Anda di halaman 1dari 18

CENTRAL VENOUS

PRESSURE (CVP)
KELOMPOK 6/A2-2015

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
ANGGOTA

• Cherlys Tin Lutfiandini 131511133016


• Nyuasthi Genta S. 131511133018
• Tyas Dwi Rahmadhani 131511133019
• Ferly Anas Priambodo 131511133027
• Sri Wulandari 131511133048
• Bunga Novia Hardiana 131511133057
• Zulfia Rahmih 131511133116
• Fida Asyariha A. S. 131511133132
DEFINISI CVP

Tekanan vena sentral (CVP)


adalah tekanan dari atrium
kanan jantung dan vena
cavadan memberikan
informasi mengenai volume
darah dalam hubungannya
dengankapasitas saat ini,
tonus vaskular, keefektifan
fungsi jantung kanan, resistensi
vaskular paru dan tekanan
intra torak. Nilai normal cvp
berkisar 3-15cm air (3-10
mmHg) (Higgnis, 2004 dalam
Dougherty, 2010).
TUJUAN PENGUKURAN CVP

Mengetahui status
intravaskuler dan
menunjukkan volume Mengetahui tonus pembuluh
sirkulasi darah atau status darah: hipotonus atau
hidrasi tubuh (normovolemik, hipertonus
hipervolemik, atau
hipovolemik/dehidrasi)

Mengetahui fungsi ventrikel


kanan sebagai pompa Mengetahui tekanan vena
(indikasi gagal jantung sentralis
kanan)
NILAI NORMAL DAN INTERPETASI

Menurut Higgnis, 2004 menyatakan bahwa nilai


normal CVP 3-8 CmH2O atau 2-5 mmHg. Sementara,
menurut Kelli , nilai normal CVP adalah 3-8 cmH20
atau 2-6 mmHg.

Interpretasi Konversi mmHg dan


Pengukuran Tekanan cmH2O
Vena Central • mmHg x 1,36 = ….. cmH2O
• Rendah : < 6 cmH20 • cmH2O : 1,36 = …. mmHg
• Normal : 6 -12 cmH20
• Tinggi : >12 cmH20
LANJUTAN…

Apabila nilai CVP dikatakan rendah, terjadi


pada kasus hipovolemia, deep inhalation, syok
septik.

Sedangkan nilai CVP yang tinggi dapat terjadi


pada kasus peningkatan volume darah vena,
forced exhalation, gagal jantung,
penggunaan ventilator , dan emboli paru.
INTERPRETASI GELOMBANG CVP PADA
EKG
Pada gelombang CVP terdapat tiga gelombang
positif (a, c, dan v) yang berkaitan dengan tiga
peristiwa dalam siklus mekanis yang meningkatkan
tekanan atrium dan dua gelombang (x dan y) yang
dihubungkan dengan berbagai fase yang berbeda
dari siklus jantung dan sesuai dengan gambaran EKG
normal.
• Gelombang a diakibatkan oleh peningkatan tekanan atrium
pada saat kontraksi atrium kanan dan dikorelasikan dengan
gelombang P pada EKG.
• Gelombang c timbul akibat penonjolan katup atrioventrikuler ke
dalam atrium pada awal kontraksi ventrikel isovolumetrik dan
dikorelasikan dengan akhir gelombang QRS segmen pada EKG.
• Gelombang x descent, gelombang ini disebabkan gerakan ke
bawah ventrikel selama kontraksi sistolik yang terjadi sebelum
timbulnya gelombang T pada EKG.
• Gelombang v timbul akibat pengisisan atrium selama injeksi
ventrikel (selama fase ini katup AV normal tetap tertutup)
digambarkan pada akhir gelombang T pada EKG.
• Gelombang y descendent diakibatkan oleh terbukanya tricuspid
valve saat diastol disertai aliran darah masuk ke ventrikel kanan
yang terjadi sebelum gelombang P pada EKG.
METODE PENGUKURAN CVP

INVASIF NON INVASIF


• Pengukuran secara non • Pengukuran secara invasif
invasif dapat dilakukan dilakukan dengan
dengan mengukur tekanan memasukkan kateter ke
vena jugularis. dalam vena subklavia atau
vena jugularis internal.
METODE NON INVASIF

• Pengukuran tekan vena sentral dengan metode invasif


dapat dilakukan dengan mengukur tekanan vena
jugularis/jugular vein pressure (JVP). JVP
menggambarkan volume pengisian dan tekanan pada
jantung bagian kanan.
• Adapun prosedur pemeriksaan seperti berikut:
1. Persiapan alat untuk pengukuran JVP (2 buah mistar,
spidol/bolpoin, penlight/senter)
2. Cuci tangan
3. Pemeriksa hendaknya berdiri disamping kanan bed pasien
4. Jelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan, serta minta
persetujuan pasien untuk melakukan pemeriksaan
5. Posisikan pasien berbaring pada bed dan atur posisi bed
semi fowler (30-45 0 dari bidang horizontal)
6. Anjurkan pasien untuk menengok ke kiri
7. Identifkasi vena jugularis
8. Tentukan undulasi pada vena jugularis (titik teratas
pada pulsasi vena jugularis), bending vena dengan
cara mengurut vena kebawah lalu lepas
9. Tentukan titik angulus sternalis
10. Dengan mistar pertama, proyeksikan titik tinggi
pulsasi vena secara horizontal ke dada sampai titik
manubrium sternum
11. Kemudian mistar kedua diletakkan vertical dari
angulus sternalis
12. Lihat hasil pengukuran dengan melihat hasil angka
pada mistar kedua (titk pertemuan antara mistar
pertama dan kedua). Hasil pembacaan kemudian
ditambahkan dengan angka 5cm, karena
diasumsikan jarak antar angular sternalis dengan
atrium kanan sekitar 5 cm
METODE INVASIF

Pengukuran CVP dengan cara


invasif dilakukan dengan
memasukkan kateter ke dalam
vena subklavia atau vena
jugularis internal dan kemudian
di monitor dengan
menggunakan manometer
atau transduser.
MONITOR MANOMETER

• Penggunaan system manometer memungkinkan


pembacaan intermiten dan kurang akuurat
dibandingkan dengan system transduser. Hal ini
disebabkan karena adanya efek meniscus air pada
tabung kaca. Adapun langka-langka pemasangan
manometer adalah sebagai berikut:
1. Persiapan alat (manometer, cairan, water pass, extension
tube, threeway, bengkok, plester)
2. Jelaskan tujuan dan prosedur pengukuran CVP pada
pasien
3. Posisikan pasien dalam kondisi yang nyaman. Pasien bisa
diposisikan semifowler (450)
4. Menentukan letak zero point pada pasien. Zero point
merupakan suatu titik yang nantinya dijadikan acuan
dalam pengukuran CVP. Zero point ditentukan dari ICS ke 4
pada linea midclavicula karena ICS ke 4 tersebut
merupakan sejajar dengan letak atrium kanan. Dari
midclavicula ditarik ke lateral (samping) sampai mid axilla.
Di titik mid axilla itulah kita berikan tanda.
5. Dari tanda tersebut kita sejajarkan dengan titik nol pada
manometer yang ditempelkan pada tiang infus. Caranya
adalah dengan mensejajarkan titik tersebut dengan angka
0 dengan menggunakan waterpass. Setelah angka 0 pada
manometer sejajar dengan titik ics ke 4 midaxilla, maka kita
plester manometer pada tiang infus.
6. Setelah berhasil menentukan zero point, kita aktifkan sistem
1. Caranya adalah dengan mengalirkan cairan dari
sumber cairan (infus) kearah pasien. Jalur threeway dari
sumber cairan dan ke arah pasien kita buka, sementara
jalur yang kearah manometer kita tutup.
7. Setelah aliran cairan dari sumber cairan ke pasien lancar,
lanjutkan dengan mengaktifkan sistem 2. Caranya adalah
dengan mengalirkan cairan dari sumber cairan ke arah
manometer. Jalur threeway dari sumber cairan dan ke arah
manometer dibuka, sementara yang kearah pasien kita tutup.
Cairan yang masuk ke manometer dipastikan harus sudah
melewati angka maksimal pada manometer tersebut.
8. Setelah itu, aktifkan sistem 3. Caranya adalah dengan cara
mengalirkan cairan dari manometer ke tubuh pasien. Jalur
threeway dari manometer dan kearah pasien dibuka,
sementara jalur yang dari sumber cairan ditutup.
9. Amati penurunan cairan pada manometer sampai posisi
cairan stabil pada angka/titik tertentu. Lihat dan catat
undulasinya. Undulasi merupakan naik turunnya cairan pada
manometer mengikuti dengan proses inspirasi dan ekspirasi
pasien. Saat inspirasi, permukaan cairan pada manometer
akan naik, sementara saat pasien ekspirasi kondisi permukaan
cairan akan turun. Posisi cairan yang turun itu (undulasi saat
klien ekspirasi) itu yang dicatat dan disebut sebagai nilai CVP.
MONITOR TRANSDUSER

• Pemantauan menggunakan transduser memungkinkan


pembacaan secara kontinu yang ditampilkan dimonitor.
Adapun langkah-langkah pemasangan transduser
adalah sebagai berikut:
1. Persiapan alat (heparin, infus set, monitor, trnsduser,
threeway, kantong tekanan)
2. Tempatkan pasien pada posisi supinasi, pastikan posisi ini
tidak diubah, untuk mendapatkan hasil yang akurat
3. Sambungkan infus yang berisi larutan saline ke IV line,
kemudian hubungkan ke transduser
4. Hubungkan transduser ke kateter vena sentral menggunakan
threeway. Pastikan tidak ada udara di dalam selang
5. Posisikan transduser sejajar dengan kateter vena sentral
6. Kemudian hubungkan transduser ke monitor
REFERENSI

• Adler, Adam C., dkk. Hemodynamic Assesment and Monitoring in the ICU:
an Overview. Philadelphia: Journal of Anesthesiology and Critical Medicine;
2014, vol. 1 (4): 1-13
• Cole E. 2008. Measuring Central Venous Pressure. CETI
• Dougherty, L. 2010. Akses Vena Sentral. Jakarta: Erlangga
• Izakovic M. 2008. Central venous pressure- evaluation, interpretation,
monitoring, clinical implications. Bratisl Lek Listy. 109(4):185-187
• Marino, Paul L. Marino’s The ICU Book: Haemodynamic Monitoring. Edisi ke-4.
Philadelpia: Wolters Kluwer Health/ Lippincott Williams & Wilkins; 2014: 70-74
• Pinsky M. 2010. Hemodynamic Monitoring. Comprehensive Critical Care: Adult.
121-133
• Pittman J. Ping J. Bark J. 2004. Arterial and Central Venous Pressure Monitoring.
Int Anesteshiol Clin. 42 (1):13-30
• Weinstock D. 2010. Rujukan Cepat di Ruang ICU/ICCU. Jakarta: EGC
• Willims&Wilkins. 2005. fundamental of Nursing: The Art and Science of Nursing
Care Fifth Edition.