Anda di halaman 1dari 20

KELOMPOK 1

NAMA KELOMPOK
*ADISSA KWAIRA KALALO
*BELINDA FITRI DIANA
*CICHA AMELIA
*MILA KRESNA
*M.ARVIANSYAH
PERKEMBANGAN PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA
LATAR BELAKANG G 30 S PKI
Pada awal tahun 1965 Bung Karno mempunyai ide tentang angkatan
kelima yang berdiri sendiri terlepas dari TNI pandangan lain
mengatakan bahwa PKI-lah yang mengusulkan angkatan kelima
tersebut dan mempersenjatai mereka petinggi angkatan darat tidak
setuju dan hal ini mengakibatkan rasa curiga antara PKI dan Militer.
A. Munculnya Komunis di Indonesia
*Dimulai dari kedatangan Neevliet (1883-1942) yang membawa paham komunis
di Indonesia setelah setahun kedatangannya, ia mendirikan Indische Social –
Democratische Vereningging atau ISDV (Perserikatan Sosial Demokrat Hindia)

*Pada zaman Hindia Belanda terjadi pemberontakan Komunis, antara lain pada
tahun 1926 di daerah sekitar pulau jawa, di Sumatera Barat tahun 1927 tetapi
mengalami kegagalan, setelah itu PKI tidak muncul kembali dan baru muncul
kembali tahun 1947.
B. Gerakan 30 S PKI
Sejak terpilih sebagai ketua PKI pada tahun 1951, D.N Aidit
telah membuat PKI menjadi partai yang besar setelah
sebelumnya telah tenggelam karena peristiwa
pemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948.
C. Penumpasan Gerakan PKI dan Pembekuan PKI
Tindakaan Kostrad
Pada hari Jum’at tanggal 1 Oktober 1965 pangkostrad
Mayjend TNI Soeharto melakukan tindakan penumpasan gerakan PKI,
karena pengkhianatanya terhadap bangsa Indonesia, dan melakukan
pembunuhan terhadap Jenderal-jenderal.
Tanggal 3 Oktober 1965 sekitar 17.00 ditemukan
timbunan tanah dan sampah yang diperkirakan sebagai tempat
penguburan kemudian dilakukan penggalian terhadap timbunan
tanah dan sampah tersebut yang ternyataa adaalah sebuah sumur
tua.
*

*Tuntutan Massa Dalam Pembubaran PKI


A.Reaksi Partai Politik dan Organisasi Massa
Parpol maupun ormas belum menentukan sikap
karena sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya
terjadi dan latar belakang terjadinya peristiwa G 30 S PKI.
B.Tindakan Spontan Massa terhadap PKI
Pada tanggal 8 Oktober 1965 mulai terjadi aksi-
aksi massa menyerbu gedung-gedung kantor PKI serta ormas-
ormasnya.
C. Tri Tuntutan Rakyat (Tritura)
tiga buah tuntutan yang kemudian dikenal sebagai Tritura itu, yang
isinya adalah:
Pembubaran PKI;
Pembersihan kabinet dari unsur-unsur G-30-S/PKI; dan
Penurunan harga dan perbaikan ekonomi.
TAMAN SISWA
TAMAN SISWA Taman Siswa berdiri pada tanggal 3 Juli 1922, Taman Siswa
adalah badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat yang
menggunakan pendidikan dalam arti luas untuk mencapai cita-citanya.
Bagi Tamansiswa, pendidikan bukanlah tujuan tetapi media untuk
mencapai tujuan perjuangan, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang
merdeka lahir dan batinnya. Merdeka lahiriah artinya tidak dijajah secara
fisik, ekonomi, politik, dsb; sedangkan merdeka secara batiniah adalah
mampu mengendalikan keadaan.

KI HADJAR DEWANTARA adalah salah seorang tokoh pendidikan Nasional


yang mendirikan Perguruan Taman Siswa, untuk mendidik rakyat kecil
supaya bisa mandiri, tidak tergantung pada penjajah. Beliau bercita-cita
agar bangsa Indonesia yang akan datang memiliki kepribadian nasional
dan sanggup membangun masyarakat baru yang bermanfaat bagi
kehidupan dan penghidupan bangsa Indonesia.
Partai Nasional Indonesia
Partai Nasional Indonesia pada mulanya didirikan
oleh Soekarno dan para anggota Algemene
Studieclub pada tanggal 4 Juli 1927 dengan nama
Perserikatan Nasional Indonesia.Banyak juga
tokoh-tokoh PNI adalah mantan anggota
Perhimpunan Indonesia yang pulang ke tanah
air.Baru pada bulan Mei 1928,nama organisasi ini
berubah menjadi Partai Nasional Indonesia.
Tujuan PNI adalah "Indonesia Merdeka“
.Tujuan itu akan dicapai dengan azas "percaya pada diri sendiri",artinya
memperbaiki keadaan politik,ekonomi dan sosial budaya yang rusak karena
penjajahan dengan kekuatan sendiri.Untuk itu PNI berupaya mempersatukan
seluruh rakyat Indonesia dari berbagai kelompok agama,etnis,dan
kelas,walaupun pendukung terbesarnya adalah kelas menengah dan petani
abangan.

Hal ini juga sesuai dengan ideologi PNI yaitu Marhaenisme yang dicetuskan
oleh Ir.Soekarno dengan tujuan untuk menggalang persatuan dan aliran-aliran
politik yang ada di Indonesia,yaitu Nasionalis,Islam,dan Marxis.
Perjuangan PNI bersifat non-kooperatif,sehingga PNI menolak menjadi
anggota Volskraad (Dewan Rakyat).Sebaliknya PNI berupaya membangun
pengikut massa dan mengklaim memiliki 10.000 anggota pada
1929.Pemimpin-pemimpin PNI seperti,Mr. Suyudi,Mr. Sartono,Mr. Iskaq
Cokrohadisuryo,dr. Syamsi,Mr. Budyarto,Mr.Ali Sastroamijoyo,dan khususnya
Ir.Soekarno berhasil menggerakkan rakyat Indonesia sehingga pengaruh PNI
semakin meluas
Sejarah PARTINDO (Partai Indonesia) dan
Perkembangannya
Organisasi ini tergolong organisasi politik yang menjadi salah satu organisasi
pergerakan nasional dengan cita-cita luhur mencapai Indonesia merdeka.
Partindo ini lahir setelah PNI mengalami kekosongan sosoksentral yang
dijadikan pemimpin utama pergerakannya. Mr. Sartono dianggap sebagai
pendiri Partindo karena ia menggerakkan PNI yang sedang kosong agar tetap
memberikan manfaat bagi rakyat.
Awal Berdiri
Mr. Sartono naik menggantikan posisi Bung Karno yang saat itu sedang berada di
penjara Sukamiskin karena sepak terjangnya yang dianggap membahayakan. Di
tanggal 30 April tahun 1931, Mr. Sartono mendirikan Partai Indonesia yang disingkat
menjadi Partindo untuk melanjutkan perjuangan PNI agar tidak stagnan. Ia
berseberangan dengan kubu Moh. Hatta yang memilih mendirikan organisasi lain
setelah PNI kehilangan Soekarno.
Moh. Hatta dan kubunya yang didukung Sutan Sjahrir merasa tidak
sependapat dengan sikap ideologis Mr. Sartono. Karenanya mereka
membentuk organisasi sendiri yang sering dijuluki PNI-Baru dengan nama
Pendidikan Nasional Indonesia. Jadi kedua tokoh keluaran PNI ini menjadi
berseberangan. Sementara dari jerujinya, Soekarno memihak Mr. Sartono
yang bersetia kepada PNI dan cita-citanya.
Memang di awal pembentukan Partindo, Mr. Sartono menerima kebencian
dari banyak pihak karena membubarkan PNI dan tidak sepakat dengan PNI-
Baru. Namun Mr. Sartono terus berusaha membuktikan kebenaran
perjuangannya yang membela rakyat Indonesia, bukan pribadinya sendiri.
Bergabungnya Soekarno
Keberpihakan Soekarno kepada Partindo sejak di dalam penjara Sukamiskin
terlihat saat di tahun 1932 beliau dibebaskan. Mulanya Soekarno mencoba
menyatukan pecahan PNI yang sudah berbeda jalan, namun mengalami
kegagalan. Mau tidak mau, Soekarno harus memilih salah satu. Keputusannya
dikeluarkan dalam bentuk pengumuman tanggal 1 Agustus 1932 yang
menyerukan keberpihakan Soekarno kepada Partindo.
Karena Soekarno lebih memilih Partindo ketimbang PNI-Baru, maka rakyat
yang sudah tunduk kepada Soekarno banyak yang bergabung ke dalam partai
ini. Sejak kepulangannya dari Sukamiskin tersebut, ia langsung melejitkan
Partindo sampai memperoleh 3762 orang pengikut hanya dalam setahun.
Padahal sebelumnya, Partindo hanya memiliki 226 anggota saja.

Di forum-forum umum, Soekarno mulai memperkenalkan ajaran


Marhaenismenya yang lebih menyukai usaha memperjuangkan kaum akar
rumput dibandingkan langsung tembak ke bidang pendidikan seperti yang
dilakukan Moh. Hatta dengan PNI barunya.
Kongres dan forum yang membawa nama Soekarno tidak pernah sepi
audiens. Karenanya, paham Soekarnoisme dengan Marhaennya cepat sekali
membesar. Begitu pula dengan Partindo yang menjadi kendaraan politiknya.
Selanjutnya, polah tingkah Soekarno kembali disoroti Belanda karena
menyebarluaskan keberanian untuk merdeka dan melawan pemerintahan
yang saat itu termasuk masa penjajahan Belanda di Indonesia.
Kehilangan Soekarno
Ujung dari perburuan antara polisi Belanda dengan Soekarno berakhir dengan
pembuangan Soekarno ke luar pulau. Pemerintah Belanda merasa pengaruh kuat
Soekarno tidak dapat dibendung selama tubuh Soekarno masih ada di tanah Jawa.
Sekalipun ia dikurung di tahanan yang sempit, gelap dan menjijikkan, tetapi
semangatnya yang terlalu besar tidak dapat dipadamkan. Beliau pun dibuang ke Ende
–sebuah daerah di pulau Flores.
Harapan pemerintah adalah dengan diasingkannya Soekarno ke wilayah yang masih
mundur, semangatnya akan mati perlahan. Setelah 4 tahun di Ende, Soekarno
dipindahkan tempat pembuangannya ke Bengkulu.

Sepeninggal Soekarno, Partindo melaksanakan beberapa kegiatan kepartaian yang


dibungkus rapi namun tentu saja mengandung unsur politik.
Partindo mulai mengadakan rapat-rapat dan kongres rutin untuk mempersiapkan
kemerdekaan Indonesia. Mereka pun melakukan aksi-aksi sosial yang membantu
warga Indonesia di bawah garis kesejahteraan. Selama beberapa tahun berjalan tanpa
Soekarno, kegiatan Partindo mengalami stagnasi. Meskipun gerakannya masih
tergolong berani dan menyulitkan pemerintah Belanda yang menganggap Partindo
sebagai partai radikal, tetapi sebenarnya Partindo sudah tidak sekuat dulu.
Bubarnya Partindo

Belanda yang merasa Partindo mulai membahayakan kedudukannya di Indonesia


mengeluarkan maklumat yang membatasi ruang gerak Partindo. Tanggal 27 Juni 1933,
setiap pegawai pemerintah yang diangkat menjadi pegawai negeri tidak
diperkenankan bergabung dalam Partindo atau harus melepas jabatannya. Disusul
kebijakan tanggal 1 Agustus 1933 yang tidak mengizinkan aktivitas Partindo berupa
rapat di mana pun tempatnya. Selama masih di wilayah Indonesia, kegiatan rapat
Partindo harus dihentikan. Kebosanan Partindo dengan kegiatan yang hanya itu-itu
saja membuat situasi semakin rumit. Mr. Sartono sebagai ketuanya merasa harus
membubarkan Partindo. Niatnya ini sempat dihalangi beberapa rekannya di Partindo.
Sayangnya, usaha rekan-rekannya tidak lebih besar dari tekad Mr. Sartono. Puncaknya,
Mr. Sartono membubarkan Partindo pada tanggal 18 November 1939.
Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru)
Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru) ini lahir pada
bulan Desember 1931. Organisasi ini dipimpin oleh orang-orang
yang memiliki gaya yang berbeda dengan Soerkarno.
Dari sini muncul tokoh baru yaitu Sultan Syahrir (20 tahun) yang
waktu itu masih menjadi mahasiswa di Amsterdam. Walaupun
cita-cita dan haluan kedua partai itu sama, yaitu kemerdekaan
Indonesia dan nonkooperasi, tetapi strategi perjuangannya
berbeda. PNI Baru lebih menekankan pentingnya pendidikan
kader.
Mohammad Hatta kemudian membuat kesepakatan dengan
Soedjadi Moerad, untuk menerbitkan majalah yang diterbitkan
sekali dalam 10 hari guna pendidikan kader baru. Hatta
mengusulkan majalah itu diberi nama “Daulat Rakjat”, yang
mempertahankan asa kerakyatan yang sebenarnya dalam segala
susunan politik, perekonomian dan pergaulan sosial. Kemudian
Hatta dan Sjahrir bermufakat agar Sjahrir pulang ke Indonesia pada
bulan Desember 1931 untuk membantu “Golongan Merdeka” serta
membantu “Daulat Rakjat”.

Pada tanggal 25-27 Desember 1931 (menurut Soebadio


Sastroastomo diadakan pada bulan Februari 1932) sebuah
konferensi diadakan di Yogyakarta untuk merampungkan penyatuan
golongan-golongan Merdeka yang mana kelompok tersebut diberi
nama Pendidikan Nasional Indonesia atau yang dikenal sebagai PNI-
Baru dengan Soekemi sebagai ketuanya. Sjahrir terpilih sebagai
ketua cabang Jakarta dan sekretaris cabangnya adalah Djohan
Sjahroezah.
Kemudian dalam Kongres Pendidikan Nasional Indonesia bulan
Juni 1932 yang berlangsung di Bandung, Sjahrir terpilih menjadi
Pimpinan Umum Pendidikan Nasional Indonesia menggantikan
Soekemi. Dalam kongres itu dirumuskan bahwa PNI Baru adalah
sebagai suatu partai kader politik yang merupakan partai kader.
Keputusan bahwa PNI Baru adalah sebagai partai kader setelah
mengalami diskusi yang cukup panjang dan rumit yang pada
akhirnya argumentasi Sjahrir yang cukup kuat untuk membawa
PNI Baru sebagai partai kader dapat diterima oleh sebagian
besar pengurus. Dan dengan pulangnya Hatta pada awal tahun
193, Pimpinan Umum PNI Baru diserahkan oleh Sjahrir kepada
Hatta.
Dimasukkannya kata “Pendidikan” ke dalam nama partai
mengandung maksud yang serius. Sebagian besar kegiatan partai
ini adalah menyelenggarakan pendidikan politik bagi para
anggotanya, yang sebagian dilakukan melalui halaman-halaman
“Daulat Rakjat” dan tulisan-tulisan lain, termasuk risalah
“Kearahan Indonesia Merdeka” (KIM) yang secara khusus ditulis
oleh Hatta sebagai semacam manifesto pergerakan itu.
Arah sentral pendidikan diungkapkan ke dalam 150 pertanyaan di dalam KIM
yang mencakup banyak aspek politik, ekonomi, dan sosial. Secar keseluruhan,
jawaban-jawaban itu mengandung suatu doktrin yang jelas walaupun
sederhana, bahwa kekuasaan politik didistribusikan menurut distribusi
kekuasaan ekonomi dalam suatu masyarakat, bahwa kebebasan politik tanpa
persamaan di bidang ekonomi sangatlah terbatas dan bahwa kemerdekaan
Indonesia baru merupakan realita jika disertai perubahan ekonomi,
sebagaimana pernyataan (kunci) sebagai berikut, “Mengapa demokrasi politik
saja tidak cukup?”. Jawabannya, “Demokrasi politik saja tidak cukup karena ia
akan dilumpuhakan oleh otokrasi yang masih ada di bidang-bidang ekonomi
dan sosial. Mayoritas rakyat masih menderita dibawah kekuasaan kaum
kapitalis dan majikan”.
Suasana dalam kursus-kursus yang diselenggarakan oleh Pendidikan Nasional
Indonesia dan kesungguhan anggota-anggotanya mengingatkan banyak orang
kepada “Workers Education Essocition” (WEA-Perhimpunan Pendidikan Kaum
Buruh) yang berusaha memberikan pendidikan kepada masyarakat Inggris
pada akhir abad 19. WEA mempunyai ikatan-ikatan yang kuat dengan gerakan
Fabian dan sebagian kegiatannya adalah memberikan pendidikan sosialis.
GERAKAN WANITA
Menurut catatan, dulu wanita diposisikan sebagai kaum
yang tidak setara dengan laki-laki. Oleh karenanya untuk
kesetaraan hak inilah, lahir gerakan – gerakan wanita.
Pelopor gerakan wanita adalah R.A. Kartini, putri Bupati
Jepara Ario Sosrodiningrat. Kartini lahir pada tanggal 21
April 1879. Cita-cita beliau adalah memperbaiki derajat
kaum wanita melalui pendidikan dan pengajaran. Untuk
merealisasikan tujuannya itu, Kartini mengadakan kontak
lewat surat dengan wanita Barat dan juga Nusantara.
Surat-surat Kartini inilah oleh Mr. Abendanon dijadikan
buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Dari Jawa Barat juga muncul tokoh wanita, yaitu Dewi


Sartika yang berusaha melepaskan tradisi dan adat
pingitan bagi wanita seperti kawin paksa dan poligami.
Perjuangan Kartini dan Dewi Sartika kemudian mengilhami gerakan-gerakan wanita.
a. Putri Mardiko (1912) berdiri di Jakarta, tujuannya memberikan bantuan bimbingan dan
penerangan pada gadis pribumi dalam menuntut pelajaran, tokohnya adalah R.A. Sabaruddin,
R.A. Sutinah, Joyo, R.R. Rukmini.
b. Kartini Fonds (dana Kartini) yang didirikan Ny. T. Ch. Van Deventer (1912) dengan tujuan
mendirikan sekolah bagi kaum wanita, misalnya Maju Kemuliaan di Bandung, Pawiyatan
Wanito di Magelang, Wanito Susilo di Pemalang, Wanito Hadi di Jepara, Budi Wanito di Solo,
dan Wanito Rukun Santoso di Malang.
c. Keutamaan Istri, berdiri di Tasikmalaya (1913) dengan tujuan mendirikan sekolah untuk anak-
anak gadis.
d. Kerajinan Amal Setia, berdiri di Gadang, Sumatra Barat tanggal 11 Februari 1914 dengan
ketua Rohana Kudus. Tujuan didirikannya organisasi ini adalah untuk meningkatkan pendidikan
wanita seperti cara mengatur rumah tangga, kerajinan tangan, dan cara pemasarannya.
e. Sarikat Kaum Ibu Sumatra di Bukittinggi.
f. Perkumpulan Ina Tani di Ambon.
Untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang kewanitaan dilakukan dengan menerbitkan
surat kabar Putri Hindia di Bandung, Wanita Swara di Brebes, Soenting Melajoe di Bukittinggi,
Putri Mardiko di Jakarta, Estri Oetomo di Semarang, Soewara Perempoean di Padang, dan
Perempuan Bergerak di Medan. Kongres Wanita pada tanggal 22 Desember 1928
diselenggarakan di Yogyakarta. Peristiwa ini diperingati sebagai hari Ibu. Hasilnya, dibentuk
Perserikatan Perempuan Indonesia (PPI) yang bertujuan untuk mempererat hubungan
perkumpulan wanita, memperbaiki nasib dan derajat wanita, serta mengadakan kursus
kesehatan.