Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN KASUS

SKIZIFRENIA TAK
TERINCI

DESI FRINAENSRI DOKI


N 111 16 088

PEMBIMBING :
Dr. Nyoman Sumiati, Sp.KJ
IDENTITAS PASIEN
IDENTITAS PASIEN
 Nama : Tn. J
 Umur : 19 tahun
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Alamat : Kulawi
 Pekerjaan : Pekerja Lepas
 Agama : Kristen
 Status Perkawinan: Belum menikah
 Suku : Toraja
 Pendidikan : SMK
 Tanggal Pemeriksaan : 23 Januari 2017
 Tempat Pemeriksaan : Ruang Srikaya RSD Madani Palu
RIWAYAT GANGGUAN
SEKARANG
Keluhan Utama
 Ingin memukul orang lain
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Seorang laki-laki berusia 19 tahun dibawa ke


RSD Madani pada tanggal 18 Januari 2017 oleh
keluarganya karena mengamuk dan ingin memukul
orang lain.
Pasien mengatakan ingin memukul orang lain
karena dia merasa tersinggung karena diejek
orang tersebut. Pasien mengakui tidak dapat
mengontrol emosinya sendiri dan mudah
tersinggung. Pasien juga merasakan kesulitan
tidur sebelum masuk rumah sakit.
Pasien mengatakan bahwa pasien sudah ke empat kalinya
masuk rumah sakit. Pasien pertama kali masuk di RSJ di
Jayapura tahun 2015 karena mengamuk dan memukul orang
lain. Pasien juga mengatakan bahwa sebelum masuk RSJ saat
itu, dia sering mendengar bisikan-bisikan yang menyuruhnya
untuk memukul orang lain dan sering melihat bayangan-
bayangan nenek buyut yang mengejar dan biasa membuat
pasien sesak napas karena tertindih oleh nenek buyut
tersebut. Kedua, pasien dirawat di RSD Madani Juli 2015
karena mengamuk dan memukul saudara iparnya sendiri.
Ketiga, pasien masuk RSD pada bulan November 2016 karena
memukul orang akibat marganya diledek. Kemudian, saat ini
masuk RSD Madani pada Januari 2017 karena mengancam
ingin memukul orang akibat diledek juga. Pasien mengatakan
rajin kontrol di poli Jiwa namun tidak teratur minum obat.
Pasien mengatakan bahwa pernah mengonsumsi sabu-sabu
yang diberikan oleh teman-temannya setelah dia di rawat di
RSJ Jayapura. Pasien juga pernah mengonsumsi alkohol dan
merokok.
Hendaya/Disfungsi
 Hendaya Sosial (+)
 Hendaya Pekerjaan (+)
 Hendaya Penggunaan Waktu Senggang (+)

Faktor Stressor Psikososial


 Orang-orang di sekitar pasien yang sering meledek
pasien.
RIWAYAT GANGGUAN SEBELUMNYA
Riwayat penyakit medis
 Pasien memiliki riwayat malaria(+), hipertensi
(-), DM (-), trauma capitis (-), stroke disangkal.

Riwayat psikiatri : Tidak ada

Riwayat Penggunaan Zat


 NAPZA (+)
 Merokok (+)
 Obat-obatan lainnya (-)
RIWAYAT HIDUP
 Riwayat Prenatal dan Perinatal
Pasien lahir normal, cukup bulan, di rumah, dan di bantu
oleh dukun. Ibu pasien tidak pernah sakit berat selama
kehamilan.Pasien anak kedua dari empat bersaudara (L,L,P,L)
 Riwayat Masa Kanak Awal (1-3 tahun)
Tidak terdapat persoalan-persoalan makan diusia ini.
Pertumbuhan dan perkembangan sesuai umur, tidak ada
riwayat kejang, trauma atau infeksi pada masa ini. Pasien
mendapatkan kasih sayang dari orang tua dan saudara-
saudaranya.
 Riwayat Masa Pertengahan (4-11 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan baik. Pasien tumbuh
sebagai anak yang pendiam, lebih sering menyendiri.
Pertumbuhan dan perkembangan sama dengan anak seusianya
 Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja. ( 12-18 tahun)
Pada masa ini pasien melanjutkan sekolah hingga jenjang
SMK. Di sekolah pasien mengakui sering bolos dan ingin
berhenti sekolah saja dan mengambil pekerjaan. Pasien
tidak banyak bergaul dengan teman sebanyanya. Pada
masa ini pasien mulai mendengar suara bisikan pertama
kalinya yang menyuruh dia memukul orang yang
meledeknya. Pasien menjadi sering marah dan emosional.
 Riwayat Masa Dewasa (>18 tahun)
Pada masa ini pasien tidak melanjutkan kuliah karena
bekerja sebagai pekerja lepas. Pasien mengaku memiliki
hubungan yang baik dengan rekan-rekan kerjanya. Pada
masa ini juga pasien mulai mengenal dan mencoba untuk
merokok, mengonsumsi alkohol dan juga sabu-sabu yang
diperkenalkan oleh teman kerjanya anak seusianya.
 Riwayat Kehidupan Keluarga
Pasien anak  kedua dari 4 bersaudara (L,L,P,L). Pasien
memiliki 1 saudara kandung dan 2 orang lainnya saudara tiri
pasien. Pasien mengatakan bahwa dia ditinggalkan oleh ayah
kandungnya saat masih kecil kemudian ibunya menikah lagi.
Pasien memiliki hubungan baik dengan ketiga saudaranya dan
kedua orang tua pasien. Pasein mengaku menyayangi semua
anggota keluarganya. Tidak ada riwayat menderita penyakit
yang sama dalam keluarga .

 Situasi Sekarang
Pasien sudah tenang dan merasa bahwa dirinya tidak sakit.

 Persepsi pasien tentang diri dan kehidupan.


Pasien tidak menyadari dirinya sakit secara penuh, dan tidak
memerlukan pengobatan dari dokter.
PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
Deskripsi Umum
 Penampilan:

Tampak seorang laki-laki memakai kaos berwarna


hitam, memakai celana jeans hitam. Wajah pasien
tampak sesuai umur. Pembawaan cukup tenang.
Perawatan diri cukup baik.
 Kesadaran : Berubah
 Perilaku dan aktivitas psikomotor : tampak tenang
 Pembicaraan : Spontan, intonasi kuat, artikulasi
jelas.
 Sikap terhadap pemeriksa : Kooperatif
 B. Keadaan Afektif
Mood : Hipertimia
Afek : Hipertimia
Keserasian : tidak serasi (inappropriate)
Empati : tidak dapat dirabarasakan

 Fungsi Intelektual
 Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan :

Pengetahuan dan kecerdasan sesuai taraf pendidikannya.


 Daya konsentrasi : baik
 Orientasi : Baik
 Daya ingat

Jangka Pendek : Baik


Jangka sedang : Baik
Jangka Panjang : Baik
 Pikiran abstrak : Baik
 Bakat kreatif : Tidak ditemukan
 Kemampuan menolong diri sendiri : Baik
Gangguan Persepsi
 Halusinasi : Ada
 Ilusi : Tidak ada
 Depersonalisasi : Tidak ada
 Derealisasi : Tidak ada

 
Proses Berpikir
a. Arus Pikiran
 Produktivitas : Cukup
 Kontinuitas: Kadang Irrelevan, asosiasi longgar
 Hendaya berbahasa : Tidak ada

Isi Pikiran
 Preokupasi : Tidak ada
 Gangguan Isi Pikir : Tidak ada
Pengendailan Impuls : Baik
 
Daya Nilai
 Normo sosial : Baik
 Uji daya Nilai : Baik
 Penilaian Realitas : Baik

 
Tilikan
Derajat 1 : Pasien tidak mengakui bahwa dirinya sakit

 
Taraf Dapat Dipercaya : Dapat dipercaya
PEMERIKSAAN FISIK, NEUROLOGIS, PENUNJANG

 
PEMERIKSAAN FISIK DAN NEUROLOGIS

Status internus: Status Neurologis :


 Keadaan umum : Sakit sedang  GCS : E4M6V5
4 6 5
 Pemeriksaan motorik dan sensorik :

 Kesadaran : Compos mentis N/N


 Gizi : Baik N/N
 Fungsi kortikal luhur : Dalam batas
 Tanda-tanda Vital :
normal
Tensi : 120/80 mmHg  Pupil : Bundar isokor
Nadi : 80x/menit  Reflex cahaya : (+)/(+)

Pernafasan : 24x/menit  Pemeriksaan Kaku Kuduk &

Suhu : 36,600C meningea’sl sign : (-)


 Refleks Fisiologis : Positif’
 Konjungtiva : Anemis (-/-)
 Refleks Patologis : Negatif
 Sklera : Ikterus (-/-)  Pemeriksaan N. Cranialis & Perifer :
 Pem.Jantung-paru : dalam batas Tidak dilakukan pemeriksaan
normal  Pemeriksaan Tekanan Intrakranial :
Tidak dilakukan pemeriksaan
  
IKTISAR PENEMUAN BERMAKNA
Pasien masuk RSJ karena mengamuk dan ingin memukul orang
ketika dia diejek. Pasien mengakui tidak dapat mengontrol
emosinya sendiri dan mudah tersinggung. Pasien juga merasakan
kesulitan tidur sebelum masuk rumah sakit.
Pasien biasa mendengar bisikan-bisikan yang menyuruhnya
untuk memukul orang yang mengejeknya. Pasien juga mengaku
pernah melihat bayangan-bayangan nenek buyut yang mengejar
dan biasa menindih badannya.
Pasien telah 4 kali masuk RSJ dengan masalah yang sama yaitu
memukul orang yang meledeknya. Pasien rutin melakukan control
di poli namun tidak teratur meminum obat.
Sebelumnya pasien bekerja sebagai buruh lepas dan pernah
mengonsumsi alkohol dan sabu-sabu yang diberikan teman-teman
kerjanya. Pasien mengatakan mengonsumsi sabu-sabu tahun 2016
setelah masuk RSJ 2 kali sebelumnya selama 3 minggu dan setelah
itu sudah tidak pernah lagi.
DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
 Aksis I :
Berdasarkan alloanamnesa dan autoanamnesa didapatkan adanya gejala klinis yang
bermakna berupa mengamuk, hendak memukul orang lain dan kesulitan tidur. Keadaaan ini
menimbulkan disstress bagi  pasien dan keluarganya, dan menimbulkan disabilitas dalam
sosial dan  pekerjaan (sekolah) dan dalam menilai realita, sehingga dapat disimpulkan bahwa
pasien mengalami Gangguan Jiwa.
Pada pasien ditemukan hendaya berat dalam menilai realita, juga terdapat hendaya
dalam sosial dan pekerjaan yang telah, sehingga pasien didiagnosa sebagai Gangguan Jiwa
Psikotik.
Pada riwayat penyakit sebelumnya dan pemeriksaan status interna dan neurologis tidak
ditemukan adanya kelainan yang mengindikasi gangguan medis umum yang menimbulkan
gangguan fungsi otak serta dapat mengakibatkan gangguan jiwa yang diderita pasien
ini,sehingga diagnosa Gangguan mental dapat disingkirkan dan didiagnosa Gangguan Jiwa
Psikotik Non Organik.
Dari autoanamnesa dan pemeriksaan pada status mental ditemukan adanya arus pikiran
yang terputus (break) yang berakibat pembicaraan kadang irrelevan, selain itu terdapat
gangguan perilaku seperti mengamuk dan hendak memukul orang lain, dimana gejala khas
tersebut telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih, maka dapat di
diagnosis sebagai Skizofrenia. Adapun untuk tipe skizofrenia, dapat diklasifikasikan dalam
Skizofrenia tak terinci (undifferentiated), hal ini disebabkan gejala pada pasien tidak
memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid (halusinasi dan waham tidak
menonjol), hebefrenik (harus dilakukan pengamatan yang bersifat kontinu selama 2-3 bulan
untuk memastikan bahwa gambaran yang khas pada hebefrenik memang benar bertahan
seperti yang disebutkan dalam PPDGJ III), atau katatonik (tidak ada stupor, rigiditas,
fleksibilitas cerea, negativism, posturing atau command automatism) sehingga pada pasien
ini didiagnosis kedalam Skizofrenia tak terinci (F20.3).
 Aksis II : Ciri kepribadian Skizoid
 Aksis III : Tidak ada diagnosis
 Aksis IV : Masalah berkaitan dengan
lingkungan sosial
 Aksis V : GAF scale 20-11 ( bahaya
mencederai diri/orang lain, dissabilitas
sangat berat dalam komunikasi dan
mengurus diri).
PROGNOSIS
Dubia ad malam
 Faktor pendukung :

 Adanya dukungan dari keluarga


 Genetik tidak ada
 Faktor pencetus jelas
 Faktor Penghambat
 Onset terkena pertama kali masih muda
 Tilikan 1
 Ketidakpatuhan meminum obat
 Gejala Berulang
 Belum menikah
 Melakukan tindakan penyerangan
RENCANA TERAPI
 Farmakoterapi :
Antipsikotik tipikal: Haloperidol 5 mg 2x 1
 Psikoterapi suportif 
 Ventilasi

Memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan


isi hati dan keinginannya sehingga pasien merasa lega
 Persuasi:  Membujuk pasien agar memastikan diri untuk selalu
kontrol dan minum obat dengan rutin.
 Sugesti: Membangkitkan kepercayaan diri pasien bahwa dia
dapat sembuh (penyakit terkontrol).
 Desensitisasi: Pasien dilatih bekerja dan terbiasa berada di
dalam lingkungan kerja untuk meningkatkan kepercayaan
diri.
 Sosioterapi

Memberikan penjelasan kepada keluarga dan orang-orang


sekitarnya sehingga tercipta dukungan sosial dengan
lingkungan yang kondusif untuk membantu proses
penyembuhan pasien serta melakukan kunjungan berkala.
PEMBAHASAN
Arti kata Skizofrenia dipopulerkan oleh Eugen
Bleuler. Ketika itu, pada tahun 1911, Bleuler
menganjurkan supaya lebih baik dipakai istilah
“skizofrenia”, karena nama ini dengan tepat sekali
menonjolkan gejala utama penyakit ini,yaitu jiwa yang
terpecah-belah, adanya keretakan atau disharmoni
antara proses berpikir, perasaan, dan perbuatan (schizos
= pecah-belah atau bercabang, phren = jiwa).
Skizofrenia merupakan suatu deskripsi sindrom dengan
variasi penyebab(banyak belum diketahui) dan
perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau
deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang
tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik,
dan sosial budaya.
Penyebab skizofrenia sampai sekarang belum diketahui
secara pasti. Namun berbagai teori telah berkembang seperti
model diastesis-stres dan hipotesis dopamin. Model diastesis
stres merupakan satu model yang mengintegrasikan faktor
biologis, psikososial dan lingkungan. Model ini mendalilkan
bahwa seseorang yang mungkin memiliki suatu kerentanan
spesifik (diastesis) yang jika dikenai oleh suatu pengaruh
lingkungan yang menimbulkan stres, memungkinkan
perkembangan gejala skizofrenia. Komponen lingkungan dapat
biologis (seperti infeksi) atau psikologis (seperti situasi
keluarga yang penuh ketegangan).
Hipotesis dopamin menyatakan bahwa skizofrenia
disebabkan oleh terlalu banyaknya aktivitas dopaminergik.
Teori tersebut muncul dari dua pengamatan. Pertama, kecuali
untuk klozapin, khasiat dan potensi antipsikotik berhubungan
dengan kemampuannya untuk bertindak sebagai antagonis
reseptor dopaminergik tipe 2. Kedua, obat-obatan yang
meningkatkan aktivitas dopaminergik (seperlalu banyaknya
reseptor dopamin atau kombinasi kedua mekanisme tersebut.
Menurut PPDGJ III yang merupakan pedoman diagnostik untuk Skizofrenia :
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua
gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
 
(a) - Thought echo : isi pikiran diri sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun
kualitasnya berbeda; atau
- Thought insertion or withdrawal : isi pikiran yang asing dari luar masuk
kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu
dari luar dirinya (withdrawal); dan
 Thought broadcasting : isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau
umum mengetahuinya.

(b) - Delusion of control : waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu


kekuatan tertentu dari luar; atau
- Delusion of influence : waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu
kekuatan tertentu dari luar; atau
- Delusion of passivity : waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah
terhadap sesuatu kekuatan dari luar.
- Delusional perception : pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang
bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat.
 
(c) Halusinasi auditorik:
- suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap
perilaku pasien, atau
- mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara
berbagai suara yang berbicara).
- jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagi tubuh
(d) Waham - waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya
setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya
perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dam
kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan
cuaca, atau komunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).
 
 
Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas:
(a) halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai baik
oleh waham yang mengambang maupun setengah berbentuk tanpa kandungan
afektif yang jelas, ataupun disertai ide-ide berlebihan (over- valued ideas)
yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau
berbulan-bulan terus berulang.
(b)Arus pikiran yang terputus (break) atau mengalami sisipan (interpolation),
yang berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau
neologisme;
(c) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi
tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan
stupor;
(d)Gejala-gejala "negatif", seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan
respon emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja
sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh
depresi atau medikasi neuroleptika;
Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun
waktu satu bulan atau lebih.
Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek kehidupan perilaku pribadi
(personal behaviour),bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak
bertujuan,tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendir (self absorbed
atitude), dan penarikan diri secara sosial.
SKIZOFRENIA TAK TERINCI
Memenuhi kriteria umum untuk diagnostic skizofrenia
Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia
paranoid,hebefrenik atau katatonik,
Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual
atau depresi pasca-skizofrenia.
 
 
 
 
 
TERIMA KASIH