Anda di halaman 1dari 20

TINDAK LANJUT HASIL

PENDIDIKAN KESEHATAN
By: YUSNI WIDAYATI HAREFA, SST
Pemantauan Status Gizi
Dalam membahas observasi/pemantauan
status gizi perlu dipahami beberapa
pengertian yang berkaitan dengan hal
tersebut al:
• Status Gizi,
• Keadaan Gizi,
• Malnutrisi dan
• Kurang Energi Protein (KEP).
Memantau status gizi penduduk secara rutin
merupakan bentuk komitmen untuk menjaga
akuntabilitas pelaksanaan program melalui
penyediaan data dan informasi berbasis bukti
dan spesifik wilayah untuk daerah dan pusat.
Untuk itu, sejak tahun 2014 telah
dilaksanakan Pemantauan Status Gizi (PSG)
yang bermanfaat sebagai sumber informasi
yang cepat, akurat, teratur dan berkelanjutan
yang dapat digunakan untuk perencanaan,
penentuan kebijakan dan monitoring serta
pengambilan tindakan intervensi.
PSG 2015 menunjukkan hasil yang lebih baik dari tahun
sebelumnya. Persentase balita dengan gizi buruk dan sangat
pendek mengalami penurunan. PSG 2015

3,8% Balita
mengalami gizi buruk.
Angka ini turun dari
tahun sebelumnya
yakni 4,7%
Berikut adalah Hasil PSG 2015, antara lain:
Status Gizi Balita
Status Gizi Balita menurut Indeks Berat
Menurut Indeks Tinggi Badan per Usia
Badan per Usia (TB/U), (BB/U), didapatkan
didapatkan hasil:71% hasil: 79,7% gizi
normal dan 29,9% baik; 14,9% gizi
Balita pendek dan kurang; 3,8% gizi
sangat pendek. buruk, dan 1,5% gizi
lebih.
Status Gizi Balita
Menurut Indext Berat
Badan per Tinggi
Badan (BB/TB),
didapatkan hasil,:
82,7% Normal, 8,2%
kurus, 5,3% gemuk,
dan 3,7% sangat
kurus.
OBSERVASI/PEMANTAUAN
STATUS GIZI

Status gizi adalah Keadaan gizi adalah Malnutrisi adalah


suatu tampilan suatu keadaan keadaan
akibat dari patologis yang
keadaan
keseimangan
keseimbangan diakibatkan
antara konsumsi
atau dan penyerapan karena
perwujudan zat gizi dan kelebihan dan
nutrien dengan penggunaanya kekurangan zat
veriabel gizi
spesifik
Kekurangan energi protein
(KEP)
Merupakan defisiensi gizi
yang paling berat dan meluas
terutama pada balita karena
kekurangan energi dan
protein
Pemeriksaan yang dilakukan untuk
mengetahui gejala
1. Menimbang BB
2. Mengukur TB
3. Dihubungkan dengan umur
4. Pada anak menggunakan KMS
5. Pada dewasa dengan menghitung
IMT (indeks massa Tubuh)
Tabel Klasifikasi nilai IMT

Berat IMT

Sangat kurus <17

Kurus 17,0-18,4

Normal 18,5-24,9

Kelebihan BB/over weight 25,0-26,9

Gemuk 27,0-28,9

Sangat gemuk >29


Pemantauan status gizi ada 2 cara
yaitu:
1. Pengukuran 1. Pengukuran
langsung tidak langsung
 Antropometri  Survei konsumsi
 Klinis  Statistik vital
 Biokimia  Faktor ekologi
 biofisik
Kolaborasi dan rujukan

Upaya kemitraan
atau kerjasama
Pengertian antara lintas
program dan sektor
untuk
meningkatkan
perbaikan gizi
masyarakat
Kolaborasi dilakukan dengan instansi
terkait yaitu:
1. Departemen kesehatan (Depkes)
2. Departement pertanian (Deptan)
3. Departemen agama (Depag)
4. Departemen dalam negeri (Depdagri)
5. Badan Koordinasi Keluarga B berencana
Nasional
6. Departemen pendidikan nasional
Peran Serta Dalam Kolaborasi Dan
Rujukan

Peran
pemerintah

Kolaborasi
Peran gizi
masyarakat dirumah
sakit
Jalur koordinasi kolaborasi Tim Asuhan
Gizi di Rumah Sakit
Direktur

Komite
medik

Panitia
asuhan gizi

Tim Tim Tim


dukungan gizi dukungan gizi dukungan gizi
PERAN ANGGOTA TIM ASUHAN GIZI,
ANTARA LAIN:
DOKTER
 Keadaan klinis pasien
 Menentukan diet pasien
 Menjelaskan kepada keluarga
 Merujuk pasien
NUTRIONIS/DIETESIEN
• Mengkaji status gizi berdasarkan data
• Anamnesis
• Menerjemahkan diet kedalam bentuk
makanan
• Memberikan saran pada dokter
• Memantau masalah berkaitan dengan gizi
bersama perawat
• Konseling
• Visite tim
• Pemantauan interaksi obat
PERAWAT/BIDAN
• Membantu pasien waktu makan
• Pengukuran antropometri
• Memantau masalah berkaitan dengan gizi
• Melaporkanasupan makanan dan respon klien
klien terhadap diet
FARMASI
• Melaksanakan permintaan obat cairan
bersama resep dokter
• Mendiskusikan interaksi obat
• penggunaan obat dan cairan oleh pasien
• Mengganti jenis obat sesuai petunjuk dokter
• Bersama nutrionis melakukan pemantauan
interaksi obat.
TERIMAKASIH