Anda di halaman 1dari 38

PARALISIS ERB

DUCHENE
RIRIN ASTIKA SARI
D.IV TINGKAT III. A FISIOTERAPI
PENGERTIAN

Cedera Plexus Brachialis diartikan sebagai


suatu cedera pada Plexus Brachialis yang
diakibatkan oleh suatu trauma. Trauma ini sering kali
berupa penarikan berlebihan atau avulsi. Cedera
seperti ini menghasilkan suatu tanda yang sangat
khas yang disebut deformitas (Waiter’s tip) karena
hilangnya otot-otot rotator lateral bahu, fleksor
lengan, dan otot ekstensor lengan (Mahadewa,
2013).
Sebagian besar cedera plexus brachialis terjadi
selama proses persalinan. Plexus brachialis sering
mengalami masalah saat berada di bawah tekanan,
seperti dengan bayi yang besar, presentasi bokong
atau persalinan yang lama. Jika salah satu sisi leher
bayi tertarik, saraf yang terdapat didalamnya juga
akan tertarik dan dapat mengakibatkan cedera.
Bayi mungkin tidak dapat menggerakan bahu, tetapi
dapat memindahkan jari-jari. Jika kedua saraf atas
dan bawah yang meregang, kondisi ini biasanya
lebih parah dari sekedar ERB’S PALSY.
Paralisis Erb palsy adalah paralisis pada ekstremitas atas
yang disebabkan oleh kerusakan plexus brachialis C5 – C6 yang
mempersarafi lengan dan tangan. Kelainan ini paling sering
ditemukan pada bayi atau anak-anak karena distosia bahu
pada kelahiran. Ataupun dapat pula ditemukan pada dewasa
dengan riwayat trauma bahu.
Pada kelainan ini ditemukan lesi plexus atas
(radiks C5 , C6 / trunkus superior)pada pleksopati
supraklavikular. Sering timbul sendirian, tetapi dapat
juga berkaitan dengan plexus tengah atau
kombinasi dengan lesi plexus tengah dan bawah (lesi
pan-plexus supraklavikular). Umumnya terjadi akibat
trauma, terutama traksi tertutup yang menyebabkan
pelebaran secara paksa sudut sudut bahu-leher,
kecelakaan sepeda motor, jatuh yang mengenai
bahu, dan pukulan pada bahu (misalnya oleh beda
yang jatuh). Sedangkan penyebab lainnya adalah
iatrogenik (paralisis akibat tindakan).
ANATOMI & FISIOLOGI

Pleksus brakialis dibentuk dari anyaman rami


ventralis yang berasal dari akar saraf servikalis kelima
(C5) sampai dengan thorakalis pertama (T1). 75%
populasi memiliki pola pleksus brakialis dari akar saraf
C5 sampai T1, sedangkan sisanya bisa mendapat
kontribusi tambahan dari C4 ataupun T2. Pleksus
brakialis terdiri dari 5 akar saraf yang berasal dari
rami ventralis nervus spinalis, 3 trunkus, 2 divisi, 3
fasciculus dan cabang saraf perifer.
• Saraf C5 dan C6 membentuk trunkus superior
• Saraf C7 membentuk trunkus medius
• Saraf C8 sampai T1 membentuk trunkus inferior.
Masing-masing dari trunkus memiliki 2
percabangan atau divisi ke arah ventral dan dorsal.
Cabang ventral dari trunkus superior dan trunkus
medius akan membentuk fasciculus lateralis. Cabang
ventral trunkus inferior membentuk fasciculus
medialis, sedangkan cabang dorsalis dari seluruh
trunkus akan membentuk fasciculus dorsalis.
A. Fasciculus lateralis mempersarafi:
• N.muskulokutaneus mempersarafi otot-otot fleksor
lengan atas
• N.medianus bagian lateral mempersarafi seluruh
otot lengan bawah kecuali M.flexor carpi ulnaris
dan caput ulna M.fleksor digitorum profundus dan
mempersarafi otot-otot thenar, serta saraf kulit
tangan 3,5 jari lateral vola manus dan kuku 3,5 jari
• N.pectoralis lateralis terutama ke M.pectoralis
mayor. N.muskulokutaneus. Sedangkan N.medianus
B. Fasciculus medialis bercabang:
• N.kutaneus brachii medialis yang mempersarafi kulit
lengan atas
• N.kutaneus antebrachii medialis yang
mempersarafi kulit lengan bawah
• N.medianus bagian medial
• N.ulnaris mengurus dua otot lengan bawah dan
mengurus otot-otot hypothenar serta saraf kulit vola
manus dan dorsum manus.
C. Fasciculus dorsalis bercabang menjadi:
• N.axillaris mempersarafi M.deltoideus dan M.teres minor, serta
berakhir sebagai saraf kulit.
• N.radialis mengurus seluruh otot ekstensor lengan dan tangan
dan mengurus kulit dorsum manus 2,5 jari lateral.
• N.thoracodorsalis yang mempersarafi M.latissimus dorsi
• N.subscapularis superior yang mempersarafi otot
M.subscapularis
• N.subscapularis inferior yang mempersarafi M.teres mayor

Cabang-cabang saraf pendek dari pleksus brakialis


antara lain N.thoracalis longus yang mempersarafi M.serratus
anterior, N.dorsalis scapulae yang mempersarafi M.levator
scapulae, N.suprascapularis yang mempersarafi
M.supraspinatus.
PATOLOGI

Peregangan serabut saraf yang terjadi pada


plexus brachialis dapat menimbulkan cedera pada
selubung saraf, pembengkakan saraf dan
pendarahan disekelilingnya sampai dengan
rusaknya akson sehingga menyebabkan
terganggunya impuls saraf, dimana tingkat
gangguan impuls saraf tergantung kuat ringannya
suatu regangan. Peregangan ringan pada saraf
kemungkinan hanya akan menyebabkan
neuropraksi atau aksonotmesis , sedangkan pada
ruptur kulit akan menyebabkan neurotmesis
(Campbell, 1991).
ETIOLOGI

Penyebab Erb palsy yang paling sering ditemukan


adalah distosia, dimana letak janin abnormal sehingga
menimbulkan kesulitan saat persalinan. Sebagai contoh,
dapat terjadi pada persalinan dengan kepala bayi dan
leher yang ditarik ke samping, dimana pada saat yang
bersamaan bahu melewati jalan lahir. Kondisi ini juga
dapat disebabkan oleh penarikan yang berlebihan pada
pundak pada saat presentasi vertex, atau dengan
tekanan pada lengan karena letak sungsang atau bayi
besar (> 4kg) sehingga menyulitkan persalinan sehingga
memerlukan vacuum atau forceps. Erb palsy juga dapat
disebabkan oleh fraktur klavikula yang tidak terkait
distosia. Pada infant yang lahir dengan paralisis plexus
brachialis maka gejala akan muncul sejak lahir.
Cedera yang sama juga dapat ditemukan pada
setiap usia termasuk orang dewasa, akibat trauma atau
jatuh yang mengenai sisi kepala dan bahu terlebih
dahulu, dimana saraf plexus akan meregang karena
plexus ekstremitas atas mengalami cedera yang hebat
dan selanjutkan menyebabkan kelumpuhan yang
terbatas di otot-otot yang dipersarafi oleh saraf C5-C6
yaitu m. deltoid, m. biceps brachii (m. brachialis dan m.
coracobrachialis), m. infraspinatus, m. supraspinatus dan
m. brachioradialis. Pleksus brachialis juga dapat cedera
oleh kekerasan langsung atau luka tembak, dengan traksi
pada lengan. Jumlah kelumpuhan tergantung pada
jumlah cedera saraf yang terkena.
TANDA DAN GEJALA

Posisi lengan pada posisi


ekstensi, adduksi sendi shoulder,
ekstensi dan supinasi sendi elbow dan
dorsi fleksi sendi wrist. Atrofi bahkan
kotraktur pada otot supraspinatus,
otot infraspinatus, otot biceps, otot
brachialis, dan otot brachioradialis jika
tidak mendapatkan penanganan
seawal mungkin (Kimberly, 2009).
Gejala Klinis menurut Foster yaitu:
nyeri, terutama pada leher dan bahu,
paresthesia dan disesthesia,lemah
tubuh atau terasa berat
menggerakkan ekstremitas dan
denyut nadi menurun akibat cedera
vaskuler mungkin terjadi bersamaan
dengan cedera traksi.
PEMERIKSAAN
1. ANAMNESIS
a. Anamnesis Umum
• Nama : Ismail
• Umur : 5 Bulan
• Alamat : Jl. landak
• Agama : Islam
• Jenis Kelamin : Laki-laki

b. Anamnesis Khusus
• Keluhan Utama (KU) : Lengan bayi tidak dapat di gerakkan
• Letak keluhan : Lengan sisi dextra
• Kapan terjadi : Sejak lahir
• RPP : Saat dilahirkan ukuran bayi besar sedangkan
panggul ibu sempit sehingga bayi susah keluar,
sehingga harus dibantu dengan forcep, setelah
beberapa bulan tangan bayi yang sebelah kanan
tidak dapat bergerak seperti tangan sebelahnya.
2. INSPEKSI
• Statis : Lengan sisi dextra tidak pernah
bergerak, lunglai dengan posisi bahu endorotasi,
siku lurus, dan wrist joint selalu dengan posisi fleksi
• Dinamis : Bayi tidak dapat mempertahankan
posisi lengannya pada saat di gerakkan seperti
diberikan mainan lalu memegang mainan tersebut
namun tidak dapat mengangkat mainan untuk
didekatkan kemulutnya.
3. TES ORIENTASI / QUICK TEST
Dengan memberikan mainan bunyi-bunyian atau
yang berwarna diatas tangan kanan, bayi tidak dapat
meraihnya dengan tangan kanan, sebaliknya tangan kiri
yang aktif untuk meraih mainan tersebut.
4. PALPASI
Yang perlu di palpasi adalah untuk tonus ototnya
hasilnya tidak ada tonus otot pada lengan dextra
berbeda dengan lengan sinistra.
5. PEMERIKSAAN FUNGSI DASAR
Tidak dapat di lakukan karna bayi tidak dapat
menerima instruksi dari fisioterapis
6. PEMERIKSAAN SPESIFIK
 Pemeriksaan reflex primitive
a. Reflex Moro (lahir sampai usia 5-6 bln)
• Ada beberapa cara untuk membangkitkan reflex tersebut
(Walker 1976, Garmstrop, 1985) sebagai berikut: dengan
memberikan suara yg keras atau hentakan pada tempat tidur
dikedua sisi bayi (Walker, 1976, Garmstrop, 1985).
• Hasil: lengan kanan yang tidak memberikan refleks yang
diinginkan.

b. Snout refleks ( lahir – 1 thn)


• Cara: Ketuk/usap pada bibir dengan jari tangan
• Reaksi: Ada kerutan di bawah bibir
• Hasil: Normal
c. Tonick neck refleks (lahir- 2,3 bln)
• Cara: Lying, jangan menangis, putar kepala bayi ke satu sisi .
• Reaksi: Tangan & kaki ekstensi searah putaran kepala disertai
fleksi lutut kontralat.
• Hasil: Ada gangguan pada lengan kanan (respon lambat)

d. Refleks Palmar GASP


• Pelaksanaan: Fisioterapis menggunakan jari telunjuk
menyentuh sisi bagian luar tangan ke bagian telapak tangan
secara cepat dan hati-hati
• Hasil: Normal
• Lengan dekstra: Positif
• Lengan sinistra: Positif
 Tes Sensorik
Fisioterapi memberikan cubitan pada daerah
lengan kanan hasilnya bayi tidak merasakan apa-
apa atau tanpa respon menangis.
Tes Tonus otot
• Teknik palpasi: Palpasi pada lengan kanan hasilnya
hipotinus, dibandingkan dengan yang kiri
• Teknik gerakan pasif: Fisioterapis menggerakkan
lengan cepat, hasilnya tidak ada tahanan gerak
(Hipotonus)
7. DIAGNOSIS
• Gangguan fungsional lengan dextra akibat lesi
atau injuri pleksus Brachialis C5-C6 (Erb’s Palsy)
a. Impairment
- Kelemahan Otot (body struktur)
- Gangguan sensasi (body struktur)
- Tidak bisa mengangkat dan mengengam (body fungsi)
b. Functional limitation
- Tidak bisa mengangkat dan mengengam mainan /
bonekanya
c. Disability
- Pasien belum bisa bermain.
8. PROBLEMATIK FISIOERAPI
• Anatomi impairtment
• Paralisis lengan atas dan lengan bawah, terjadi arm
supinasi wrist dan fingers flexed, soft tissue
contracture dan hilangnya sensasi
• Activity limitation
• Bayi kesulitan menggerakan lengan dan merubah
posisi terlentang ke tengkurap
• Participation retriction
• Sulit beradaptasi dengan orang tuanya.
9. PLANNING
o Tujuan Utama FT yaitu memastikan kondisi optimal untuk recovery of
motor function. Untuk mempercepat regenerasi alami pada control
motorik ajarkan kegiatan sederhana seperti menggengam
o Mencegah kontraktur jaringan lunak, utamanya scapulohumeral
adhesion
o Mencegah kontraktur jaringan lunak yang controversial
o Melancarkan peredaran darah
o Menambah kekuatan otot
o Mengajarkan fungsi lengan
o Mendegah kecacatan yang mungkin muncul

a. Tujuan jangka panjang


• Mengembalikan kapasitas fisik dan kemampuan fungsional
lengan kanan pasien.
b. Tujuan jangka pendek
• meningkatkan kekuatan otot lengan
• Mencegah kontraktur
INTERVENSI FT

A. Positioning
• Tujuan: Edukasi untuk orang tua pasien agar dapat dilakukan di
setiap saat. Fisioterapis mengajarkan ke orang tua cara
menggendong dan pada saat membaringkan anaknya.
• Pada saat membaringkan anaknya agar lengan diposisikan ke
supinasi dan eksternal rotasi shoulder memberikan bantal atau
boneka di bawah ketiak dan di samping lengan apakah pasien
pada saat istirahat atau tidur. Mendidik orang tua untuk
mengamati kepala anaknya, agar selalu pada posisi garis
pertengahan, karena rawan posisi kepala ke salah satu sisi. Pada
saat digendong atau menyusui Jangan biarkan lengan
menjuntai, Orang tua dapat menjaga siku tertekuk dan di atas
dada tetapi tidak untuk jangka waktu yang lama (menyusui di
kedua sisi)

B. Latihan aktif dan pasif


• Untuk bayi 0-6 minggu
• Bahu eksorotasi, abduksi (jangan melebihi 30° dan
scapula difiksasi).
• Siku fleksi – ekstensi. Lengan bawah supinasi (hati-
hati jangan sampai dislokasi kaput radii)
• Wrist dan jari-jari fleksi dan ekstensi
• Untuk bayi 3 bulan
• Memberi stimulasi taktil
• Membawa lengan dan tangan ke lapang pandang
• Memberi gelang yang berbunyi pada lengan yang lesi
• Untuk bayi 6 bulan
• Fasilitasi perkembangan sesuai usia
• Latihan penguatan lengan dengan aktif bermain
• Latihan menumpu
• Stimulasi
• Untuk anak 4 – 12 tahun.
• Fisioterapi berhenti. Home proggrame untuk maintance.
C. Massage
• Tujuan umum:
• Meningkatkan berat badan
• Meningkatkan pertumbuhan
• Meningkatkan daya tahan tubuh
• Meningkatkan konsentrasi bayi dan membuat bayi tidur
lebih lelap
• Membina ikatan kasih sayang orang-tua dan anak
(bonding)
• Meningkatkan produksi ASI
Tujuan khusus: Pemanasan sebelum dilatih
Dosis: Tiap Hari pada Seluruh badan
D. Senam Bayi
• Tujuan: Merangsang tonus otot, mencegah
kontraktur
• Dosis : Tiap Hari pada Seluruh badan
E. Splinting
Splinting adalah tindakan untuk mempertahankan
sebagian atau seluruh bagian anggota gerak
dalam posisi tertentu dengan alat. Splingting lazim
digunakan untuk imobilisasi patah tulang, diskolasi
(sendi yang bergeser) dan juga cedera jaringan
lunak disekitar sendi.
• Efek Fisiologi
• Dapat merangsang fungsi sraf sensorik dan motoriknya
• Mempertahankan posisi tangan sesuai postur anatomi agar wrist joint tidak
terjadi fleksi wrist

• Efek Terapeutik
• Menstimulasi finger sehingga merangsang nervus pleksus brachialis
• Sudah dapat kembali pada posisi normal

• Prosedur Aplikasi
• Splinting
Tujuan: Mencegah terjadinya kontaktur atau penambahan kontraktur
• Koreksi posisi saat tidur, di pertahankan dengan sehelai kain yang punya
kantong pasir disisi kanan dan kiri
• Eksternal rotasi, sisi ulnar ganjal bantal kecil cukup bermanfaat untuk
mengendorkan saraf spinal cervikalis.
• Gerakan pasif untuk mencegah kontraktur jaringan lunak,
utamanya scapulohumeral addhesive
• Pada posisi lying lakukan stretching ringan pada adductor dan
extensor shoulder untuk memelihara extensibilitas dari otot.
• Bentuk-bentuk motor training, bekerja objek untuk melatih
supinasi
• Bimanual aktivitas untuk melatih koordinasi di antara 2 (dua)
extremitas superior.
• Menggunakan tongkat atau tangkai untuk melatih supinasi-
pronasi lengan bawah.
• Motor training di berikan yang spesifik langsung sesuai usia
tumbuh kembang anak
• Pemberian latihan pada aktivitas abduktors, fleksors, external
rotasi shoulder
• Training harus dilakukan di bawah kondisi optimal untuk otot
yang lemah. Lakukan aktifitas eksentrik jika aktifitas konsentrik
sulit dilakukan.
• Electrical stimulasi pada muscle denervated untuk mencegah
atropi otot.
EVALUASI

• Evaluasi gerakan ada kontraksi atau tidak


• Evaluasi perubahan kontraktur otonya
REFERENSI

• Aras djohan. H, dkk. 2009. Fisioterapi Neuromusculoskeletal.


Makassar. Kementrian Kesehatan RI.
• Sugiarto, Arif. 2014. Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus
Erb’s Paralysis Dextra di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Naskah
Publikasi pada Prodi DIII Fisioterapi. Fakultas Ilmu Kesehatan
UMS. Surakarta: Tidak Dierbitkan
• Goodman, Catherine Cavallaro, MBA, P, CBP. 2009.
Implications For The Physical Therapist. St. Louis, Missouri.
Saunders Elsevier Inc.
• Solomon L, Warwick DJ, Selvadurai N. Apley’s System of
Orthopaedics and Fractures. United of Kingdom: Hodder
Arnold; 2010.
• http://saturdaynightpalsy.com/wp-
content/uploads/2011/05/Saturday-Night-Palsy-300x188.jpg