Anda di halaman 1dari 53

JUNINGTYASTUTI

MATERI

VIII. GERAK HARMONISA SEDERHANA


IX. MOMENTUM, IMPULS dan GERAK RELATIF :
A. MOMENTUM LINIER
B. IMPULSE
C. HUKUM KEKALAN MOMENTUM
X. PERPINDAHAN PANAS
XI. MEKANIKA FLUIDA
VIII. GERAK HARMONISA
SEDERHANA

A. GAYA GERAK HARMONI SEDERHANA


A.1. Gaya Gerak pada Pegas

F  ky (notasi skalar) k = konstanta pegas (N/m)


  y = simpangan (m)
F  ky (notasi vektor)

A.2. Gaya Gerak pada Ayunan Bandul

m = massa benda (kg)


F  mg sin  g = percepatan gravitasi (m/s2)
B. PERIODE dan FREKUENSI
B.1. Periode (T = detik)
 adalah waktu yg diperlukan untuk melakukan satu kali gerak
bolak-balik.
B.2. Frekuensi (f = Hz)
 adalah banyaknya getaran yang dilakukan dalam waktu
satu
(1) detik.
1 1
f  atau T 
T f
B.3. Pegas
Untuk pegas yg memiliki konstanta gaya k yg bergetar karena
adanya beban bermassa m, periode getarnya adalah

m
T  2
k
B.4. Ayunan Bandul
Sedangkan pada ayunan bandul sederhana, jika panjang tali =
L
maka periodenya adalah
l
T  2
g

C. SIMPANGAN, KECEPATAN, PERCEPATAN


C.1.Simpangan Gerak Harmonik Sederhana
y = simpangan (m)

y  A sin ωt  A sin 2πft A = amplitudo (m)


ω = kecepatan sudut (rad/s)
f = frekuensi (Hz)
t = waktu tempuh (s)
Jika pada saat awal benda pada posisi θ0, maka

y  A sin (ωt   0 )  A sin (2πft   0 )

Besar sudut (ωt+θ0) disebut sudut fase (θ),


t
  ωt   0  2π   0
T
Sudut φ disebut fase getaran dan Δφ disebut beda fase.

t 0 
  2π     2π
 T 2π 
t 0
 
T 2π
t t
   2  1  2 1
T
C.2. Kecepatan Gerak Harmonik Sederhana
Untuk benda yg pada saat awal θ0 = 0, maka kecepatannya adalah

dy d
v  ( A sin ωt )  A cos ωt
dt dt
Nilai kecepatan v akan maksimum pada saat cos ωt = 1, sehingga
kecepatan maksimumnya adalah

v m  A

Kecepatan benda di sembarang posisi y adalah

vy   A  y
2 2
C.3. Percepatan Gerak Harmonik Sederhana
Untuk benda yg pada saat awal θ0 = 0, maka percepatannya
adalah

dv d
a   ( A cos ωt )   2 A sin ωt   2 y
dt dt

Nilai percepatan a akan maksimum pada saat sin ωt = 1, sehingga


percepatan maksimumnya adalah

am   A 2

Arah percepatan a selalu sama dengan arah gaya pemulihnya.


C.3. Energi pada Gerak Harmonik Sederhana
Energi kinetik benda yg melakukan gerak harmonik sederhana, misalnya
pegas, adalah
Ek  12 mv 2  12 m 2 A2 cos 2 ωt
Karena k = mω2, diperoleh

Ek  12 kA2 cos 2 ωt

Energi potensial elastis yang tersimpan di dalam pegas untuk setiap


perpanjangan y adalah

E p  12 ky 2  12 kA2 sin 2 ωt  12 m 2 A2 sin 2 ωt

Jika gesekan diabaikan, energi total atau energi mekanik pada getaran
pegas adalah
EM  E p  Ek  12 kA2 ( sin 2 ωt  cos 2 ωt )
EM  E p  Ek  12 ky 2  12 mv 2  12 kA2
D. GERAK OSILASI HORISONTAL
Osilasi terjadi, apabila suatu sisten mengalami terganggu dan berubah
dari posisi keseimbangannya.
Sifat geraknya adalah periodik (berulang-ulang)
Salah satu gerak osilasi sederhana adalah gerak pegas berikut :

Gerak harmonik akan terjadi


F
m jika ada gaya pemulih

x (restoring force) sebanding


m dengan simpangannya

d 2x
F = - kx
 F  ma   kx  m
dt 2
d 2x k
a 2
  x
dt m
Percepatan berbanding lurus dan arahnya berlawanan dengan
simpangan. Hal ini merupakan karakteristik umum gerak harmonik
sederhana :
d2x k d2x k
2
 x  2
 x0
dt m dt m
Dari persamaan berikut :

d 2x k
2
 x  0 dengan x  A sin(t   ) ,
dt m
dx
maka :  v  A cos(t   )
dt
d 2x
2
 a   2
A sin( t   )   2
x
dt
Sehingga akan diperoleh :

k k
 x  x  0   
2 2

m m
k
 
m
Kecepatan maksimum =  A, terjadi pada saat a = 0
Percepatan maksimum = 2 A, terjadi pada saat v = 0
Dengan :
x = Simpangan
A = Simpangan maksimum/Amplitudo [m]
 = Frekuensi sudut [radian/s] = 2  f
 = Fasa awal [radian]
t+ = Fasa [radian]
f = Frekuensi [Hertz]
IX, MOMENTUM , IMPULS dan
TUMBUKAN

A, MOMENTUM  momentum linier dan momentum angular


P = p = momentum (kg.m/s)
m = massa (kg)
V = kecepatan (m/x)

Jika terjadi n momentum (p1 dan p2) seperti gambar dibawah :


Hk.Newton II  perubahan rata-rata suatu partikel = gaya resultante
yang bekerja padanya.

Jika terdapat n partikel, maka :


A.1. Hubungan momentum dan Energi Kinetik :
Energi kinetik (Ek) dinyatakan dalam persamaan berikut :
Ek = ½ mv2
Jika nilai Ek.m/m (massaa/massa), maka akan diperoleh :
Ek = ½ m.v2. (m/m) = ½ m2.v2 / m = ½ p2 / m
Ek = ½.p2 / m

B. IMPULS dan TUMBUKAN


B.1. IMPULS
Adalah hasil kali antara gaya dan lamanya gaya tersebut bekerja. Secara
matematis dinyatakan dalam :
F (N)

to t1 t = det

Impuls gaya = perubahan momentum

B.2. TUMBUKAN
B,3, Tumbukan dan Hukum Kekalan Momentum
Pada sebuah tumbukan selalu melibatkan dua atau lebih benda.
Misal bola A bergerak mendatar kekanan dengan momentum mA.vA,

kemudian bola B bergerak kekiri dengan momentum m B.vB


Pada peristiwa tumbukan, jumlah momentum benda A dan B sebelum dan setelah
tumbukan tetap, selama tidak ada gaya luar yang bekerja pada kedua benda
Tersebut, secara matematik dinyatakan dalam :

B.4. Hukum kekalan Mometum dengan Hukum Newton III

Pada tumbukan dua benda selama benda masih


saling kontak, maka akan t terjadi gaya pada
masing-2 benda yang sama dan berlawanan
Secara matematik dinyatakan dalam :

Gaya tersebut terjadi secara singkat selama t, sehingga :

Ruas kiri = ruas kanan  merupakan besaran Impuls dan diperoleh :

Jumlah momentum benda sebelum dan setelah tumbukan adalah sama, maka :
pA + pB = p’A + p’B Hukum Kekalan Momentum
B.5. HK.KEKELAN MOMENTUM dan ENERGI

Sebelum tumbukan, besar energi kinetik

m1, u1 m2,u2

Setelah tumbukan, besar energi kinetik

m1, v1 m2,v2

Tumbukan dikatakan elastis, jika K = K’

Tumbukan dikatakan tidak elastis, jika K  K”

e = koefisien ristitusi
X. PERPINDAHAN PANAS

A. PENGERTIAN DASAR

ENERGI - I PROSES ENERGI - II

ENERGI YANG HILANG PERPINDAHAN


(BERUPA PANAS) PANAS

MACAM PERPINDAHAN PANAS :


 Perpindahan Panas Konduksi
 Perpindahan Panas Konveksi
 Perpindahan Panas Radiasi
 Penguapan (Evaporation)
A.1. Perpindahan Panas Konduksi
• Adalah proses transport panas dari daerah bersuhu tinggi ke daerah
bersuhu rendah dalam satu medium (padat, cair atau gas), atau
antara medium – medium yang berlainan yang bersinggungan secara
langsung. Dinyatakan dengan :

dT
q   kA
dx

dengan ::
q = Laju perpindahan panas (w)
A = Luas penampang dimana panas mengalir (m2)
dT/dx = Gradien suhu pada penampang, atau laju perubahan suhu T
terhadap jarak dalam arah aliran panas x
k = Konduktivitas thermal bahan (w/moC)
A.2. Perpindahan Panas Konveksi
Adalah transport energi dengan kerja gabungan dari konduksi panas,
penyimpanan, energi dan gerakan mencampur. Proses terjadi pada
permukaan padat (lebih panas atau dingin) terhadap cairan atau gas
(lebih dingin atau panas)
Secara matematik dinyatakan dalam :
.
q = h A (∆T)
Dimana :

q = Laju perpindahan panas konveksi

h = Koefisien perpindahan panas konveksi (w/m2 0C)

A = Luas penampang (m2)

∆T = Perubahan atau perbedaan suhu (0C; 0F)


A.3. Perpindahan Panas Radiasi

Adalah proses transport panas dari benda bersuhu tinggi ke


benda yang bersuhu lebih rendah, bila benda – benda itu
terpisah didalam ruang (bahkan dalam ruang hampa sekalipun)
Secara matematik dinyatakan dalam :

q = δ A (T14 – T24)

Dimana :
δ = Konstanta Stefan-Boltzman = 5,669 x10- 8
w/m2 k4
A = Luas penampang
T = Temperatur
A.4. Perpindahan Panas Karena Penguapan
Penguapan ( Evaporation), perpindahan panas karena perbedaan lapisan
udara(steck effect) yaitu lapisan udara panas akan terdorong naik oleh
lapisan udaradingin. Gambar berikut menunjukkan efek suhu terhadap
perpindahan panas (Stack Effect)

Radiasi
Penguapan

Radiasi

Konveksi

Konduksi
Contoh Perpindahan Panas

Konduksi

Konveksi

Radiasi
B. KONDISI KEADAAN TUNAK

B.1. Satu Dimensi


Bilamana konduktivitas thermal bahan tetap, tebal dinding adalah
∆x, sedang T1 dan T2 adalah suhu permukaan dinding seperti
terlihat pada gambar berikut : T2  T1
q  K A A 
x A

Profil Suhu T3  T2 T T
q
q  K B A   KC A 4 3
T1 x B xC
T2 q
T1  T4
q
x A x B xC
x  
K A.A K B .A KC .A
∆x
Gambar.1 : x A xB xC
Konduksi pada bahan Tahanan Thermal
; ;
K A. A K B . A K C . A
B.2. Dua/lebih Dimensi
Berdasarkan Gambar.1, dapat dibuat analogi listriknya, untuk mempermudah
memecahkan soal-soal yang rumit baik yang seri maupun paralel.( Gambar,2)
q
B
F
q q
A C
E RA RB RC
G
D

x A x B x C
K A.A K B .A K C .A
1 2 3 4 5
(a) (b)
Gambar.2 : Analogi Listrik dari Gambar.1
(a) Aliran kalor (b) Analogi listriknya

Persamaan aliran kalor satu dimensi dapat


Tmenyeluruh
juga dituliskan sebagai berikut apabila q
 R th
kasusnya seperti pada gambar berikut ini:
B.3. Sistem Silinder - Radial

Suatu silinder panjang dengan jari-jari dalam ri, jari-jari luar ro dan panjang L
Dimana silinder ini mengalami beda suhu Ti – To. Untuk silinder yang
panjangnya sangat besar dibandingkan dengan diameternya, dapat
diandaikan bahwa aliran kalor berlangsung menurut arah radial.

dT
q   KA
dr
ro
q ri dT
q  2rlK
L
dr

2KL  Ti  To 
q 
Ln ro / ri 
Dengan kondisi batas : T = Ti pada r = ri ;
T = To pada r = ro
Analogi Listrik untuk silinder - radial

Perpindahan panas dari dalam pipa s/d luar pipa :


B.4. Koefisien Perpindahan Kalor pada Bola
B.5. Koefisien Perpindahan Kalor pada Bola berisolasi
Sehingga laju kalor secara menyeluruh dinyatakan dalam :

q  U 0 . A.Tmenyeluruh
Dimana :
Uo = koefisien perpindahan kalor menyeluruh
A = luas bidang aliran kalor
ΔTm = beda suhu menyeluruh

B.6. Sistem dengan sumber kalor


Dinding datar dengan sumber kalor
q = kalor yang
X=0 dibangkitkan

persatuan
Tw Tw volume
x

L L
Laju aliran panas yang dibangkitkan disini sama dengan rugi kalor pada
permukaan, dan untuk mendapatkan besar suhu pusat:

qL2
To   Tw
2K
Dengan cara yang sama, untuk silinder dengan sumber kalor:

qR 2
To   Tw
4K
Laju aliran panas yang dibangkitkan disini sama dengan rugi kalor pada
permukaan, dan untuk mendapatkan besar suhu pusat:

2
qL
To   Tw
2K
Demikian halnya untuk silinder dengan sumber kalor:

qR 2
To   Tw
4K

B.7. Sistem dengan Dimensi Rangkap

Perhatikan sebuah benda dua dimensi yang dibagi atas sejumlah jenjang yang
kecil yang sama pada arah x dan y seperti terlihat pada gambar:

m,n+1

m-1,n m,n m+1,n

∆y
∆x

m,n-1
Jika ∆x =∆y maka gradien suhu :

T( m 1),n  T( m 1),n  Tm,( n 1)  Tm,( n 1)  4Tm,n  0

Laju Aliran Panas :

T
q    k .x.
y
XI. MEKANIKA FLUIDA
1. Padat 4. Plasma
ZAT 2. Cair 5. Padat Plastik
3. Gas

1. Fluida = zat-zat yang mampu mengalir dan


mampu menyesuaikan diri dengan bentuk
wadah tempatnya
2. Sifat tidak menolak terhadap perubahan
bentuk dan kemampuan untuk mengalir
3. Tergantung dari kecepatan, kerapatan,
FLUIDA gaya geser, kekentalan dan ukuran wadah

1. Zat cair = Fluida yang non kompresibel


2. Gas = Fluida yang kompresibel

1. Fluida Statik  fluida diam, dalam keadaan setimbang


2. Fluida Dinamik  fluida bergerak, tidak setimbang
PLASMA  merupakan perubahan dari Zat sebelumnya

PADAT PLASTIK  merupakan penguraian suatu zat menjadi zat baru.

Limbah plastik Steel White Food


I. FLUIDA STATIKA
A. JENIS ALIRAN FLUIDA
B. SIFAT-SIFAT FLUIDA  Statika Fluida
B.1. Rapat massa dan berat jenis

dan
B.2. Kemampatan Fluida (K) :.

B.3. Kekentalan Fluida


B.4. Bilangan Reynold
B.5. Tekanan Fluida

P=F/A atau P = dF / dA

dengan :
P = tekanan fluida = N/m2 atau Pascal (Pa)
dA = luasan permukaan fluida (m2)
dF = gaya yang dialalmi oleh elemen dA (N)

B.6. Hubungan Tekanan dan Kedalaman ( = Tekanan total)

P = Po + .g.h

dengan :
po = tekanan di permukaan
1 atm = 76 cmHg = 1,015. 105 N/m2
B.7. Tekanan Hidrostatika  tekanan yang disebabkan oleh fluida tak
bergerak

Dengan :
Ph = tekanan hidrostatis (N.m2)
g = percepatan gravitasi (m/det2)
h = kedalamam titik permukaan fluida (m)

B.8. Hukum Utama Hidrostatis


Tekanan fluida pada batas titik terendah adalah sama, secara matematik

dinyatakan dalam :
C. Hukum Archimedes.  Tekanan pada suatu titik akan diteruskan
kesemua titik lain secara sama

FA = .V.g
dengan :
FA = gaya ke atas (N)
V = volume fluida yang dipindahkan (m3)

Hk.Archimedes :
Setiap benda yang berada dalam suatu Fluida, maka akan
benda tersebut akan mengalami gaya ke atas, yang disebut
dengan gaya apung sebesar berat air yang dipindahkan
C.1. Gaya Apung

Jika masa jenis benda < masa jenis fluida  benda akan mengapung

atau

dengan : hc = tinggi benda yang tercelup (m)

hb = tyinggi benda (m)

b = masa jenis benda (kg/m3)

f = masa jenis fluida (kg/m3)

C.2. Gaya Melayang


C.3. Gaya Tenggelam

D. TEGANGAN PERMUKAAN ( = N/m)

D.1. Jika jarum (kawat) terapung dipermukaan zat cair


D.2. Tegangan permukaan gelembung sabun pada kawat bentuk U

E. HUKUM STOKES
dengan :

II. DINAMIKA FLUIDA


A. Persamaan Kontinuitas (Hk.Kekalan Massa)

Jumlah neto massa yang mengalir ke dalam sebuah permukaan terbatas

sama dengan pertambahan massa dalam permukaan tersebut


Q = A.v
Q 1 = Q2

m/t = (2.A2.v2).t / t = 2.A2.v2

B. Persamaan Bernoulli
Hukum Bernoulli terdiri dari : Tekanan pada fluida, energi kinetik + energi
potansial dan rugi-rugi energi karena gesekan (friction loss).
Swcara matematis Persamaan Bernoulli dinyatakan sebagai :
CUKUP SAMPAI DISINI KULIAH FISIKA DASAR.I

SELAMAT MENNEMPUH UJIAN AKHIR

SEMESTER GASAL 2012/2013