Anda di halaman 1dari 76

PENYAKIT AKIBAT KEKURANGAN

VITAMIN DAN MINERAL


PENDAHULUAN
FAKTOR PERSEDIAAN/CADANGAN
LINGKUNGAN JARINGAN

KETIDAK KEMEROSOSTAN PERUBAHAN PERUBA PERUBAHAN


CUKUPAN JARINGAN BIOKIMIA HAN ANATOMI
FUNGSI

MALNUTRISI MALNUTRI TAMPAK MUNCULNYA


FAKTOR
DITANDAI SI YANG TANDA- TANDA
MANUSIA
DENGAN DIPERIKSA TANDA TANDA
PERUBAHAN MELALUI KHAS KLASIK
BERAT BADAN LAB
DAN
PERTUMBUHAN
TERHAMBAT
Gambar 1. skema patomekanisme penyakit kekurangan gizi
ANEMIA
DEFINISI : suatu keadaan adanya penurunan
kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah
eritrosit di bawah nilai normal

Berdasarkan patogenesisnya dibagi menjadi :


1. Anemia oleh karena kehilangan darah
2. Anemia oleh karena kerusakan sel-sel darah
merah
3. Anemia oleh karena gangguan produksi sel darah
merah
ANEMIA
1. ANEMIA PASCA PERDARAHAN
2. ANEMIA HEMOLITIK :
a. faktor intra sel : talasemia, hemoglobinopat
b. Faktor ekstra sel : intoksikasi, infeksi, imunologis
3. ANEMIA DEFISIENSI (Fe, asam folat, B12, protein,
piridoksin, eritropoetn, dsb)
4. ANEMIA APLASTIK
PREVALENSI DI INDONESIA
SKRT 1995 SKRT 2001
BALITA 0-5 TH 40,5 % 47 %
WUS 39,5 % 40 %
WANITA HAMIL 50,9 % 40,1 %
ANAK USIA 57,1 % 26,5 %
SEKOLAH DAN
REMAJA

SUMBER : DEPKES RI 2005


Tabel 1. Nilai Cut of point kategori anemia berdasarkan
kelompok umur menurut WHO/UNICEF

KELOMPOK UMUR NILAI (g/dL)


Usia 6 bln – 5 thn 11,0
Usia 5 – 11 thn 11,5
Usia 12 – 13 thn 12,0
Wanita dewasa 12,0
Wanita hamil 11,0
Laki-laki 13,0
ANEMIA OLEH KARENA DEFISIENSI BESI
Anemi defisiensi Fe

Asupan yang rendah Penyakit infeksi/non Kebutuhan


infeksi meningkat

Ketersediaan pangan
Pengasuhan Kehilangan
kaya besi rendah Sanitasi, air
ibu dan anak darah,
bersih, yankes
kurang menstruasi
dasar tdak
Biaya tnggi/tdak memenuhi
dapat akses
Kurang pendidikan, Wanita
pengetahuan & kontrasepsi,
keterampilan multparity
Tradisional, budaya,
kebiasaaan
Status besi
Kurang pemberdayaan wanita & keluarga, kurang ibu, berat
pemanfaatan sumber daya masyarakat lahir, ASI
eksklusif
Krisis ekonomi, politk dan sosial
Gambar 2. Model penyebab terjadinya anemis gizi besi (Prihananto, 2004)
Tahapan defisiensi besi
1. Tahap awal : kekurangan zat besi (iron
depleton)
 ferritn plasma < 120 ug/L, SI dan Hb normal
2. Defisiensi zat besi tanpa anemia (normocytc
iron depleton erytrophoesis)
 SI dan saturasi transferrin menurun, FEP
meningkat, Hb 95%
3. Anemia defisiensi besi
 Hb dan Ht menurun
Prevalensi anemia gizi besi di Indonesia
tahun 2001
Tabel 3. Angka Kecukupan Gizi Besi yang dianjurkan untuk
Indonesia, menurut Widya Karya Pangan dan Gizi tahun 1998

Kelompok Umur Angka kecukupan Besi


(mg/hari)
Bayi 3–5
Balita 8-9
Anak sekolah 10
Remaja laki-laki 14 - 17
Remaja perempuan 14 – 25
Dewasa laki-laki 13
Dewasa perempuan 14 – 26
Ibu hamil + 20 dari dewasa
perempuan
Ibu menyusui + 2 dari dewasa perempuan
ANEMIA GIZI
Cukup Konsumsi Fe (hewani & nabati)
Suplementasi TTD
Hamil > 20 th
Penyuluhan

Wanita Usia Subur / Wanita Pra Hamil


bebas anemia dan status besi cukup

TTD & aneka KIE


ragam makanan
Ibu Sehat
bebas anemia bumil / bufas
TTD & aneka
KIE
ragam makanan
Bayi Sehat
lahir dari ibu sehat
Anemia defisiensi zat besi ibu hamil
• WHO : prevalensi
defisiensi besi pada ibu
hamil ± 35 – 75% dan
semakin meningkat
seiring pertambahan
usia kehamilan
• 40% kematan ibu hamil
karena anemia o.k
defisiensi besi dan
perdarahan akut
70.0%

60.0% 63.5%

50.0% 50.9%

40.0%
40.1%

30.0%

20.0%

10.0%

0.0%
1992 1995 2001

Gambar 3. Grafik prevalensi anemia pada bumil di Indonesia berdasarkan SKRT 1992-2001
Etologi anemia defisiensi besi pada ibu hamil

a. Hipervolemia menyebabkan pengenceran


darah
b. Pertambahan darah tdak sebanding dengan
pertambahan plasma
c. Kurangnya zat besi dalam makanan (faktor
enhancer dan inhibitor)
d. Kebutuhan zat besi meningkat
e. Gangguan pencernaan dan absorbsi
Nilai ambang batas Hb ibun hamil yang
ditetapkan oleh WHO 1972
PROGRAM PENANGGULANGAN
Upaya yang telah dilakukan DEPKES a.l:
1. Pemberian tablet besi pada ibu hamil secara rutn
(minimal 90 tablet selama kehamilan)
2. Penerbitan buku pedoman pemberian zat besi bagi
petugas dan poster-poster mengenai tablet besi
dibagikan
3. Buku pedoman operasional penanggulangan anemia
gizi bagi petugas
4. Perbaikan kemasan tablet Fe dengan membuat tablet
salut 30 biji /bungkus
Cakupan distribusi tablet tambah darah pada
ibu hamil 2001

Fe 1 : 67,49%
Fe 3 : 63,08 %
Pengobatan
• Penderita anemia defisiensi besi harus
mengonsumsi 60-120 mg Fe/hari
• Wanita hamil dengan anemia tngkat ringan
diberikan Fe dosis 60-120mg/hr, dosis
berikutnya dikurangi menjadi 30 mg/hr ketka
Hb atau Ht menjadi normal untuk usia
kehamilannya
Fortfikasi Fe
• Definisi : upaya meningkatkan mutu gizi
makanan dengan menambahkan pada makanan
tersebut satu atau lebih zat gizi mikro tertentu
• SK Menkes no.632/MENKES/SK/VI/1998 :
menetapkan peraturan Fortkasi tepung terigu
• Di USA, fortfikasi tepung terigu dengan Fe
berkontribusi cukup tnggi terhadap asupan
19% dan 14% Fe
KEKURANGAN VITAMIN A
(KVA)
PENDAHULUAN
Vitamin A
• Sumber vitamin A : sayur-sayuran, buah-
buahan, daging, hat, telur dsb.
• Bentuk aktf vit. A : retnol, retnal, asam
retnoat.
• Dalam bahan makanan umumnya berupa
provitamin A : karoten
• Preformed vit. A (bentuk aktf Vit. A)
terdapat pada bahan makanan hewani
Fungsi Vitamin A
Mencakup 3 golongan besar :
1. fungsi dalam proses melihat
2. fungsi dalam metabolisme umum
3. fungsi dalam proses reproduksi
a. Fungsi dalam proses melihat
• Vit. A berperan sebagai retnal yang
merupakan komponen dari zat
penglihat rhodopsin.
Fungsi Vitamin A
Fungsi dalam metabolisme umum
• Fungsi ini erat kaitannya dengan
metabolisme protein yaitu :
- menjaga integritas epitel
- pertumbuhan
- permeabilitas membran
- pertumbuhan gigi
- produksi hormon steroid
Fungsi Vitamin A
c. Fungsi dalam proses reproduksi
• Pada hewan coba : defisiensi vit. A dapat
memberikan dampak kemandulan baik pada jantan
maupun betna
• Terjadi hambatan perkembangan sel-sel reproduksi
yakni sel ootd tdak dapat berkembang menjadi
ovum dan sel spermatd tdak dapat berkembang
lebih jauh menjadi spermatozoa
• Fungsi vitamin A pada proses ini tdak dapat dipenuhi
oleh asam retnoat
• Metabolisme vit. A
di dalam saluran cerna, ester vitamin A
dihidrolisa dengan bantuan enzim hydrolase
dan retnol yang terbebas diserap dengan
proses penyerapan aktf. Provitamin A diserap
sambil diubah menjadi retnol dalam sel epitel
usus dengan bantuan enzim 5,5’-dioksi
hydrolase.
untuk penyerapan karoten diperlukan
empedu.
• Kebutuhan Vit. A
dinyatakan dalam Satuan Internasional
Usia (SI/hari)
- 6-12 bln 1200
- 1-3 th 1500
- 4-6 th 1800
- 7-9 th 2400
Pria Wanita
10-12 th 3450 3400
13-dst 4000 3500
Wanita hamil 4000
Wanita menyusui 6500
TAHAPAN DEFISIENSI VITAMIN A
Deplesi vit. A berlangsung lama, dimulai dengan :
1. habisnya persediaan vit A di hat,
2. menurunnya kadar vit A di plasmA
3. terjadi disfungsi retna
4. akhirnya perubahan jaringan epitel.
Bila sudah terjadi kelainan mata:
• kadar vit A serum sudah sangat rendah (<5 ug/100
ml)
• kadar RBP < 20 ug/100 ml
KEP : kadar vit A di hepar < 15 ug/gram jaringan hepar
PENENTUAN STATUS VITAMIN A
1. Secara Biokimia :
Kurang vitamin A indikator yang digunakan :
 plasma vit A ≤ 10 ug/dl
 liver vitamin A ≤ 5 ug/dl
2. Secara Biofisik
Dengan tes adaptasi gelap
3. Secara Klinis dengan memeriksa dan
menemukan gejala dan tanda klinis
Kekurangan Vitamin A
• Disebut Xeropthalmia
• Gejalanya terbagi 2:
1. keadaan yang reversibel (dapat sembuh)
- buta senja (hemerolopia)
- xerosis conjunctva
- xerosis kornea
- bercak bitot
Kekurangan Vitamin A
b. Keadaan yang irreversibel (agak sulit sembuh)
- ulserasi kornea
- keratomalasia
Klasifikasi KVA
1. XN : buta senja
2. X1A: konjungtva mengering
3. X1B : bercak bitot dan konjungtva mengering
4. X2 : kornea mengering
5. X3A : ulserasi kornea + kornea mengering
6. X3B : keratomalasia
7. XS : parut kornea
8. XF : xerophtalmia fundus
Klasifikasi
• X1A – X2 : reversibel
• X3A – seterusnya : irreversibel
Indikator Kesehatan Masyarakat
Kriteria kurang vitamin A sebagai masalah
kesehatan masyarakat menurut IVACG :
a. Bercak bitot dg konjungtva mengering
> 0.50%
b. Kornea mengering/ulserasi
kornea/keratomalasia > 0.01%
c. Parut kornea >0.05% dari total yang
diperiksa
Indikator Kesehatan Masyarakat
KVA sebagai masalah masyarakat berdasarkan
IVAACG tahun 2006 jika :
 prevalensi xeropthalmia >0,5%
 Prevalensi serum retnol <20 ug/dL sebesar
>15%
Prevalensi di Indonesia
• Tahun 2006 dari 10 propinsi yang disurvei
menunjukkan prevalensi xeropthalmia 0,13%,
serum retnol ,20ug/dL pada balita 14,6%
(sudah lebih baik jika dibandingkan tahun 1992 : 50%
balita dengan serum retnol <20ug/dL)

Tahun 2006:
26.000 balita xeropthalmia
2.920.000 balita dengan serum retnol < 20ug/dL
EKONOMI
PENGETAHUAN
PENDIDIKAN

PERILAKU SIKAP

SOSIAL BUDAYA

TINDAKAN
LINGKUNGAN
Faktor-faktor Risiko Defisiensi Vit A
1. Perilaku : pengetahuan, sikap, tndakan (yang
dipengaruhi oleh pendidikan, ekonomi, sosial
budaya, lingkungan)
2. Gangguan absorbsi vitamin A: penyakit
infeksi saluran cerna
3. Alkoholisme
Suplementasi Vitamin A
Program Pemerintah memberikan kapsul
vitamin A pada bayi-balita 6-59 bulan dan ibu
Nifas pada bulan Pebruari dan September
• Bayi 6-11 bulan dosis 100.000 IU
• Balita dan ibu nifas dosis 200.000 IU
GANGGUAN AKIBAT
KEKURANGAN IODIUM (GAKI)

Oleh:
TRIAWANTI
BAGIAN BIOKIMIA/GIZI
FK UNLAM
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY)

Dapat mengakibatkan :
• Pembesaran kelenjar gondok
• Pada ibu hamil : abortus, lahir mat, kelainan
bawaan pada bayi, kretnisme
kretnisme
• Kretn : keadaan seseorang yang lahir di daerah
endemik dan memiliki 2 atau lebih kelainan berikut
1. Perkembangan mental terhambat
2. Pendengaran terganggu dan dapat menjadi tuli
3. Perkembangan saraf motorik terhambat (jalan dg
langkah khas, mata juling, gangguan bicara, refleks
fisiologis meningkat)
Kretnisme
• Istlah gondok endemik digunakan jika di suatu
daerah ditemukan banyak penduduk yang mengalami
pembesaran kelenjar gondok.
• Kretn endemik terdapat di daerah gondok endemik
• Kelainan kretn terjadi pada waktu bayi dalam
kandungan atau tdak lama setelah dilahirkan, terdiri
atas kerusakan pada saraf pusat dan hipotroidisme.
Kretnisme
• Kerusakan saraf pusat bermanifestasi dengan :
a. Retardasi mental
b. Gangguan pendengaran sampai bisu tuli
c. Gangguan neuromotor, sepert gangguan bicara,
cara jalan dll
d. Hipotroidi dengan gejala :
-mixedema pada hipotroidisme berat
- tnggi badan kurang, cebol (stunted growth) dan
osifikasi terlambat
- pemeriksaan darah : kadar hormon troid rendah
Tanda-tanda klinis GAKY
• Lakukan pemeriksaan secara inspeksi dan palpasi
pada kelenjar gondok untuk menentukan derajat
pembesarannya
• Dalam pemeriksaan perlu diperhatkan kondisi sbb :
1. Cahaya cukup menerangi bagian leher yang
diperiksa
2. Pada saat inspeksi posisi mata pemeriksa sejajar dg
leher orang yg diperiksa
3. Palpasi jangan terlalu keras
Urutan pemeriksaan kelenjar gondok :
1. Orang yang diperiksa berdiri tegak atau duduk
menghadap pemeriksa
2. Pemeriksa melakukan pengamatan pada leher
bagian depan
3. Amatlah apakah ada pembesaran kelenjar gondok
(termasuk tk II dan III)
4. Atau sampel disuruh menengadah dan menelan
ludah. Tujuannya unutk mengetahui apakah yang
ditemukan adalah kelenjar gondok atau bukan.
Pada gerakan menelan, klj gondok akan ikut
bergerak
Urutan pemeriksaan kelenjar gondok :

5. Pemeriksa berdiri di belakang sampel dan


lakukan palpasi dengan cara meletakkan dua
jari telunjuk dan dua jari tengahnya pd
masing2 lobus kelenjar gondok. Kemudian
lakukan palpasi dengan meraba menggunakan
kedua jari telunjuk dan jari tengah tersebut
Urutan pemeriksaan kelenjar gondok :

6. Menentukan apakah orang tersebut


menderita gondok atau tdak. Apabila salah
satu atau kedua lobus lebih kecil dari ruas
terakhir ibu jari orang yang diperiksa, berart
normal. Apabila salah satu atau kedua lobus
ternyata lebih besar dari ruas terakhir ibu jari
orang yang diperiksa maka orang tersebut
menderita gondok
Klasifikasi
1. Grade 0 : normal
Inspeksi : tdak terlihat
palpasi : tdak teraba
2. Grade IA :
Inspeksi : kelenjar gondok pada saat datar
maupun tengadah maksimal tdak terlihat
palpasi : terasa lebih besar dari ruas terakhir
ibu jari penderita
Klasifikasi
3. Grade IB
Inspeksi : kelenjar gondok pada saat datar
tdak terlihat, namun terlihat dengan
tengadah maksimal
palpasi : terasa lebih besar dari grade IA
Klasifikasi
4. Grade II
Inspeksi : terlihat pada posisi datar
Palpasi : teraba lebih besar dari grade IB
5.Grade III
Inspeksi : dapat terlihat dari jarak 6 meter
Klasifikasi
• Penentuan prevalensi gondok endemik
dengan rumus TGR (Total Goiter Rate) dan
VGR (Visible Goiter Rate)
Grade (IA+IB+II+III)
TGR = x 100%
banyaknya yg diperiksa
Grade (IB+II+III)
VGR = x 100%
banyaknya yg diperiksa
Pemeriksaan secara biokimia
analisis biokimia : kadar TSH dalam darah dan
ekskresi yodium dalam urine
Tingkat keparahan gondok endemik karena defisiensi
yodium diklasifikasikan menurut ekskresi yodium
dalam urine :
Pemeriksaansecara biokimia
• Tahap 1 : gondok endemik dengan rata-rata
ekskresi iodium dalam urine > 50ug/g
kreatnin. Pada keadaan ini suplai hormon
troid cukup untuk perkembangan fisik dan
mental yang normal
Pemeriksaan secara biokimia
• Tahap 2 : gondok endemik dengan ekskresi
yodium 25-50 ug/g kreatnin. Pada kondisi ini
hormon troid mungkin tdak cukup, dapat
terjadi risiko hipotroidisme, tetapi belum
sampai kretnisme
• Tahap 3 : ekskresi yodium < 25 ug/g kreatnin.
Populasi memiliki risiko menderita kretnisme
Tabel 1. Kriteria keparahan dan signifikansi masalah kesehatan GAKY

keparahan Gambaran klinis TGR(%) Rata-rata Prioritas


kadar koreksi
Goiter Hipotroid kretn urine
(ug/L)

Derajat 0 0 0 0 <5,0 ≤100 -


(normal)
Derajat I + 0 0 5,0-19,9 50-99 Pentng
(ringan)
Derajat II ++ + 0 20,0-29,9 20-49 Segera
(sedang)
Derajat III ++ +++ ++ ≥30,0 <20 krits
(parah)
Tabel 2. kriteria pemeriksaan keparahan GAKY

Prevalensi indikator
GAKY Total goiter rate (%) Rata-rata kadar urine
(ug/L)
Normal < 5,0 ≤100

Ringan 5,0-19,9 50-99

Sedang 20,0-29,9 20-49

Berat ≥30,0 <20


Pencegahan
Anjuran asupan iodium (dosis ug/hari)
• 0-12 bulan 50
• 1-6 tahun 90
• 7-12 120
• 12-dewasa 150
• Ibu hamil 200
• Menyusui 200
Pencegahan
• Makanan laut kaya akan yodium sekitar 100ug/100
gram
• Untuk memenuhi kebutuhan yodium sebesar
150ug/hari dengan garam beryodium, anggaplah
konsumsi garam tap orang 10 g, maka kadar yodium
dalam garam harus memenuhi kisaran 20-40 mg
yodium, atau 34-66 mg kalium yodida/kg
• Jika garam beryodium tdak tersedia, berikan kapsul
minyak beryodium setap 3,6 atau 12 bulan; atau
suntkan ke dalam otot setap 2 tahun
Pencegahan
• Beberapa bahan makanan yang mengandung
zat goitrogenik (zat yang dapat menimbulkan
pembesaran kelenjar gondok) a.l:
Ubi kayu, ubi jalar, maizena, rebung, buncis
dan padi
Zat goitrogenik ini diturunkan dari cyanogenic
glycosides yang berpotensi melepaskan
sejumlah sianida melalui proses hidrolisis
Tabel 3. Kandungan yodium dalam makanan
Jenis makanan Keadaan segar Keadaan kering
(ug/gram) (ug/gram)
Ikan air tawar 17-40 68-194
Ikan air laut 163-3180 471-4591
Kerang 308-1300 1292-4987
Daging hewan 27-97 -
Susu 35-56 -
Telur 93 -
Serealia biji 22-72 34-92
Buah 10-29 62-277
Tumbuhan polong 23-36 223-245
Sayuran 12-201 204-1636
Pencegahan
• Kandungan yodium dalam bahan pangan dan
diet yodium total dipengaruhi oleh keadaan
geokimiawi, tanah, dan budaya, proses
memasak
• Proses penggorengan akan mengurangi kadar
yodium sebanyak 20%, penggilingan 23% dan
perebusan 58%
Pengobatan
1. Garam beryodium
Faktor yang mempengaruhi kadar
yodium dalam garam: suhu panas,
paparan sinar matahari, proses
pemasakan, proses penyimpanan
Penyimpanan selama 6 bulan akan
terjadi penyusutan 3-21%.
Lama penyimpanan : dalam
kemasan plastk pada suhu 25-27°C,
kelembaban nisbi 70-80% tahan 6
bulan
Pengobatan
2. Suplementasi yodium pada hewan yang
dikonsumsi
Pemberian suplemen pada sapi akan
meningkatkan kadar iodium dalam air susu
dan daging sehingga mampu menjadi media
pembawa yodium bagi manusia
Pengobatan
3. Suntkan minyak beriodium
Ditujukan untuk daerah endemis berat. Sejak
tahun 1992 digant dengan kapsul beriodium
dosis suntkan 1 cc mengandung 480 mg
iodium
4. Kapsul minyak beriodium
Intervensi berdasarkan derajat keparahan
atau keendemisan GAKY
Derajat ringan:
• Prevalensi pada anak sekolah 5-20%, kadar
yodium urine 3,5-5,0 ug/dL
• Dikoreksi dengan pemberian garam
beryodium sebanyak 10-25 mg/kg
Intervensi berdasarkan derajat keparahan
atau keendemisan GAKY
Derajat sedang:
• Prevalensi pada anak sekolah 30%, kadar
yodium urine 2,0-3,5 ug/dL
• Dikoreksi dengn garam beryodium sebanyak
25-40 mg/kg, dengan catatan garam tersebut
dapat diproduksi dan disebar secara efektf
Intervensi berdasarkan derajat keparahan
atau keendemisan GAKY
Derajat berat:
• Prevalensi pada anak sekolah >30%, kadar
yodium urine < 2,0 ug/dL, kretn endemis 1-
10%
• Dikoreksi dengn minyak beryodium secara oral
maupun suntkan. Dosis oral diberikan setap
3, 6 dan 12 bulan. Suntkan tap 2 tahun
Sekian
terimakasih

WASSALAM