiap 2 mg (maintenance)
 Pertahankan 6 bulan – 2 tahun (selingi drug holiday 1-2/hr/mg)
 Tapering off (diturunkan tiap 2-4 mg)
 Stop
 Psikosis multiepisode : pemeliharaan ± 5 tahun menurunkan
kekambuhan 2,5 – 5 x
 AP pertahankan 3 bulan – 1 tahun setelah gejala psikosis reda
 Stop mendadak → Cholinergic rebound (gang lambung, mual,
muntah, diare, pusing, gemetar)
→ SA 0 – 25 mg ± M, Trihexy phenidyl 3x25 mg/hari
Terapi / Tatalaksana

II. Psikososial
I. Psikoterapi individual
II. Psikoterapi kelompok
III. Psikoterapi keluarga
Gangguan Psikosis lainnya

1. Gangguan Waham
2. Gangguan Psikotik Akut dan Sementara
3. Gangguan Skizoafektif
Gangguan Waham

 Waham satu-satunya gejala, 3 bulan, pribadi


 Gejala depresif mungkin terjadi tetapi waham tetap
ada saat gangguan afektif tak ada.
 Tidak boleh ada penyakit otak
 Tidak boleh ada halusinasi auditorik
 Tidak ada riwayat gejala-gejala skizofrenia
Gangguan Psikotik Akut dan Sementara

 ciri-ciri utama
1. Onset yang akut (dalam masa 2 minggu atau
kurang
2. Polimorfik, Schizophrenia-like
3. stress akut yang berkaitan (tidak selalu ada)
4. Tanpa diketahui berapa lama akan berlangsung
 Tidak ada yang memenuhi episode manik/depresif
 Tidak ada penyebab organik
Gangguan Skizoafektif

 Gejala skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol


pada saat bersamaan, tidak memenuhi kriteria skizofrenia
maupun episode manik atau depresif.

 Tidak dapat digunakan apabila gejala skizofrenia dan


gangguan afektif tetapi dalam episode penyakit yang berbeda

 Bila skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah


mengalami suatu episode psikotik, masuk dalam diagnosis
Depresi Pasca-skizofrenia.
TERIMA KASIH