Anda di halaman 1dari 42

Oleh:

PORTOFOLIO Dewi Prasetyaningtyas, dr.


Pembimbing:
Dwi Yuliati, dr., SpP

KASUS PARU Pendamping Internsip:


Dasit Riyadi, dr.
Guntur Sugiharto, dr., MM.Kes
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN
Nama : IF
Umur : 43 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Status perkawinan : Sudah menikah
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Pendidikan : SMP
Alamat : Tempeh
Tanggal MRS : 20 Februari 2018
Tanggal pemeriksaan : 21 Februari 2018
KELUHAN UTAMA
Sesak napas
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
•Sesak napas sejak 1 bulan yang lalu
•Sesak memberat sejak 4 hari sebelum MRS
•Sesak dirasakan sepanjang hari, tidak memberat dengan aktivitas, dan tidak berkurang
dengan istirahat
•Batuk sejak 2 bulan yang lalu, terus menerus, dan tidak berkurang dengan konsumsi obat
batuk biasa
•Batuk berdahak warna putih kekuningan, tidak ada darah
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
•Demam hingga menggigil
•Keringat dingin pada malam hari
•Berat badan pasien turun drastis sejak 1 bulan yang lalu
•Nafsu makan menurun dan merasa mual-mual
•Pasien didiagnosis TB paru di Puskesmas Tempeh dan telah mendapatkan OAT
sejak 7 hari sebelum MRS
•Pasien mengaku tidak meminum obat yang diberikan dengan alasan tidak bisa
menelan obat kaplet/ kapsul/ tablet
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
•Suami pasien mengidap TB paru dan telah mengonsumsi OAT selama 4 bulan, namun suami
pasien telah meninggal dunia 3 bulan yang lalu.

RIWAYAT LINGKUNGAN DAN


PSIKOSOSIAL
•Pasien adalah seorang ibu rumah tangga yang tinggal serumah dengan suami dan seorang
anak laki-lakinya. Lingkungan rumah pasien kurang mendapat cahaya matahari dan ventilasi
buruk.
PEMERIKSAAN FISIK
1. TANDA VITAL
Keadaan : lemah
Kesadaran : compos mentis, GCS 4-5-6
BB : 39 kg
Tensi : 100/60 mmHg
Nadi : 95 x/menit, teratur,kuat
Pernafasan : 28 x/menit
Suhu : 37,3oC, aksiler
PEMERIKSAAN FISIK
2. KEPALA LEHER
Anemis +/+
Ikterus -/-
Sianosis -/-
Dyspnea +/+
Tidak ditemukan deviasi trakea
Tidak ditemukan distensi vena jugularis
PEMERIKSAAN FISIK
2. JANTUNG
Inspeksi Iktus: tak tampak
Pulsasi jantung : tak tampak
Palpasi Iktus: teraba, di ICS V di mid clavicular line
sinistra
Thrill: tidak ada
Perkusi Batas kanan: di ICS IV, di linea parasternal
dextra
Batas kiri:ICS V, di garis midclavicular
sinistra
Auskultasi S1, S2: tunggal, murmur -,gallop -,
ekstrasistole -
PEMERIKSAAN FISIK
3. PARU
PEMERIKSAAN FISIK
4. ABDOMEN
Inspeksi Flat
Umbilicus: masuk merata
Kulit: kering
Auskultasi Bising usus: positif, normal
Perkusi Timpani
Palpasi Tugor normal, tonus normal
Hepar dan lien tidak teraba
Nyeri tekan -
Ginjal tidak teraba
PEMERIKSAAN FISIK
5. EKSTREMITAS
Atas Akral hangat kering merah
Edema -
Bawah Akral hangat kering merah
Edema -
PEMERIKSAAN PENUNJANG
LABORATORIUM
FAAL HEPAR ELEKTROLIT

SGOT 66 mU/ml Natrium 135 mmol/L

SGPT 56 mU/ml Kalium 3,9 mmol/L


Klorida 93 mmol/L

HEMATOLOGI FAAL GINJAL

WBC 8850/cmm BUN 19,29 mg/dl

RBC 3,91 juta/cmm SK 0,95 mg/dl

HGB 9,7 g/dl Uric acid 3,6 mg/dl

HCT 29% KADAR GULA DARAH

PLT 302000 GDA 52 mg/dl

Diff. Count 0/0/0/96/3/1 PEMERIKSAAN LAIN


HIV rapid test non reaktif
PEMERIKSAAN PENUNJANG
FOTO THORAKS
DIAGNOSIS
•TB paru
•Pneumonia
•Sepsis
•Hipoglikemia
PENATALAKSANAAN
•O2 masker 6 – 8 lpm
•Inf. Aminofluid:PZ:D5 1:1:1
•Inj. Ceftriaxone 2x1 g iv
•Drip Levofloxacin 1x500 mg iv
•Inj. Metoclopramide 2x1 iv
•Inj. Antrain 3x1 g iv bila demam
•GDA: 52 ⇒ D40 1 fl iv bolus pelan ⇒ cek GDA ulang 30 menit kemudian
•PO: FDC fase intensif kategori I 1x3 tab
Salbutamol 0,15 mg+Codikaf 5 mg+Vit B6 1 tab (3x1)
Curcuma 2x1
TINJAUAN PUSTAKA
EPIDEMIOLOGI
•Jumlah kasus TB 1 juta kasus TB baru pertahun (399 per
100.000 penduduk).
•Jumlah kematian 100.000 kematian pertahun (41 per
100.000 penduduk).
•Jumlah kasus TB dengan HIV positif 63.000 kasus (25 per
100.000 penduduk).
•Jumlah kasus TB-RO sekitar 6700 kasus - 1,9% kasus TB-RO
dari kasus baru TB dan ada 12% kasus TB-RO dari TB dengan
pengobatan ulang.
PATOGENESIS
•Berbentuk batang, panjang 1-10 mikron, lebar
0,2 – 0,6 mikron.
•Bersifat tahan asam dalam perwarnaan Ziehl
Neelsen.
•Memerlukan media khusus untuk biakan, antara
lain Lowenstein Jensen, Ogawa.
•Tahan terhadap suhu rendah sehingga dapat
bertahan hidup dalam jangka waktu lama pada
suhu antara 4°C sampai minus 70°C.
•Kuman sangat peka terhadap panas, sinar
matahari dan sinar ultra violet.
•Kuman dapat bersifat dorman.
SUMBER PENULARAN TB
Dahak pasien TB Droplet nuclei
yang mengandung Batuk/ bersin infeksius terhirup
kuman orang lain

Batuk: 3000
Bersin: 4000-1
droplet nuclei →
juta kuman M.
0-3500 kuman
TB
M. TB
PERJALANAN PENYAKIT TB
Paparan Infeksi Faktor Meninggal
risiko dunia
•Jumlah kasus •Sembuh total •Jumlah kuman
•Keterlambatan
•Lama kontak terhirup
•Kuman dorman diagnosis
•Intensitas batuk •Usia
•Tidak berobat
•Kedekatan •Daya tahan
•Pengobatan
kontak tubuh
tidak adekuat
•Peluang kontak •Penyakit
dgn kasus komorbid
menular
ANAMNESIS
Berdahak

Batuk
Berdarah
>2 minggu

Sesak napas Dahak


campur darah

Demam
Gejala utama
Keringat
malam

Nafsu makan
↓ → BB turun

Malaise,
lemas
PEMERIKSAAN BAKTERIOLOGI

Pemeriksaan Pemeriksaan Pemeriksaan


dahak TCM TB biakan
• Sewaktu (S) • Untuk • Media padat
• Pagi (P) diagnosis, tidak (Lowenstein
untuk evaluasi Jensen)
terapi • Media cair
(Mycobacteria
Growth
Indicator Tube)
PEMERIKSAAN PENUNJANG LAIN

•Pemeriksaan foto thoraks


•Pemeriksaan histopatologi untuk TB ekstraparu
•Pemeriksaan uji kepekaan obat
•Pemeriksaan serologi
ALUR DIAGNOSIS TB
PARU
DIAGNOSIS TB EKSTRAPARU

TB Ekstraparu

Gejala bergantung pada


organ yang terkena
- Diagnosis ditegakkan
(Meningitis TB→kaku dengan pemeriksaan Pemeriksaan TCM:
kuduk, pleuritis klinis, bakteriologis, dan - Uji CSF pada meningitis
TB→nyeri dada, atau histopatologis. TB
spondilitis - Pemeriksaan dahak
TB→deformitas tulang - Uji KGB melalui FNAB
untuk mengetahui KGB yang membesar
(gibbus), limfadenitis kemungkinan TB paru.
TB→pembesaran
KGB)
DIAGNOSIS TB RESISTEN OBAT
Gagal pengobatan TB kasus relaps dgn
kategori 2 pengobatan
kategori 1 atau 2
Tidak konversi
setelah 3 bulan
pengobatan Pasien yang kembali
kategori 2
setelah loss to follow
up
Terduga pasien TB R/ pengobatan TB Terduga pasien TB
tidak standar min.1
RO bulan RO
Kontak erat dengan
TB gagal pasien TB RO
pengobatan
kategori 1

Tidak konversi Pasien TB HIV yang


setelah 2 bulan tidak respon dengan
pengobatan pengobatan
kategori 1
DEFINISI KASUS TB
TB terkonfirmasi TB secara klinis
bakteriologis

- Pasien TB paru BTA positif - Pasien TB paru BTA negatif dengan


foto toraks mendukung TB
- Pasien TB paru hasil biakan M.tb
positif - Pasien TB paru BTA negatif dengan
tidak ada perbaikan klinis setelah
- Pasien TB paru hasil tes cepat M.tb diberikan antibiotika non OAT, dan
positif mempunyai faktor risiko TB
- Pasien TB ekstraparu terkonfirmasi - Pasien TB ekstraparu yang
secara bakteriologis, baik dengan BTA, terdiagnosis secara klinis maupun
biakan maupun tes cepat dari contoh uji laboratoris dan histopatologis tanpa
jaringan yang terkena. konfirmasi bakteriologis
- TB anak yang terdiagnosis dengan - TB anak yang terdiagnosis dengan
pemeriksaan bakteriologis sistim skoring
KLASIFIKASI TB
BERDASARKAN LOKASI ANATOMI
TB Paru TB Ekstraparu

- Berlokasi di parenkim paru


- Pasien TB milier, karena - TB yang terjadi pada
ada lesi di parenkim paru organ selain paru, misalnya:
pleura, kelenjar limfe,
- Pasien TB paru yang juga abdomen, saluran kencing,
menderita TB ekstraparu kulit, sendi, selaput otak dan
diklasifikasikan sebagai TB tulang
paru
KLASIFIKASI TB
BERDASARKAN RIWAYAT PENGOBATAN
1) Pasien baru TB 2) Pasien yang pernah diobati TB 3) Pasien yang riwayat pengobatan
sebelumnya tidak diketahui

- Belum pernah mendapatkan


pengobatan TB - Sebelumnya pernah menelan OAT
- Sudah pernah menelan OAT namun selama 1 bulan atau lebih (≥ dari - Tidak termasuk dalam kategori 1)
kurang dari 1 bulan (˂ dari 28 28 dosis) dan 2)
dosis)

- Pasien kambuh
- Pasien yang diobati kembali setelah
gagal
- Pasien yang diobati kembali setelah
putus berobat (lost to follow-up)
- Lain-lain: adalah pasien TB yang
pernah diobati namun hasil akhir
pengobatan sebelumnya tidak diketahui
KLASIFIKASI TB
BERDASARKAN UJI KEPEKAAN OBAT
Mono resisten (TB Poli resisten (TB Multi Drug Extensive Drug Resisten Rifampisin
MR) PR) Resistant (TB MDR) Resistant (TB XDR) (TB RR)

TB MDR yang juga


Resisten terhadap resisten terhadap
Resisten terhadap Isoniazid (H) dan salah satu OAT
lebih dari satu Rifampisin (R) golongan Resisten terhadap
Resisten terhadap jenis OAT lini secara fluorokuinolon dan Rifampisin dengan
salah satu jenis pertama selain bersamaan, minimal salah satu atau tanpa
OAT lini pertama Isoniazid (H) dan dengan atau dari OAT lini resisten terhadap
saja Rifampisin (R) tanpa diikuti kedua jenis OAT lain
secara bersamaan resitan OAT lini suntikan
pertama lainnya (Kanamisin,
Kapreomisin dan
Amikasin)
KLASIFIKASI TB
BERDASARKAN STATUS HIV
TB dengan status HIV
TB dengan HIV positif TB dengan HIV negatif tidak diketahui

- Hasil tes HIV positif


sebelumnya atau - Hasil tes HIV negatif
sedang mendapatkan sebelumnya - Pasien TB tanpa ada
ARV bukti pendukung hasil
- Hasil tes HIV negatif tes HIV saat diagnosis
- Hasil tes HIV positif pada saat diagnosis TB ditetapkan
pada saat diagnosis TB
TB
TAHAP PENGOBATAN TB
Tahap intensif Tahap lanjutan

- Diberikan setiap hari


- Tujuan: menurunkan jumlah kuman
yang ada dalam tubuh pasien dan - Tujuan: membunuh sisa sisa kuman
meminimalisasi pengaruh dari yang masih ada dalam tubuh,
sebagian kecil kuman yang mungkin khususnya kuman persister sehingga
sudah resistan sejak sebelum pasien pasien dapat sembuh dan mencegah
mendapatkan pengobatan terjadinya kekambuhan.
- Lama pengobatan tahap intensif: 2
bulan
JENIS OAT
PADUAN OAT DI INDONESIA
•Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3 atau 2(HRZE)/4(HR).
•Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3 atau 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)E.
•Kategori Anak : 2(HRZ)/4(HR) atau 2HRZE(S)/4-10HR.
•Paduan OAT untuk pasien TB Resistan Obat: terdiri dari OAT lini ke-2 yaitu
Kanamisin, Kapreomisin, Levofloksasin, Etionamide, Sikloserin, Moksifloksasin, PAS,
Bedaquilin, Clofazimin, Linezolid, Delamanid dan obat TB baru lainnya serta OAT
lini-1, yaitu pirazinamid and etambutol.
PADUAN OAT DI INDONESIA
LINI PERTAMA KATEGORI 1
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
 Pasien TB paru terkonfirmasi bakteriologis
 Pasien TB paru terdiagnosis klinis
 Pasien TB ekstra paru
Dosis harian (2(HRZE)/4(HR))

Dosis harian fase awal dan dosis intermiten


fase lanjutan (2(HRZE)/4(HR)3)
PADUAN OAT DI INDONESIA
LINI PERTAMA KATEGORI 2
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang pernah diobati
sebelumnya (pengobatan ulang) yaitu:
•Pasien kambuh
•Pasien gagal pada pengobatan dengan paduan OAT kategori 1 sebelumnya
•Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to follow-up)
Dosis harian fase awal dan dosis intermiten
Dosis harian {2(HRZE)S/(HRZE)/5(HRE)} fase lanjutan {2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3)}
PEMANTAUAN PENGOBATAN TB
TERIMA KASIH